My Fierce Boss

My Fierce Boss
Kerja spesial


__ADS_3

Dena masuk ke kamarnya dan menemukan suaminya tengah berdiri di balkon kamarnya. Pria itu tampak termenung sambil menatap langit cerah berwarna biru dan awan putih yang menggumpal di beberapa tempat. Dena berjalan menghampirinya dan berdiri di samping Fairel sambil berpegangan pada pembatas balkon.


"Ngambek?" tanya Dena membuat mood pria itu semakin menurun. Sudah tau merajuk, kenapa masih bertanya lagi.


Pria itu sama sekali tidak menoleh. Detik itu juga Fairel merasakan usapan lembut di lengannya.


"Gak boleh marah-marah, nanti cepet tua." ujar Dena bukannya menenangkan malah membuat kesabaran pria itu menipis.


"Ngambek kenapa sih? Hm?" tanya Dena sambil membalikkan tubuh suaminya berhadapan dengannya.


"Soal obrolan di dalam mobil tadi? Aku gak bermaksud buat bikin kamu marah beneran."


"Aku minta maaf kalau sikapku bikin kamu emosi gini. Ayo dong, kita baru pulang loh ini." Dena masih membujuk dengan caranya sendiri.


Fairel menatap wajah istrinya sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain. Terdengar helaan nafas dari pria itu.


"Kamu meragukanku." ujar Fairel.


"Maksudnya?" tanya Dena tidak paham.


"Kamu bilang, kalau alasan kamu ngasih syarat itu cuma mau melihat kesungguhanku. Itu artinya kamu meragukan aku. Sekarang, apa kamu masih meragukan kesungguhanku?"


"Dan alasanku mau ngundurin diri itu karena satu hal. Aku bekerja denganmu, otomatis kamu yang menggaji kinerjaku. Aku tau aku cuma pria biasa. Seharusnya aku yang memberi kamu nafkah. Bukan malah sebaliknya."


"Gak ada yang spesial dariku. Apa kata orang-orang jika tau kalau kamu menikah dengan karyawan biasa? Aku bahagia, aku sangat bahagia malah karena sekarang kita sudah bersama. Tapi, apa kamu gak malu?"


Fairel melontarkan uneg-unegnya yang berasal dari pemikirannya sendiri. Dena yang mendengar itu berdecih pelan.


"Alasan yang konyol, kolot. dan juga pendek. Aku juga manusia biasa. Gak semua orang bisa bahagia dengan kemewahan. Aku udah ngerasain kemewahan dari sejak dulu. Setiap apa yang aku minta pasti dikasih."


"Aku cuma mau hidup sederhana bersama orang yang aku cintai. Aku menikah dengan kamu bukan untuk adu kekayaan. Tapi, dengan pernikahan ini kita bisa berjuang bersama-sama dan bisa mengerti pribadi masing-masing."


"Jadi, kalau kamu selalu mikirin soal keuangan, pasti gak ada habisnya. Aku gak mau memperpanjang masalah ini. Aku pikir, masalah ini udah selesai, gak ada yang perlu diributin lagi." ucap Dena mengakhirinya percakapannya.


"Aku pamit ke bawah dulu. Kamu tenangin dulu pikiran kamu, aku gak mau nanti malah aku yang kebawa emosi."


Wanita itu sempat menatap suaminya sebelum melangkah pergi. Namun, saat baru beberapa melangkah, tiba-tiba tangannya ditarik sehingga membuatnya masuk ke dalam pelukan pria itu.


"Maaf, pikiranku lagi kacau. Aku kebanyakan mikir gimana kedepannya. Aku minta maaf." sesal pria itu sambil memeluk erat tubuh istrinya.

__ADS_1


Dena langsung membalas pelukan Fairel dan menepuk-nepuk pelan punggung belakangnya.


"Gak apa-apa. Aku ngerti perasaan kamu. Aku harap kamu jangan mikir yang aneh-aneh lagi. Kita ini udah nikah, udah seharusnya melewatinya bareng-bareng. Aku juga mau kita saling terbuka, setiap ada masalah nanti dibicarakan baik-baik."


Fairel menganggukkan kepalanya. Pria itu tidak melepaskan pelukannya sama sekali. Ia masih menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri.


"Sayang." panggil Fairel lirih.


"Hmm??" sahut Dena.


"Kamu mau nunda punya momongan gak?" tanya Fairel tiba-tiba. Mendengar itu Dena langsung melepaskan pelukannya dan menatap suaminya dengan kening mengerut.


