
Mobil sport berwarna kuning tampak baru saja terparkir indah di halaman rumah megah. Lagi-lagi Fairel datang ke tempat itu. Semua kenangan indah jelas membekas di hatinya. Dulu ia datang sebagai sahabat, dan sekarang ia kembali datang sebagai karyawan.
Terlalu lama terdiam sehingga Fairel tidak sadar kalau Dena sudah keluar dari mobil sedari tadi. Lama Fairel memandangi pintu yang tampak menjulang tinggi ke atas. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini hingga ia baru tersadar saat mendengar bunyi ketukan kaca pintu.
Menyadari itu Fairel langsung melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil lalu keluar dari dalam sana.
"Emmm... ini!" Fairel menyodorkan kunci mobil milik Dena.
Dena langsung mengambilnya dari tangan Fairel.
"Kalau gitu, aku... saya pamit dulu." ucap Fairel melarat perkataannya. Ia hanya ingin bersikap profesional saja.
"Tunggu dulu!" Dena menahan Fairel untuk tidak langsung pulang ke rumahnya.
"Kenapa??" tanya Fairel bingung.
Gelagat tubuh Dena langsung berubah drastis. Ia seketika gugup. "Itu... Papa... mau ketemu." ujar Dena terpotong-terpotong.
"Sekarang?"
"Bukan! Tahun depan!! Ya sekarang lah masih aja nanya!" sewot Dena seketika merasa kesal.
"Lahhh!!! Ngambek? Perasaan sensi mulu deh." gumam Fairel hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Dena saat wanita itu meninggalkannya sendirian di luar.
Alhasil Fairel cepat menyusul Dena yang sudah tidak tampak di sudut matanya. Saat sudah berada di depan pintu kediaman Dena, Fairel sempat terdiam. Menatap lekat pintu yang sebelahnya tertutup dan sebelahnya terbuka.
"Lama!" Dena kembali menghampirinya sambil memasang wajah tidak bersahabat.
"Hmmm." Fairel hanya berdehem. Perlahan tapi pasti kakinya memasuki kediaman Dena. Saat baru beberapa langkah masuk ke dalam, Fairel langsung mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah.
"Tunggu di sini." titah wanita itu mengkode melalui matanya yang melihat ke arah sofa ruang tamu.
"Oke."
Setelah Dena pergi, Fairel tidak langsung duduk. Ia berjalan mengelilingi kecil ruang tamu. Menatap bingkai foto yang terpajang rapi di dinding.
Netra mata Fairel terhenti di satu bingkai foto berukuran sedang. Fairel ikut tersenyum tipis saat melihat foto tersebut. Di foto itu terlihat Dena sedang mengenakan pakaian wisudanya sambil memegang toga, wanita itu tersenyum manis ke arah kamera.
Lama Fairel memandanginya lalu berpindah pada bingkai foto di sebelahnya. Potret anggota keluarga Dena yang sedang berbahagia menghadiri acara kelulusan Dena. Di sana tentunya ada Dena dan kedua orang tuanya. Dan yang membuat Fairel salah fokus adalah foto dua anak kecil tampak berdiri di depan Dena menampilkan senyuman yang menggemaskan.
"Ekhemmm..." sebuah suara deheman khas laki-laki langsung mengagetkan Fairel. Pria ith sontak membalikkan badannya. Saat itu juga tubuhnya langsung mematung sempurna melihat sosok laki-laki di hadapannya saat ini.
"Ternyata kamu yang menjadi sekretaris anak Om."
Fairel hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayo, kita ke ruang kerja. Banyak yang ingin Om sampaikan sama kamu." ajak Wira, Papa Dena.
Fairel tidak bisa membantah ataupun menolak. Ia langsung berjalan mengikuti Wira dari belakang dengan perasaan yang campur aduk.
"Silahkan masuk, Rel!" sambut Wira hangat.
Lagi-lagi Fairel hanya mengangguk.
Keduanya duduk berjauhan. Fairel duduk di sofa, sedangkan Wira duduk di kursi kerjanya.
"Sudah lama ya? Mungkin terakhir kalinya kamu ke sini itu pas acara kelahiran si bungsu."
"Om apa kabar?" tanya Fairel.
"Alhamdulillah kabar Om baik. Mungkin Om gak akan tanya gimana kabar kamu karena yang Om lihat sekarang kamu baik-baik aja."
"Kita ngobrol santai aja, Rel. Jangan kaku gitu, Om jadi berasa ngomong sama patung."
Fairel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Jujur, saat Om tau kamu yang menjadi sekretaris baru Dena, Om merasa lega. Kamu tau gak kenapa?" tanya Wira.
Fairel menggelengkan kepalanya. "Memangnya kenapa, Om?"
"Om ngerasa sekarang udah ada yang jagain Dena sejak dia tinggal di luar negeri. Jujur, Om sering khawatir karena dia di sana sendirian. Om hanya bisa ke sana satu kali setahun. Selebihnya cuma komunikasi lewat telfon."
"Om juga baru denger dari cerita istri Om kalau sebelumnya kalian sempat berantem."
"Om." potong Fairel tiba-tiba merasa tidak enak.
"Santai aja, Rel. Om gak nyalahin kamu. Karena menurut Om keputusanmu itu udah tepat. Sekarang, Om cuma mau tanya kenapa bisa kamu kerja dengan anak Om?" tanya Wira.
"Sebelumnya Arel minta maaf Om karena sempat resign di kantor Om. Setelah dari itu Arel langsung melamar di perusahaan lain dan alhamdulillah diterima. Tapi, tiba-tiba perusahaannya ditutup. Terpaksa Arel cari pekerjaan baru dan kebetulan Arel ketemu Mbak Adel pas dia lagi nempelin poster lowongan pekerjaan."
