My Fierce Boss

My Fierce Boss
Acara penyambutan


__ADS_3

"Papa denger kamu udah ganti sekretaris, bukan Adel lagi?"


"Hmmm... iya, Pa." jawab Dena. Saat ini ia tengah berbincang dengan sang papa di ruang keluarga.


"Kerjanya bagus gak?" tanya Wira, sang papa.


"Ya, gitu deh."


"Kok gitu deh?' heran Wira.


" Cowok, Pa. Yang Dena cari kan cewek."


"Ya gak apa-apa dong. Bagus, biar sekalian ada yang jagain kamu." kata Wira yang tidak tau siapa yang menjadi sekretaris putrinya.


"Bagus apanya? Yang ada aku bisa jantungan tiap hari." lirih Dena tidak terdengar.


"Tau ah, Pa! Mending Dena siap-siap sekarang." wanita itu beranjak bangkit dari duduknya dan bersiap melangkah menuju kamarnya.


"Mau kemana?" tanya Wira.


"Biasa, Pa. Pegawai pada minta bikin acara penyambutan karyawan baru."


"Owh." Wira hanya membulatkan mulutnya saja. "Kapan-kapan Papa pengen liat sekretaris baru kamu itu. Papa pengen ngecek langsung kinerjanya bagus atau enggak."


Dena memejamkan matanya sejenak. Andai papanya tau siapa sekretaris barunya itu mungkin sana papanya langsung syok. "Oke, kapan-kapan Dena kenalin." ucap Dena sebelum akhirnya melangkah pergi.


Malam harinya Dena tampak rapi mengenakan dress dengan panjang di bawah lutut. Saat baru menginjakkan kakinya dari anak tangga terakhir, tiba-tiba dua anak kecil langsung menubruk kakinya dan memeluknya. Dena menundukkan kepalanya sembari tersenyum hangat. Diusapnya kepala dua anak kecil yang berjenis kelamin laki-laki itu sambil berkata. "Bunda mana?" tanya Dena.


"Ada di kamar." jawab anak laki-laki di sebelah kirinya. Usianya berkisar sekitar 5 tahun.


"Abang jagain Adek dulu ya? Kakak mau nemuin Bunda." anak kecil laki-laki tadi menganggukkan kepalanya.


"Ingat! Jangan lari-larian di tangga!" pesan Dena.


"Iya, Kakak." jawab keduanya kompak.


"Pinter." Dena mengusap pucuk kepala keduanya secara bergantian.


Wanita itu segera menuju kamar orang tuanya. Begitu tau pintu tidak terkunci, Dena langsung masuk perlahan.


"Halo, cantik." sapa Dwna menirukan suara anak kecil begitu menghampiri seorang bayi perempuan berusia 2 tahun yang sedang bermain di lantai beralas karpet berbulu.


"Ututututu... gemesnya." Dena langsung menggeluti balita tersebut hingga membuatnya tertawa geli.


"Adek, lagi main apa nih?" Dena menciumi gemes pipi gembul itu.


"Ughhh... ditanya kok diem aja sih?"


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka menampakkan seorang wanita berusia kepala tiga yang baru saja keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Mau kemana udah rapi aja?" tanya Cahya, sang Bunda. Lebih tepatnya ibu sambung.


Dema menjauhkan diri dari balita tersebut. "Mau keluar, Bun. Sekalian pamit sama Bunda." jawab Dena.


"Ya udah, hati-hati ya. Pulang jangan kemalaman." pesan Cahya.


"Siap, Bunda."


.


.


.


Dentuman suara musik diiringi dengan suara sumbang terdengar di sebuah ruangan cafe. Acara penyambutan karyawan baru akan segera dimulai. Dena duduk di kursi, ia dikelilingi oleh banyak orang yaitu para anggota karyawan kantornya. Mereka duduk di meja yang terpisah. Seperti biasa, Dena selalu duduk bersama rombongan yang bekerja di divisi pemasaran. Mereka adalah Novi, Lala, Dion, dan Frank. Mereka lah yang lumayan dekat dengan Dena.


"Udah jam 8 malam. Kenapa Pak Fairel belum juga datang?" kata Novi sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Jangan sampai Pak Fairel yang dateng. Padahal ini acaranya. Bisa-bisanya dia gak datang." omel Frank.


"Pasti dateng. Dia tuh udah janji tadi siang." sahut Lala menambahi.


Sementara itu, Dena terlihat acuh. Padahal jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa sangat khawatir.


"Maaf telat semuanya." sebuah suara berat khas laki-laki berhasil membuat perhatian Dena teralihkan. Ia yang awalnya fokus dengan ponselnya kini malah mengabaikannya.


"Nah!! Ini orangnya yang ditunggu-tunggu datang juga."


"Eh, iya." Fairel mengedarkan pandangannya mencari kursi yang kosong. Namun, ternyata semua kursi telah dipenuhi, kecuali kursi yang berada tepat di samping Dena. Fairel ragu, dengan langkah patah-patah ia menduduki kursi yang berdampingan dengan Dena.


