
Bagaikan orang yang lagi disidang di pengadilan, seorang pria muda berpakaian seragam OB tampak gemetar duduk di sofa tepat di hadapan Dena dan Fairel. Karena tidak ingin si karyawan menyebarkan berita yang tidak-tidak, alhasil Dena menarik karyawannya ke dalam ruangannya.
Mereka bertiga hanya diam sambil saling melirik, lebih tepatnya hanya Dena dan Fairel saja karena Noel tidak berani untuk mengangkat wajahnya.
"Ekhemm..." Dena berdehem singkat guna mencairkan suasana.
"Noel." panggil Dena.
"I-iya, Bu B-oss?" jawab Noel gugup.
"Apa yang kamu lihat barusan?" tanya Dena menginterogasi.
"I-itu... s-aya t-tidak lihat apa-apa, Bu."
"Jangan bohong." ujar Dena memberi sedikit tekanan. Sementara itu Fairel hanya diam saja di samping wanita itu.
"Saya cuma lihat Bu Boss dan Pak Fairel pelukan aja." jawab Noel cepat. Kepalanya menunduk takut. Ya takut dipecat salah satunya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Noel sebenarnya terkejut melihat peristiwa tadi.
"Pandangan kamu tentang itu apa?" tanya Dena lagi.
Sesaat Noel memberanikan diri untuk menatap wajah Dena dan Fairel bergantian. Ia ragu untuk mengatakannya. Jujur saja, Noel juga mendengar setengah dari pembicaraan mereka.
"Katakan!" tekan Dena.
"M-maaf, Bu Boss hamil?" kata Noel hati-hati.
Sontak mata Dena langsung melotot lebar. Jadi tadi Noel mendengarkan pembicaraan mereka? Dan dari mana karyawannya itu bisa menyimpulkan bahwa dirinya hamil?
Dena langsung melirik Fairel cepat. Meminta agar pria itu mengambil tindakan karena sedari tadi hanya dirinya saja yang berbicara.
"Ekhemm... Noel, saya harap kamu tidak menyebarkan berita ini. Kamu bisa tutup mulut kan?"
Refleks Dena menepuk dahinya mendengar perkataan Fairel. Bukan itu yang seharusnya Fairel jelaskan.
"B-bisa kok, Pak." ujar Noel.
"Apa saya boleh keluar sekarang?" tanya Noel hati-hati.
"Silahkan." jawab Fairel.
Noel pun langsung beranjak dari tempatnya. Begitu keluar dari dalam ruangan Dena, Noel menarik banyak oksigen di sekitarnya sambil mengelus dada.
"Astaga! Jadi selama ini Bu Boss dan Pak Fairel??" Noel menggantungkan kalimatnya karena masih terkejut.
Setelah memastikan Noel keluar dan menjauh dengan aman, Fairel kembali duduk di samping Dena karena sebelumnya ia memantau di depan pintu.
__ADS_1
"Aman." ucapnya sambil menjatuhkan kepalanya di sandaran sofa.
"Apanya yang aman!?" tanya Dena dengan raut wajah tidak bersahabat.
"Itu, masalah ini." Fairel mengangkat wajahnya lalu menatap Dena.
"Urrghhhhhh... kamu tuh bener-bener!"
"Emang aku bener kok." sahut Fairel polos.
"Harusnya kamu jelasin tadi, bukan malah minta dia buat nutup mulut. Astagaa, Arelll!!!" geram Dena menarik rambutnya frustasi.
"Lahhh??" Fairel terdiam bingung. "Jadi, kamu mau ngebiarin aja dia bikin gosip di kantor??"
"Bukan ituu masalahnya!! Tadi Noel bilang aku hamil, dan respon kamu itu apa?" Dena menatap tajam Fairel. Ingin sekali ia mencabik-cabik wajah pria di hadapannya saat ini.
"Aku bilang jangan menyebarkan berita ini dan aku minta dia buat tutup mulut. Kenapa? Bener kan aku bilang gitu?"
"Salah!!! Seribu persen salahh!! Harusnya kamu jelasin soal pertanyaannya itu. Dengan jawaban kamu gitu dia menganggap bahwa dugaannya bener. Apalagi kamu minta buat tutup mulut. Coba, bayangin aja deh . Kamu gak jelasin apa-apa, seenggaknya bilang kalau aku itu gak hamil. Emangnya aku cewek apaan coba!" omel Dena panjang lebar.
Fairel hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ngomong salah diam pun salah juga. Pria itu bingung jadinya.
Sesaat kemudian tiba-tiba saja Fairel mendekatkan tubuhnya. Ia menatap Dena dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. "Tapi... kamu beneran hamil?" tanya Fairel di luar nalar.
Mata Dena langsung menajam. Bagaikan kilatan silet yang begitu tajam.
"Anak siapa? Eh bentar... apa itu anak aku?" Fairel menggeser tubuhnya lebih mendekat, sehingga jarak antara keduanya terkikis habis.
Dena memutar bola matanya malas. "Kenapa kamu bisa bilang kalau aku hamil anak kamu? Kenapa?" kata Dena.
