My Fierce Boss

My Fierce Boss
Panggilan maut


__ADS_3

Awas part bucin bertebaran!!


.


Tidak butuh waktu yang lama bagi Dena untuk memandikan kedua adiknya. Setelah selesai wanita itu langsung memakaikan baju untuk mereka, Dena sengaja memilihkan baju yang tipis karena mengingat cuaca panas. Setelah rapi, ketiganya kembali turun ke ruang tengah.


"Bik, Arel belum selesai?" tanya Dena bingung karena tidak menemukan Fairel di ruang tengah. Padahal sudah lumayan lama pria itu berada di kolam renang.


"Belum, Non. Bibik dari tadi di sini gak liat tuh Den Arel."


Dena menganggukkan kepalanya saja. Sesaat ia berniat untuk menemui Fairel di belakang rumahnya, mengecek apakah pria itu masih di sana atau tidak.


"Dena titip mereka ya, Bik?"


"Baik, Non."


"Kalian di sini dulu ya? Jangan kemana-mana, Kakak mau ke belakang bentar." pamit Dena kepada kedua adiknya.


"Iya, Kak." jawab mereka serempak.


Wanita itu pun segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju area dapur. Dari arah dapur, ia bisa melihat aktivitas di kolam renang karena pintunya terbuat dari kaca transparan.


Dena berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman hangat. Setelah selesai, ia kemudian melangkah keluar. Dapat Dena lihat Fairel membelakanginya, pria itu entah sadar atau tidak dengan kehadiran Dena. Fairel menyandarkan kepalanya di pinggiran kolam dengan kedua siku ia letakkan di sana. Kepalanya mendongak dengan mata yang terpejam. Ia begitu menikmati air dingin di kolam itu.


Dena berjalan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara karena tiba-tiba ia memiliki niat jahil kepada pria itu. Setelah meletakkan gelas minuman di meja, wanita itu perlahan mendekati Fairel.


Perlahan ia mengendap-endap untuk mengejutkan Fairel.


"Baaaaaa!!!"


Dena berhasil mengejutkan Fairel. Namun, tiba-tiba saja tubuhnya tertarik ke dasar kolam membuatnya tidak bisa mengelak dan alhasil ia tercebur ke dalam kolam karena sebuah tarikan.


Byurrrrr


"Aaaaarrghhhhhh..." pekik Dena terkejut.


Wanita itu mengap-mengap berusaha meraih apa saja sebagai pegangannya. Setelah berhasil menemukan pegangan, Dena langsung berdiri tegak dan meraup kasar wajahnya yang basah kuyup.


"Hahahahhaaa..." sementara itu terdengar tawa menggelegar dari Fairel. Pria itu tertawa puas saat berhasil mengerjai wanitanya. Salah siapa memiliki niat jahat kepadanya. Itulah akibatnya. Bukannya tidak sadar, Fairel jelas sadar dengan kehadiran Dena sedari awal. Namun, ia lebih memilih diam saja untuk melihat apakah yang dilakukan wanita itu selanjutnya. Dan ternyata dugaannya benar, Dena tidak kalah sama jahil dengan dirinya.


Plaakkk


Dena memukul permukaan air secara kasar dan membuat bunyi yang cukup keras terdengar. Sekali lagi ia meraup wajahnya dan memasang wajah cemberut.


"Iiiihhhhhh!! Jahat banget sih bikin orang jatoh." omel Dena.


"Hahahahaa... abisnya salah siapa punya niatan jahat." balas Fairel masih tertawa puas.

__ADS_1


"Basah kan jadinya. Kamu tuh ya!" Dena mendekat dan tanpa aba langsung mendaratkan cubitan di perut telanjang Fairel karena memang pria itu hanya memakai celana pendek saja.


"Aaawwwww..." Fairel mendesis pelan begitu cubitan kecil dan pedas terasa di permukaan kulitnya. Pria itu langsung mengusap-ngusap perutnya di genangan air.


Dena masih berusaha untuk berdiri tegap karena volume air di tubuhnya mencapai hingga lehernya, membuat dirinya sudah menghirup oksigen. Maklum saja tubuhnya sedikit pendek dibandingkan Fairel.


Splashhh


Fairel yang jahil mencipratkan air ke wajah Dena membuat wanita itu menahan nafasnya. Dena meraup wajahnya kemudian menatap Fairel tajam.


