My Fierce Boss

My Fierce Boss
Ajakan Dicky dan Rafael


__ADS_3

Tiga hari kemudian acara sudah rampung. Bahkan lingkungan sekitar desa pun sudah kembali bersih dari sampah-sampah yang sebelumnya berserakan di mana-mana terutama di sekitar rumah kakek Hari. Selama tiga hari itu semua orang tampak sibuk mondar-mandir sana sini. Sementara Dena dan Fairel yang menjadi tuan rumah acara itu pun tenaganya seakan terkuras habis. Berdiri berjam-jam lamanya di atas pelaminan untuk menyambut tamu yang berdatangan.


Tepat hari ini pasangan pengantin baru itu mengantarkan keluarga Dena ke bandara karena hari ini keluarganya akan kembali ke Jakarta sementara Dena dan Fairel menetap untuk sementara waktu sekaligus liburan.


Keduanya melambaikan tangan saat rombongan keluarga Dena akan segera masuk ke dalam pesawat karena sebentar lagi akan take off. Orang tuanya memberikan sedikit petuah untuk pasangan pengantin baru tersebut.


"Langsung pulang?" tanya Fairel melihat istrinya menatap lama keluarganya yang sudah tidak terlihat.


Dena tersadar dan segera menganggukkan kepalanya.


"Ayo!" pria itu meraih telapak tangan Dena dan menggenggamnya. Keduanya berjalan menuju parkiran.


"Rumah jadi sepi." ucap Dena sedikit murung.


Fairel menoleh dan mendapati wajah murung istrinya. "Bagus dong kalau sepi." balasnya dengan makna tersirat.


"Nanti sepulang dari sini kita juga bakal pisah rumah dengan Papa kan." lanjutnya. Lalu Dena mengangguk menyetujui karena memang setelah pulang dari kampung kakeknya. Mereka memutuskan untuk tinggal berdua di apartemen Dena. Mungkin sesekali mereka akan menginap di kediaman Papanya. Awalnya orang tua Dena tidak menyetujui, tapi, berkat bujuk rayu Dena akhirnya mereka mengizinkan.


"Kamu mau ke pasar tradisional gak?" tawar Fairel tiba-tiba.


"Boleh." jawab Dena seadanya. Lalu keduanya langsung menuju pasar tradisional yang berada tidak jauh dari bandara. Mereka menggunakan motor peninggalan kakeknya dulu yang masih tampak awet dan terawat. Ketika rumah kakek Hari kosong, rumahnya akan ditempati dan dirawat oleh salah satu warga yang diminta oleh Wira untuk menjaga dan merawat semua peninggalan yang ada di rumah Kakek Hari.


Begitu sampai di pasar tradisional, suasana terlihat ramai akan pengunjung karena memang pasar itu tidak pernah sepi terkecuali hari libur.


"Kita ke sana." Fairel menggenggam tangan istrinya dan menariknya pelan.


"Masih inget gak?" tanya Fairel begitu mereka tiba di sebuah pedagang aksesoris.


Dena mengangguk, bagaimana bisa ia lupa dengan tempat itu. Tempat yang dulunya menjadi tempat terkahir setiap Dena akan kembali dari liburannya. Wanita itu mendekat dan mengambil kalung berwarna hitam yang bergantung.


"Ini gak jauh beda dengan yang dulu." ujarnya sambil melihat kalung itu teliti.


"Iya, bedanya yang dulu itu ada inisial namanya. Kalau yang ini beda." sahut Fairel ikut memegang benda yang sama.


"Mau ambil gak?" tawar Dena mendongakkan kepalanya.


"Ambil dua boleh." pria itu menatap pemilik dagangan yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Berapa, Bu?" tanya Fairel.


"Yang itu sepuluh tiga, Mas." jawab pemilik dagangan.


Fairel langsung mendekatkan wajahnya ke telinga istrinya dan berbisik. "Sepuluh tiga, ambil satu lagi." ucap pria itu mendapat anggukan dari Dena.

__ADS_1


Lalu, setelah mengambil benda itu mereka langsung membayarnya.


Keduanya langsung pergi sambil bergandengan tangan. Dena terus menatap kalung hitam itu yang berada di dalam genggamannya.


"Rel, ini lebih satu. Satunya mau dikasih ke siapa?" tanya Dena yang tidak mendapat respon apapun dari suaminya. Wanita itu langsung tersadar dan mengatupkan bibirnya rapat.


"Maaf, aku belum terbiasa dengan ini semuanya." ujar Dena meminta maaf.


Fairel yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap istrinya. Pria tersebut memegang pundak Dena lembut.


"Aku tau, dan aku pun juga ngerasain itu. Tapi, aku mau kita saling belajar. Aku gak marah karena mungkin kamu belum terbiasa dengan status kita yang sekarang. Aku juga punya banyak kekurangan... mau kan sama-sama belajar?" Fairel menatap istrinya teduh.


Dena membalas tatapan itu kemudian menganggukkan kepalanya.


"Pinter. Ayo pulang!" ajak Fairel yang masih sempat mengacak-acak rambut istrinya membuat wanita itu hanya menoleh senyum.


