
Dua orang dewasa yang tertangkap basah melakukan hal yang tidak senonoh di dalam kolam renang itu langsung disidang habis-habisan. Bagaimana mereka tidak terkejut saat melihat putri kesayangannya itu sedang adik bermesraan dengan laki-laki pujaan hatinya. Meskipun mereka saling mencintai, tapi, itu bukanlah hal yang baik.
Wira dan Cahya sengaja mempercepat kepulangan mereka karena khawatir dengan anak-anak mereka di rumah. Tapi, begitu sampai di kediaman, mereka hanya menemukan art di rumahnya yang sedang menemani anak-anak mereka bermain, tapi, mereka tidak menemukan keberadaan sang kakak yang bertugas untuk menjaga adik-adiknya.
Kepala keduanya tertunduk karena merasa sangat bersalah. Kini mereka sudah mengenakan pakaian berbeda karena tadi sudah sempat berganti pakaian. Baik Dena dan Fairel sama-sama merasa gugup karena melihat respon Wira yang tampak santai-santai saja sambil menyeruput segelas kopi hitam. Sementara itu Cahya lebih memilih menjauh karena tidak mau mencampuri urusan mereka. Bukannya tidak mau, namun, istri dari Wira itu lebih memilih untuk mendengarkan cerita dari suaminya langsung nanti.
Tak
Suara benturan gelas kaca di atas meja terdengar saat Wira meletakkan gelasnya di atas sana. Lalu pria berusia kepala empat itu tiba-tiba beranjak dari sana.
"Rel, ikut Om ke ruang kerja." perintah Wira.
"Iya, Om." Fairel segera tersadar dari lamunannya dan menjawab dengan gugupnya. Pria itu berdiri lalu memandang Dena sejenak yang masih duduk di sofa dengan kepala mengadah ke atas memandang dirinya.
Fairel menatap Dena seolah-olah meminta izin kepada wanita itu.
"Rel." tegur Wira sama sekali tidak mendapati pria itu beranjak.
Melihat Dena yang terdiam pun membuat Fairel lekas beranjak dari sana lalu mengikuti Wira dari belakang.
Begitu sampai di ruang kerja milik Wira, pria itu lekas meminta Fairel untuk duduk di tempat yang telah disediakan. Sementara Wira malah berjalan menuju kursi kerjanya dan duduk di sana.
Mereka masih sama-sama diam. Entah kenapa pria yang berstatus sebagai orang tua dari Dena itu sibuk dengan guci berukuran kecil di atas mejanya. Pria itu mengelapnya menggunakan sapu tangannya.
"Bagaimana kamar Paman dan Bibi mu di kampung?" tanya Wira langsung membuat jantung Fairel berdegup kencang. Kenapa pria paruh baya itu tiba-tiba menanyakan kabar Paman dan Bibinya di kampung?
"A-alhamdulillah baik, Om." jawab Fairel gagap.
"Apa kamu gak berencana untuk pulang ke kampung?"
"Haaa??" sekali lagi pertanyaan Wira membuat Fairel terkejut bukan main. Maksudnya apa? Apakah pria itu menginginkan Fairel untuk pulang kampung? Ataukah ada maksud lain yang terselip di setiap ucapannya?
Wira menghentikan gerakan tangannya mengelap guci mahalnya kemudian menatap Fairel. "Kenapa? Kamu kaget?" tanya Wira.
Secepat mungkin Fairel menggelengkan kepalanya. "B-bukan begitu, Om. Mungkin Arel salah paham aja."
"Salah paham gimana?" lagi-lagi Wira sepertinya memojokkannya.
Fairel terdiam sambil meremas tangannya sendiri. Masuk ke dalam ruang kerja milik Wira sebelumnya ia tidak pernah merasakan senervous itu. Berbeda dengan yang sekarang. Seakan setiap kalimat yang Wira ucapkan itu membuat nafasnya tercekat. Sebenarnya ada apa dengan dirinya? Apakah itu semua ada kaitannya dengan kejadian tadi saat mereka dipergoki? Mengingat itu Fairel langsung menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kapan terakhir kali kamu pulang kampung?"
"L-ebaran tahun kemarin, Om." jawab Fairel masih gugup.
__ADS_1
"Hmm... bukankah sebentar lagi menyambut bulan Ramadhan?"
Fairel menganggukkan kepalanya.
"Pulanglah."
"Haa? A-pa, Om?" Fairel terlihat syok mendengar perkataan Wira.
Sementara Wira hanya memasang wajah santainya. "Pulanglah. Mungkin kamu sudah rindu dengan Paman dan Bibi mu di kampung. Om akan membicarakan ini dengan Dena."
"T-tapi--"
"Kamu jangan khawatir. Om yang akan mengurus surat pengunduran diri kamu."
"Apa!?" kedua bola mata Fairel seketika terbelalak kaget.
"Kenapa?" ucap Wira santai.
"M-maksud Om a-pa?" Fairel sebenarnya tidak dapat lagi untuk berbicara. Namun, ia harus meminta penjelasan yang lebih jelas lagi agar dirinya tidak salah paham. Ya, mungkin aja Wira bercanda dengan kalimat yang dia ucapkan. Atau memang Fairel yang salah mendengar.
