
Dalam kehidupan tidak pernah lepas yang namanya masalah. Masalah silih datang berganti entah itu masalah pribadi atau datang karena orang lain.
Jika di hari sebelumnya Dena bersikap ketus dan dingin, namun, berbeda dengan hari ini. Ia tampak lesu dan lemas. Dena hanya terdiam sambil mendengarkan ceramahan panjang dari Dewi melalui sambungan telfon.
"Parah lo Na. Ngapain aja kalian semalam?!" interogasi Dewi kepada sahabatnya. Masih ingat Dewi kan? Sekarang ia tinggal di luar kota karena tempat kerjanya berada di sana.
"Emangnya semalam gue ngapain? Enggak ngapa-ngapain. Cuma jenguk dia doang." bela Dena. Diam-diam ia menggigit bibir bawahnya.
"Udah deh, jangan ngomel-ngomel. Kepala gue sakit dengernya." tambah Dena ingin sekali mengakhiri pembicaraan randomnya.
"Intinya sekarang, kapan lo pulang ke sini?"
"Enggak bisa sekarang, Na. Lagi banyak kerjaan soalnya."
"Halah! Lagi banyak kerjaan atau emang dilarang ayang. Bilang aja gitu."
"Heh! Mana ada. Siapa yang ngajarin kayak gitu!?"
"Fakta loh ya. Lo sama Rid--"
"Udah dulu ya gue tutup telfonnya. Bye, sampai ketemu nanti."
Tut
"Lahh... main matiin aja nih anak." omel Dena menatap layar ponselnya.
Dena menghela nafas panjang. Ia membaringkan tubuhnya di atas sofa. Tangannya memijit-mijit pelan pelipisnya. Kepalanya terasa nyut-nyutan.
Saat sedang memejamkan matanya, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk. Dena lekas bangkit, takut kalau yang mengetuk pintu adalah karyawannya karena sebelumnya Dena meminta laporan keuangan perusahaannya.
"Masuk!" jawab Dena.
"Permisi, Bu. Ini laporan yang Ibu minta." ucap karyawan perempuan kemudian menyodorkan dokumennya kepada Dena.
"Nanti tolong kamu kasih tau ke yang lain ya kalau saya tidak mau diganggu. Kalau ada yang mau mereka kasih ke saya, tolong kasih aja ke sekretaris saya." pesan Dena sambil memeriksa laporannya.
"Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi."
"Iya."
Setelah 5 menit memeriksa laporan itu, Dena langsung menutupnya lalu menyimpannya di atas meja karena tiba-tiba saja pandangannya buram. Ia bersandar di sofa dengan kepala mendongak ke atas.
Tok... tok... tok...
Pintu ruangannya diketuk. Dena yang mendengarkan mendengus kesal. Bukannya tadi ia sudah berpesan kalau dirinya tidak mau diganggu.
"Siapa?" teriak Dena.
Si pelaku tidak mengeluarkan suara sama sekali. Hanya terdengar suara pintu dibuka sangat pelan sehingga Dena tidak menyadarinya.
Derap langkah sepatu kerja bergesekan dengan lantai keramik. Seorang pria masuk dan berjalan mendekati Dena perlahan tanpa mengeluarkan jejak suara. Tiba-tiba saja ia sudah berada di belakang Dena. Mengagetkan wanita itu yang asik memejamkan matanya.
"Syuuutttttt..." terdengar bisikan halus tepat di depan telinga Dena lalu disusul dengan sentuhan lembut di pelipisnya. Dena yang hapal aroma tubuh pria itu hanya diam saja menikmati pijitan lembut di kepalanya.
"Masih sakit? Nanti siang obatnya diminum lagi."
"Huummm..." Dena menganggukkan kepalanya tipis.
__ADS_1
"Salah siapa coba semalam gak mau pulang. Jadinya ketularan sakit deh."
Seketika Dena menegakkan tubuhnya dan membalikkan badannya. Menatap pria di hadapannya dengan tatapan sewot.
