
Sepulang dari meeting di salah satu restoran, Fairel berniat untuk singgah ke cafenya barang sebentar.
Pria itu menggunakan sepeda motornya dan sengaja tidak menggunakan mobil milik istrinya. Karena baginya lebih mudah menggunakan motor. Selain terhindar dari macet, keuntungannya juga bisa melihat pemandangan secara langsung dan mendapat angin sejuk.
Saat sedang asik mengemudi, Fairel melewati jalanan yang sedikit sepi dan gelap. Pria itu tidak menunjukkan raut wajah takut sama sekali.
Begitu masuk ke jalanan yang gelap, Fairel tidak sengaja mendengar teriakan seseorang. Begitu motor Fairel berjalan sedikit lebih maju, pria itu melihat sebuah mobil putih berhenti di pinggir jalan. Lalu, netranya menangkap segerombolan pria yang sedang menarik tangan seorang wanita yang saat itu tampak memberontak.
Hati kecil Fairel berkata agar menolong wanita itu. Dan tanpa mengulur waktu lagi pria itu menghentikan motornya tidak jauh dari mobil tersebut. Ia berjalan mendekat dengan sangat pelan tanpa menimbulkan suara.
Lalu tiba-tiba netra mata Fairel bertemu dengan netra mata wanita itu. Hampir saja wanita itu berteriak, namun, Fairel segera meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Memberikan kode agar wanita tersebut tidak memanggilnya.
Fairel tampak masih berpikir. Karena di sana ada sekitar 3 orang pria yang menarik-narik pakaian wanita itu. Kalau dihitung, Fairel jelas kalah telak karena dirinya kalah jumlah.
Setelah mendapatkan ide, Fairel langsung maju dan memukul keras belakang kepala pria di depannya hingga pria tersebut tumbang. Refleks dua orang temannya langsung menoleh dan menatap Fairel tajam.
Kemudian dua orang pria itu menjauhkan dirinya dari wanita tersebut dan langsung menyerang Fairel begitu saja.
"Uhukk uhukkk..." pria yang sempat terjatuh tadi terbatuk sambil memegang bagian belakang kepalanya.
*Bughh
Bughhhh*
Beruntung saja Fairel langsung menangkis pukulan mereka dan membalas pukulannya. Lama tidak beradu kekuatan membuat Fairel merasa sedikit kaku. Namun, pria itu terus berusaha untuk melumpuhkan lawannya.
Sementara wanita yang berdiri ketakutan di samping pintu mobil hanya meringkuk sambil terisak pelan. Pakaiannya sudah robek di bagian dada dan lengannya. Mungkin saja kejadian itu sudah terjadi cukup lama. Dan beruntung saja ada Fairel yang datang karena tidak sengaja lewat di jalan itu.
Bughhh!!
"Sshhh..." Fairel meringis pelan saat perutnya ditendang cukup kencang sehingga membuat dirinya terpelanting ke belakang. Beruntung tidak sampai terjatuh.
Fairel menarik nafasnya dalam untuk mengumpulkan kembali tenaganya yang sedikit terkuras. Lalu, Fairel tampak meregangkan lehernya dan pergelangan tangannya untuk mengambil ancang-ancang.
"Kalian sudah salah mencari lawan." ujar Fairel sambil tersenyum menyungging.
"Halah! Banyak omong!" kedua pria itu langsung berlari menyerang Fairel dan dengan cepat Fairel mengelak.
Beberapa pukulan mengenai Fairel, namun, pria bersyukur karena dua lawannya itu sudah tumbang.
"Beraninya dengan wanita." ucap Fairel sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah.
"B-bos mana?" lirih salah satu di antara mereka sambil berusaha untuk bangkit. Namun, tenaganya sudah habis.
__ADS_1
Begitu pria itu berkata, tiba-tiba saja pria yang sempat Fairel pukul tadi datang sambil membawa senjata tajam di tangannya.
Melihat itu Fairel sempat was-was. Matanya langsung menyipit saat melihat ujung pisau tersebut terdapat noda darah yang cukup banyak. Pikirannya berkelana, apakah pisau itu sebelumnya digunakan untuk melukai orang lain? Entahlah, Fairel juga bingung.
"Lo datang di saat waktu yang tidak tepat. Mau jadi pahlawan kesiangan?" ujar pria itu sambil berjalan mendekati Fairel.
Fairel hanya terdiam saja sambil melihat sekitar.
"Nggak ada! Nggak ada yang akan menolong kalian. Di sini sudah menjadi kawasan kami."
"Kalau lo berani, sini lawan satu satu."
"Mereka sudah tumbang." tunjuk Fairel kepada dua pria yang tergeletak di jalanan.
"Hahaha, berarti lawan lo sekarang adalah gue. Siap-siap menjadi korban kedua dari pisau ini." pria tersebut mengangkat pisau di tangannya dan mengelap sedikit ujungnya yang terdapat noda darah.
Alis Fairel terangkat sebelah saat mendengar itu. "Korban kedua?" tanyanya.
"Ya. Nanti lo akan tau sendiri."