Wira melepaskan guci dan juga sapu tangannya ke atas meja. Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Fairel. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya dengan berdiri gagahnya di hadapan Fairel.
"Kalian kalau dibiarkan pasti akan menjadi. Mungkin, keputusan ini lebih baik untuk kalian berdua. Om akan mengurus semuanya termasuk surat pengunduran diri kamu."
Ternyata Fairel tidak salah dengar. Apa yang ia dengar tadi memanglah kenyataan yang sebenarnya. Wira memintanya untuk memutuskan hubungannya dengan Dena dan bahkan Wira memintanya untuk mengundurkan diri.
Fairel mengangkat kepalanya memandang Wira dengan tatapan sedihnya. "Apa Om meminta Arel untuk memutuskan hubungan dengan Dena?" tanya Fairel berusaha menguatkan hatinya. Kalau seandainya itu benar, mungkin Fairel akan sangat terluka.
Apakah Wira juga akan melemparkan sebuah cek kepadanya untum segera menjauhi sang putri seperti yang ada drama-drama atau novel. Jika itu benar, lalu apakah Fairel harus meminta uang nominalnya sebesar 1 triliun? Hahaha. Dia pasti akan segera kaya.
Alis dan kening Wira mengerut ke atas begitu mendengar penuturan Fairel. Namun, setelah mencerna kalimat itu, akhirnya Wira mengerti dan paham.
"Apa kamu benar-benar sanggup jika itu terjadi?" tanya Wira sambil tersenyum menyeringai.
"Enggak, Om." jawab Fairel cepat.
Wira langsung tertawa pelan. Di hadapannya saat ini, Fairel terlihat jelas ketakutan yang itu membuat Wira ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Pria paruh baya itu berpindah duduk di samping Fairel dan menepuk pundaknya beberapa kali.
"Acaranya mau digelar dimana?" kata Wira membuat Fairel melongo tidak paham.
"Maksudnya apa, Om?" beo pria itu.
"Ck!" Wira berdecak pelan. "Acaranya mau digelar dimana? Di kampung atau di sini?"
__ADS_1
Fairel menatap cengo wajah tampan Wira. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diucapkan pria di sampingnya ini.
Tidak mendengar jawaban dari Fairel membuat Wira menghela nafas panjang. "Om minta kamu untuk pulang kampung itu bukan maksud apa-apa. Cuma, Om mau kamu memberitahu kepada Paman dan Bibi mu tentang acara pernikahanmu. Om juga meminta kamu untuk mengundurkan diri dari pekerjaanmu sekarang karena Om mau mulai sekarang kamu sudah mulai membangun usaha sendiri."
"Pernikahan?" lagi-lagi otak Fairel blank. Ia sungguh tidak mengerti.
"Memangnya Arel mau menikah dengan siapa?" tanya pria itu lagi.
"Loh??? Memangnya kamu gak mau nikah dengan putri Om? Apa kamu benar-benar mau memutuskan hubunganmu dengan putri Om?"
"Mau!" sela Fairel cepat. "Tapi--" perkataannya berhenti di sana. Fairel menundukkan wajahnya lesu. Ia masih teringat dengan syarat yang Dena berikan kepadanya. 2 tahun. Bukankah 2 tahun? Sedangkan sekarang saja baru berjalan setengah tahun.
"Kamu memikirkan syarat 2 tahun itu?" kedua bola mata Fairel langsung membesar. Bagaimana Wira tau sementara ia sama sekali tidak memberitahu itu. Apakah Dena?
"Kenapa Om bisa tau?"
"Ya tau lah. Kamu pikir Om ini orang luar yang gak bisa mengorek informasi."
Fairel hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sepertinya memang kamu harus segera menjernihkan pikiranmu itu. Paham kan dengan yang Om katakan?"
Pria itu menganggukkan kepalanya. Jujur, dirinya ikut senang jika itu benar-benar terjadi. Tapi, Fairel masih ingat dengan syarat itu.
"Om gak butuh syarat 2 tahun kalian itu. Yang Om mau sekarang, bulan depan kalian sudah harus menikah. Om gak mau berita yang enggak-enggak itu tersebar dimana-mana. Sekarang Om tanya sama kamu. Apa kamu sudah siap untuk membina rumah tangga? Kamu siap untuk menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab dengan semua peran kamu? Dan, apa kamu bisa... untuk membahagiakan putri kesayangan Om?"
Ditatapnya wajah tampan Fairel yang tertunduk lesu. Kalimat yang baru bisa ia ungkapkan yang mewakili isi hatinya.
Fairel yang mendengar itu langsung menatap wajah Wira terutama bola matanya. Ia ingin mencari keseriusan itu hingga akhirnya yang ia dapatkan adalah kesungguhan.
"Dena adalah putri kesayangan Om yang Om rawat sendirian. Om cuma mau memastikan kalau laki-laki yang ingin memilikinya itu harus mempunyai kesiapan dan kesungguhan. Karena pernikahan itu tidaklah mudah."
Fairel terdiam mengumpulkan keberaniannya dan kemantapan hatinya sebelum akhirnya ia berkata.
"Arel siap dengan semuanya, Om. Semuanya, termasuk untuk membahagiakan Dena." ucapnya mantap tanpa ada keraguan.
.
.
.
syarat 2 tahunnya gak jadi ya ges ya๐
__ADS_1