My Fierce Boss

My Fierce Boss
Perjuangan Fairel


__ADS_3

Fairel menyimpan motornya di teras rumahnya. Motor itu adalah motor pemberian Wira saat ia remaja dulu, sebelumnya Fairel sempat mengembalikannya. Namun, ternyata motor itu kembali lagi ke tangannya. Meskipun sudah beberapa tahun yang lalu, tapi, motor itu masih terawat rapi. Tidak ada kerusakan sedikit pun di body motornya. Hanya saja warnanya sudah mulai memudar.


"Oyyyy, Rel. Baru pulang?" baru saja akan membuka pintu, tiba-tiba saja seseorang berteriak memanggil namanya.


Fairel mengedarkan pandangannya dan seketika melihat sosok pria melambaikan tangan ke arahnya.


"Lo udah lama di luar?" tanya Fairel mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam.


"Baru aja kok, pas denger bunyi motor berhenti gue langsung keluar."


Sandi, teman Fairel itu berjalan menghampirinya. Jarak tempat tinggal mereka hanya beberapa meter saja. Ya bisa dibilang sangat dekat karena tempat Fairel menyewa kost berdampingan dengan tempat Sandi. Pertanyaannya kenapa mereka tidak tinggal satu rumah saja? Ya karena Sandi sudah menetap bersama rekan kerjanya.


"Gak ada capek-capeknya ya, Rel." keduanya memutuskan untuk duduk bersantai di teras depan rumah Fairel.


"Capek sih ada, tapi, syukuri aja masih bisa di kasih tempat tinggal yang bagus." balas Fairel.


"Kerjaan lo di tempat yang baru gimana?" tanya Sandi.


"Baik-baik aja."


"Syukur deh. Gue sempat khawatir karena sebelumnya kan lo di PHK."


"Makasih." Fairel menepuk-nepuk bahu Sandi pelan.


"Gak masalah. Kita sama-sama anak perantau. Ada keluarga yang perlu kita kasih nafkah."


Fairel melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Ia langsung teringat dengan sesuatu yang dua bulan ini sudah menjadi rutinitasnya.


"San, kita lanjut ngobrol besok lagi ya? Gue harus siap-siap sekarang." kata Fairel.


"Gak apa-apa, Rel. Kalau gak mampu berhenti aja, jangan dipaksain nanti malah kesehatan lo menurun." nasihat Sandi.


Fairel yang mendengarnya tersenyum. "Selagi jalur kuning belum melengkung gue masih bisa berjuang, San. Gue gak mau buang kesempatan lagi."


"Tapi, Rel, itu kayaknya berat banget loh. Kita bukan dari kalangan atas, kita berbeda dengan mereka, Rel. Untuk hidup aja kita perlu bekerja keras, belum lagi menafkahi keluarga di kampung." ujar Sandi terdengar masuk akal.


Fairel menghela nafas panjang. Ia memegang bahu Sandi. "Gue tau, San. Tapi, gue gak mau melepaskan begitu aja. Lo tau kan gimana rasanya kalau melepas paksa orang yang lo cintai? Seolah-olah kita sebagai kaum pria itu gak berjuang sama sekali. Bukankah tugas kita kaum pria itu berjuang? Perjuangan gak akan menghianati hasil, San. Mereka cuma mau melihat perjuangan, bukan sebuah keluhan."


"Tapi, gue kasian aja liat lo yang kayak gini, Rel. Udah dua bulan lo selalu pulang larut. Pagi siang kerja masa ditambah malam lagi."


"Nanti lo bakal ngerasain apa yang gue rasain sekarang, San."


"Udah dulu ya, gue masuk dulu. Lo kalau mau di sini silahkan, tapi, banyak nyamuk di luar."


"Enggak deh, kalau gitu gue pulang dulu."


"Oke."

__ADS_1


.


.


.


"Malam."


"Malam, Rel."


Seorang pria yang mengenakan apron langsung melepaskannya lalu memberikannya kepada Fairel.


"Gantian ya, Rel. Kalau gitu gue pulang dulu, capek, mau istirahat."


"Oke, Bang. Makasih ya, Bang."


"Sama-sama, Rel. Semangat ya."


"Siap, Bang."


Fairel segera mengenakan apron berwarna coklat ke tubuh bagian depannya, menyimpul tali apron di belakang tubuhnya. Apron coklat yang menjadi bagian kisah hidupnya dulu.


"Rel, meja nomor lima ya." seorang pria mendatanginya sambil memberikan secarik kertas kepadanya.


"Oke, Bang." Fairel bersiap-siap untuk menyeduh kopinya. Memberikan hidangan yang terbaik kepada pelanggannya.


