My Fierce Boss

My Fierce Boss
Buat nambah pengetahuan


__ADS_3

"Sayang, aku mau ngomong."


Dena yang saat itu sedang membantu memasangkan dasi di kerah kemeja suaminya seketika menghentikan gerakan tangannya. Dena mendongak, menatap wajah Fairel yang seperti biasanya terlihat tampan.


"Ngomong aja. Mau ngomong apa emang?" tanya Dena dibuat penasaran. Sedetik kemudian ia melanjutkan pekerjaannya, jari jemari lentiknya tampak lihai berkutat dengan sehelai kain berwarna hitam biru bergaris.


"Tapi, kamu jangan marah ya." ucap pria itu berhati-hati.


"Tergantung apa masalahnya." balas Dena sambil merapikan dasi yang telah selesai ia pasang.


Fairel meletakkan kedua tangannya di sisi pinggang istrinya dan menarik tubuh wanita itu ke arahnya.


"Emmm... gini..." Fairel menggerakkan pelan tubuhnya ke kiri dan kanan, bak baikan pasangan yang sedang berdansa, pria itu memeluk pinggang istrinya.


"Soal status kita." Dena menganggukkan kepalanya menunggu lanjutan perkataan Fairel.


"Kamu setuju gak kalau status kita disembunyikan dulu?" ujar Fairel menatap istrinya takut, takut kalau Dena menolak keras.


"Disembunyikan? Buat apa?" tanya Dena mengernyitkan dahinya bingung.


"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Tujuanku bilang gitu cuma satu. Aku pengen menyeimbangkan kedudukan kita dulu. Aku gak mau orang-orang menggunjingg kamu karena memiliki suami pengangguran kayak aku." tutur Fairel menjelaskan.


"Kamu kan gak pengangguran. Kamu kerja."


"Maksudnya gini, aku mau membangun usaha dulu sampai aku berada di titik yang membuat kamu bangga. Cuma itu. Aku gak mau mempermalukan kamu di depan publik. Apalagi di depan karyawan kantor kamu."


Dena memicingkan sebelah matanya karena alasan Fairel yang terkesan aneh. Tapi, Dena mengerti maksud dari perkataan Fairel. Intinya pria itu ingin menyembunyikan status mereka saat di kantor.


"Intinya gitu. Jangan marah ya? Ini buat sementara aja kok. Aku mau memantaskan diriku terlebih dahulu. Sebentar aja, gak lama kok. Mau kan?" bujuk Fairel memasang wajah waspada. Apalagi melihat tatapan Dena yang seakan menghunus dirinya.


Dena terdiam sambil menatap tajam suaminya. Tatapannya terlihat tidak bersahabat sama sekali. Jika boleh jujur, Dena ingin sekali memukul kepala suaminya menggunakan teflon di dapur.


Hening. Suasana menjadi hening saat percakapan itu terhenti. Fairel sudah memasang wajah takut dan bersiap seandainya istrinya marah-marah. Namun, respon yang diberikan Dena membuat pria itu tercengang tidak menyangka.


"Oke, aku kasih waktu kamu 1 tahun. Gak boleh lebih, dan kalau bisa kurang dari itu. Gimana? Cukup kan?" cetus wanita itu.


"Serius?" tanya Fairel tidak menyangka.


"Gak mau?"


"Mau kok." jawab Fairel cepat sebelum Dena berubah pikiran. Untuk mengalihkan pembicaraan, Fairel langsung menarik istrinya ke dalam pelukannya.


Saat ini keduanya sudah tinggal terpisah sejak seminggu yang lalu. Sebelumnya mereka sempat tinggal di kediaman orang tua Dena selama 2 hari. Dan setelah itu mereka memutuskan untuk pindah cepat karena tidak nyaman dengan orang tuanya.


"Makasih, Sayang." bisik Fairel tepat di telinga Dena.


Dena menepuk-nepuk pelan punggung suaminya. "Aku gak tau apa alasan kamu, tapi, aku menghargai apa kemauan kamu. Tapi, ada satu syarat."


Seketika Fairel langsung melepaskan pelukannya dan menatap istrinya penasaran. "Apa?"


