
Para sahabat Dena dan Fairel berdatangan ke rumah mereka. Dicky dan Rafael yang ingin menjemput Fairel dan Dewi, Risty serta Anna yang ingin menemani Dena sewaktu Fairel pergi.
"Hati-hati, inget pulangnya jangan kemalaman." pesan Dena.
Fairel menganggukkan kepalanya sembari tersenyum lalu tangannya mengusap pelan pucuk kepala Dena.
"Iya, kita juga pulangnya maksimal jam setengah sepuluh." sahut Dewi.
"Eh, Na. Nanti kalau dia pulang larut, lo kunciin aja dari dalam." sambung Anna dengan sadis. Dan itu mendapat anggukan kepala dari Dena.
"Kalau gitu aku sama yan lainnya pamit."
"Iya." balas Dena sambil melambaikan tangan menatap kepergian suami dan sahabatnya.
"Ayo!" tiba-tiba tangannya digandeng kemudian dibawa masuk ke dalam.
Sementara itu, Fairel dan kedua sahabatnya langsung menuju ke rumah pak rt menggunakan jalan kaki.
"Rel, lo kok mau nikah sih?" pertanyaan aneh itu terlontar oleh Dicky yang memiliki sedikit ketidakwarasan.
Fairel menoleh dan menatap aneh. "Emangnya lo gak mau nikah?" ujar pria tersebut.
"Bukan gitu maksud gue. Maksudnya tuh lo kok mau nikah secepatnya ini?"
Fairel hanya mengidikkan kedua bahunya ke atas. Dirinya berjalan di sebelah kiri sedangkan Dicky di tengah dan Rafael di sisi kanan.
"Lo kangen balapan gak?" cetus Rafael.
Fairel terdiam sejenak. Mungkin iya kalau dirinya rindu dengan aksinya itu. Tapi, bukankah sekarang Fairel sudah tobat?
"Kita udah gak muda lagi, El." jawab Fairel seadanya.
"Lahh, emangnya balapan cuma boleh dilakuin oleh kalangan muda? Asal lo tau, kita tuh baru dua puluh enam. Bukan bapak-bapak enam puluhan." balas Rafael.
"Masalahnya gini, emangnya lo mau kita dikejar-kejar warga? Sedangkan kita itu udah dewasa, kalau remaja sih masih wajar karena mereka masih labil."
"Iya sih, malu-maluin aja." sambung Dicky.
Fairel langsung menatap sahabatnya sengit. "Gue kira lo yang malu-maluin." pria itu tersebut miring mengejek Dicky.
"Ck! Keterlaluan." cibik Dicky tidak terima.
"Udah udah, tuh udah sampai." lerai Rafael.
"Rame juga ya, dipenuhi sama bapak-bapak."
Fairel dan Rafael tidak menanggapi perkataan Dicky kemudian terus melangkah memasuki halaman perumahan pak rt yang sudah terlihat di penuhi oleh rombongan bapak-bapak.
"Assalamualaikum." ucap mereka serentak.
"Wa'alaikumsalam." jawab rombongan laki-laki.
Ketiganya mulai bersalaman dengan satu per satu warga. Sesekali ikut nimbrung mengobrol.
"Akhirnya yang ditunggu-tunggu dateng juga. Wahh!! Baru muncul nih pengantin baru." celetuk pak rt yang baru saja keluar dari dalam rumahnya.
Fairel hanya tersenyum lalu menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Malam, Pak." sapanya.
"Hahaha, iya, malam. Istrinya gak diajak?" tanya pak rt dibalas gelengan kepala oleh Fairel.
"Bukan gak diajak, Pak. Istrinya dikurung terus di dalam rumah." celetuk Rafael bercanda.
Fairel langsung menyenggol lengan Rafael.
"Waduh... iya, iya. Saya paham gimana rasanya jadi pengantin baru. Masih panas-panasnya." balas pak rt tertawa.
"Kasih istirahat dulu istrinya, Rel. Jangan digarap terus." teriak bapak-bapak yang duduk di belakang mereka.
"Hahahahaa..." tawa warga langsung menggelegar mendengar ucapan bapak itu.
"Ada-ada saja. Tapi, gak ada salahnya kok, Rel."
__ADS_1
"Aku juga pernah dulu sama istri. Alhasil dikurung terus di dalam kamar, rasanya gak rela kalau istri keluar rumah."
