My Fierce Boss

My Fierce Boss
Telat


__ADS_3

Perlahan sinar matahari masuk melalui kaca jendela yang tidak tertutupi gorden. Sinarnya begitu terang sehingga membuat seorang pria yang sedang tertidur di atas kasur terbangun dari tidurnya.


*Drttt


Drttt*


Suara panggilan masuk dari ponselnya membuatnya segera membuka kelopak matanya dan berusaha meraih ponselnya.


"Halo."


"Selamat siang, Pak Fairel yang terhormat. Saya ada di depan pintu rumah anda."


"Haa??"


Refleks Fairel beranjak duduk dengan raut wajah acak-acakan. Ia menjauhkan ponselnya dari depan telinganya untuk melihat nama penelfon.


"Siall lo, San! Bikin orang kaget aja." umpat Fairel memaki temannya.


Terdengar gelak tawa dari seberang sana. "Hahaha... habisnya. Ini udah pagi, Rel. Bukannya lo harus kerja ya?"


Fairel terdiam sejenak kemudian menoleh ke arah jam dindingnya. Tiba-tiba ia terlonjak kaget saat melihat jarum jam pendek yang menunjukkan angka 7 dan jarum panjangnya ke arah 8.


"5 menit tunggu gue di depan."


Tutt!


Fairel memutuskan panggilannya sepihak. Sedangkan temannya hanya mendengus kesal.


5 menit kemudian...


Ceklek


"Ayo, San. Gue udah telat nih." Fairel langsung menyelonong saja meninggalkan Sandi, temannya yang berdiri di depan pintu.


"Lahh lahhh... kita yang nungguin malah ditinggal." ujar Sandi untung sabar.


"Emangnya lo pulang jam berapa semalam?" tanya Sandi saat mereka dalam perjalanan. Keduanya berangkat bersama menggunakan motor Sandi, anggap saja Sandi tengah mengantarkan Fairel. Sandi adalah temannya semasa kuliah dulu. Sama-sama anak perantauan, jadi, mereka memutuskan untuk berteman.


"Gue gak ingat." jawab Fairel lalu tertegun sempurna.


"Siapa yang antar gue pulang?" lirihnya kehilangan separuh ingatannya. Saat pulang dan sampai di kost-annya pun Fairel tidak sadar. Lalu siapa yang mengantarkannya pulang?

__ADS_1


"Apa iya dia?" batinnya menerka.


"Kayaknya lo amnesia deh." ujar Sandi. Badannya terasa melayang karena Fairel membawa motornya dengan kelajuan di atas rata-rata.


Fairel tidak lagi merespon perkataan Sandi. Pikirannya hanya tertuju pada kejadian semalam. Mungkin karena efek mabuk ia tidak dapat mengingat jelas. Terakhir yang Fairel ingat hanyalah saat ia berjalan keluar dari cafe. Dan setelahnya ia tidak dapat mengingat kejadian selanjutnya.


30 menit mereka berkendara akhirnya sampai juga di tempat Fairel bekerja. Fairel langsung melepaskan helm di kepalanya dan memberikannya kepada Sandi.


"Makasih ya, San. Gue masuk dulu."


"Jangan buru-buru gitu. Nanti malah kesandung." canda Sandi hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Duluan, San." teriak Fairel melambaikan tangannya.


"Hati-hati." balas Sandi ikut berteriak.


Fairel berjalan tergesa-gesa. Ia mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam di pergelangan tangannya. "Duhhh! Beneran telat kan." kata Fairel meringis.


Pria itu berlarian memasuki lobi kantor. Ia bergegas menuju mesin absensi fingerprint untuk absen.


"Pukul 08.15. Terlambat selama 15 menit. Hari ke sembilan bekerja di perusahaan ini."


Deg


"Pepatah mengatakan, waktu adalah uang dan uang adalah waktu. Apakah begini kinerja Bapak Fairel Atharizz? Tidak disiplin, teledor."


Kepala Fairel tertunduk ke bawah. Entah kenapa suasana seketika terasa mencekam.


"Kalau hanya untuk bermain-main, lebih baik angkat kaki dari perusahaan saya dari pada saya menampung karyawan yang tidak disiplin."


"Maaf." hanya itu yang bisa Fairel katakan. Selebihnya hanya ada perasaan bersalah di hatinya.


Dena, wanita itu berdiri di hadapan Fairel dengan tangan menyilang di depan dadanya. Terlihat anggun dan berkelas.


