My Fierce Boss

My Fierce Boss
Permintaan Papa


__ADS_3

Dapat Fairel lihat bagaimana ekspresi Dena saat ini duduk di jok belakang. Kedua tangan bersilang di depan dada, sorot matanya datar, begitu juga dengan wajahnya yang masam. Entahlah, Fairel tidak tau apa penyebab wanita itu tiba-tiba bermuka masam. Ya walaupun selama ini Dena selalu memasang wajah tidak bersahabat dengannya, tapi, kali ini Fairel merasakan aura yang berbeda.


Saat sedang fokus menyetir, tiba-tiba sudut mata Fairel menangkap sebuah pedagang kaki lima di pinggir jalan. Tiba-tiba terbesit ide di kepalanya.


Fairel kembali memundurkan mobilnya, membuat Dena menatapnya heran. Belum sempat Dena bertanya, Fairel sudah memberhentikan mobilnya lalu keluar.


Tok tok tok


Fairel berpindah ke kaca mobil belakang dan mengetuknya. Tidak lama Dena menurunkan kaca mobilnya.


"Ayo!" ajak Fairel.


"Apa?" tanya Dena tidak paham.


"Itu." Fairel menunjuk ke seberang jalan. "Mau gak?" tawar Fairel.


Dena kembali bersandar setelah melihat tempat yang ditunjuk oleh Fairel. "Beli ya beli sendiri aja." balas Dena cuek.


"Hmmpphhh..." Fairel menghembuskan nafasnya panjang. Karena melihat respon cuek dari Dena, Fairel langsung membuka pintu mobil belakang.


Dena yang melihatnya langsung memasang wajah waspada karena setengah tubuh Fairel masuk perlahan.


"Ngapain!!?" tanya Dena panik.


"Mau gendong. Kayaknya Tuan Putri ini terlalu malas untuk berjalan kaki." jawab Fairel memasang wajah polos. Bahkan tangannya sudah menuju lipatan lutut Dena untuk mengangkat tubuh wanita itu.


"Eh eh!! Ngapain!!" wanita itu kalang kabur karena aksi nekat Fairel.


"Kalau gak mau digendong ya bisa juga jalan kaki." lanjut Fairel.


"Minggir! Gue bisa jalan sendiri." ketus Dena tiba-tiba mendorong bahu Fairel sehingga pria itu terdorong ke belakang.


"Aduh!!!" keluh Fairel karena kepalanya terbentur atap mobil, lebih tepatnya sudut pintu mobil.


Dena terkejut karena dorongannya membuat Fairel kesakitan. Wajahnya terlihat khawatir. Ia langsung mendekati Fairel untuk memeriksa keadaan pria itu.


"Maaf, gak sengaja." sesal Dena tanpa sadar mengelus bagian kepala Fairel yang terbentur.


"Sshhhttt... sakit." ucap Fairel ikut meraba kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Alhasil tangan mereka bersentuhan.


"Jangan ditekan!" Dena menangkap tangan Fairel agar pria itu tidak menekan kepalanya. Satu tangannya ia gunakan untuk mengelus kepala Fairel sambil sesekali meniupnya pelan. Sementara itu, ia tidak sadar bahwa sedari tadi tangan mereka bertaut.


"Masih sakit?" tanya Dena khawatir.


Fairel menganggukkan kepalanya pelan. Jujur, sakit di kepalanya sudah mendingan. Tapi, saat ini Fairel justru menikmati perhatian yang Dena berikan kepadanya. Waktu seakan berhenti berputar.


Dena menarik kepala Fairel lebih dekat dengannya, membuat pria itu menundukkan kepalanya tepat di depan dadanya. Sedangkan ia sibuk meniup kepala Fairel.


"Na." panggil Fairel tanpa embel-embel. Ia menyingkirkan status mereka saat ini sebagai atasan dan bawahan.

__ADS_1


"Apa?" jawab Dena tanpa sadar.


Mata Fairel hanya tertuju pada satu tempat. "Kancing baju lo kebuka." kata Fairel tanpa rasa bersalah.


Pergerakan Dena terhenti. Ia langsung tersadar dengan posisi mereka saat ini yang begitu dekat. Sontak Dena mendorong wajah Fairel menjauhinya dan segera mengancingkan kancing kemejanya yang terbuka entah sejak kapan. Wajahnya menjadi merah padam lantaran malu. Ia mengalihkan pandangannya ke samping.


Sama halnya dengan Fairel, pria itu malah salah tingkah.


"Ekhem..." Fairel berdehem untuk menetralisir rasa gugupnya.


