My Fierce Boss

My Fierce Boss
Merajuk


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama berjam-jam, akhirnya Dena dan Fairel tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta. Keduanya sedang menunggu jemputan Pak Haryo, supir di kediaman Dena. Untuk sementara ini, mereka diminta untuk tinggal di kediaman Dena sebelum wanita itu tinggal terpisah bersama suaminya sekarang.


Begitu jemputan sudah tiba, keduanya segera memasukkan barang-barang mereka ke dalam bagasi, lalu setelah rapi keduanya pun langsung masuk ke dalam mobil.


Saat dalam perjalanan pulang, Dena sempat membuka laptopnya yang sudah beberapa hari ini tidak ia buka. Wanita itu sengaja membawa laptop untuk urusan pekerjaan selama ia tidak masuk kantor. Beruntungnya, selama Dena dan keluarganya tidak ada di Jakarta, Papanya sudah menyuruh orang untuk menjaga perusahaannya.


"Banyak banget email yang masuk." ucap Fairel ikut melihat.


Dena menganggukkan kepalanya. "Iya, ini ada beberapa email dari karyawan dan juga klien."


"Kamu udah dapat calon sekretaris kalau seandainya aku ngundurin diri?" tanya Fairel seketika membuat Dena menoleh ke arahnya dengan kedua mata menyipit.


"Secepat itu?" selidik Dena.


"Bukan gitu." sekarang Fairel jadi serba salah.


"Aku orangnya pemilih. Dulu, pas Adel ngundurin diri aja dia susah nyari karyawan baru. Dan ketemu kamu deh, karena aku udah jengah liat para calon yang rada-rada, jadinya aku terima kamu dengan beberapa alasan." ucap Dena panjang lebar.


"Gitu ya?" gumam Fairel mendapat anggukan kepala oleh istrinya. "Pas pertama kali ketemu aja kamu kayak syok berat."


"Bukan syok berat lagi. Waktu itu, aku hampir mau mecat kamu, tapi, malah diomelin Adel."


"Pas awal malah pura-pura cuek banget." sindir Fairel sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


"Ya mau gimana, orang aku syok. Coba kamu ngerasain apa yang aku rasain. Pasti kamu malu banget. Apalagi dulu pernah ditolak. Rasanya tuh kayak gimana gitu."


"Aku nolak juga ada beberapa alasan. Lagian, dulu aku pikir itu cuma cinta monyet aja yang biasa dirasain anak remaja yang lainnya. Setelah bertahun-tahun aku baru sadar."


"Wajar, cowok kan emang gak pernah peka." Dena mengangkat kedua bahunya ke atas sambil membuka satu per satu email yang masuk.


Mendengar itu sontak membuat Fairel duduk tegap sambil memiringkan sedikit tubuhnya menghadap wanita itu.


"Siapa bilang aku gak peka? Buktinya sekarang apa?"


"Ya itu kan karena kepergok sama Papa dan Bunda. Kalau enggak mah, mungkin syarat 2 tahun buat kamu itu masih berlaku."


"Kamu pernah bilang ada alasan kamu ngasih syarat itu. Kalau boleh tau, apa alasannya?" tanya Fairel.


Dena mengalihkan pandangannya menatap sang suami. Sedetik kemudian wanita itu malah menjawab dengan celengan kepala. "Aku gak punya syarat khusus. Cuma mau lihat kesungguhan kamu aja, eh taunya malah gini kejadiannya."


"Serius?" Fairel sedikit terkejut dengan alasan yang Dena berikan. Pria itu pikir ada alasan khusus dibalik syarat 2 tahun itu.


"Iya." jawab Dena tanpa beban.


"Beneran kamu cuma punya alasan gitu?" ulang Fairel masih tidak percaya.


"Iya, Hubby. Emang kenapa sih?"


Sesaat Fairel sedikit mlenyot begitu istrinya memanggilnya dengan sebutan hubby. Tapi, Fairel tidak boleh luluh!

__ADS_1


"Fiks, habis ini kamu siap-siap bakal aku kasih hukuman! Dikira apaan ngasih syarat begitu berat dengan alasan gitu!" omel Fairel.


"Lahhh???" Dena hanya mampu mengangkat kedua bahunya ke atas. Bahkan wanita itu tidak mengindahkan ancaman suaminya.


"Trus ya, alasan kamu mau ngundurin diri cepet-cepet itu apa?" tanya Dena.