"Syaratnya kamu gak boleh nyembunyiin sesuatu dari aku. Paham?"


"InsyaAllah."


"Humm... ya udah, sekarang ayo berangkat." sela Dena mengingat jam sudah menunjukkan pukul setengah 8. Jarak dari apartement miliknya dan perusahaannya itu tidak terlalu jauh. Mungkin hanya membutuhkan 15 menit untuk sampai ke kantornya.


.


.


.


"Selamat pagi, Bu Boss, Pak Fairel." sapa Novi dan Lala menyambut kedatangan mereka di lobi kantor.


"Pagi." jawab Dena dan Fairel.


"Bu Boss sudah sarapan?" tanya Lala.


"Sudah. Kalian?" tanya Dena balik. Mereka mengobrol sembari melangkah menuju lift. Fairel terlihat sedikit menjaga jarak dengan Dena agar tidak menimbulkan kecurigaan karyawan kantor. Karena selama seminggu ini, tidak ada tanda-tanda yang membuat karyawan kantor Dena merasa curiga dengan kedekatan tidak biasa antara bos dan sekretaris itu.

__ADS_1


Novi dan Lala mengangguk serempak. Saat tiba di depan lift, keduanya tampak saling menyenggol satu sama lain. Dena yang melihatnya sedikit penasaran karena melihat dua karyawannya itu saling berbisik.


"Ada apa?" tanya Dena sebelum masuk ke dalam lift.


"Ah, hahaha itu..." Novi tergelak dan menatap Dena dengan cengirannya.


"Lo aja deh yang kasih tau." Novi kepada Lala.


"Kok gue? Lo aja deh."


"Iya, tau. Tapi, gue agak gimana gitu."


"Ck! Cepetan sono sebelum Bu Boss ke atas."


"Ada yang mau disampaikan? Sebelum saya naik ke atas." tegur Dena.


"Eh! Hehehe." kedua wanita itu saling menyengir.


"Gini, Bu. Saya cuma mau bilang sesuatu."


"Apa?"


"Itu, anu..."


Dena mengangkat sebelah alisnya ke atas lantaran bingung. Sementara Fairel tampak menunggu dengan tidak sabaran. Pria itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Apa, Nov?"


"Itu--"


Fairel berdecak pelan melihat itu. "Maaf, ada berkas yang harus segera anda tandatangani." ujar Fairel kepada Dena, berharap kalau dua karyawan itu segera mengerti dengan kode yang ia berikan.


Tringgg


Tiba-tiba ponsel dari arah saku jas Fairel berbunyi. Membuat pria itu lekas merogoh ponselnya. Begitu melihat pesan tersebut, nafas Fairel tercekat. Tidak ingin gagal fokus dengan isi pesan yang dikirim oleh temannya, Fairel langsung menyimpan ponselnya.


Begitu Fairel mengangkat kepalanya, ia sudah melihat tatapan aneh dari ketiga wanita itu. Melihat itu Fairel langsung memasang wajah datar.


"Begini... nanti malam saya mau bikin acara. Apa Bu Boss bisa datang?"


"Acara? Acara apa?" kening Dena mengerut sempurna.


"Emmm... itu..." wanita itu tampak terbata.


Lala yang sudah gemas langsung saja menyahut. "Novi lamaran, Bu Boss. Dimohon datang ya. Acaranya jam 7 malam. Sama satu lagi, Pak Fairel juga harus ikut."


Dena yang mendapat kabar itu jelas terkejut. Apakah dirinya ketinggalan berita? Ah ya, Dena sadar kalau selama ini ia lama tidak masuk kantor.


"Lamaran? Novi dilamar siapa?" tanya Dena penasaran.


"Nanti liat aja deh, Bu. Datang ya, Bu Boss. Nanti saya tunggu kedatangannya. Pak Fairel juga. Datang ya, Pak?"


"Lihat saja nanti." jawab Fairel.


"Kalau begitu saya dan Lala pamit dulu ya Bu, Pak."


"Lohh... kalian gak ke atas? Sekalian aja?" sahut Dena.


"Hehe, enggak. Bu Boss duluan aja, saya dan Lala ada urusan bentar di lobi."