"Itu mah posesif, Pak. Yang ada istrinya malah tepar, hahaha..."
"Ck! Masa muda dulu memang enak. Kalau sekarang sudah beda. Kita sudah tua, sudah punya anak cucu."
"Tapi, gak ada salahnya bersikap manis pada istri. Biar bagaimana pun juga, kan kita yang ngambil sari-sari manis mereka. Hahahaha."
Fairel yang mendengar itu malah tertunduk malu. Perkataan beberapa warga malah membuatnya malu sendiri. Andai mereka tau kalau Fairel belum sama sekali menyentuh istrinya. Dan apakah dirinya harus mengambil kesempatan malam ini? Ya, mumpung rumah lagi sepi.
Dugh
"Jangan traveling." Dicky menyenggol lengannya keras.
"Kita duduk di sana." tunjuk Rafael di bawah pohon mangga besar yang di bawahnya ada tempat duduk khusus.
"Kami ke sana dulu ya, Pak." izin Rafael.
"Iya, silahkan silahkan."
.
.
.
"Pulang dulu ya, Na. Udah malam soalnya, lo juga harus istirahat." ujar Anna.
Mereka berkumpul di teras depan karena harus segera pulang ke rumah karena jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Dan sampai sekarang pertanda Fairel pulang pun tidak ada.
"Iya, gak apa-apa. Kalian hati-hati ya pulangnya. Apalagi melewati pohon-pohon gede." balas Dena menakut-nakuti.
"Heh!"
Risty langsung merapatkan tubuhnya ke arah Dena sambil memegang lengan wanita tersebut. "Pstt! Lo kalo ngomong disaring. Ini tuh malam jum'at."
Anna yang mendengar itu langsung mengusap belakang lehernya dan ikut merapat ke tubuh Dena. Sedangkan Dewi hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
Risty dan Anna bergidik mendengarnya.
"Tau ah! Lepas." Dena mencoba untuk melepaskan tubuhnya dari jerat kedua sahabatnya.
"Wi, tolongin dong seret mereka berdua nih. Gue mau masuk, dingin lama-lama di luar." pinta Dena.
"Gak mau!" tolak Risty menggelengkan kepalanya.
"Ck! Lo mau tidur bareng gue? Bareng laki gue? Kalo lo liat adegan iya-iya gimana?" cetus Dena.
Saat itu juga keduanya langsung melepaskan pelukannya dan menatap Dena sengit. Sesaat Risty dan Anna saling pandang. "Ogah!" balas mereka serentak sambil melengos ke samping.
"Tuh tau. Udah ya? Wi, bawa mereka pulang."
"Ayo pulang!" Dewi menarik ujung pakaian mereka dan menyeretnya menjauh.
"Dadaahhhh..." Dena melambaikan tangannya sambil tersenyum tengil.
.
.
.
Kembali ke tempat semula dimana Fairel dan kawan-kawan asik menikmati malam. Saling mengobrol, dan bercerita. Bahkan mereka sempat bermain catur bersama warga lainnya.
Kepulan asap rokokk terlihat keluar dari hembusan nafas Fairel. Sebenarnya pria itu tidak ingin merokokk, namun, dirinya dipaksa oleh teman-temannya. Dan lihatlah sekarang, mereka seakan lupa waktu. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Dimana sebentar lagi akan memasuki hari esok.
"Hoaammm..." Dicky tiba-tiba menguap saat mereka fokus bermain catur.
Mendengar itu membuat Fairel tersadar. Bahkan gerakan tangannya yang akan kembali menghisap rokokk itu seketika terhenti.
"Mati gue." batinnya meringis.
"Ky, El. Ini jam berapa?" tanya Fairel hati-hati.
__ADS_1
Rafael langsung merogoh ponselnya dan melihat jam di sana. Pria itu pun sama dengan Fairel. Bedanya, dirinya meringis kasihan dengan nasib sahabatnya.
"15 menit otw jam 12." jawabnya seketika langsung membuat Fairel terlonjak dari tempat duduknya.
"Sumpah! Kalian kenapa gak ngasih tau gue sih." pria itu grasak-grusuk mengambil ponsel yang berada di sebelahnya lalu merapikan pakaiannya. Bahkan rokokk yang masih tersisa setengah langsung ia injak.
"Gue pulang dulu." pria itu langsung melengos tanpa sempat berpamitan kepada beberapa warga yang masih stay di sana.
