
Suara derit pintu terdengar saat Fairel membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak dikunci dari dalam. Lalu secara perlahan ia masuk ke dalam tanpa menimbulkan suara. Ditatapnya sang istri yang tertidur di atas kasur mereka. Keadaan kamar sedikit gelap, hanya ada cahaya dari lampu tidur di atas nakas, sementara lampu kamar tidak dihidupkan.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari dan pria itu baru saja tiba dari luar. Karena tidak ingin sang istri mencium bau amis noda darah yang melekat di tubuhnya, akhirnya Fairel memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Ya, pria itu memutuskan untuk mandi air dingin untuk menyegarkan tubuhnya.
Tidak sampai 10 menit kemudian pria itu sudah selesai membersihkan tubuhnya dan juga sudah rapi dengan pakaian tidur. Dengan gerakan pelan Fairel berjalan menuju kasur dan duduk di pinggiran kasur tepat di samping istri tertidur lelap.
Saat ingin mengusap kepala istrinya, tiba-tiba wanita itu berbalik badan membelakangi Fairel. Pria itu tidak menyerah, ia berusaha untuk meraih tubuh sang istri. Namun, baru tangannya akan menyentuh pundak istrinya, wanita itu malah menggeser tubuhnya menjauh. Fairel menduga kalau istrinya itu tidak tertidur, melainkan terjaga namun dengan mata yang tertutup.
"Belum tidur, hm?" tanya Fairel lembut.
Dena tidak menjawab dan masih terdiam. Dirinya masih dikuasi oleh emosinya. Marah dan kecewa yang membuatnya enggan untuk berbicara.
Tidak mendapat tanggapan dari istrinya, Fairel menghembuskan nafasnya berat. Ia sudah menduga kejadian tadi akan berimbas pada istrinya.
"Aku baring di sini ya?" ucap Fairel meminta izin. Karena Dena masih diam, Fairel pun berinisiatif untuk berbaring di samping istrinya.
Cukup lama Fairel berbaring terlentang kemudian akhirnya ia memiringkan tubuhnya dan tanpa aba langsung menarik tubuh istri mendekat ke arahnya.
Dapat Fairel rasakan kalau tubuh Dena menegang saat dipeluknya. Fairel yang mengerti itu langsung menyembunyikan kepalanya di ceruk leher istrinya.
Hembusan hangat nafas Fairel menerpa leher istrinya. Jika boleh jujur, saat ini Dena dibuat merinding sekaligus geli. Namun, rasa marah dan kecewanya terlalu mendominasi.
"Aku baru selesai mandi loh, yangg." ucap Fairel pelan.
"Dingin banget rasanya mandi malam-malam, apalagi pakai air dingin."
"Oh ya, tadi sebelum pulang aku ada bawain kamu makanan. Makanan kesukaan kamu, aku simpan di kulkas biar besok bisa dipanaskan."
Dena masih terdiam. Rasa tegang di tubuhnya mulai perlahan hilang dan berganti rileks karena Fairel memeluknya hangat. Belum lagi pria itu tidak memberikan jarak di antara mereka. Tangan kanannya melingkar di perut datar istrinya.
Fairel semakin menyerukkan wajahnya ke ceruk leher sang istri dan sesekali mengendusnya.
"Maaf. Aku udah bikin kamu nunggu lama. Tapi, tadi pas perjalanan pulang ada sedikit masalah."
"Kamu boleh marah karena di sini aku memang salah."
Sejenak rasa sunyi itu datang. Fairel tidak lagi berbicara, namun, dirinya hanya bergumam tidak jelas lalu diikuti dengan nafas hangatnya mulai teratur. Mungkin saja pria itu sudah tertidur karena merasa lelah. Lelah mengantuk dan juga lelah karena energinya terkuras habis.
Cukup lama Dena merasakan sunyi, pelukan di tubuhnya bahkan sama sekali tidak mengendur. Malah semakin erat membuatnya sulit untuk bergerak. Dengan penuh perjuangan akhirnya Dena bisa bebas dari jerat suaminya.
__ADS_1
Wanita itu membalikkan tubuhnya untuk melihat wajah suaminya. Terkejut sudah pasti saat Dena menatap wajah Fairel yang lebam di beberapa bagian. Salah satunya jelas terlihat di sudut bibirnya walaupun dalam keadaan temaram.
Perlahan tangan lentik Dena menyentuh luka di wajah suaminya. Pria itu tidak terbangun, melainkan sedikit meringis saat Dena tidak sengaja menekan pelan lukanya.
Ingin sekali Dena bertanya, tapi, ia urungkan karena melihat raut wajah lelah di wajah suaminya. Terlihat sangat jelas yang membuat Dena merasa kasihan. Walaupun dirinya masih marah, namun, Dena sungguh tidak tega melihatnya. Entah apa yang terjadi sebelumnya.
Akhirnya Dena memutuskan untuk kembali tidur. Ia tertidur saling berhadapan dengan suaminya. Dena menatap lekat wajah tampan itu sebelumnya akhirnya matanya terpejam dan mulai memasuki alam mimpi.