"Ooohh jadi begitu." Wira mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Om cuma minta sama kamu, Rel. Tolong bantu Dena memajukan kembali perusahaannya. Dulu perusahaan itu adalah milik Om yang sempat mau tutup."
"Om kasih tau satu rahasia. Tapi, jangan sampai orang lain tau termasuk Dena. Oke, Rel?"
Fairel yang bingung pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Begini..."
.
.
.
Suasana di kediaman Dena tampak ramai oleh teriakan bahagia dari dua bocil yang tampak menunggangi Fairel bak kuda.
"Abang pulang dulu ya? Besok-besok kita main lagi." bujuk Fairel sambil bergerak merangkak ke sana kemari.
"Ndakkk mauuu!!" teriak keduanya kompak kemudian turun dari belakang tubuh Fairel lalu tanpa diduga mereka memeluk leher Fairel seolah tidak memberi izin pria itu untuk pulang.
"Abang benelan mau bobok tyus minum susu?" tanya Devan, anak pertama Wira dari pernikahannya dengan Cahya. Gaya bicaranya masih terdengar cadel, selebihnya lancar.
Fairel hanya menganggukkan kepalanya saja. "Belalti Abang Al sama kayak Divi dong minum susu ke Bunda." ujar Devin yang umurnya lebih muda satu tahun dari Devan.
"Abang Al mau minum susu ke siapa?" tanya Devin.
"Kak Na." pekik Devan seketika langsung membuat Fairel tersedak ludahnya sendiri.
"Uhukkk... uhukkkk..."
"Abang Al kenapa?" tanya Devin khawatir.
"Eng... uhukkk uhukkk... enggak. Abang gak kenapa-kenapa." kilah Fairel.
Sementara Cahya dan Wira yang melihat interaksi mereka langsung terkikik geli. Maksud dari perkataan dua bocil itu adalah Fairel juga harus minum susu seperti anak bungsu mereka yaitu Divyanka yang mereka panggil Divi.
"Abang Dav, panggilin Kak Na suluh ke sini. Abang Al kayaknya udah ngantuk tyus mau minum susu."
Uhukkk!!!
Nafas Fairel rasanya tercekat.
"Devan, Devin. Udah dong. Biarin Abang Arel pulang. Besok janji deh main lagi bareng Abang Arel." bujuk Cahya lagi.
"Yahhhh... Papaaa." kedua bocil itu langsung berlarian mengadu kepadanya Wira.
"Bener apa yang dibilang Bunda. Abang Arel juga mau istirahat di rumahnya. Lain kali kita main lagi."
"Janji?"
__ADS_1
"Tanya aja sama Abang Arel."
"Abang Al?" pekik keduanya serentak.
Fairel tersenyum menatap dua bocil itu. "Iya, Abang janji nanti kita main lagi."
"Yeayyyyy... Bundaa, ayo bobok. Dav udah ngantuk."
"Dev juga Bunda."
"Hahaha, ayo ayo kita tidur sekarang. Pamit dulu sama Abang Al."
Mereka langsung berlarian menubruk tubuh Fairel lalu memberikan banyak kecupan di wajah pria itu membuat Fairel terkekeh geli.
"Selamat istirahat, little boy."
"Dadahhhh Abang Alll..."
"Daahhhh..." Fairel melambaikan tangannya sambil menatap kepergian dua bocil itu.
"Kayaknya mereka kangen banget, Rel. Sampai susah dipisah gitu." ujar Wira membuyarkan pikiran Fairel.
"Huumm... Arel juga udah lama gak ngajak mereka main."
"Sering-sering ke sini, Rel. Mumpung ada orangnya." goda Wira.
"Om bisa aja." balas Fairel menahan rasa malunya.
"Ah ya, mungkin sekarang Arel harus pulang, Om." pria itu melirik jam di pergelangan tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Pulang naik apa, Rel?" tanya Wira.
"Nanti biar Arel cari ojek di depan, Om. Lagian ini gak terlalu malam kok."
"Biar Om antar, Rel."
"Gak usah, Om."
"Ya udah kalau gitu, mending kamu bawa aja motor di garasi. Itu juga motor pemberian Om dulu. Kamu sih kenapa dikembalikan lagi."
"Kali ini kamu gak boleh nolak, Rel. Kamu bawa pulang motor itu lagi, lagian itu jarang dipakai, tapi, setiap hari dipanaskan kok mesinnya." sambung Wira sebelum Fairel sempat memprotes.
"Emmm... oke deh, Om. Arel bawa lagi motornya."
"Bagus. Ayo, Om antar ke depan. Ehh! Sebentar, Om panggil Dena dulu di atas. Dari tadi gak turun-turun."
"Biarin aja, Om. Mungkin udah tidur. Besok pagi Arel ke sini lagi." tolak Fairel.
"Siapa yang tidur?" seketika kedua pria itu menoleh serentak ke arah sumber suara.
Ternyata Dena datang setelah lama tidak menampakkan wajahnya sejak pulang dari kantor tadi.
Wira yang mengerti langsung pamit undur diri. "Om ke kamar duluan, Rel. Hati-hati ya." bisik Wira pelan.
Fairel hanya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa ke sini?" tanya Fairel tanpa melihat lawan bicaranya.
"Masalah? Cuma mau ngantar ke depan aja sebagai rasa kemanusiaan."
Lagi-lagi Dena menyangkalnya.
.
.
__ADS_1
.