My Fierce Boss

My Fierce Boss
Tragedi lift


__ADS_3

Pertama kalinya Dena meeting bersama sekretaris barunya yaitu Fairel. Sampai sekarang mereka masih saling diam karena masih merasa canggung. Setelah selesai rapat di salah satu restoran, keduanya langsung kembali lagi ke perusahaan.


Fairel tampak mengemudikan mobil milik bosnya dengan kecepatan sedang. Sementara itu Dena tampak duduk di jok belakang sambil memainkan ponselnya. Sebenarnya wanita itu hanya berpura-pura sibuk saja agar dirinya tidak menjadi patung saat berduaan dengan Fairel.


Diam-diam Fairel melirik ke arah kaca dashboard untuk melihat Dena dari pantulan kaca tersebut. Fairel menyadari bahwa wanita itu tampak kebosanan. Berulang kali Dena menghembuskan nafasnya panjang dan berulang kali ia melihat ke arah luar jendela.


Sampai sekarang Fairel juga belum ada niatan untuk mengajak Dena bicara. Karena ia bingung. Satu kalimat pun tidak terpikir olehnya. Tidak ada hubungan timbal balik di antara keduanya kecuali saat meeting tadi karena mereka harus bersikap profesional dalam bekerja.


"Langsung ke kantor?" tanya Fairel basa-basi. Berharap Dena mau berbicara dengannya.


"Hmmm..." Dena hanga berdehem tanpa melihat arah lawan bicara.


Sejujurnya mereka sedang menahan rindu. Sama-sama rindu, hanya bisa memandangi wajah masing-masing tanpa mau membuka suara. 6 tahun sudah terlewati tanpa adanya komunikasi. Begitu bertemu, keduanya bagaikan orang yang tidak saling kenal. Padahal dulu mereka sangat dekat. Perubahan yang mereka bawa benar-benar membuat keduanya hampir tidak saling mengenali.


Selang beberapa waktu akhirnya mereka sampai juga. Seperti yang sudah Adel ajarkan, Fairel harus melayani bosnya dengan baik. Fairel bergegas keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Dena.


Dena keluar tanpa mengucapkan satu kata pun. Ia langsung berjalan masuk ke dalam perusahaannya diikuti Fairel dari arah belakang.


Setiap ada karyawan yang menyapanya, Dena selalu membalas sapaan mereka dengan sebuah senyuman dan anggukan kepala. Sementara Fairel hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi.


Dena berdiri di depan lift yang tertutup sambil menunggu lift itu terbuka. Di belakangnya ada Fairel yang dengan sentiasa mengikutinya.


Ting


Pintu lift terbuka, Dena segera masuk disusul oleh Fairel. Fairel langsung memencet tombol di lantai atas tanpa disuruh oleh Dena. Diam-diam Dena memuji kinerja Fairel, karena tanpa perintah darinya, pria itu sudah melakukannya terlebih dahulu.


Hampir saja pintu lift tertutup, namun, ada seorang wanita yang menghadang sehingga pintu liftnya kembali terbuka.


"Hehe, Bu Boss. Boleh masuk?" wanita itu adalah Novi. Di sampingnya ada beberapa tekan kerjanya. Dua laki-laki dan satu perempuan.


Saat itu juga Fairel langsung melirik Dena cepat seolah meminta jawaban.


"Silahkan. Masuk aja, Nov. Yang lainnya, Lala, Dion, dan Frank. Ayo masuk!" ajak Dena ramah.


"Makasih, Bu Boss." kata mereka serentak lalu masuk ke dalam lift yang sama dengan Dena dan Fairel.


Mereka masuk bersamaan seolah-olah berebut hingga membuat ruangan lift itu terasa sesak. Mata Fairel sungguh jeli. Ia langsung menarik pinggang Dena karena takut wanita itu terluka melihat beberapa karyawan itu masuk ke dalam lift saling serobot.


Mata Dena langsung melotot. Ia menatap Fairel dengan tatapan protes. Seolah-olah mengatakan bahwa ada orang lain di dalam lift itu. Yang membuat Dena masih melotot adalah dengan keberadaan tangan Fairel yang masih betah di pinggang rampingnya.


Pintu lift kembali tertutup dan perlahan bergerak naik ke atas. Ruangan seketika menjadi riuh dengan obrolan receh dari karyawan Dena yaitu Novi, Lala, Dion, dan Frank.


"Kalian udah makan siang?" tanya Dena membuka obrolan. Tangannya terlihat berusaha melepaskan tangan Fairel dari pinggangnya. Namun, Fairel malah semakin menarik pinggang ramping Dena ke arahnya. Membuat jarak keduanya terkikis habis.


"Udah kok. Bu Boss gimana?" sahut Lala. Perawakan Lala seorang gadis pada umumnya. Rambutnya pendek, tubuhnya juga pendek mungil.

__ADS_1


"Udah kok tadi sekalian meeting."


"Eh! Pak Fairel. Apa kabarnya, Pak?" tanya Novi antusias. Dena mengernyit dahinya tipis. Hatinya bertanya-tanya kenapa bisa Novi seakrab itu dengan Fairel.


"Baik." jawab Fairel singkat.


"Woahhh!!! Pak Fairel ngomong, Nov." Lala terdengar heboh memenuhi ruangan kecil itu.


"Robot kali gak bisa ngomong." sahut Dion membalas perkataan Lala.