"Oke."


Novi dan Lala pun segera pamit setelah memberi kabar kepada bosnya.


Sementara Dena dan Fairel langsung masuk ke dalam lift setelah kepergian Novi dan Lala.


"Siapa ya yang melamar Novi? Perasaan di kantor dia gak deket sama cowok mana pun." gumam Dena masih memikirkan hal itu.


Tiba-tiba saja Fairel menarik pinggangnya sehingga tubuh mereka menempel. "Terlalu kepo dengan urusan orang itu gak baik." ucap pria itu.

__ADS_1


Dena langsung menoleh menatap wajah Fairel. "Aku gak kepo, cuma penasaran aja gitu."


"Sama aja." Fairel yang gemas langsung mencubit ujung hidung Dena membuat wanita itu mencibikkan bibirnya ke depan.


"Oh ya, tadi siapa yang ngirim pesan?" tanya Dena teringat dengan suara nofit ponsel Fairel tadi.


"Bukan apa-apa."


Sontak Dena mencubit perut pria itu. "Aku serius loh."


"Kamu serius pengen tau?" tanya Fairel memasang wajah datar.


"Iya." Dena menganggukkan kepalanya.


Fairel langsung mengambil ponselnya dan menyodorkannya pada Dena. "Nih! Cek aja."


Awalnya Dena menunjukkan ekspresi biasa-biasa saja. Tapi, begitu melihat room chat atas nama Rafael, Dena mengernyitkan dahinya bingung. Di sana, sahabat Fairel itu tampak mengirimkan sebuah file.


"Apa ini?" tanya wanita itu penasaran.


Fairel hanya memasang wajah datarnya dan menjawab. "Buka aja."


Tanpa curiga sama sekali Dena segera membuka file itu. Tampilan pertama yang ia lihat hanya layar hitam yang membuatnya langsung menatap Fairel bingung.


"Gak ada apa-apa."


"Lihat lagi."


Dena menurut, ia mengalihkan pandangannya lagi menatap layar ponsel. Begitu melihat isinya, kedua bola mata Dena membola.


"Ish! Apaan sih ini!!?" kesal Dena langsung memberikan kembali ponsel Fairel. Wajahnya berubah merah padam.


Bibir Fairel berkedut melihat ekspresi yang diperlihatkan oleh Dena. "Emang itu apa?" tanya pria itu tanpa dosa.


"Huh!!!" Dena melengos ke samping dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya.


"Emang itu apa sih? Aku gak tau, belum lihat soalnya." ujar Fairel lagi.


"Diem! Sejak kapan kamu liat gituan?!!"


"Liat apa?"


"Ya, itu lah." jawab Dena salah tingkah.


"Itu apa, hm? Aku beneran gak tau loh ya. Kan kamu yang pertama kali buka."


"Stop. Mataku jadi ternodai. Awas aja kamu liat itu lagi."


"Sejak kapan mata kamu itu suci? Perasaan kamu udah beberapa kali melihat punya aku deh." goda Fairel memasang wajah tengilnya. Dilihatnya wajah istrinya itu yang semakin memerah. Entah merasa malu sendiri atau salah tingkah.


"Relll!!!" geram wanita itu.


"Hihihi... ketauan nonton itu ya? Kamu yang liat sendiri loh ya, bukan aku." Fairel malah terkikik tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Salah Rafael. Kenapa dia ngirim file itu segala."


"Mana aku tau. Dari dulu dia suka ngirim file atau link gak jelas."


Mata Dena langsung memicing tajam. "Dari dulu? Berarti kamu udah pernah liat?"


"Pernah." jawab Fairel jujur. "Buat nambah pengetahuan aja biar prakteknya gampang."


Dena langsung memalingkan wajahnya ke samping. "Praktek langsung kan bisa tanpa harus nonton gituan." gumamnya lirih.


Sayangnya, Fairel memiliki indera pendengaran yang cukup tajam. Pria itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke telinga sang istri. "Nanti kita coba di meja kerja." bisik Fairel jahil. Mendengar itu Dena langsung melototkan kedua bola matanya tidak habis pikir dengan pikiran suaminya itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2