Ia melupakan niatnya untuk membeli dagangan kaki lima yang ia lihat tadi. Padahal Fairel hanya butuh menyeberangi jalan saja. Tapi, niatnya sudah pupus karena kejadian barusan.


Fairel lekas masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengamannya. Sementara Dena yang sudah kepalang malu sama sekali tidak berniat untuk bertanya kenapa Fairel malah kembali menjalankan mobilnya.


Keduanya sama-sama terdiam. Dalam hatinya Dena begitu merutuki Fairel yang malah santai saja mengatakannya. Dan bahkan mungkin saja pria itu sudah lama menyadarinya, namun, ia baru memberitahunya.


.


.


.


"Jangan langsung pulang." Dena berdiri di ambang pintu ruangannya bertepatan dengan Fairel yang baru keluar dari ruangannya. Jam kerja sudah usai, mereka bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Haa???" ucap Fairel.


Fairel melongo tidak paham maksud dari perkataan Dena.


"Kamu paham?"


Dengan polos Fairel menggelengkan kepalanya.


"Astaga! Mana yang katanya berkompeten." gerutu Dena.


"Maksudnya mulai saat ini kamu sudah bisa bekerja normal sebagai asisten pribadi sesuai prosedur yang berlaku. Bukankah sebelumnya Adel sudah menjelaskan ini?"


Sesaat Fairel langsung mengangguk-angguk. "Ah iya, jadi?" pria itu kembali loading.


"Kamu itu bodohh atau o'on?"


"Mungkin kedua-duanya."


"Astaga!" Dena menatap ke sembarang arah. Ingin sekali ia memukul kepala pria itu menggunakan map tebal.


"Pagi hari kamu sudah harus ada di depan saya. Berangkat dan pulang bekerja kamu yang membawa mobil, mengatur jadwal-jadwal pertemuan saya dengan para clien, dan juga... kamu harus siap 1×24 jam jika saya membutuhkan bantuan. Tidak perduli itu malam hari atau bahkan tengah malam buta." tutur Dena panjang lebar.


"Berarti?" Fairel tidak dapat lagi melanjutkan perkataannya. Bukan penjelasan dari Dena yang membuatnya terkejut, hanya saya Fairel tidak menyangka. Maksud dari kalimat "berangkat dan pulang bekerja kamu yang membawa mobil" memiliki arti bahwa Fairel mungkin akan sering bolak-balik di kediaman Dena.


"Saya tidak akan mengulangi perkataan saya. Intinya, kamu harus siap 1×24 jam."

__ADS_1


Selepas itu Dena langsung beranjak pergi meninggalkan Fairel yang mematung di tempatnya.


"Tunggu apa lagi!!" teriak Dena membuat Fairel tersadar dari lamunannya. Ia langsung berlari mengejar ketertinggalannya.


Saat Fairel sudah berada di belakang Dena, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kunci mobil yang tiba-tiba melayang.


"Tangkap!"


Hap


Beruntungnya kunci itu tidak mengenai kepalanya. Kalau iya, mungkin saja itu akan terasa sangat menyakitkan.


Fairel menyetir mobilnya dengan perasaan gugup. Kalau ia mengantarkan Dena, apakah Fairel juga bertemu dengan keluarga wanita itu? Itu yang membuat Fairel gugup karena sudah lama sekali ia tidak berkomunikasi dengan keluarga Dena. Mungkin terakhir kalinya 2 bukan yang lalu.


Sedangkan di jok belakang Dena tampak mengobrol melalui panggilan telfon.


"Iya, iya. Ini Dena lagi di perjalanan. Mungkin setengah jam lagi sampai."


"..."


"Es krim? Oke, oke, nanti Dena mampir di tokonya."


"Hemm... iya, iya. Kalau gitu Dena tutup dulu telfonnya."


"..."


"Apalagi?"


Terlihat Dena terdiam sambil mendengarkan panggilan telfonnya. Ia menghela nafasnya panjang dengan tatapan fokus ke kaca jendela mobil.


"Oke, Dena gak mungkin lupa dengan permintaan Papa. Tunggu aja, bentar lagi sampai." ucap Dena pelan sambil matanya melirik Fairel melalui pantulan cermin dashboard.


"Iya, wa'alaikumsalam."


Dena kembali menyimpan ponselnya di dalam tasnya.


"Nanti mampir di toko es krim." kata wanita itu mengalihkan pandangannya ke samping.


"Oke." jawab Fairel sedari tadi diam mendengarkan pembicaraan Dena.


"Ingat! Besok datang lebih awal. Saya tidak mau menunggu lama." ucap Dena mengingatkan. Fairel hanya menganggukkan kepalanya saja.


.


.


.


next bab nyusul ya

__ADS_1


__ADS_2