"Robot juga bisa ngomong kali, Yon. Suaranya tuh gini, bipp bippp bipp." Lala menirukan suara robot yang malah membuat teman-temannya tertawa.


"Hahahaha... yakali suara robot kayak gitu, La. Dikira lampu mobil bip bip." Frank tertawa kencang.


"Bu Boss, kapan ngadain acara penyambutan Pak Fairel?" tanya Novi.


"Nanti malam juga bisa. Kalian udah bicarain ini bareng kan?" ucap Dena.


"Wahhhh!!! Beneran nanti malam, Bu Boss?" Lala terlihat paling antusias.


"Iya, iya. Tempatnya udah kalian booking kan? Mau dimana? Cafe atau restoran?"


"Bar mini!" jawab Frank cepat. Suasana seketika hening. Teman-temannya langsung meliriknya tajam.


"Ahahaha..." Frank tertawa receh guna mengurangi ketegangan di ruangan itu. "Becanda saya mah, Bu. Yakali kita ke bar. Kayak biasa aja di cafe."


"Nah kan! Bu Boss mah selalu baik sama kita." sahut Dion membanggakan bosnya.


Sementara Dena hanya tersenyum tipis.


"Pak Fairel harus datang nanti malam." ujar Lala.


"Iya, kan yang jadi tokoh utamanya di sini tuh Pak Fairel."


"Harus?" tanya Fairel.


"Banget. Kalau Pak Fairel gak dateng, ya tanggung sendiri ruginya."


"Oke, saya akan ikut."


"Yeayyyyy... akhirnya Pak Fairel ikut. Nanti malam boleh dong kita kenalan, Pak. Biar lebih deket gitu." Novi menaik turunkan alisnya. Novi tidak tau bahwa perkataannya barusan berhasil membuat seorang wanita merasa panas di sekitarnya.


"Ngawur kamu, La. Setampan Pak Fairel gak mungkin mau sama kamu. Maunya sama aku aja. Hehe."


"Yeee, mana ada kayak gitu."

__ADS_1


Kedua gadis itu secara terang-terangan menggoda Fairel di depan Dena tanpa takut dan bersalah.


"Udah, udah, jangan pada ribut. Tuh Bu Boss jadi pusing." sambung Dion sambil mengkode ke arah Dena.


"Aduh! Maaf ya, Bu Boss."


Dena tersenyum terpaksa. "Oke, oke. Gak apa-apa. Tuh! Udah sampai, kalian gak keluar?" tanya Dena menunjukkan pintu lift yang sudah terbuka. Secara tidak langsung bisa dikatakan Dena mengusir keberadaan lalat-lalat pengganggu.


"Ini mau keluar kok. Nanti malam ya, Bu Boss. Nanti saya kirim alamatnya, jangan lupa ajak Pak Fairel."


"Oke."


"Daahhh, Bu Boss." Novi dan Lala melambaikan tangan mereka, sementara Dion dan Frank hanya bisa menggeleng.


"Dahhh..." balas Dena.


"Aku duluan, Frank!"


"Gue duluan, La."


"Kalian itu, sabar dikit kenapa? Ini tuh sempit gak bisa lewat 4 orang sekaligus."


"Lo belakangan, Yon."


"Ampun dah."


"Ish, sempit, Nov. Munduran lah!"


"Enak aja, gue dulua tau!" sahut Nocil protes. Mereka malah berdebat di ambang pintu lift. Ke-empat-empatnya malah menerobos bersamaan. Membuat badan mereka tidak bisa bergerak karena berebutan.


"Ih! Rese lo, Frank." Lala langsung menyikung perut Frank menggunakan sikunya. Alhasil Frank mundur ke belakang dengan tiba-tiba sambil menahan nyeri di perutnya.


Pergerakan Frank malah membuatnya hampir menabrak Dena. Namun, Fairel langsung bergerak cepat menarik Dena dan memutar posisi mereka. Jadilah Fairel yang menghadang tubuh Frank agar tidak menabrak Dena. Posisi keduanya saling berhadapan dengan Fairel membelakangi pintu lift. Tapi, tubuh Frank yang lumayan besar cukup membuat pertahanan Fairel roboh. Ia malah terdorong ke depan menubruk tubuh Dena. Reflek Fairel meletakkan tangannya di belakang kepala Dena agar kepala wanita itu tidak terbentur dinding lift.


"Tungguin oyy!" Frank langsung berlari mengejar teman-temannya yang malah meninggalkannya. Mereka semua meninggalkan Dena dan Fairel di dalam lift itu.


Seketika suasana sunyi. Lift kembali tertutup dan bergerak ke atas. Keduanya masih belum beranjak dari posisi mereka.


Kedua mata Dena tidak berkedip sama sekali. Ia mendongak, menatap wajah Fairel karena pria itu cukup tinggi darinya. Keduanya saling pandang. Fairel menatap netra mata Dena. Begitu Dena menatap matanya, Fairel langsung mengunci netra mata mereka menjadi satu.


"Ada yang sakit?" tanya Fairel perhatian. Jarak wajah mereka yang begitu dekat berhasil membuat Dena terlena begitu nafas hangat Fairel mengapu wajahnya


"Ada. Gue sakit, Rel... sakit menahan rindu."


Ingin sekali Dena mengatakan itu. Namun, ia belum memiliki keberanian.

__ADS_1


Sama halnya dengan Dena, Fairel juga membatin. "Ada yang lebih sakit daripada luka tersayat silet, yaitu rindu."


__ADS_2