
Keesokan harinya saat baru saja tiba di kantornya, Dena langsung bergegas masuk ke dalam ruangannya tanpa mengucapkan satu kata pun kepada Fairel. Setelah kejadian semalam, kini Dena tengah dilanda malu. Biar bagaimana pun juga ia tetap malu karena kelepasan mencium Fairel. Membayangkannya saja sudah membuat Dena gagal fokus saat bekerja.
Namun, bayang-bayang itu justru terus terngiang di kepalanya membuat konsentrasinya malah semakin buruk.
"Urrgghhhhh..." gerang Dena merasa frustasi. Ia menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursinya dengan mata terpejam.
Bahkan pekerjaannya pun belum selesai satu pun. Dan Dena sudah sefrustasi itu hanya gara-gara kejadian semalam. Memangnya siapa yang mudah lupa jika diperlakukan seperti itu? Dena rasa semua orang bahkan pernah merasakannya. Bahkan hanya lewat ketikan chat pun ia rasa semua orang akan terbayang-bayang dengan kalimat-kalimat yang membuat melayang.
Sekuat tenaga Dena berusaha untuk fokus dengan pekerjaannya. Dan sudah berjam-jam ia menghabiskan waktunya dengan berkas-berkas yang menumpuk.
Jam makan siang pun akhirnya tiba. Seluruh karyawan langsung membubarkan diri untuk pergi ke kantor perusahaan. Dena yang tenggelam dengan dunianya pun seakan lupa dengan waktu. Sampai-sampai pintu diketuk pun ia tidak menanggapinya.
"Masuklah!" sahut Dena tanpa melirik ke arah pintu.
"Waktunya makan siang." seru seorang pria memasuki ruangan Dena sambil menenteng beberapa paperbag makanan.
Dena langsung mengangkat wajahnya dan melihat pelakunya. Ia terdiam sambil melihat pria itu berjalan ke arahnya.
"Makan dulu baru lanjut."
Fairel meletakkan paperbag itu di atas meja, tetapi, bukan di meja kerja Dena.
"Jangan lupa." ujarnya lagi sembari menatap Dena sebentar sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.
Dena menatap kepergian Fairel dengan perasaan campur aduk antara senang, haru, dan sedih. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju sofa. Dena mengambil paperbag itu dan membuka isinya.
"Masih inget aja makanan kesukaan gue." Dena melihat pintu ruangannya yang sudah tertutup.
Dua jam setelah jam makan siang berakhir, Fairel kembali datang untuk mengingatkan bahwa Dena ada pertemuan bisnis dengan kliennya di sebuah mall.
__ADS_1
Mereka pun segera menuju lokasi. Saat tiba lokasi, ternyata kliennya belum datang. Dena dan Fairel harus menunggu sekitar 5 menit sebelum akhirnya kliennya datang.
"Maaf terlambat. Tadi ada sedikit macet di jalan." ucap seorang wanita yang ternyata klien bisnis Dena.
"Tidak apa-apa. Silahkan duduk!" Dena ikut bangkit menyambut kedatangan kliennya.
"Perkenalkan saya Diska." wanita itu mengulurkan tangannya.
"Dena." balas Dena menjabat tangan Diska.
Dena tidak memperkenalkan Fairel. Bukan karena tidak menganggap Fairel, namun, Dena sedikit tidak rela jika pria itu didekati oleh wanita lain.
"Dan?" ternyata Diska memiliki tingkat rasa kekepoan yang cukup tinggi. Ia menatap Fairel dengan tatapan bertanya.
"Dia sekretaris saya." jelas Dena.
"Fairel." pria itu bahkan mengulurkan tangannya terlebih dahulu. Dan dengan senang hati Diska menyambut uluran tangan Fairel. Lama mereka berjabat tangan, Dena langsung berdehem menyadarkan mereka. Lebih tepatnya Diska yang bau-baunya seperti mengincar Fairel.
Memang akhir-akhir ini Dena sibuk dengan pertemuannya dengan rekan bisnisnya.
"Ah ya, bisa bisa." jawab Diska dengan tatapan matanya yang tidak pernah lepas dari Fairel.
Selesai dari meeting itu, mereka memutuskan untuk memesan cemilan terlebih dahulu. Lebih tepatnya itu adalah ajakan Diska. Karena Dena sudah makan siang tadi, alhasil makanannya di atas meja tidak ia sentuh sama sekali. Dena mengatakan kalau dirinya kenyang.
