My Fierce Boss

My Fierce Boss
Amanah untuk Dena dan Fairel


__ADS_3

Tampak di teras depan kediaman Dena keluarganya tengah berkumpul. Lebih tepatnya Dena yang mengantar kepergian orang tuanya. Di sisinya ada Fairel yang seperti biasa selalu ada di dekatnya tengah menggendong adik bungsunya yaitu Divya.


"Nanti kalau ada masalah atau mereka rewel langsung telfon Bunda ya?" ujar Cahya sembari mengusap-ngusap kepala kedua putranya yang saat ini berdiri di kedua sisinya.


"Iya, Bunda jangan khawatir. Devan, Devin, dan Divi aman dengan Dena." sahut wanita itu.


"Bunda sebenarnya berat banget ninggalin kalian, apalagi adik-adik kamu. Tapi, Bunda juga gak bisa nolak permintaan Papa kamu." Cahya melirik suaminya yang anteng-anteng saja sambil memasukkan koper ke dalam bagasi.


Dena juga sempat melirik Papanya yang sibuk memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil.


"Siap." terdengar suara sang Papa yang baru saja selesai memasukkan semua barang-barang sambil menepuk-nepuk tangannya.


Pria yang berusia 45 tahun itu tampak masih bugar, rambutnya masih hitam lebat tanpa ditumbuhi uban putih di kepalanya.


Pria itu mendekati keluarganya. "Gak ada yang ketinggalan lagi kan, Sayang?" tanya Wira kepada istrinya.


"Gak ada kayaknya, Mas. Bawa barang seperlunya aja, lagian itu untuk 2 hari kok." jawab Cahya.


Wira menganggukkan kepalanya. Pandangannya teralih menatap wajah sang putri sulung. "Maaf ya, Sayang. Papa jadi merepotkan kamu." ujar Wira meminta maaf kepada Dena, putrinya sendiri.


"Kayak sama orang asing aja sih, Pa. Lagian Dena cuma jagain adik sendiri, bukan anak orang lain." tutur Dena.


"Benar juga, itung-itung belajar sebelum menjadi orang tua." saat itu juga Wira langsung melirik Fairel yang diam menyimak saja dengan Divya yang ada di dalam gendongannya.


"Udah cocok kok. Tinggal nunggu hilalnya aja." canda Wira menatap Fairel.


Sementara itu Fairel tampak menulikan telinganya pura-pura tidak mendengar pembicaraan anak dan Papa tersebut.


"Eh ya, udah jam segini. Papa dan Bunda berangkat sekarang ya?" pamit Wira mengalihkan pembicaraan.


"Hati-hati bawa mobilnya, Pa. Jangan ngebut. Jangan lupa jagain Bunda." sahut Dena berpesan.


"Siap, Sayang."


"Rel." panggil Wira.


"Iya, Om?" jawab Fairel.


"Om titip anak-anak Om ya? Kamu terjadi apa-apa dengan mereka, kamu adalah orang pertama yang Om cari."


"Siap, Om."


"Good job!"


Fairel menundukkan kepalanya sambil tersenyum kilas.


Kini giliran Cahya yang berpamitan kepada anak-anaknya. "Devan, Devin, jangan nakal ya? Turuti perkataan Kakak dan Abang Arel. Bunda gak lama kok, nanti Bunda pasti pulang."


Dua bocah laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya. Meskipun baru pertama kalinya ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, namun, mereka tidak perlu khawatir karena ada Dena sebagai kakaknya yang aman menjaga mereka.


"Rel, nitip anak-anak Tante ya."


"Iya, Tante. Jangan khawatir, Arel akan jagain mereka."


Cahya tersenyum lalu menatap putri bungsunya yang ada di dalam gendongan Fairel. Wanita itu sempat mencubit gemas pipi gembul balita tersebut.


"Jangan rewel ya, Sayang. Nanti Bunda bawain oleh-oleh." balita itu tertawa saat pipinya dicubit oleh sang Bunda.


"Sayang, ayo!" seru Wira menegur.


Cahya lekas menjauhkan tubuhnya lalu mendekat ke arah Dena dan langsung memeluknya. "Semangat ya." bisik Cahya mendapat anggukan oleh Dena.