"Tidak masalah. Kali ini masih saya berikan toleransi untuk pesta semalam." Dena memainkan kuku tangannya.


Fairel mengangkat wajahnya dan menatap wajah Dena dengan tatapan polosnya.


Sementara itu, Dena yang ditatap seperti itu membuat jantungnya berdebar kencang. Dena melengos, memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Lalu ia membalikkan badannya beranjak pergi dari sana.


Tetapi, belum setengah ia melangkah tiba-tiba Dena berhenti dan membalikkan badannya.

__ADS_1


"Tunggu apa lagi? Kau benar-benar akan mengundurkan diri?" sindir Dena.


"Ah! T- tidak." sentak Fairel kaget.


"Bagus. Saya masih membutuhkan tenagamu."


Fairel memandang lekat kepergian Dena. Hatinya seakan tercubit. Memang benar, perubahan jelas terlihat di diri mereka masing-masing. Dulu, yang Fairel lihat hanyalah senyum merekah dan tawa bahagia dan juga tangisannya. Sekarang, Fairel melihat sisi berbeda dari Dena. Serius, dan mungkin bisa Fairel katakan sedikit galak. Belum apa-apa ia sudah disemprot.


.


.


.


Jam istirahat makan siang sudah tiba, semua karyawan yang bekerja di perusahaan Dena berbondong-bondong menuju kantin untuk mengisi tenaga mereka. Sama halnya dengan Fairel, sejak tadi pagi terlambat, ia tampak sibuk di meja kerjanya yang berada di luar ruangan Dena. Di lantai atas, mungkin hanya mereka saja yang menghuninya. Itu jelas terasa sangat sepi dan Fairel sedikit menyukainya karena ia tidak terlalu suka berbaur dengan orang asing.


"Urghhh... akhirnya selesai juga." Fairel meregangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku karena berkerja selama berjam-jam.


"Huhhh!!" pria itu menghembuskan nafasnya panjang kemudian menutup komputernya dan juga dokumen-dokumen penting.


Fairel keluar dari ruangannya yang tampak transparan. Yup, pintu ruangan kerjanya terbuat dari kaca tembus pandang. Berbeda dengan pintu milik Dena yang memang terbuat dari kaca, namun, pintu itu sama sekali tidak tembus pandang. Baik dari bagian luar maupun dalam sama-sama tidak terlihat.


Fairel tidak lupa dengan tugasnya. Bukankah ia juga merangkap sebagai asisten pribadi? Ah, itu pasti sangat merepotkan.


Fairel berjalan menuju ruangan Dena dan mengetuk pintu itu.


Tok tok tok


"Masuk!" terdengar sahutan dari dalam membuat Fairel langsung mendorong pintu besar itu.


Dapat ia lihat sosok wanita yang tampak fokus di meja kerjanya dengan kacamata bertengger di hidungnya. Begitu mendekat, Fairel tidak langsung berbicara. Namun, memandangi wanita itu cukup lama.


"Ada apa?" tanya Dena akhirnya buka suara. Bukan tidak menyadari, namun, ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang selalu menumpuk. Mungkin saja itu akibat dari perpindahan kantor pusat dari Paris ke Indonesia.


"Jam makan siang sudah tiba. Apa sebaiknya anda beristirahat barang sejenak. Saya akan memesankan makan siang untuk anda." ujar Fairel.


"Huhhhhh..." terdengar helaan nafas panjang dari Dena. Ia menegakkan tubuhnya dan sedikit menjauhi pekerjaannya. Wanita itu bersandar di kursinya.


"Hemm... makanannya sudah tau kan? Kalau iya, silahkan keluar." usir Dena. Yup memang setiap jam istirahat, menu makanannya sudah tercatat di notebook. Itu sudah terjadwal sejak Adel menjadi sekretarisnya dulu.


Fairel hanya menganggukkan kepalanya lalu pamit undur diri.

__ADS_1


Selepas kepergian Fairel, Dena tampak melamun sambil memainkan pulpen di tangannya. Ia bahkan menggerakkan kursinya sehingga berputar membelakangi meja kerja.


Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini, seakan-akan ada yang mengganggu pikirannya. Mungkin salah satunya masalah tentang pengoperasian perusahaan. Memindahkan kantor pusat itu jelas sangat rumit. Banyak hal yang harus diurus. Dena harus berusaha untuk menyesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Dan bahkan mungkin saja investor-investornya dari luar negeri akan menghilang.


__ADS_2