My Fierce Boss

My Fierce Boss
Gak bisa ditunda


__ADS_3

Malam harinya sepasang pengantin baru itu tampak bersantai di teras depan. Keduanya duduk di kursi kayu memanjang sambil menatap halaman rumah dan langit malam. Tidak ada cahaya bulan dan bintang karena tertutupi awan hitam.


Karena lelah duduk bersandar, Fairel langsung menjatuhkan kepalanya di paha istrinya. Seketika Dena langsung panik.


"By, ini di luar. Nanti apa kata orang." tegur Dena panik lalu berusaha untuk mengangkat kepala Fairel dari atas pahanya.


Namun, Fairel justru menahannya dengan cara memeluk pinggang istrinya. Wajahnya ia benamkan di perut rata wanita tersebut.


"Orang-orang pada di rumah. Lagian ini sepi." kilah Fairel membela dirinya.


"Tapi kan--"


"Syuttt... aku gak mau denger kamu cerewet." potong Fairel sebelum istrinya menyelesaikan perkataannya.


Dena mengerucutkan bibirnya ke depan karena merasa sedikit kesal.


Lama keduanya terdiam, sampai Dena bisa merasakan nafas suaminya mulai teratur meskipun pelukannya tidak terlepas, malahan makin erat.


"Lusa kita pulang ya?" ucap Fairel ternyata belum tertidur.


"Huumm, iya. Kerjaanku juga pasti bakalan numpuk. Kamu mau gantiin aku gak?" tawar Dena.


Fairel berganti posisi, ia berbaring telentang di paha istrinya. "Itu milik kamu yang seharusnya menjadi hak kamu. Aku gak mau menerima dengan cuma-cuma." tolak Fairel.


"Kenapa? Kan sama aja, malahan kalau kamu yang urus, mungkin lebih mudah."


"Owh, iya, iya. Kamu masih makai syarat 2 tahun itu?" tanya Dena lagi.


"Enggak."


"Terus?"


"Aku mau membangun usahaku sendiri. Aku ingin membangunnya dari nol dengan adanya kamu di samping aku. Itu alasannya." jelas Fairel.


Dena mendengar itu hanya mengangguk karena ia menghargai keputusan suaminya. "Jadi, mau bikin usaha apa?" tanya Dena.


"Rencananya aku mah bikin cafe tempat nyantai gitu."


"Udah dipikirin matang-matang?"


Fairel hanya menganggukkan kepalanya. Tangannya mengambil tangan kiri sang istri lalu melihat handsaplast melekat di ujung jarinya.


"Nanti kita diskusiin lagi." ujar Dena sambil membelai lembut kepala sang suami.


Saat sedang asik menikmati malam yang sunyi, tiba-tiba saja terdengar gemuruh lalu disusul dengan hujan lebat yang turun secara tiba-tiba. Otomatis Dena dan Fairel langsung bangkit karena takut basah terkena air hujan.


Keduanya langsung masuk ke dalam, tidak lupa menutup pintu rapat-rapat.


"Hujannya kok mendadak sih?" gumam Fairel sambil menggosok telapak tangannya sendiri karena merasa dingin.


"Enggak mendadak. Dari sore tadi kan udah mendung, mungkin hujannya baru turun sekarang." sahut Dena sambil menutup tirai dekat ruang tamu.


"Hujan-hujan gini enaknya ngapain ya?" tanya Fairel sambil memikirkan hal apa yang akan mereka lakukan nanti.

__ADS_1


"Ya tidur. Sana kamu bersih-bersih dulu, nanti aku nyusul." jawab Dena tidak peka.


Fairel yang mendengarnya langsung mendengus lalu langsung pergi menuju kamar mandi.


"Lahhh??" alis Dena bertaut melihat tingkah aneh suaminya. Setelah menutup tirai, Dena masuk ke dalam kamar sambil menunggu Fairel.


Sementara Fairel yang berada di dalam kamar mandi tampak tenggelam dalam pikirannya dengan mulut penuh busa odol gigi.


Jika di Jakarta kamar mandinya ada wastafel dan juga shower ataupun cermin. Namun, sekarang berbanding terbalik. Di dalam kamar mandi tersebut hanya ada bak air dan juga gayung. Tidak ada yang namanya toilet duduk, di sana hanya ada toilet jongkok. Ruangannya juga tidak terlalu besar maupun kecil, dan juga kamar mandinya menyatu dengan toilet.


Fairel hanya menatap busa odol gigi yang berjatuhan di lantai kamar mandi. Setelah merasa cukup, pria itu segera berkumur-kumur membersihkan busa odol di dalam mulutnya. Setelah menggosok gigi, Fairel membasuh wajahnya lalu mengambil sabun pencuci wajah.


Saat sedang asik menggosok lembut wajahnya, tiba-tiba suara Dena masuk ke indera pendengarannya. Pria itu berhenti sejenak.


"By, udah belum? Jangan lama-lama, aku juga mau bersih-bersih. Kalau kelamaan takut makin dingin." seru Dena dari balik pintu.


"Bentar, Sayang." jawab Fairel akhirnya menyudahi aktivitasnya. Pria itu lekas membilas wajahnya dan segera keluar dari dalam kamar mandi.