"Semalam hujan tau! Masa gue harus nerobos hujan lebat gitu." balas Dena.
"Hujan apa hujan? Berangkatnya aja kok bisa nerobos hujan? Masa pulangnya enggak?" goda Fairel.
"Apa sih! Udah deh!" pipi Dena seketika bersemu merah. Ia yang malu langsung duduk menghadap ke depan, membelakangi Fairel. Pria itu langsung berpindah tempat duduk di samping Dena.
"Ingat gak yang semalam?" tanya Fairel menggoda wanita itu.
"Gak jelas!" Dena menggeser sedikit tubuhnya menjauh dari Fairel.
"Beneran lupa yang semalam?" tanya Fairel lagi.
"Apa sih?! Gue gak tau."
"Itu loh. Kan udah janji gak pakai lo gue lagi." ralat Fairel. Ingin sekali ia tertawa karena sepertinya Dena sudah salah paham dengan pertanyaannya.
"O-owh." tiba-tiba saja wanita itu gugup karena sudah menyadari pikirannya malah bercabang-cabang.
"Gue gak biasa."
"Eitss??" Fairel menatap Dena penuh kode.
"Iya, a-aku."
"Nah pinter. Gitu dong." Fairel yang gemas langsung mengacak-acak rambut Dena.
"Biarin aja. Semalam kamu juga berantakin rambutku. Malahan dijambak lagi." sontak perkataan Fairel membuat pipi Dena bersemu merah.
"Tapi itu kasusnya kan beda." balas Dena membela dirinya.
"Iya, kasusnya beda. Semalam itu rada kasar."
Plakk
"Aduhhh!! Ngapain dipukul sih. Kan sakit." Fairel meraba bibirnya yang terkena tampolan sayang dari Dena.
Wanita itu hanya memasang wajah bodoamat. Ia gemas dengan mulut lemas pria itu yang seenaknya berkata tanpa memikirkan perasaannya.
"Tuh kan! Lukanya malah nambah." keluh Fairel. Dena yang mendengarnya langsung mendekat dan menatap bibir Fairel.
Dena mengigit bibir bawahnya karena merasa bersalah. "Sorry." luka di bibir Fairel memang belum sepenuhnya kering. Dan mungkin saja itu akan sedikit perih jika Fairel makan makanan pedas.
"Udah, jangan diliatin. Nanti malah pengen lagi." tegur Fairel seketika membuat Dena melototkan bola matanya.
Plakk
"Apaan sih!! Ngomongnya suka ngawur." wanita itu memalingkan wajahnya malu.
"Masih aja malu, padahal mah..." Fairel menggantungkan kalimatnya karena mendapatkan tatapan tajam dari Dena.
"Iya, iya, enggak lagi. Kepalanya masih sakit?" tanya Fairel tidak ingin memancing keributan.
"Huumm... " Dena hanya berdehem mengiyakan.
__ADS_1
"Sini!" Fairel menepuk-nepuk pelan pahanya.
Dena mengangkat kedua alisnya bingung.
"Baring sini. Aku pijitin."
"Ayo cepet!"
Dena menundukkan kepalanya kemudian langsung berbaring membantalkan paha Fairel. Begitu Dena sudah berbaring di pahanya, pria itu langsung mengusap kepala Dena dan sesekali memijit pelipisnya pelan.
Keduannya masih terdiam, meresapi kedekatan mereka yang datang begitu saja. Padahal di hari-hari kemarin mereka sering bertingkah cuek. Tapi, berkat kejadian semalam, keduanya memutuskan untuk berdamai dengan keadaan. Lebih tepatnya Dena yang memilih untuk menerima Fairel untuk yang ke-dua kalinya.
"Lagian ngapain sih semalam keluar padahal lagi hujan. Memangnya gak dilarang Om Wira?" tanya Fairel membuka percakapannya. Tangannya dengan sentiasa mengelus kepala Dena pelan, membuat wanita itu memejamkan matanya merasakan kehangatan yang Fairel berikan.