"Sebelumnya saya belum pernah melihat Tuan Fairel. Apakah dia sekretaris baru anda?" tanya Diska.
Dena menganggukkan kepalanya.
"Apakah anda tidak ada niatan untuk mencari yang baru?" pertanyaan itu malah membuat Dena mengernyitkan dahinya bingung.
__ADS_1
"Ah maksud saya, apakah anda tidak ingin mengganti sekretaris dalam waktu dekat ini? Kalau iya, saya bersedia untuk memperkerjakan Tuan Fairel sebagai asisten saya."
Dena langsung tersenyum miring karena baru tau arti maksud dan tujuan Diska berkata demikian. "Dia bekerja belum genap satu bulan dan belum melewati masa percobaan."
"Artinya, kalau dia tidak lulus masa percobaan, apakah anda akan memberhentikannya dan akan mencari sekretaris baru lagi?"
Dena terdiam. Ia melirik Fairel yang duduk terdiam di sampingnya. "Ya." jawabnya langsung membuat Diska tersenyum bahagia.
Saat mengatakan iya, Fairel langsung menatap Dena. Keduanya sempat saling bertatapan sebelum Dena memutuskan kontak mata mereka begitu saja. Entah kenapa ekspresi Fairel langsung berubah sendu. Sekarang, pria itu sudah mendapatkan jawaban atas dari semua sifat dan perilaku Dena kepadanya.
"Maaf, saya izin ke toilet dulu." izin Diska kepada mereka.
"Silahkan." balas Dena.
Diska bangkit dari duduknya. Ia sengaja meninggalkan tasnya karena tujuannya hanya ke toilet. Namun, diam-diam Diska memasang wajah senyum misterius saat melihat Fairel mengambil cup minumannya dan mengarahkannya ke bibirnya.
Ia berjalan dengan anggun melewati Fairel. Namun, tiba-tiba saja wanita itu tersandung dan menubruk Fairel. Minuman yang dipegang Fairel sontak tumpah mengenai pakaiannya. Namun, yang lebih parah lagi adalah Diska yang langsung jatuh ke atas pangkuannya.
"Ah, maaf." sesal wanita itu memasang wajah penuh penyesalan. Tangannya dengan cepat mengibas-ngibaskan baju bagian depan Fairel dengan gerakan pelan. Lebih tepatnya di bagian dada pria itu yang kini tampak transparan karena Fairel hanya mengenakan kemeja putih.
Fairel yang terkejut pun langsung saja mendorong tubuh Diska dari atas pangkuannya. Ia ikut berdiri, mengibaskan kemejanya yang terkena noda kopi. Tanpa Fairel sadari bahwa ada seorang wanita yang sedang menahan kobaran api di hatinya.
Dena? Bagaimana reaksinya sekarang? Wanita itu melebarkan bola matanya. Ia sudah berdiri sejak Diska terjatuh di pangkuan Fairel. Saat akan memegur, Fairel terlebih dahulu mendorong Diska. Entah kenapa dada Dena terasa terbakar. Sangat panas sehingga oksigen di sekitarnya pun tidak bisa membantu mendinginkan hatinya.
Dena tampak mengepalkan tangannya sambil menahan emosinya. Wanita itu langsung meraih tasnya lalu tanpa berpamitan ia pergi meninggalkan tempat itu. Bahkan Dena meninggalkan Fairel yang masih dikuasai emosi. Pria itu bingung, ingin marah, namun, ia sadar masih berada di tempat umum. Belum lagi Diska adalah salah satu klien Dena.
Dena berlarian keluar dari area mall. Tiba-tiba ia teringat dengan kunci mobilnya yang ternyata ada di tangan Fairel. Tapi, itu tidak membuat Dena mengundurkan niatnya. Ia sudah terlanjur kecewa. Dena hanya kecewa kepada dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol emosinya hanya karena melihat kejadian yang baru saja terjadi. Dena akui ia cemburu melihat itu. Wanita mana yang tidak cemburu jika melihat pria yang baru saja mengakui perasaannya sekarang malah bersikap tidak tegas. Harusnya Fairel marah, bukan bersikap diam seperti tadi. Itu membuktikan bahwa perkataan Fairel semalam hanyalah ucapan manis semata. Bukan dari lubuk hatinya.
.
__ADS_1
.
.