Fairel sedikit terkejut saat Dena menyerobot masuk. Wanita itu tampak sedikit tergesa-gesa. Mungkin saja karena takut kedinginan.


Tanpa diminta pun pria itu segera keluar dan masuk ke kamar untuk mengeringkan wajahnya menggunakan handuk kecil.


Setelah mengeringkan wajahnya yang basah, Fairel langsung naik ke atas kasur dan setengah berbaring dengan punggung belakang bersandar di tumpukan bantal. Pria itu tidak menyisakan satu pun bantal yang menganggur di atas kasur. Semuanya ia tumpukan di belakangnya yang mana posisi itu malah membuatnya merasa nyaman.


Lima menit kemudian terdengar suara derit pintu menandakan pintu terbuka. Dena masuk dalam keadaan wajah yang basah. Seperti Fairel tadi, wanita itu mengelap wajahnya hingga kering. Setelah kering, Dena tidak langsung berbaring melainkan memakai produk perawatan wajah.


Pergerakan Dena tidak luput dari pandangan Fairel. Pria itu menatapnya intens, setiap Dena bergerak, matanya juga mengikuti pergerakan istrinya.


Tidak sampai 10 menit Dena sudah selesai dengan segala rangkaian perawatan wajahnya. Ia berdiri dari kursinya dan membalikkan badannya.


Fairel menepuk-nepuk kasur di sebelahnya, meminta istrinya untuk segera naik ke atas peraduan.


Tanpa pikir panjang Dena segera menaiki kasur. Ia masih terduduk bingung karena tidak menemukan satu pun bantal untuknya berbaring. Lalu pandangan terfokus pada punggung belakang sang suami. Pantas saja pria itu tampak nyaman dengan posisinya.


Dan tanpa rasa bersalah sedikit pun, Fairel hanya diam menatap kebingungan istrinya itu. Terlihat menggemaskan di matanya.


"Kenapa?" tanya Fairel polos.


"Bantalku." ucap Dena sambil menunjuk tumpukan bantal menggunakan jari telunjuknya.


"Ada syaratnya." balas Fairel.


Kedua mata Dena langsung menyipit. "Aku cuma mau ambil bantal, kenapa kamu ngasih syarat?" selidik wanita itu.


"Ya gak apa-apa. Kamu mau tidur kan?" Dena mengangguk.


"Ada syaratnya supaya kamu bisa ambil bantal ini." ujar Fairel menyebalkan.


"Mana ada kayak gitu. Cuma bantal doang." wanita itu melirik suaminya sinis.


"Ada kok, ini." lagi-lagi Fairel bertingkah menyebalkan.


Dena memberanikan dirinya untuk menarik bantal di belakang Fairel. Namun, pria itu malah semakin menekan kuat tubuhnya, membuat Dena kesulitan.

__ADS_1


"Jangan mancing deh. Aku cuma mau tidur cepet. Dingin."


Sebuah seringaian tercetak jelas di wajah pria itu. Bibirnya tersenyum menyungging.


"Di luar hujan deres."


"Iya, tau!" balas Dena ketus.


"Kamu gak mau gitu? Ngapain kek?" tanya Fairel.


"Ya mau lah." balas Dena cepat yang langsung disambut senyuman oleh Fairel.


"Mau tidur maksudnya." seketika senyuman pria itu langsung surut.


"Beneran mau tidur? Tapi, ini masih jam delapan loh." lagi-lagi Fairel seakan membujuk agar istrinya tidak tidur dulu.


"Lagian ini udah malam kali. Wajar juga tidur jam segini." balas Dena mendorong sedikit tubuh Fairel agar memudahkannya untuk mengambil bantal.


Berhasil. Dena berhasil mengambil bantalnya saat Fairel dalam keadaan lengah.


Wanita itu segera menarik selimut tebal yang berada di ujung kaki mereka dan menaikkannya sampai sebatas dadanya. Kemudian wanita itu langsung berbaring tanpa menghiraukan suaminya yang ternganga tidak percaya melihatnya.


"Sayang." panggil Fairel.


Dena hanya diam.


"Yang." panggilan kedua Dena langsung membalikkan tubuhnya membelakangi sang suami.


"Sayanggggg..." panggil Fairel dengan nada panjang dan terdengar frustasi.


"Hemm." balas Dena singkat. Kedua matanya terpejam. Sebenarnya saat ini Dena tengah menahan tawa. Namun, ia urungkan karena matanya juga terasa berat.


"Yaaangggg..."


"Apa sih, By?! Tidur. Aku ngantuk." balas Dena setengah sadar.


Bibir Fairel mengerucut ke depan. "Jangan tidur dulu."


"Besok aja kalau mau bicara."


"Ini gak bisa ditunda tau!"


"Bisain aja. Beneran aku ngantuk. Besok aja."


"Sayanggggggg..." rengek Fairel dengan ekspresi memelas. Namun, itu tidak terlihat oleh Dena.


"Hmm."


"Huh! Awas aja kamu besok." ketus Fairel lalu ikut berbaring dan masuk ke dalam selimut.


.


.

__ADS_1


.


gimana sih Dena nih๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ


__ADS_2