"Enggak ada alasan khusus." balas Fairel merajuk. Ia kembali bersandar di belakang dengan pandangan tertuju pada kaca jendela mobil.


"Astaga!" wanita itu hanya bisa berdecak heran melihat tingkah laku suaminya.


.


.


.


"Taruh di depan aja, Pak." pesan Dena begitu mobil yang mereka tumpangi sudah terparkir di halaman rumahnya.


"Baik, Non." jawab Pak Haryo lalu menurunkan barang-barang milik Dena dan Fairel dan menaruhnya tepat di depan pintu utama.


"Ayo, Rel." ajak Dena kepada suaminya yang tampak diam semenjak obrolan mereka di mobil.


Tanpa menjawab sepatah kata pun, pria itu keluar dari mobil lewat pintu berbeda. Kening Dena sempat mengerut melihat tingkah aneh suaminya.


Keduanya berjalan menuju pintu yang sudah terbuka lebih dulu dari dalam. Tampak kedua orang tua Dena keluar untuk menyambut kedatangan anak dan menantunya.


"Assalamu'alaikum."


"Ayo masuk!" ajak Cahya mempersilahkan masuk.


"Adek mana, Bun?" tanya Dena heran karena tidak melihat adik-adiknya menyambut kedatangannya.


"Ini udah masuk jam tidur siang, jadi, mereka udah tidur di kamar."


"Owhh..." Dena hanya mengangguk saja.


"Papa dan Bunda apa kabar?" tanya Fairel baru buka suara.


"Alhamdulillah baik."


"Kayaknya Bunda gak perlu tanya kalian deh. Soalnya keliatan bahagia banget." ujar Cahya sedikit tertawa.


"Bunda mahh..." rengek Dena membuat tawa sang Papa keluar begitu saja.


"Temen-temen kamu gimana? Terutama si Dewi, kalian gak bareng pulangnya?" tanya Wira.


Dena menggelengkan kepalanya. "Mereka mau ambil cuti bentar katanya."


"Bagus lah. Kalian? Gak mah ambil cuti juga? Pergi liburan atau honeymoon gitu?" sahut Cahya menyarankan.

__ADS_1


Dena tidak langsung menjawab, melainkan langsung menatap suaminya.


"Kayaknya enggak dulu deh, Bun. Soalnya aku udah lama ambil cuti, takut kantor gak ada yang ngurusin."


"Ya udah deh, senyamannya kalian aja. Kalau nanti mau liburan bilang, biar Papa yang urus semua keperluan kalian."


"Iya kan, Mas?" Cahya menatap suaminya.


Wira mengangguk. "Rel?" panggil pria itu kepada menantunya.


"Iya, Pa?" jawab Fairel terasa sangat asing begitu ia memanggil Papa.


"Kamu kenapa? Dari tadi kok diam aja?" tanya Wira sedikit penasaran.


"Gak apa-apa kok, Pa. Mungkin efek jet lag, jadinya Arel kecapekan dikit." kilah Fairel.


"Owh, ya sudah. Kamu masuk aja ke kamar Dena, udah dibersihin kok sebelum kalian sampai di sini." ujar Wira sedikit keheranan.


"Kalau gitu, Arel ke atas dulu ya, Pa, Bun."


"Iya, iya, silahkan."


"Aku ke kamar dulu." pamit Fairel kepada istrinya lalu langsung beranjak dari tempatnya. Tidak lupa pria itu membawa koper miliknya dan milik sang istrinya.


Sedangkan Dena hanya terdiam menatap kepergian suaminya.


"Kamu apain suami kamu? Pulang-pulang udah masam gitu?" pertanyaan ith terlontar dari mulut ibu sambungnya yaitu Cahya.


"Merajuk tadi di mobil." jawab Dena jujur.


"Kok dibiarin sih? Sana bujuk." titah sang Bunda.


Dena langsung menganggukkan kepalanya.


"Waktu aku merajuk kok gak kamu bujuk sih?" protes Wira kepada istrinya.


"Malahan aku yang bujuk kamu, kok bisa kebalik?" cerca pria itu.


"Tergantung."


"Apa?"


"Tergantung mood ku. Kalau bagus ga bakal aku bujuk, kalau engga sih paling-paling dibiarin."


Mendengar perdebatan kecil dari orang tuanya membuat Dena hanya bisa geleng-geleng kepala. Akhirnya wanita itu pun segera pergi ke kamarnya untuk menyusul suaminya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2