My Fierce Boss

My Fierce Boss
Hubby


__ADS_3

Suara derit pintu terdengar saat dibuka oleh seorang pria yang hendak masuk ke kamarnya. Pria itu mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok wanita tengah menyisir rambutnya di depan cermin dalam posisi berdiri.


Pria itu mendekat dan tanpa aba dirinya mendekap dari belakang sosok wanita itu yang sekarang sudah menjadi istrinya. Siapa lagi kalau bukan Fairel.


Dena tidak terkejut sama sekali karena ia sudah menyadari kedatangan pria itu. Setelah selesai menyisir rambutnya, tangannya lekas melepaskan lilitan tangan Fairel di perutnya.


"Minggir dulu, aku mau mandi." ucap Dena.


Fairel melepaskan pelukannya dan langsung membalikkan tubuh Dena menghadapnya. Pria itu menelusuri wajah istrinya yang polos tanpa make up.


"Ikut boleh gak?" goda Fairel langsung mendapat cubitan kecil di pinggangnya.


"Jangan ngadi-ngadi. Di rumah banyak tamu." mata indah itu melotot menatap Fairel.


Fairel tertawa pelan mendengarnya. "Selesai acara kita jalan-jalan di sekitaran desa. Mau gak?" tawar Fairel. Ia ingin sekali mengulang masa-masa indah saat pertemuan mereka untuk yang pertama kalinya. Berawal dari mencuri mangga dan berakhir mencari belut di sawah.


Dena melepaskan diri dari Fairel dan menyambar handuk yang tergantung di sisi lemari kayu. "Boleh, aku mau ke kebun Kakek. Mungkin aja ada buah-buahan yang bisa dipanen."


"Gantian ya, habis ini aku yang mandi." ujar Fairel mendapat balasan anggukan kepala oleh Dena. Wanita itu segera beranjak dari dalam kamar sambil membawa pakaian gantinya. Bisa-bisa saja Dena tidak membawa baju ganti dan memilih berganti di dalam kamar saja. Namun, di dalam rumah mendiang Kakeknya itu masih ramai akan tamu.


Mungkin ada sebagian larangan yang mengatakan bahwa pengantin baru tidak boleh mandi sampai hari resepsi tiba. Alasannya banyak sekali macamnya, konon katanya ini dan itu. Tapi, zaman sudah berkembang dan sebagian tidak percaya akan tahayul itu. Siapa juga yang tahan tidak mandi selama beberapa waktu, apalagi sampai lewat satu hari. (Terkecuali author yang malas mandi wkwk).


Dan ada juga yang mengatakan bahwa pengantin yang baru saja menikah tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu dan segala macamnya. Pasangan pengantin harus stay di rumah bahkan terkurung di dalam kamar tanpa melakukan aktivitas apa pun.


Sambil menunggu istrinya selesai mandi, Fairel memutuskan untuk membuka ponselnya untuk melihat beberapa artikel terkait pencariannya tentang usaha atau bisnis sambil duduk bersantai di kasur. Yap, semalam dirinya dan para sahabatnya sudah mencari beberapa artikel terkait. Meskipun dalam kurun waktu 1 bulan ini ia mempelajari tentang usaha di bidangnya, namun, itu tidaklah cukup.


Sekitar sepuluh menit kemudian terdengar derit pintu dibuka yang membuat Fairel langsung menyudahi aktivitasnya dan lekas mematikan ponselnya dan menyimpannya di atas kasur. Dena masuk ke dalam kamar sambil menggosok rambutnya yang basah.


Dena tidak melirik Fairel sama sekali karena perasaannya masih campur aduk. Walaupun bukan pertama kalinya mereka berada dalam satu ruangan, tapi, entah kenapa kali ini sensasinya berbeda dari biasanya. Jantungnya bedegup kencang setiap kali ia menatap mata Fairel.


Fairel melirik Dena yang dengan santainya melewati dirinya untuk menggantung handuknya. Pria itu hanya melirik saja, lalu Fairel yang gemas langsung menarik tangan Dena saat istrinya itu melewati dirinya.


Brukk


Dena yang tidak menyangka itu langsung saja oleng lalu berakhir dengan jatuh ke dalam pangkuan Fairel.


Ceklek


Tiba-tiba pintu kamar mereka dibuka lalu disusul dengan sebuah suara. "Sayang, makan siangnya mau di kamar atau di lu--" Cahya tidak dapat melanjutkan perkataannya saat melihat anak dan menantunya dalam posisi yang cukup intim.


"Eh, maaf." ujar Cahya merasa salah tingkah sendiri.


Pasangan pengantin baru itu masih dalam mode blank. Bukannya beranjak dan saling menjauh, mereka malah memandang sang bunda dengan tatapan polos.


"Kalian lanjutkan aja, anggap aja Bunda gak liat."