Pria itu berlari sekencang mungkin. Ia tidak lagi perduli dengan gosip-gosip para warga yang mengatakan bahwa malam jum'at tidak boleh berkeliaran di tengah malam. Apalagi saat ini Fairel melewati pohon-pohon besar dan tampak rindanh. Tampilannya di malam hari memang menyeramkan, namun, saat di siang hari itu akan sangat berguna untuk berteduh bersantai.
"Ya Allah. Sumpah! Bisa-bisa gue dikunciin dari dalam." jelas Fairel panik karena telah melanggar janjinya tadi untuk tidak pulang larut malam. Ini bukan larut malam lagi! Tapi, sudah tengah malam.
Hanya membutuhkan waktu lima menit bagi Fairel untuk sampai setelah berlari tunggang langgang.
Nafasnya terengah begitu berdiri di depan pintu. "Huhhhhhh huuuhhhhh... rileks." gumamnya sembari menarik nafas dalam.
Lalu, tangannya perlahan menekan handle pintu. Dan ternyata pintunya sama sekali tidak dikunci. Fairel masuk dan menyadari keadaan sudah gelap. Ia berjalan mengendap-endap.
Tujuan utamanya jelas ke kamar. Pria itu dilanda panik. Dengan perlahan ia membuka pintu itu dan ajaibnya lagi ternyata tidak dikunci. Jantungnya dagdigdurser lantaran mencium aroma kabar tidak baik untuk dirinya.
Suara derit pintu terdengar. Fairel pikir Dena sudah tertidur karena terlalu lama menunggunya. Tapi, kenyataannya tidak. Begitu ia masuk, keadaan yang awalnya gelap kini berubah terang.
Fairel mematung menatap istrinya yang hampir mirip dengan singa ketika bangun tidur. Diam-diam Fairel meneguk ludahnya kasar. Keringat sudah mengalir di dahinya efek berlarian dan juga ketakutan. Bukan takut dengan hantu.
Di sana, di dekat saklar lampu. Ia melihat istrinya perlahan mendekat. Tangannya menyilang di dadanya dengan tatapan mata lembut. Tidak lupa dengan senyum manisnya yang tercetak indah.
"Janji pulang tadi jam berapa?" tanya Dena halus.
Jantung Fairel berdegup kencang. Baru pertama kali ia merasakan sensasi luar biasa seperti ini. Sensasinya jauh kalah dari sensasi ketika dikejar anjingg.
"J- jam s- epuluh." jawab Fairel terbata. Apalagi melihat Dena melangkah mendekatinya.
Tiba-tiba ekspresi Dena berubah. Yang semula senyum kini datar tidak berekspresi. Indera penciuman menajam. Dena mencium aroma yang jelas ia benci. Yaitu, rokokk.
"Habis berapa batang?!" cerca Dena.
"A- apanya?" beo Fairel tidak mengerti.
"Kamu merokookk kan? Habis berapa batang tadi?" tanya Dena.
"E-emmm..." Fairel menggigit bibir bawahnya karena ia sendiri pun lupa.
"Berapa!?"
"A- aku lu- pa."
Dena tampak angguk-angguk. Sedetik kemudian ia mengangkat kepalanya, menatap wajah suaminya yang tampak amburadul.
"Bagus. Besok-besok nanti aku beliin yang mahal. Beda kan rasanya rokookk yang mahal dan murah?"
Fairel tidak berani menjawab. Baru kali ini ia melihat kemarahan Dena. Baginya, sangat menakutkan!
"Malam ini kamu gak usah tidur bareng aku!"
Jedarrrr!!!
Fairel tidak berani melawan maupun memprotes. Sungguh! Itu kalimat sakral yang baru pernah ia dengar.
"Kamu denger kan?" tanya Dena memastikan.
"M- maaf, S-ayang... t-tadi ak-aku dip-aksa Iky sama R-rafa." jelas pria itu terbata.
"Aku gak mau dengar. Sekarang, kamu keluar. Mulai malam ini, kamu gak usah tidur bareng aku kecuali bau rokook itu hilang." Dena berbalik dan bersiap menuju ke tempat peraduan.
"Tutup pintunya." titah wanita itu lalu membungkus tubuhnya menggunakan selimut sampai yang terlihat hanya rambutnya saja.
.
.
.
pov author: (Aku siap nemenin kamu tidur, Rel).๐
__ADS_1