Dena tidak sadar sejak awal kedatangan Fairel, ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari pria itu.


"Ayo, bersulang!!" Dion mengangkat tinggi-tinggi botol minuman bir beralkohol ke udara.


"Hoooooooo..." terdengar sorakan ramai yang membuat suasana di ruangan itu terdengar berisik.


"Kepada Pak Fairel, kamu mengucapkan terima kasih dan selamat bergabung di perusahaan Bu Boss. Semoga kita semua bisa menjadi rekam kerja yang baik." ucap Frank lantang. Sedangkan Dena hanya diam karena biasanya yang membuka kata sambutan untuk karyawan baru adalah Frank.


"Selamat datang, Pak Fairel." ucap mereka serentak.


Fairel tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Ia salut dengan antusias mereka dalam menyambut kedatangannya. "Terima kasih atas sambutannya. Semoga kita semua bisa menjadi rekan kerja yang baik."


"Bu Boss, gak mau ngucapin selamat?" sontak Dena langsung kelabakan.


"Saya???" tanya Dena menunjukkan dirinya sendiri. Frank menganggukkan kepalanya.


Huftt!!!


Dena menghembuskan nafasnya panjang sebelum akhirnya berdiri dari duduknya lalu menghadap ke arah semua karyawannya. "Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian semua. Tanpa kalian, mungkin perusahaan saya tidak akan mungkin bertahan sampai sekarang. Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini. Untuk acara malam ini, saya... mengucapkan selamat datang kepada--Fairel. Selamat karena sudah bergabung di perusahaan saya. Dan saya berharap kita bisa menjalin hubungan dengan baik."


Sepanjang Dena berbicara, itu tidak luput dari pengawasan Fairel. Ia begitu terpesona dengan aura yang dilancarkan oleh Dena. Malam ini, Dena sangat bersinar. Sehingga membuat Fairel hampir lupa.

__ADS_1


Prok prok prok


Suara tepukan tangan bergemuruh. "Acara malam ini saya buka. Selamat bersenang-senang semuanya." ujar Dena mengakhiri pidato singkatnya kemudian kembali duduk di kursinya.


"Woooooo..."


*Prok


prok


prok*


Suasana langsung riuh saat Dena membuka acara penyambutan itu.


"Mari bersulang!" seru Dion mengangkat gelas minumannya.


"Horeeee..."


Terdengar suara dentingan gelas kaca yang bersentuhan saat mereka menabrakkanya pelan.


Entah sudah berapa banyak botol minuman bir yang sudah habis tidak tersisa. Dan entah sudah berapa banyak minuman yang mereka habiskan. Namun, berbeda dengan orang orang yang duduk berdampingan di meja rombongan Frank. Keduanya hanya meminum orange jus tanpa mau menyentuh sedikitpun minuman alkohol.


"Bu Boss, ayo minum!" Novi menyodorkan gelas kecil berisi minuman bir ke arah Dena. Namun, Dena lekas menolak dengan menggelengkan kepalanya.


"Enggak minuman saya, Nov." tolak Dena halus.


"Ayo dong, Bu Boss. Anggap aja ini sebagai penutupan acara malam ini." Lala juga membujuknya.


"Minum! Minum! Minum!" seruan ramai malah membuat Dena merasa tidak enak dengan karyawannya. Biar bagaimana pun juga ia adalah bosnya.


Dena menatap ragu gelas minuman itu. Jujur Dena sama sekali belum pernah menyentuh minuman yang aneh-aneh. Sekalipun dirinya pernah tinggal di negara bebas.


"Ayo, Bu Boss." Novi masih menyodorkan gelas kecil itu ke hadapan Dena. Dengan ragu tangan Dena tergerak mengambil gelas dari tangan Novi.


"Huuuuuuuu!!!"


"Minum minum minum." sorak mereka ramai.


Perlahan Dena mengarahkan gelas itu ke bibirnya. Gelas kaca itu sudah menempel di bibirnya. Dena mengangkat sedikit gelasnya ke atas. Hampir saja minuman itu masuk ke dalam mulutnya. Tapi, tiba-tiba dari arah samping ada yang merampas gelas itu dari tangannya. Dena terkejut dan menoleh cepat.


Glek


Dengan satu kali tegukan Fairel berhasil menegak minuman itu.


"Woooooo!!!!'


Tak


Ia kembali menaruh gelasnya di atas meja hingga menimbulkan suara dentingan yang cukup keras. Fairel memejamkan matanya sejenak berusaha meresapi rasa aneh di lidahnya. Rasanya pahit seperti kopi. Lidah Fairel berulang kali menyecap bekas minuman yang tertinggal.


Dena menatap Fairel dengan raut wajah khawatir jelas terpancar di wajahnya. Apalagi saat melihat reaksi Fairel yang memejamkan matanya berulang kali lalu terdiam cukup lama. Itu berhasil membuat Dena merasa khawatir.

__ADS_1


__ADS_2