Brak


Pintu kamar langsung tertutup pelan namun terkesan terburu-buru. Beberapa menit kemudian setelah pintu ditutup, keduanya masih melongo lalu saling pandang.


Bughh


Dena langsung memukul bahu suaminya karena merasa malu. Mungkin saja sekarang Bundanya sudah memikirkan hal yang tidak-tidak tentang mereka.


"Aaawwwww... kok dipukul sih?" Fairel menangkap pergelangan tangan istrinya.


Dena melengos. "Itu Bunda." ujarnya.


"Iya, tau itu Bunda. Lalu, kenapa?"


"Ish! Kamu mah. Nanti Bunda mikir yang enggak-enggak gimana. Lagian kenapa main tarik aja sih. Bunda kan jadi salah paham." cerocos Dena mengomel.

__ADS_1


Alis Farel bertaut. "Lahhh, dipergok lagi gituan juga gak apa-apa. Kamu lupa ya kalau kita... udah sah?" balas Fairel mengecilkan suaranya di akhir kalimat.


"Urrghhh..." Dena menggerang kesal dengan sikap suaminya. Meskipun begitu, ia masih belum beranjak dari atas pangkuan Fairel karena pria itu menahannya.


Fairel langsung terkekeh pelan karena sudah berhasil memancing kekesalan istrinya.


"Jadi?" Fairel mendekatkan wajahnya dan merengkuh tubuh istrinya erat.


"Apa?" tanya Dena tidak mengerti.


Fairel tidak menjawab, melainkan mendekatkan wajahnya ke telinga sang istri dan berbisik pelan di sana. "Boleh dong nanti malam?" bisik pria itu sambil meniup kecil telinga istrinya.


Tubuh Dena merespon, ia menggeliat kecil merasakan geli karena tiupan kecil di telinganya.


"Hmm?" pria itu mengendus area sekitar belakang telinga istrinya lalu turun ke lehernya.


Dena yang kesadarannya langsung pulih langsung mendorong kepala suaminya. "Enggak ya. Masih banyak tamu dan juga acara belum benar-benar selesai." jawab Dena memberi alasan yang masuk akal. Ya memang benar, masih banyak tamu di luar belum lagi ada keluarganya dan acara resepsi belum selesai. Ditambah kamar mereka yang tidak kedap suara, sekarang saja mungkin obrolan mereka terdengar ke luar.


Fairel tersenyum mendengarnya, ia hanya sekedar menggoda istrinya saja dan malah mendapat tanggapan serius.


"Nyicil dulu boleh gak?" bisik Fairel pelan tepat di depan telinga Dena. Tangannya yang awalnya berada di pinggang istrinya kini mulai turun ke bawah dan berhenti di pinggul istrinya. Tiba-tiba Fairel menyentak tubuh istrinya ke arahnya sehingga tidak ada jarak di antara mereka dan menahannya agar wanita itu tidak bisa memberontak.


Nafas Dena tercekat. Ia menatap wajah suaminya yang perlahan mendekat. Dena bergerak gelisah dibuatnya.


"Nggak jadi mandinya?" tanya Dena hati-hati.


"Mandi urusan belakangan, Sayang." ujar Fairel lalu tanpa aba mengangkat tubuh istrinya dan menjatuhkannya di atas kasur. Pria itu juga memosisikan dirinya berada di atas dan mengukung tubuh mungil istrinya.


Dena sempat memekik pelan, namun, Fairel yang sudah menduga itu langsung membungkamnya menggunakan sebelah tangannya.


Kedua kelopak mata Dena membesar. Dalam posisi itu yang bisa Fairel lihat hanyalah bola mata istrinya sedangkan sebagian wajahnya ia tutup menggunakan telapak tangannya.


Dena mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


Fairel tersenyum miring melihat itu. Tangannya masih menutupi mulut Dena. Lalu perlahan berpindah menutup kedua mata istrinya sehingga pandangan Dena berubah gelap karena itu. Wanita itu tidak bisa melihat apa yang akan suaminya lakukan. Melihat wajahnya saja tidak bisa.


Dena menutup rapat bibirnya, ia merasakan sunyi. Hanya terdengar hembusan nafas Fairel saja yang perlahan mulai terasa menyapu wajahnya.


Fairel mendekatkan wajahnya dan terus melihat bibir istrinya yang terlihat lembut, mungkin saja. Pria itu langsung mendaratkan bibirnya di sana dan terdiam selama beberapa saat.


Dena tidak tau entah apa yang akan ia lakukan. Ia hanya terdiam tidak membalas. Lalu sedetik kemudian dapat ia rasakan Fairel menggerakkan bibirnya di atas bibir istrinya.


"Balas." ujar Fairel di sela-sela ciumannya.