__ADS_1


"Bunda hati-hati." keduanya melepaskan pelukan. Cahya mengangguk mendengar penuturan Dena.


Mereka tampak saling melambaikan tangan saat mobil yang dikendarai Wira perlahan bergerak menjauh.


Setelahnya Dena dan Fairel saling pandang dengan tatapan berbagai macam arti.


"Ayo masuk, anak-anak!" seru Fairel memecahkan keheningan.


"Ayo, Mami!" bisik Fairel saat melewati Dena yang seketika membuat wanita itu terperanjat kaget dengan pikiran melanglang bulana. Bayangkan saja, Fairel baru saja memanggilnya Mami dan itu langsung membuat jantung Dena berpacu cepat.


.


.


.


Bak kapal yang baru saja pecah. Ruang tengah yang awalnya rapi kini seketika berubah berantakan dengan mainan yang berserakan.


Suasana yang awalnya riuh kini berubah sunyi saat semunya sudah tepar di atas lantai beralas karpet berbulu. Nafas Fairel tampak ngos-ngosan bebaring di sana, di samping kanan dan kirinya ada dua bocah laki-laki yang baru saja menguras seluruh energinya. Bayangkan saja, sejak pukul delapan pagi dan sampai pukul sebelas mereka baru berhenti bermain.


Sementara itu Dena tampak baru saja turun dari lantai atas karena baru saja menidurkan Divya, balita yang berusia 2 tahun itu.


Dena sempat menggelengkan kepala saat melihat tiga orang laki-laki terbaring lema di atas karpet berbulu. Wanita itu mendekati mereka sambil berusaha untuk tidak menimbulkan suara karena banyak mainan yang berserakan di lantai.


"Rel." panggil Dena pelan setengah berbisik. Ia duduk bersimpuh di dekat kepala Fairel.


"Mmmmmm..." hanya terdengar deheman singkat saja yang keluar dari balik bibir Fairel. Pria itu tidak membuka matanya.


"Pindahin mereka ke kamar." ucap Dena memberitahu. Dena melirik dua bocah yang tertidur lelap di kedua sisi tubuh Fairel dengan jarak tidak terlalu dekat maupun tidak terlalu jauh.


"Ayo dong." ujar Dena lagi. Tangannya terulur menyentuh bahu Fairel dan mengguncangnya pelan. Bukannya beranjak ataupun membuka matanya, Fairel malah mengangkat sedikit kepalanya lalu mendorong sedikit tubuhnya ke belakang. Alhasil posisi Fairel menjadi berbaring di paha Dena.


"Capek." mendengar itu membuat Dena tidak tega. Alhasil ia membiarkan Fairel berbaring di pahanya.


Pelayan di kediamannya bahkan tidak berani untuk menganggu ataupun melewati ruang tengah.


Tanpa sadar Dena menggerakkan tangannya mengelus kepala Fairel. Ia sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Fairel lebih dekat.


Fairel hanya diam saja membiarkan tangan Dena yang kini mulai menggerayangi wajahnya. Wanita itu mengelus pria itu lalu berpindah ke wajah. Dari alis, bulu mata, hidung, lalu berakhir mengelus rahangnya.


Dena menatap mata Fairel yang terpejam. Detik itu juga ia menundukkan kepalanya mendekatkan wajahnya. Dengan tangan yang masih mengelus rahang Fairel, Dena melabuhkan kecupan singkat di bibir pria itu.


Cup


Fairel langsung membuka matanya saat Dena sudah menjauhkan wajahnya.


"Ayo, pindahin dulu mereka ke atas." ucap Dena menepuk-nepuk pelan pipi Fairel.


"Lagi." pinta pria itu menatap bola mata Dena dalam.


"Nanti aja." tolaknya.


"Sekarang."


Dena mendengus kasar. Namun, ia tidak menolak lagi permintaan Fairel. Alhasil, wanita itu kembali mendaratkan kecupan singkat di bibir pria itu.


Cup


"Udah ya?"


Fairel menganggukkan kepalanya penuh semangat.

__ADS_1


"Aku bawa Devin, kamu bawa Devan." Fairel mengangguk.