"Papa udah ngelarang. Tapi, aku aja yang ngeyel." balas Dena dengan mata terpejam.
"Ngerasa bersalah?"
"Ya gitu deh."
"Soal kemarin, aku minta maaf. Itu di luar dugaan aku. Kalau dibilang emosi, ya aku emosi. Tapi, aku mikir gini, itu kan klien kamu, gak mungkin kan aku berlaku yang nggak baik. Itu juga berdampak pada citra perusahaan kamu. Tapi, kemarin dia udah minta maaf kok."
"Tapi, dia terang-terangan minta ke aku untuk memberhentikan kamu. Pokoknya aku gak suka sama cewek genit itu." kata Dena jujur.
"Masa sih genit? Yang ini juga genit." Fairel gemas, ia menyentil pelan ujung hidung Dena. "Yang ini juga genit, malam-malam hujan lebat malah datang ke rumah cowok. Kalau di apa-apain gimana? Bahaya kan." terdengar nada bercanda dari Fairel.
"Udah terlanjur di apa-apain. Gimana dong?" Dena membuka matanya. Menatap wajah Fairel dari bawah sana. Wanita itu tampak memasang wajah polosnya.
"Ya gak gimana-gimana. Harus tanggung jawab lah."
"Kamu yang nanggung, aku yang jawab." sahut Dena.
"Aku siap menanggung beban hidup kamu dan kamu harus siap menjawabnya."
"Menjawab apa?" tanya Dena mengerjap-ngerjapkan matanya.
Fairel menatap wajah Dena lekat. Menelusuri setiap sudut wajah wanita itu. Seulas senyumnya terbit. Fairel tersenyum menatap Dena yang menatapnya lekat.
"Will you be my wife?"
Dena mematung sempurna. 5 kata yang berhasil membuatnya melongo.
.
.
.
kek mau beli telor bulet dadakan, Rel😌
Oh ya, pesan author. Mungkin ini terkesan lebay atau apa. Untuk yg kemarin memberi rate di novel ini dengan bintang satu dan mengatakan kecewa. Sekarang author tanya, punya masalah apa sampai-sampai kasih rate bintang satu? Sebenarnya author gak mau ngomongin ini, tapi, di sini author ngerasa jatuh banget. Pembaca yang datang tiba-tiba gak tau dari mana datengnya udah kasih rate bintang satu. Punya masalah apa? Author udah berusaha untuk menjaga citra novel ini tapi dengan mudahnya dia jatuhin? Padahal ini novel ongoing dan baru netas banget. Punya masalah apa sih sebenernya. Author itu hapal mana pembaca yang udah ngikutin cerita author dari awal, anggap aja menemani author dari 0. Author tau banget siapa-siapa aja. Yang kasih rate kemarin, author cuma mau menyampaikan. Jangan mengusik orang lain jika gak mau diusik kembali. Itu aja. Author berterima kasih kepada pembaca yang udah setiap ngikutin dari awal, ngikutin setiap jejak karya-karya yang author buat.
Mungkin itu aja ya, author mau kesadaran diri yg nilai kemarin🤗 Jangan sampai author ngeluarin apa yang gak seharusnya dikeluarin. Semoga yang nilai itu dapat hidayah karena menjadi penulis itu gak mudah. Butuh banyak modal terutama modal waktu, pikiran, dan bahkan tenaga. Apalagi sekarang author masih sekolah. Gak terima sih digituin, tapi, sabar aja mungkin ini salah satu ujian yg Allah berikan. Semoga kalian sehat selalu para readers tercinta 🥰🥰❤ Makasih udah setia ngikutin jejak author, see you next time ya, semoga curhatan author ini gak bikin kalian para pembaca jadi risih atau apa ❤🥰🤗
author gak maksa kalian baca karya ini kok. cuman tau² aja kalo udah gak suka ya tinggalin, jangan malah kayak sampah!!
tolong dong kasih rate buat nutupin bolongnya itu, author mau tau siapa² aja yg baca cerita ini🤣🤣
__ADS_1