Ksadaran Dena yang telah direnggut setengahnya langsung mengikuti perkataan suaminya. Ia turut andil menciptakan suasana panas itu. Membalas setiap lumaataann yang suaminya berikan. Selang satu menit kemudian Dena refleks mengalungkan kedua lengannya di belakang leher Fairel membuat pria itu tertarik ke arahnya.


Fairel juga langsung melepaskan tangannya dari kedua mata istrinya dan bergantian merengkuh tubuh mungil yang berada di bawah kungkungannya saat ini.


Keduanya sama-sama melepaskan tautan mereka dengan nafas terengah. Dapat Fairel lihat bibir istrinya yang memerah dan sedikit membengkak karena ulahnya. Pria itu tersenyum miring.


Dena perlahan membuka kelopak matanya, begitu terbuka, matanya langsung terkunci dengan mata suaminya. Dengan bibir yang basah dan sedikit terengah, Dena menatap wajah Fairel.


Sedetik kemudian mereka malah tertawa. Fairel mengusap bibir bawab istrinya mengunakan jari jempolnya dengan kekehannya.


Fairel mengapit kedua sisi tubuh Dena menggunakan pahanya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh Dena dan memeluknya.


"Gak ketauan kan?" tanya Dena terkekeh mengingat momen ciuman panas singkat tadi.


Fairel menduselkan wajahnya di ceruk leher istrinya sambil menggelengkan kepalanya. "Paling-paling ada yang denger." balas pria itu.


Dena membalas pelukan suaminya. Tangannya menepuk-nepuk pelan punggung belakang Fairel.

__ADS_1


"Jangan lama-lama gini ya, Rel. Aku sesak lama-lama, kamu lumayan berat." ujar Dena mulai merasakan sesak lantaran ditindih oleh suaminya.


Bukannya bangkit, Fairel justru menyanggah tubuhnya dengan tangannya berada di kedua sisi istrinya. "Aku punya permintaan." kata Fairel menatap wajah Dena dari bawah sana.


"Apa?" tanya Dena penasaran.


"Bisa gak, mulai sekarang jangan panggil nama. Rel, Rel, Arel, jangan itu." pinta pria itu.


"Bisa gak ya?" Dena malah bertanya balik.


Mendengar itu membuat Fairel kembali menjatuhkan bobot tubuhnya di atas tubuh mungil istrinya.


"Hahaha, iya iya, bangkit dulu. Sesek aku." Dena tertawa pelan karena berhasil menjahili suaminya.


Fairel kembali ke posisinya tadi, menyanggah tubuhnya agar tidak terlalu menindih istrinya.


"Maunya dipanggil apa?" tanya Dena perlahan menelusuri rahang suaminya mengunakan jemarinya.


"Yang romantis gitu." celetuk Fairel.


"Apa dong yang romantis? Sayang?"


Pria itu menggeleng. "Itu terlalu biasa."


"Lahhh... terus apa dong?"


"Baby? Tapi, kamu udah gede masa dipanggil baby." celoteh Dena sambil berpikir.


"Honey? Enggak ah, aku geli dengernya." wanita itu yang bertanya malah dirinya yang menjawab sendiri.


"Kamu maunya dipanggil apa? Kalau Pak gimana? Pak Fairel." goda Dena.


Fairel yang frustasi mendengar semua perkataan istrinya langsung saja menyerang wanita itu. Fairel kembali menciun istrinya tanpa henti dan tidak membiarkan Dena ruang sama sekali. Ciumannya terkesan menuntut dan sedikit liar membuat Dena kewalahan.


"Haaaahhhhhh... hahhhhh..." nafas Dena terengah saat Fairel melepaskan ciumannya. Itu pun Dena yang mendorong bahu suaminya.


Sedangkan Fairel yang menjadi pelakunya malah tersenyum menyeringai. Mungkin ini nantinya akan menjadi hukuman apabila istrinya itu memancing kekesalannya.


"Kamu maunya apasih, By?" todong Dena langsung.


"Mau aku? Aku maunya ya cuma kamu." balas Fairel tersenyum miring. Lalu sedetik kemudian ia terdiam karena menyadari sesuatu.


"Bentar, tadi kamu manggil aku apa?" tanya Fairel.


"By. Hubby. Kamu suka?" Fairel tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.


Pria itu langsung mendaratkan kecupan di kening istrinya lalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi di bibirnya.


"Suka banget. Pertahanin, nanti aku kasih hadiah."


"Hadiah?" kedua alis Dena bertaut. "Hadiah apa?" tanyanya kepo.


"Rahasia dong."


Bibir Dena langsung mengerucut sebal. Fairel yang gemas pun langsung mencuri ciuman singkat di sana.


Cup


"Aku mau mandi dulu. Nanti makan siangnya aku bawa ke kamar." pria itu segera menjauhkan dirinya dan beranjak mengambil handuk di gantungan dan mengambil sepasang pakaian ganti.


Dena hanya mengangguk mendengar penuturan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2