Begitu sampai di tempat mereka menyimpan motor tadi, Fairel langsung memakaikan Dena helm di kepalanya begitu juga dengan dirinya. Lalu, mereka langsung tancap gas kembali ke rumah.


Saat mereka tiba di rumah, hari masih lumayan terang. Jam masih menunjukkan pukul dua siang. Agar tidak merasa suntuk di rumah, keduanya memilih untuk berkeliling di sekitaran desa.


Bukan menggunakan motor, melainkan menggunakan sepeda ontel peninggalan kakeknya dulu. Dena tampak duduk menyamping dengan sebelah tangan berpegangan pada pinggang Fairel. Pria itu asik mengayuh sepedanya membelah jalanan kecil perdesaan. Cuacanya juga tidak terlalu panas membuat mereka tidak kepanasan.


Pasangan pengantin itu tampak menikmati suasana siang yang begitu menyejukkan. Sesekali mereka tersenyum menyapa para warga sekitar.


Saat asik mengayuh sepeda, tiba-tiba saja Fairel berhenti mengayuh, membuat laju sepedanya melambat. Dena sempat bingung, namun, begitu melihat ke arah depan akhirnya ia paham apa alasan Fairel berhenti mengayuh. Di depan sana di pinggiran jalan ada kedua sahabat Fairel.


Dena hanya tersenyum karena tidak berani mengejek teman-temannya. Namun, niat ingin mengejek itu justru dilontarkan oleh suaminya.


"Hai, lagi ngapain kalian di sana?" tanya Fairel jahil.


Dicky dan Rafael mengangkat cangkul mereka ke atas, seakan-akan ingin mencabik wajah Fairel menggunakan besi cangkul tersebut.


"Hahahahahaa..." tawa Fairel meledak, sahabatnya hanya diam tidak menanggapi.


"Mau ikut keliling gak?" Fairel menghentikan tawanya dan menawarkan ajakan.


Saat itu, Dicky langsung menaruh cangkulnya di pinggiran parit sembari menyeka keringat di dahinya. "Kemana?" tanya pria tersebut.


"Jalan-jalan dong. Mau ke kebun Kakek sekalian cari bahan yang bisa dipanen." jawab Fairel.


"Gak bisa." sahut Rafael. "Ini belum kelar, kalau gak dikelarin noh siap-siap gue dilemparin panci." kelakar Rafael.


"Gue juga." sambung Dicky.

__ADS_1


"Jadi? Kalian gak mau ikut?" tawar Fairel sekali lagi.


"Enggak. Eh ya, mungkin lo aja yang harus ikut nanti malam." kata Dicky.


"Ikut kemana?"


"Gue sama Rafa mau ke rumah pak rt. Nanti malam ada acara, ya biasa nemenin bapak-bapak ngumpul sambil main catur. Lo mau ikut gak?" Dicky langsung menatap ke arah belakang Fairel dimana ada Dena yang masih bertengger manis di tempat duduk penumpang sambil menatap mereka.


"Nanti malam ya?" gumam Fairel terdengar oleh sahabatnya yang saat itu langsung menganggukkan kepalanya.


"Kayaknya gue gak bisa deh." tolak Fairel mendapat tatapan bingung dari kedua sahabatnya. "Kalau gue pergi, Dena sendiri dong kecuali dia mau ikut. Kamu mau ikut, Sayang?" tanya Fairel sambil menoleh ke belakang.


Sementara Dicky dan Rafael yang mendengar nama sayang dari Fairel pun seakan geli dan mau muntah. Bayangkan, pria yang dulu menjadi sosok anti perempuan itu kini sekarang berubah bucin. Entah apa pelet yang Dena berikan sehingga membuat sifat Fairel yang cuek itu seakan hilang sirna.


Dena langsung menolak mentah-mentah dengan cara menggelengkan kepalanya.


"Tuh kalian liat sendiri kan." ujar Fairel kepada sahabatnya.


"Ikut aja, Na. Nanti gue ajak Dewi, Risty, sama Anna deh. Kali aja lo gak bakal bosen."


Sekali lagi Dena menolak. Ia menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri. "Bilangin aja biar nanti mereka yang pergi ke rumah."


"Oke deh."


"Trus gimana, Rel?" tanya Rafael.


Belum sempat Fairel menjawab, namun, istrinya sudah menyerobot duluan. "Udah ikut aja, nanti aku gak bakal sendiri kok. Ada temen-temen juga." ujar Dena menenangkan.


"Beneran gak apa-apa?"


"Iya, beneran. Asal nanti pulang jangan kemalaman."


"Enggak kok."


"Ya udah, gue ikut kalian."


"Nah, gitu dong Rel dari tadi kek. Ini lama banget mikirnya, sampe-sampe kerjaan gue terbengkalai. Udah sana! Kalian lanjut aja kelilingnya." usir Dicky.


"Dih!" Fairel melengos dan segera mengayuh sepedanya lagi membawa istrinya berkeliling di sekitaran desa.


.


.

__ADS_1


.


brrrrr, author punya kejutan๐Ÿ˜€ ada yg mau dan nungguin kisah papa Wira dan bunda Cahya gak sih?


__ADS_2