"Rel." panggilan itu bukan panggilan biasa. Namun, penuh dengan penekanan. Sepertinya Dena tengah memberi perhitungan kepada pria itu untuk berhenti mengerjainya.


"Apa, Sayang?" jawab Fairel lembut dan begitu mendayu di telinga Dena.


"Serius ih!" kesal Dena memasang wajah cemberut.


"Aku juga serius kok." balas Fairel.


"Aku gak bisa berdiri." adunya manja.


"Lohh??" Fairel memasang wajah cengo lalu sesaat ia melipat bibirnya. "Pfttt!! Salah siapa pendek." perkataannya secara tidak langsung mengejek Dena.


"Ngejek?"


"Iya." ujar Fairel tanpa beban.


Keduanya terdiam dengan tatapan dalam. Sedetik kemudian Fairel menundukkan kepalanya. Nafasnya langsung tercekat. Jakunnya tampak naik turun berulang kali.


Dena yang merasakan perubahan Fairel sontak mengikuti arah pandang pria itu. Seketika ia memekik dan refleks menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Namun, kaki Dena yang tidak sepenuhnya sampai di bawah langsung saja oleng. Beruntung ada Fairel yang sigap menarik belakang pinggangnya yang membuat tubuh mereka bertabrakan.


Sekali lagi keduanya hanya terdiam. Sebenarnya sedari tadi Fairel gugup karena melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Aset Dena yang paling berharga begitu tercetak jelas lewat baju kaos putihnya yang transparan karena basah terkena air. Fairel bukan pria polos yang tidak tau menahu tentang itu, jelas ia tau karena sebelumnya ia pernah merasakannya dan itu dari Dena.


"Rel, jangan mesum deh." peringat Dena dengan jantungnya yang berdebar kuat.


Fairel langsung tersadar, ia menatap wajah Dena. Lebih tepatnya tatapannya malah tertuju pada bibir wanita itu yang tampak segar karena basah terkena air. Pikiran Fairel langsung berkelana entah kemana. Tanpa sadar ia meremas pinggang ramping wanita itu membuat nafas Dena seketika tercekat.


"Rel-"


"Na." sebelum Dena selesai berkata, Fairel terlebih dahulu menyerobot.


Tatapan Fairel berubah sayu dan itu disadari oleh Dena. Wanita itu menatap Fairel bingung.


"Aku--" Fairel tidak melanjutkan perkataannya. Melainkan tangannya terangkat ke arah wajah Dena. Mengelus pipi lembut wanita itu lalu berpindah ke bibirnya. Dena bisa merasakan usapan lembut tangan Fairel di bibirnya. Dena hanya bisa menutup rapat bibirnya itu.


"Mau ini." ujar Fairel serak sambil matanya tidak pernah lepas dari bibir merah Dena. Andai kata wanita itu sudah menjadi miliknya, kapanpun dan dimanapun ia bisa merasakannya. Eh, maksudnya tidak di manapun juga mereka berada.


Dena tidak dapat berbicara karena ia sedang menahan gejolak di dadanya, belum lagi jantungnya berdebar kencang.

__ADS_1


"Na-"


"Ambil aja!" potong Dena tidak masuk akal. Masa dia harus memberikan bibirnya kepada pria itu. Tidak masuk akal!


Fairel menatap Dena meyakinkan bahwa dirinya boleh memintanya. Melihat Dena mengangguk membuat mata Fairel menggelap penuh kabut gai*rah yang mendera. Ia masih mengusap bibir wanita itu menggunakan jari jempolnya sementara satu tangannya lagi memegang pinggang Dena agar wanita itu tidak tenggelam.


Diusapnya pipi lembut itu sambil wajahnya perlahan mendekat. Perlahan dengan pasti Fairel mengikis jarak mereka. Dena menahan nafasnya saat pria itu memiringkan kepalanya. Mungkin dalam satu gerakan kedua bibir mereka sudah bertemu. Namun, pria itu malah berhenti disaat Dena sudah memejamkan mata dan menahan nafasnya seperti sedang menyambut hangat pria itu. Fairel menatap mata Dena yang terpejam. Ujung sudut bibirnya terangkat ke atas.


Dena langsung membuka matanya saat merasa kalau pria itu hanya memberikan harapan palsu. Namun, baru sedetik ia membuka matanya, Dena dikejutkan oleh Fairel yang tiba-tiba menyatukan bibirnya membuat bola mata Dena membesar. Pria itu meraup bibirnya, tangannya yang awalnya mengusap pipinya pelan kini berpindah ke belakang kepalanya lalu turun dan berakhir memegang tengkuk lehernya.