.
.
.
Saat sinar matahari pagi menembus jendela kamar melalui celah-celah gorden yang terbuka. Tampak seorang pria yang masih tertidur lelap tanpa merasa terusik saat sinar matahari pagi menerpa sebagian wajahnya.
Lalu, tidak lama dari itu pintu kamar terbuka. Menampilkan seorang wanita yang masih mengenakan pakaian tidurnya.
Dia adalah Dena. Wanita itu baru selesai memasak di dapur untuk sarapan mereka nantinya. Sebenarnya hari ini Dena sengaja ingin mengambil liburan dan menyerahkan pekerjaannya kepada sekretarisnya yaitu sang suami. Tapi, melihat kondisi pria itu yang tidak memungkinkan membuat Dena mengurungkan niatnya. Tidak apa, mungkin nanti ia akan berangkat agak siangan.
Dalam kondisi yang begitu terang, Dena bisa melihat kondisi suaminya. Mulai dari wajah yang babak belur dan juga lengannya yang terluka sudah mulai mengering. Semalam Dena yang tidak dapat menahan rasa penasarannya akhirnya memeriksa sekujur tubuh suaminya dan mendapati bahwa ada luka di lengan pria itu. Dena pun berinisiatif untuk mengobati sebelum lukanya menimbulkan infeksi.
Lama Dena memandangi pria itu sampai akhirnya ia tidak sadar bahwa perlahan kedua mata suaminya mulai terbuka.
Pemandangan yang pertama kali Fairel lihat adalah wajah sang istri. Walau Dena belum sempat mandi, namun, tadi ia sudah mencuci wajahnya dan menggosok giginya.
"Udah bangun?" tanya Fairel serak.
Dena tersadar dan langsung memasang wajah datarnya. "Harusnya aku yang nanya gitu!" balas Dena sedikit ketus.
Fairel hanya tersenyum melihatnya. Itu berarti kemarahan istrinya sudah mulai mereda. Pria itu mencoba untuk bangkit, namun, belum sepenuhnya ia bergerak tiba-tiba rasa nyeri itu datang yang membuatnya langsung meringis.
"Eh! Mana yang sakit??" tanya Dena panik. Ia bergegas memeriksa keadaan suaminya. Mulai dari memeriksa lengannya hingga meraba wajahnya.
Fairel masih terdiam karena menahan rasa nyerinya. Kemudian ia menatap wajah sang istri dan memasang senyumannya.
"Di sini yang sakit." ucap Fairel sembari menarik tangan istrinya dan mengarahkannya ke tubuh bagian bawahnya.
Sontak saja Dena memekik kecil dan refleks memukulnya pelan. Seketika Fairel meringis ngilu saat tubuh bagian bawahnya mendapat pukulan sayang dari tangan istrinya.
__ADS_1
"Jangan dipukul, yangg. Ngilu nih." ringis Fairel memejamkan matanya.
"Eh! Sorry." sesal Dena tanpa sadar mengelusnya pelan.
"Jangan dielus-elus. Makin tambah sakit ini." Fairel langsung menjauhkan tangan istrinya karena ia takut kebablasan. Maklum saja, pria normal pada umumnya sering aktif di pagi hari.
"Eh?!" wajah Dena memerah padam karena merasa malu. Itu adalah respon refleksnya.
Fairel yang merasa ingin dimanja pun langsung saja merubah posisinya dan berbaring di paha sang istri dan membenamkan wajahnya di perut datar itu.
"Kamu udah gak marah lagi?" tanya Fairel.
"Enggak kalau kamu bisa jelasin kenapa ini, ini, dan ini bisa ada." Dena menunjuk satu per satu luka di wajah Fairel dan goresan di lengannya.
"Nanti aja, aku masih ngantuk. Hari ini jangan ke kantor ya? Temenin aku tidur." tutur Fairel semakin mengeratkan pelukan tangannya.
"Kalau aku gak ke kantor trus siapa yang ke kantor? Kamu? Mana mungkin kamu bisa ke kantor dalam keadaan gini."
"Kerja dari rumah aja. Ya ya ya?" bujuk Fairel menampilkan ekspresi memohon.
"Ck! Iya iya." final Dena mengalah.
"Yes. Makasih, Sayang." Fairel semakin membenamkan wajahnya di perut datar istrinya.
"Bangun dulu. Ayo sarapan." ajak Dena.
Tanpa perduli dengan rasa sakit di tubuhnya, Fairel malah menggulingkan tubuh mereka dan kini ia sudah menindihh tubuh istrinya.
"Sarapan yang ini dulu boleh gak?" tanya Fairel.
"Enggak ya! Tunggu kamu sembuh dulu." tolak Dena menggelengkan kepalanya.
Mendengar itu Fairel malah tersenyum smirk. "Emangnya yang minta persetujuan dari kamu itu siapa?" ujar pria itu menyeringai membuat Dena langsung bergidik ngeri melihatnya.
.
.
.
__ADS_1
stay di sini dlu🤭 maap Dena Fairel, aku selingkuh dulu di apk sebelah🤣🤣