
Keesokan harinya, Dena tampak mengambil alih perannya sebagai ibu rumah tangga. Pagi-pagi sekali ia terbangun, menyapu, mengepel, dan terakhir memasak. Seperti saat ini, ia terlihat berkutat dengan pisau di dapur.
Fairel? Jangan ditanyakan. Pria itu masih molor di kamar sebelah. Dena tidak tau jam berapa suaminya tidur semalam setelah ia usir dari dalam kamar. Terdengar kejam, namun itu lah hukuman yang setimpal. Jika suaminya itu pulang larut, Dena masih bisa memberikan toleransi. Namun, ternyata pria itu juga melakukan hal yang paling tidak Dena sukai, yaitu merokok. Itu lah mengapa Papanya tidak pernah menyentuh barang yang membahayakan kesehatan.
Dulu saat remaja, Dena selalu dimanjakan oleh fasilitas yang diberikan Papanya. Ia sama sekali tidak menyentuh barang-barang di dapur. Tepat diusianya yang ke-16 tahun, Dena mulai diajarkan cara memasak oleh mendiang kakeknya dulu. Namun, sekarang sudah berbeda. Dena cukup menguasai aktivitas yang berhubungan dengan dapur. Sejak tinggal di Paris dulu, Dena selalu dituntun untuk mandiri. Pernah sekali wanita itu menangis dan hampir putus asa lantaran tidak sanggup hidup sendiri.
Saat sedang adik memotong bawang, tiba-tiba hidung Dena mencium aroma yang familiar di hidungnya. Siapa lagi kalau bukan aroma bau badan Fairel. Ternyata pria itu sudah terbangun dari tidurnya.
Di belakangnya, Fairel baru saja datang dari arah kamar mandi setelah mencuci muka dan menggosok giginya. Wajahnya tampak kusut bak pakaian yang belum disetrika.
Dena sadar, namun, ia tidak menggubris keberadaan suaminya ataupun membalikkan badan untuk melihat wajahnya. Hatinya masih terasa dongkol jika mengingat kejadian semalam. Tanpa sadar dirinya memotong bawang itu cukup kuat sehingga menimbulkan suara antara pisau dan juga talenan.
Tak tak tak tak
"Pelan-pelan, nanti kena tangan." tegur Fairel berdiri di belakangnya.
Seketika Dena menghentikan gerakannya, membuat pisau itu terangkat setengah ke udara. Wanita itu masih terdiam tidak menjawab, lalu ia kembali melanjutkan aktivitasnya tanpa memperdulikan teguran dari suaminya.
Namun, ternyata karma itu berlaku bagi seorang istri yang tidak mendengarkan perkataan suaminya. Tidak sampai satu menit kemudian, terdengar pekikan dari Dena saat tanpa sengaja ia mengiris jarinya sendiri.
"Aaawwwss..."
Spontan Dena melepaskan pisau di tangannya dan memegang pertengahan jarinya dan menekannya sehingga darah di ujung jarinya merembes keluar.
Fairel yang mendengar itu juga terkejut. Ia bergegas menarik lengan istrinya sehingga posisinya berubah saling berhadapan.
"Tuh kan. Baru juga dibilangin. Ngeyel sih." omel Fairel.
Pria itu melepaskan tangan Dena yang memegang jarinya lalu berganti dengan dirinya yang memegang jari wanita itu. Fairel tidak berpikir panjang, langsung saja ia mengarahkan ujung jari Dena ke mulutnya. Pria itu menghisap ujung jari istrinya untuk mengeluarkan darahnya.
Sementara Dena hanya diam saja melihat kepala Fairel tertunduk di hadapannya. Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, Dena merasakan hangat di hatinya.
__ADS_1
Setelah merasakan cukup, Fairel menjauhkan kepalanya. Ia segera berlari menuju kamar mandi untuk meludahkan darah di dalam mulutnya. Setelah mencuci bersih mulutnya, pria itu kembali lagi menghampiri istrinya yang tampak termenung sambil memegang ujung jarinya.
"Masih sakit?" tanya Fairel. Ia bergidik ngeri melihat kulit jari istrinya yang tampak hampir terlepas di bagian lukanya. Luka itu jelas menganga, tidak mungkin Dena tidak merasakan sakit.
Dena menggelengkan kepalanya. Namun, Fairel tau bahwa itu adalah bohong. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari obat atau hansaplast. Tidak menemukannya di ruang dapur, Fairel pamit ke kamar mereka untuk mencari obat. Namun, pria itu tidak menemukan satu pun barang yang akan ia gunakan untuk mengobati luka istrinya. Fairel yang tidak kehabisan akalnya langsung merobek ujung baju kaosnya.