Perlahan mata Dena terpejam. Ia membiarkan Fairel mengeksplornya. Fairel yang awalnya hanya menempelkan bibirnya kini mulai bergerak. Menyesap bibir bawah Dena dan menggigitinya pelan. Refleks Dena membuka mulutnya yang memudahkan Fairel untuk bekerja lebih lagi.


Di sela-sela ciumannya Fairel sempat tersenyum tipis hampir tidak terlihat menyadari Dena sudah membuka aksesnya. Tanpa disuruh pun Fairel sudah tau apa yang seharusnya ia lakukan. Ia menarik pinggang Dena lebih dekat sehingga tubuh keduanya menempel. Ia memberanikan diri memasukkan ujung lidahnya ke dalam mulut wanita itu dan mengeksplor lebih di dalamnya. Mencoba untuk menyatukan indera perasa mereka dengan begitu hangat dan terasa manis. Fairel mencecap rasa di dalamnya, menelusuri sudut demi sudut rongga mulut Dena. Ia kembali fokus ke bibir wanita itu, menyesapnya kuat sehingga membuat bibir bawah Dena tertarik.


Tiba-tiba pria itu melepaskan tautannya membuat Dena merasakan kehilangan. Namun, itu hanya sebentar karena selanjutnya Fairel menurunkan ciumannya di leher wanita itu. Menyapu leher putih nan mulus yang sedari tadi menantangnya. Spontan Dena mencengkram rambut hitam basah milik Fairel karena merasakan nikmat yang diberikan oleh pria itu.


"Ssshhhhhhttttt..." Dena mendesis pelan. Pikirannya langsung blank karena perlakuan pria itu terhadapnya.


Tangan Fairel di bawah sana langsung menjalar di tubuhnya. Ia menelusupkan tangannya dibalik kaos Dena bagian belakang dan mengusapnya lembut dengan gerakan naik turun. Dena seperti merasakan sengatan listrik di tubuhnya saat tangan Fairel menjalar di mana-mana. Beruntung saat ini mereka berada di dalam kolam.


Dena mati-matian menahan suaranya agar tidak keluar yang mungkin saja nanti memunculkan kecurigaan orang-orang di rumahnya.


"Sssshhhhh aaaahhh Rellllhh..." satu desa*han lolos dari bibir Dena tanpa ia duga. Wanita itu langsung mengigit bibir bawahnya berusaha meredam rasa yang menjalar di tubuhnya.


Mendengar itu membuat Fairel menjauhkan wajahnya dari leher Dena. Ia menatap wanita itu dengan penuh kabut gai*rah. Tatapan yang terlihat sayu tampak begitu menghipnotis Dena dengan segala pesona yang pria itu berikan.


Fairel tersenyum tipis. Tangannya mengusap kepala Dena dan menyibakkan rambut itu ke samping menjadi satu. Ingatkan mereka bahwa saat ini keduanya sedang berada di kolam.


Fairel tersenyum. Secara tiba-tiba ia mengangkat Dena ke dalam gendongannya. Pria itu menggendong Dena bak induk koala yang sedang menggendong anaknya. Wanita itu juga bahkan mengalungkan kedua lengannya di leher Fairel. Fairel langsung membalikkan tubuhnya membuat tubuh belakang Dena menyandar di dinding kolam sedangkan sebelah tangannya menahan tubuh wanita itu agar tidak terjatuh dan sebelahnya lagi bergerak naik ke belakang kepala Dena.


Cup


Pria itu kembali mendekatkan wajahnya dan meraup bibir merah wanita itu. Dena tersentak, namun, ia segera membalas ciuman pria itu. Fairel betah bermain-main di sana. Melu*mat, menyesap, dan mencecapnya lapar.


"Mmhhhh.... Rellhhh..." Dena berucap di sela-sela ciumannya.


Fairel tidak menggubris panggilan wanita itu. Saat sedang asik-asiknya menciptakan suasana panas, tiba mereka dikejutkan oleh sebuah suara yang sontak membuat keduanya melepaskan diri secara paksa.


"Mau sampai kapan kalian di situ? Naik! Nanti masuk angin."


.


.


.


mumpung besok adalah hari terakhir puasa, author mau minta maap yah🤣maap bila ada salah kata atau apa🤣intinya di sini author ga salah🥴🥴🥴#karna author itu cewek✌

__ADS_1


__ADS_2