Sesudah mengantarkan dua bocah laki-laki itu, Fairel segera keluar bersamaan dengan Dena. Hari ini bukanlah hari libur, jadi, Fairel harus segera kembali ke kantor. Untuk Dena, biarlah wanita itu berada di rumah.


"Nanti kalau ada apa-apa telfon ya?" ujar Fairel sembari menuruni anak tangga perlahan.


"Nanti pulangnya kemana?" tanya Dena.


"Mungkin aku nginap di sini. Takut mereka rewel." pria itu menghentikan langkah kakinya yang membuat Dena ikut berhenti.


"Kenapa?" tanya Dena gugup saat ditatap oleh Fairel sedemikian.


"Enggak kok." jawab Fairel lekas mengalihkan pandangannya dan melanjutkan kembali perjalanannya.


"Aneh." Dena mengangkat kedua bahunya.


"Nanti aku pulang ke rumah dulu buat ambil pakaian."


"Jangan!"


"Hemm??"


"Maksudnya langsung pulang ke sini aja. Soal baju jangan dipikirin, nanti pakai baju Papa aja." Fairel menatapnya dengan tatapan penuh arti membuat Dena diserang gugup.


"Oke."


"Nanti kalau ada pekerjaan yang harus aku kerjakan, kamu bawa pulang aja atau nanti kamu kirim lewat email."


"Oh ya, itu mobil bawa aja biar cepet sampai dan juga gak khawatir kalau hujan tiba-tiba turun."


Wanita itu terus mencerocos tanpa henti sejak menuruni anak tangga sampai sekarang berada di teras depan.


Fairel yang mendengarnya pun hanya bisa tersenyum dengan tatapan tidak lepas dari wanita itu. Ia jadi membayangkan bagaimana jadinya nanti mereka membangun rumah tangga. Apakah Dena akan terus cerewet? Tapi, Fairel tidak keberatan kalah mendengar Dena dalam mode cerewet.


"Rel, denger gak sih?!" sentak Dena merasa dirinya diabaikan.


Pria itu hanya tersenyum lalu tanpa aba dirinya menarik belakang kepala Dena dan mencium wanita itu tepat di bibirnya yang mana membuat Dena membolakan kedua matanya. Pria itu tersenyum disela-sela luumatannyaa.


Fairel melepaskan tautannya saat dirasa Dena sudah kehabisan pasok oksigennya. Fairel tersenyum sambil menyeka sudut bibirnya yang basah.


"Makasih vitaminnya, aku berangkat kerja dulu. Nanti kalau mereka rewel, aku langsung pulang."


Fairel berucap lalu setelahnya kembali mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan sayang di kening wanita itu.


"Sayang, hei. Kenapa melamun?" pria itu menguyel-nguyel kedua pipi chubby Dena.


"Sayang..." panggil Fairel lembut, sedangkan Dena sedari tadi mematung dengan pikiran terbang kemana. Kedua matanya terbuka lebar dengan pandangan kosong. Hal itu malah membuatnya terlihat lucu di mata Fairel.


Pria itu menatapnya gemas. "Jangan marah nih ya." Fairel menangkup kedua pipi Dena lalu memajukan wajahnya. Pria itu kembali menyapu bibir wanita itu disertai gigitan-gigitan kecilnya. Sebelum melepaskan tautannya, Fairel sempat menyesap kuat bibir Dena yang langsung membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.


"Lucu banget sih." Fairel menatapnya gemas lalu kembali mendaratkan kecupan hangat di kening Dena sebelum akhirnya beranjak pergi.


Dena melihatnya terbengong. Saat mobil yang dikendarai Fairel tidak lagi nampak di matanya barulah Dena tersadar. Seketika ia menutupi wajahnya yang memerah menggunakan kedua telapak tangannya. Wanita itu melirik sekitar dan tidak sengaja melihat sopir kesayangan keluarganya yaitu Pak Haryo tengah duduk bersantai di kursi dekat pos penjaga di dekat gerbang. Wajahnya kembali memerah menyadari itu dan tanpa aba dirinya langsung berlarian masuk ke dalam.


.


.


.


heyo, maap nih baru bisa up lagi. aku lagi kesusahan mikirin alurnya mau digimanain ๐Ÿคฃ trus ada beberapa kendala dikit yg bikin aku ga bisa up๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2