"Ya bisa jadi kan. Soalnya waktu itu kan--"
"Sotoy!!" Dena menoyor dahi Fairel gemas. Kali ini kesabaran Dena benar-benar diuji. Karena tidak ingin emosi, alhasil Dena memilih untuk menyibukkan diri dengen pekerjaannya. Wanita itu bangkit dari duduknya, meninggalkan Fairel duduk sendirian dengan pikiran bercabang-cabang.
"Eeeehhhh... mau kemana?" pria itu tiba-tiba menarik pergelangan tangan Dena.
"Apa lagi?" tanya Dena bersabar.
"Kamu hamil?" pertanyaan itu lagi terlontar dari Fairel.
"Astagaa!!! Denger ya, dari mana coba aku hamil sedangkan kita aja gak pernah ngelakuin itu. Udah deh, aku lagi nahan emosi ini, jangan bikin tambah panas."
Tanpa Dena sadari sedari tadi Fairel tengah tersenyum smrik. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Dena menggerakkan tangannya mencoba untuk melepaskan cekalan tangan Fairel. Saat hampir terlepas, tiba-tiba Dena dikejutkan oleh tarikan Fairel yang membuatnya tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan berakhir jatuh tepat di atas pangkuan pria itu.
__ADS_1
Bughh
Dena memukul dada Fairel. "Minggir ih!!"
Berontakan Dena tidak mendapat gubrisan dari Fairel. Pria itu memeluk pinggang Dena posesif. Tangannya terulur menyentuh wajah Dena. Mengusapnya dengan gerakan sensual membuat Dena merinding seketika.
"Rel, lepasin!" mati-matian Dena menahan gejolak di dalam hatinya.
Fairel tidak merespon melainkan menatap wanita itu lekat. Tangannya masih menggerayangi wajah Dena. Ia menyibakkan setengah rambut Dena dan menelusupkan tangannya di ceruk leher wanita itu. Yang bisa Dena lakukan saat ini hanyalah menahan nafasnya.
"Benar juga. Kita belum melakukan itu. Soalnya waktu itu cuma setengah aja." ucap Fairel serak. Nafas hangatnya berhembus tepat di wajah Dena.
"Rel." Dena mencoba untuk mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang telah Fairel lumpuhkan. Jari jemari lentiknya meraih rambut hitam Fairel dan meremasnya.
"Mau nyoba?" ujar Fairel pelan. Ia menjauhkan wajahnya dan menatap Dena penuh harap.
"Apa?" tanya Dena membalas tatapan Fairel.
"Mengulanginya, lagi."
Dena telah kehilangan kesadarannya sepenuhnya saat Fairel mendekatkan wajahnya. Ia telah terhipnotis oleh tatapan itu yang selalu saja terasa hangat. Matanya perlahan terpejam saat Fairel berhasil melabuhkan bibirnya. Fairel yang awalnya hanya menempelkan bibirnya di bibir Dena kini perlahan mulai bergerak mengeksplor rasa yang begitu ia rindukan.
Apalagi respon Dena yang seakan mendukung semua gerakannya. Wanita itu meremas kuat rambut Fairel saat pria itu menggigit bibir bawahnya. Nafas Dena sudah mulai tidak teratur. Seakan seluruh pasokan oksigennya disedot habis oleh lelaki itu.
Fairel mengeratkan pelukannya di pinggang wanita itu. Dena yang kehabisan oksigennya langsung mendorong pelan bahu Fairel sehingga tautan bibirnya terlepas.
"Haaahhhhhh... hhhhhh..." nafas Dena terdengar ngos-ngosan. "Rel." wanita itu memanggil dengan suara seraknya saat Fairel telah berhasil melepas jasnya.
"Yes, baby." jawab Fairel yang mulai sibuk mempreteli kancing kemeja Dena.
Setelah berhasil melepas sekitar banyaknya tiga kancing, tangannya berpindah di kedua sisi pinggang ramping wanita itu. "Bangkit dulu, Sayang." pinta Fairel mengelusnya pelan.
Dena yang telah terhipnotis pun menuruti perintah Fairel. Ia yang mengenakan celana kain panjang pun tidak kesusahan dibandingkan mengenakan rok span.
Fairel menepuk-nepuk pelan pahanya, meminta Dena untuk kembali duduk di sana. Seakan paham, Dena bejalan mendekat. Dengan gerakan sensualnya wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Fairel disusul dirinya duduk di pangkuan pria itu. Dengan posisi saling berhadapan memudahkan Fairel untuk bergerak, ia menggerakkan tangannya untuk menarik pinggang Dena lebih mendekat sehingga jarak diantara keduanya tidak ada lagi, hanya terhalang pakaian yang mereka kenakan.
Fairel langsung menarik tengkuk Dena, saat bibirnya hampir mendarat, namun, wanita itu malah menahannya. Kedua alis Fairel langsung terangkat ke atas.
"Pintunya udah dikunci?" tanya Dena.
Fairel tidak menjawab melainkan melebarkan senyumnya lalu tanpa aba kembali mendaratkan bibirnya menyapu hangat leher wanita itu.
.
.
__ADS_1
.
maap ges baru up ๐