Melihat Fairel sedikit lengah, pria itu tanpa aba langsung maju sambil menodongkan ujung pisaunya. Seakan tersadar, Fairel langsung mengelak. Namun, pergerakannya kurang cepat. Lengannya sedikit tergores oleh pisau itu. Seketika darah merembes keluar dari lengannya karena jaket yang ia gunakan sudah robek.
Serangan kedua Fairel berhasil mengelak dan menendang perut pria itu cukup kencang hingga membuatnya terdorong ke belakang dan terbatuk.
"Tolong datang ke jalan xxx..."
Perkataan Fairel belum selesai, namun, pria itu sudah menyerangnya menggunakan pisau. Fairel langsung mengelak dan menendang pergelangan tangan pria itu hingga pisau di tangannya terlempar cukup jauh.
Saat akan mengambil pisaunya kembali, Fairel langsung bergerak cepat menarik tangannya dan memutarnya ke belakang. Posisi itu membuat pria tersebut sulit untuk terlepas.
"Lepas!"
"Polisi akan segera datang ke sini." ujar Fairel kemudian menekan tubuh pria tersebut ke jalanan. Pria itu menelungkup ke jalanan sementara tangannya di tahan oleh Fairel. Bahkan Fairel juga menekankan tubuhnya dengan lututnya.
Begitu tersadar, Fairel langsung menoleh ke arah mobil dan tidak menemukan wanita tadi sama sekali. Fairel sempat bingung, namun, ia segera mengalihkan perhatiannya agar penjahat itu tidak lolos. Tidak lama setelah itu polisi pun datang untuk menangkap ketiga orang itu.
"Maaf, Tuan. Apakah anda bersedia menjadi saksi atas kasus ini?" tanya polisi yang mendatangi Fairel.
Fairel sempat melihat lagi ke arah mobil itu kemudian langsung menatap polisi tersebut.
"Baik, Pak. Apa boleh nanti saya menyusul?" tanya Fairel yang dibalas anggukan oleh polisi itu.
"Baiklah. Tapi, jangan terlalu lama karena kasus ini akan kami proses secepatnya."
__ADS_1
"Baik, Pak."
Fairel menatap mobil polisi itu yang perlahan menjauh. Lalu, Fairel langsung menghampiri mobil tersebut yang tampak sepi. Ia bahkan mengabaikan lengannya yang terasa perih, begitu juga dengan wajahnya yang sudah lebam.
Kemana wanita tadi?
Batinnya bingung dan heran.
Fairel menajamkan pendengarannya saat samar-samar mendengar isakan tangis kecil di sebelah mobil itu. Karena penasaran, Fairel langsung menghampirinya dengan tergesa-gesa.
Begitu melihat keadaan tersebut, seketika Fairel hanya bisa menutup mulutnya lantaran terkejut. Wanita tadi terisak pelan di sebelah seorang pria yang terduduk bersandar di pintu mobil.
Fairel langsung menghampirinya. "Ini siapa?" tanya pria itu khawatir. Matanya menangkap sesuatu. Pria yang duduk bersandar itu tampak lemah tidak berdaya sambil tangan memegang perutnya.
Karena penasaran, Fairel langsung menarik tangan itu dan melihat telapak tangan pria itu yang berlumuran darah. Seketika otak Fairel berputar saat melawan penjahat tadi. Penjahat tadi sempat memegang pisau yang ujungnya sudah ada noda darah. Dugaan Fairel benar bahwa penjahat tadi sempat melukai orang lain sebelum berniat melukainya.
"Hiksss... i- ini suami saya." lirih wanita itu menangis pilu.
Fairel langsung berdiri dan memegang saku celananya yang ternyata kosong. Fairel lupa bahwa tadi ponselnya sempat terlempar entah kemana. Dan mungkin saja sudah bisa dipakai.
"Mbak punya ponsel?" tanya Fairel.
"A- ada di dalam mobil." jawab wanita itu.
Fairel mendekati pintu mobil dan membukanya. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari benda pipih milik wanita tersebut. Begitu menemukannya, Fairel langsung menghidupkannya dan ternyata ponsel itu tidak terkunci. Tanpa berpikir lagi Fairel langsung menelfon ambulans.
Saat ambulans datang, pria yang terluka itu langsung dimasukkan ke dalam mobil ambulans. Awalnya Fairel ingin ikut, namun, tadi ia sudah berjanji akan segera menyusul ke kantor polisi.
"Terima kasih." ucap wanita tadi kepada Fairel.
Fairel hanya menganggukkan kepalanya. Netra matanya tertuju pada kondisi wanita tersebut. Pakaian atas yang sudah terkoyak di mana-mana. Fairel langsung melepaskan jaketnya dan berinisiatif untuk memberikannya kepada wanita itu.
"Nanti saya akan menyusul ke rumah sakit." ucap Fairel.
"Baiklah."
Begitu mobil ambulans siap berjalan, keduanya langsung mengakhiri obrolan singkat itu. Wanita tadi ikut masuk ke dalam ambulans dan Fairel langsung pergi ke kantor polisi. Setelah dari kantor polisi, ia akan pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan suami dari wanita tadi.
.
.
.
__ADS_1