My Fierce Boss

My Fierce Boss
Nasihat Bunda


__ADS_3

Dua puluh panggilan tidak terjawab, lebih dari 100 pesan tidak terbaca. Sang pemilik ponsel terlihat acuh tak acuh. Karena menganggu pendengarannya, ia langsung mengubah ponselnya ke mode mati total.


"Haaahhhhh... lo kemana, Na? Plis jangan marah." Fairel mengendarai mobil milik Dena dengan perasaan kacau.


Fairel tidak langsung ke kantor karena ia tau Dena tidak akan kembali ke sana. Tujuannya hanya satu, yaitu pergi langsung ke kediaman wanita itu.


Fairel memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah Dena lalu keluar dari sana. Pria itu bergegas menuju pintu utama dan memencet bel rumah berulang kali hingga kemudian pintunya dibuka.


"Dena ada, Bik?" tanya Fairel to the point. Bahkan art baru yang bekerja di rumah Dena pun sampai terkejut dibuatnya.


"Non Dena?" tanya wanita paruh baya itu.


"Ada, Bik?" ulang Fairel.


Art itu terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan sedikit ragu. "Engg--"


"Siapa, Bik?" sebuah sahutan dari dalam membuat perkataan art itu terpotong.


"Eh, itu, Nyah."


"Eh, Arel. Ada apa ke sini?" ternyata yang menyahut adalah Cahya, Bundanya Dena.


"Dena ada, Tan?" tanya Fairel beralih kepada Cahya.


"Lohhh, bukannya lagi di kantor?" Cahya mengerutkan keningnya bingung.


Fairel tampak bingung mau menjelaskan. "Emm... itu.. tadi ada sedikit masalah."


"Trus baju kamu kenapa kok kotor gitu?" seketika Fairel menunduk guna melihat kemejanya. Tampak jelas noda kopi yang sudah mengering melekat di sana.


"Tadi ketumpahan kopi, Tan."


"Oalah. Dena kayaknya gak pulang ke rumah. Tante dari tadi ada di ruang tengah dan gak liat Dena sama sekali." kata Cahya menjelaskan.


"Begitu ya, Tan. Ya udah, kalau gitu Fairel balik lagi ke kantor karena sekarang masih jan kerja. Nanti kalau Dena ada pulang kabarin Arel ya, Tan." pesan Fairel.


"Ah ya, sama satu lagi. Ini kunci mobil Dena." Fairel menyodorkan kunci mobil milik Dena kepada Cahya.


Sampai saat ini Cahya belum juga mengerti apa yang terjadi. Namun, ia memilih diam saja karena takut membuat Fairel merasa risih atau tidak nyaman jika ia bertanya banyak hal.


"Ya sudah. Itu kunci motornya ada di motor ya. Kamu bawa aja kalau nggak mau bawa mobil." Cahya menerima kunci mobil dari tangan Fairel.

__ADS_1


"Enggah usah, Tan. Arel naik ojek aja nanti." tolak Fairel.


"Lohh kok gitu?"


"Arel pamit dulu ya, Tan Assalamu'alaikum." pria itu mengabaikan pertanyaan Cahya dan bergegas berpamitan.


"Wa'alaikumsalam." jawab Cahya menatap bingung kepergian Fairel.


"Emangnya Dena ada pulang, Bik?" tanya Cahya kepada art di rumahnya.


"Eh, itu..." art itu tampak gagap. "Non Dena dari tadi udah pulang, Nyah, lewat pintu belakang." jawab art itu dengan ragu.


"Lohhh??" Cahya terkejut bukan main. "Kenapa gak bilang dari tadi sih, Bik? Kasihan tuh Arel jauh-jauh ke sini."


"Maaf, Nyah. Bibik cuma nurutin perintah Non Dena aja." kepalanya menunduk penuh penyesalan. Antara takut kena marah majikannya dan antara takut karena tidak menuruti perintah anak majikannya. Sungguh, art itu dilema.


"Perintah?" alis Cahya mengerut. "Perintah apa?" tanya wanita itu.


"Non Dena cuma minta kalau nanti ada pria yang datang ke sini, bilang aja Non Dena gak ada. Bibik sebenarnya juga bingung, ditambah Non Dena kayak nangis gitu." tutur art tersebut membuat Cahya menepuk pelan dahinya.


"Astaga! Punya masalah apa sih mereka sampai marahan gitu." Cahya dibuat geleng-geleng kepala.


"Ya sudah. Bibik tolong jaga anak-anak di ruang tengah ya. Saya mau ke atas dulu nemuin Dena."


Cahya segera masuk ke dalam dan segera menuju kamar putrinya. Seperti 6 tahun yang lalu, semuanya tidak berubah. Dena masih menempati kamar itu sementara kamar di samping-sampingnya masih kosong. Karena kedua adiknya menempati kamar di samping kamar kedua orang tuanya. Bayangkan saja, di rumah sebesar itu memiliki dua tangga dengan arah berbeda.