Setiap harinya Fairel selalu pulang larut malam. Disaat semua orang beristirahat, namun, berbeda dengan Fairel. Ia masih mengerahkan semangat dan juga tekadnya. Pagi hari sampai sore bekerja, belum lagi malam harinya. Bisa dihitung setiap harinya Fairel hanya bisa tidur selama 5 jam lamanya.


Sampai sekarang pun tidak ada yang tau selain Sandi kalau ia bekerja paruh waktu. Fairel hanya tidak ingin menunjukkan bagaimana proses dan segala keluhannya. Tapi, yang ingin ia tunjukkan hanyalah sebuah hasil dan pencapaian.


Tidak terasa waktu kerjanya sudah habis, cafe sudah bersiap untuk tutup. Sebelum itu, Fairel harus membuang sampah ke tempat pembuangan sampah atau yang biasa disebut TPS.


Ternyata hanya dirinya seorang saja yang belum pulang karena memang biasanya Fairel ditugaskan untuk mengunci cafe.


Setelah memastikan semuanya bersih, pria itu bergegas pulang. Tidak lupa ia mengunci pintunya.


Sesampainya di tempat kost-annya, Fairel sedikit dibuat terkejut dengan kehadiran Sandi yang tampak bolak-balik berjalan di teras rumahnya.


"Lo kenapa, San?" tanya Fairel memarkirkan motornya di depan.


"Gue nungguin lo dari tadi, Rel." terdengar nada cemas dari balik ucapan Sandi.


"Nungguin gue?"


"Gue minta tolong sama lo. Boleh gak?"


Fairel menggaruk kepalanya tidak gatal. "Boleh-boleh aja asal itu masih bisa gue bantu."

__ADS_1


"Gue mau pinjem uang, Rel. Bisa?" tanya Sandi hati-hati.


"Pinjem uang?"


"Iya, penyakit orang tua gue tiba-tiba kambuh. Dan, gue sama sekali gak ada nyimpan duit, gue belum terima gaji bulan ini. Gue ga tau lagi mau minta tolong sama siapa."


"Butuh berapa?" kata Fairel.


"Lima juta aja, Rel. Nanti kalau gue udah gajian pasti gue bayar kok."


"Tunggu di sini bentar. Gue ke dalam dulu."


"Makasih, Rel."


Fairel menganggukkan kepalanya. Ia langsung masuk ke dalam rumahnya dan pergi ke kamar. Fairel membuka lemari pakaiannya dan mengambil uang simpanannya yang ia simpan di bawah tumpukan baju.


Fairel menarik nafasnya dalam. Ia hanya berdo'a semoga orang tua Sandi cepat sembuh dari penyakitnya. Fairel langsung menghitung uangnya yang ternyata memang pas. Ia langsung memasukkannya ke dalam amplop lalu segera keluar dari kamar.


"Ini, San. Semoga orang tua lo cepet sembuh ya." Fairel menyodorkan amplop yang tampak tebal di tangannya.


"Makasih, Rel. Sekali lagi makasih, gue gak tau lagi mau minta tolong ke siapa." Sandi menundukkan kepalanya menahan isak tangisnya sembari menatap amplop di tangannya.


"San." Fairel memegang bahu Sandi. "Kita udah temenan lama. Lo gak usah ngerasa gak enak gitu. Gue udah anggap lo sebagai saudara. Gue juga tau gimana rasanya ada di posisi lo saat ini."


"Gue gak enak aja, Rel."


"Stop ngomong gitu. Oh ya, lo mau pulang ke kampung?" tanya Fairel.


"Iya, Rel. Gue juga udah izin tadi. Gak ada yang jaga orang tua gue di kampung, saudara yang lain juga gak punya."


"Ya udah, hati-hati. Lo berangkatnya kapan?"


"Rencananya sih sekarang, gue juga gak banyak bawa barang."


"Kalau gitu gue antar lo ke stasiun." ucap Fairel.


"Eh! Gak usah, Rel. Beneran gak usah. Lo istirahat aja, gue tau lo capek pulang dari kerja. Apalagi sekarang udah tengah malam." tolak Sandi.


"Gue gak nerima penolakan dari lo, San. Kita ini saudara. Lo senang, gue juga ikut senang. Lo sedih gue juga ikut sedih. Kalau gitu, langsung berangkat aja sekarang, takut nanti ketinggalan kereta."


"Sekali lagi makasih, Rel." Sandi menatap Fairel haru. Orang yang selalu ada disaat ia susah hanyalah Fairel. Mereka selalu bertukar cerita, apalagi memiliki latar belakang yang sama.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2