Fairel bergegas kembali ke dapur. Begitu sampai, ia langsung menarik tangan istrinya dan melilitkan robekan bajunya tadi di ujung jari istrinya dan mengikatnya agar tidak terlepas.
"Segini cukup?" tanya Fairel memastikan bahwa ikatannya tidak terlalu erat supaya istrinya tidak merasakan sakit.
Dena hanya menganggukkan kepalanya. Ikatan di jarinya itu memang tidak kuat dan tidak terlalu kendur juga. Tapi, Dena merasakan nyut-nyutan akibat efek dari luka itu. Terasa sangat sakit, ngilu perih, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Dena menatap ujung jari telunjuknya yang tampak membesar karena dililit oleh kain.
Fairel menyeka beberapa bulir keringat di pelipisnya. Pria itu menghembuskan nafas panjang. Fairel tidak menyalahkan istrinya karena ia sendiri pun sadar bahwa istrinya merasa badmood karena ulahnya semalam. Dan Fairel tidak menepis itu bahwa ulahnya semalam memang keterlaluan.
Fairel memegang kedua bahu istrinya dan menuntunnya duduk di kursi meja makan. "Biar aku yang lanjutin masak. Kamu duduk di sini, atau mau ke kamar aja istirahat?"
Dena menggelengkan kepala menolak untuk kembali ke kamar. Ia ingin di sini, di dapur, menatap punggung belakang suaminya yang bergerak cekatan dengan barang-barang di dapur. Apalagi melihat pria itu berkeringat, terlihat luar biasa di matanya.
.
.
.
Setelah sarapan pagi, Fairel membereskan semua kekacauan. Dirinya yang memasak, dan mencuci piring juga. Bahkan setelah mandi, Fairel lah yang mencuci dan menjemur pakaian. Dan tepat pada pukul sembilan pagi, Fairel izin keluar untuk pergi ke apotek untuk membeli obat. Pria itu bergegas karena takut kalau lukanya semakin lama akan menimbulkan infeksi.
Fairel membutuhkan waktu sekitar 35 menit termasuk dalam perjalanan pergi dan pulang. Pria itu memarkirkan motor bebek peninggalan kakek Hari di halaman rumah. Pria itu segera masuk ke dalam sambil menenteng kresek hitam di tangannya. Di dalamnya lengkap, ada handsaplast, antiseptik, kapas, dan perbannya. Hitung-hitung untuk berjaga-jaga.
"Sayang." panggil Fairel ketika tidak menemukan istrinya di dalam kamar, begitu juga di ruang tamu ataupun di dapur. Fairel seketika panik, ia bergegas keluar dan malah menemukan istrinya baru kembali entah dari mana. Fairel menghembuskan nafasnya lega, pria itu takut kalau terjadi apa-apa dengan istrinya.
"Kamu kemana? Habis dari mana? Tadi kan aku udah bilang di rumah aja jangan kelayapan." cerca Fairel tanpa henti. Pria itu juga langsung menarik tangan kanan istrinya yang tidak terluka, membawanya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Dena yang tangannya langsung ditarik pun hanya tersenyum saja. Sebegitu khawatirnya pria itu kepadanya.
"Dari rumah tetangga nganterin barang." balas Dena menenangkan kekalutan suaminya.
Terdengar helaan nafas berat dari Fairel. Pria itu langsung memeluk tubuh istrinya erat.
"Jangan marah lagi. Aku minta maaf." ucap Fairel meminta maaf.
Dena tersenyum lalu membalas pelukan suaminya. Wanita itu mengusap-usap pelan punggung belakang Fairel.
"Aku gak marah. Aku cuma mau kamu lebih sadar waktu dan juga satu lagi. Aku gak suka kamu merokok, aku paling benci dekat dengan orang yang suka merokok. Jadi, maaf ya kalau semalam aku udah keterlaluan. Ini juga demi kebaikan kamu." papar Dena menjelaskan.
Fairel lekas melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah istrinya. Menatap bola mata indah itu dan lembut.
"Aku minta maaf karena aku salah."
Dena menganggukkan kepalanya.
"Jadi, kamu udah gak marah lagi?" tanya Fairel dibalas gelengan kepala oleh istrinya.
Cup
Fairel mengecup lama kening istrinya lalu kemudian menjauhkan wajahnya.
"Aku obatin luka kamu. Nanti malah infeksi. Sini duduk!" Fairel menuntunnya untuk duduk di kursi di ruang tamu lalu perlahan mengeluarkan satu per satu barang belanjaannya tadi.
.
.
.
__ADS_1
udah maapan ya ini๐คญ