Pintu kamar Dena tampak tertutup rapat. Tidak ada suara pertanda putrinya ada di dalam sana. Dengan pelan Cahya melangkah kemudian mengetuk pintu kamar itu.


Tok tok tok


"Ini Bunda." kata Cahya tidak ditanggapi oleh penghuninya.


"Bunda masuk ya?" wanita itu memberanikan diri membuka pintu kamar Dena pelan.


Cahya mengedarkan pandangannya dan tidak sengaja matanya menangkap bayangan Dena di arah balkon yang tertutup rapat oleh gorden.


"Bunda gak tau kamu pulang padahal tadi Bunda ada di depan." Cahya mendekat, mengelus lengan putrinya pelan. Posisi Dena yang menghadap balkon membuatnya tidak melihat Cahya.


"Dena lewat pintu belakang. Maaf, Bun." Dena membalikkan tubuhnya lalu memegang tangan sang Bunda.


Ekspresi sedih Dena jelas tercetak di wajahnya. Karena tidak ingin menambah beban pikiran putrinya, Cahya langsung mengalihkan topik pembicaraan yang awalnya ingin ia sampaikan.

__ADS_1


"Kamu udah makan siang?" tanya Cahya.


Dena menganggukkan kepalanya. Tangan Cahya tampak mengelus kedua pipi putrinya lembut. "Bunda gak tau apa masalah kalian. Tapi, Bunda gak pengen wajah sedih ini sampai dilihat oleh Papa dan adik-adik kamu. Cukup Bunda aja yang tau kalau kamu lagi sedih. Kalau udah siap, boleh cerita sama Bunda." tutur Cahya bijak.


"Makasih udah ngertiin Dena. Dari dulu Bunda yang selalu ngertiin Dena setelah Papa. Walaupun Dena bukan anak kandung Bunda, tapi--"


"Syutttt... jangan diingat lagi. Bunda udah anggap kamu sebagai anak kandung. Bunda gak pernah membedakan kamu dengan adik-adik kamu. Karena Bunda menyayangi kalian semua."


Dena yang terharu langsung memeluk tubuh sang Bunda dengan erat. Meluapkan rasa sayangnya kepada Cahya.


Mereka melepaskan pelukannya. "Tadi Fairel nitip kunci mobil kamu sama Bunda. Udah Bunda simpan di gantungan kunci."


Dena pura-pura acuh.


"Kenapa lagi itu ekspresinya? Kalau Arel ada salah sama kamu itu wajar kalau kamu marah. Tapi, kalau dia gak punya salah, berarti yang salah itu di sini." Cahya menunjuk dada Dena.


"Wajar seseorang memiliki kesalahan. Tapi, itu tergantung seberapa besar salah yang mereka perbuat."


"Minta maaf duluan itu gak salah loh. Malahan itu lebih baik untuk menghindari kesalahpahaman. Biarpun kita perempuan, ada baiknya kita yang lebih dulu meminta maaf karena opini Bunda itu setiap pertengkaran pasti yang minta maaf duluan yaitu laki-laki, padahal mereka gak salah. Kalau mereka salah, wajar mereka minta maaf. Kita sebagai perempuan juga harus mengerti bahwa gak selamanya laki-laki itu salah. Cukup pasang hati yang lapang dan ikhlas, Insya Allah semuanya tenang."


"Berarti kalau Bunda dan Papa berantem, yang minta maaf duluan itu Bunda?" tebak Dena.


Cahya yang mendengarnya langsung tersenyum manis. "Enggak, hehe." jawabnya membuat ekspektasi Dena langsung jatuh seketika.


"Dena lupa, kalau pelatih itu gak ikut main ya."


"Kalau Bunda dan Papa kamu berantem itu pasti sebentar. Dia minta maaf, dan Bunda cuma berusaha untuk gak terlalu keras."


"Maksudnya?" tanya Dena.


"Maksudnya itu, kalau Papa kamu minta maaf, Bunda cuma diam aja sebentar untuk nenangin hati trus nanti ngobrol santai buat ngilangin canggung. Bunda gak mau lama-lama karena terlalu lama berantem juga membuat hubungan renggang. Ya seperti malu gitu. Alhasil sama-sama menjauh."


"Berantem itu hal yang wajar. Tapi, jangan jadikan sebuah pertengkaran itu terulang kembali. Dengan adanya pertengkaran, kita bisa memahami karakter pasangan masing-masing. Dan itu juga memiliki keuntungan untuk mengantisipasi pertengkaran yang sama terulang kembali."


"Bunda harap apa yang Bunda jelasin barusan dapat kamu pahami. Oke, Sayang?"


"Iya, Bun." jawab Dena menurut.


.


.

__ADS_1


.


hari ini double up ya๐ŸคŸ๐Ÿ˜‚


__ADS_2