"Kenapa?" tanya Dena balik.


"Enggak, aku cuma mau nanya, kamu mau nunda atau enggak."


"Kalau ditunda dulu gimana?"


"Gak masalah kok. Karena pernikahan itu gak semuanya tentang anak. Ada juga orang yang memang gak mau punya anak dan ada juga yang menantikannya." jawab Fairel bijak.


"Kalau gak ditunda gimana?" tanya Dena.


Fairel tertegun, sesaat ia langsung menatap istrinya nakal. "Ekhemm..." pria itu masih sempat-sempatnya berdehem. "Kalau gak ditunda sih..."


"Aakkkkhhhh..." Dena langsung memekik begitu Fairel langsung menggendongnya. Pria itu berjalan cepat menuju kasur dan langsung menghempaskan tubuh istrinya di sana kemudian langsung menindihnya.


"Ish! Kebiasaan suka dadakan. Kan udah aku bilang kalau mau apa-apa itu kasih aba-aba dulu." omel Dena sambil menimpuk pelan bahu suaminya.


"Hehe... lain kali pasti aku kasih aba-aba kok. Contohnya sekarang. Jadi...??" Fairel menatap istrinya dengan kerlingan mata nakal.


"Astaga! Kita baru aja sampai." decak wanita itu tidak habis pikir. Saat itu juga ia merasakan tangan pria itu mulai bergerilya di pahanya lalu naik sampai ke perutnya dibalik baju yang ia kenakan.


"Gak ada salahnya kan?" ujar Fairel tanpa rasa bersalah. Tangannya langsung ia selipkan ke balik baju wanita itu.


Dena memejamkan matanya sejenak saat tangan nakal suaminya semakin naik ke atas. "Ga ada salahnya. Tapi, ada banyak salahnya." sahut Dena dengan nafas tertahan.


"Gimana konsepnya itu?" balas Fairel berusaha mengalihkan perhatian istrinya.


"Ya gak gimana-gimana."

__ADS_1


Sejenak suasana menjadi hening. Dena membiarkan tangan suaminya yang berkeliaran di atas dadanya.


"Hemm?" gumam Fairel menatap wajah istrinya yang tampak sudah lemas di bawahnya.


"Kamu lupa kita ada dimana?" nafas Dena tercekat dan terdengar memburu.


"Enggak lupa kok." Fairel mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding. "Masih ada waktu." monolog pria itu.


"Kamu capek gak?" tanya Fairel ambigu.


"Kenapa nanya gitu?" heran istrinya meskipun dirinya sudah cukup mengerti dengan kode-kode yang Fairel berikan.


"Aku pengen kamu yang bekerja." seketika detik itu juga Fairel membalikkan tubuhnya hingga kini dirinya berpindah posisi di bawah, sedangkan istrinya menindihnya.


"Kerjanya emang gini ya? Laptop, kertas, dan pulpennya mana?" wanita itu terkikik geli.


"Syuttt... ini kerjanya di bidang spesial." Fairel menaruh jari telunjuknya tepat di atas bibir istrinya. Setelah berkata begitu, tangannya turun ke pinggang istrinya. Dengan satu kali tarikan, pria itu sudah berhasil melepas baju istrinya yang saat itu mengenakan sweeter.


"Ckckck! Spesial apanya ditelanjangiin gini?" cibir Dena mengerucutkan bibirnya.


"Siap?" pria itu bertanya dan tidak menanggapi keluh kesah istrinya.


"Bentar." tunda wanita itu.


Fairel menatap istrinya bingung. "Apa lagi?"


"Gak adil tau. Kamu aja berani-beraninya buka bajuku. Trus kenapa aku gak gitu juga ke kamu?" tangan Dena menyentuh dada bidang suaminya. Lalu, jemarinya bergerilya melepas satu per satu kancing kemeja pria itu.


"Kalau gitu, bilang dong dari tadi." secepat kilat Fairel membantu istrinya membuka semua kancing bajunya dan melepaskannya hingga pria itu tidak mengenakan pakaiannya.


Saat sudah terlepas, Fairel menarik kepala Dena agar menunduk. Pria itu juga mengangkat sedikit kepalanya saat bibir mereka hampir bertemu.


Namun, saat kedua bibir itu hampir bertemu, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dari luar membuat pasangan pengantin baru itu langsung berhamburan kembali memakai pakaian mereka yang sudah teronggok di atas lantai.


Keduanya saling pandang lalu langsung tertawa.


"Siall!! Siapa sih yang ganggu!?" batin Fairel mengumpaatt.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2