My Fierce Boss

My Fierce Boss
Menantikan kehadirannya


__ADS_3

Matahari kini mulai naik dan berada tepat di atas kepala. Cuaca juga tampak terik siang itu setelah melewati hujan sepanjang malam. Beruntungnya tidak terjadi banjir, namun, volume air parit maupun sungai kini meluap.


Tampaknya Fairel sudah terbangun sejak beberapa jam yang lalu. Pria mengerjakan semua pekerjaan rumah, mulai dari menyapu hingga terakhir memasak untuk makan siang mereka. Istrinya? Jangan ditanyakan lagi. Saat ini wanita itu tengah tertidur pulas di dalam kamar.


Fairel tidak tega membangunkannya, alhasil mereka melewati sarapan pagi. Pria itu hanya memasak simple saja karena ia tidak terlalu pandai memasak. Setelah memasak, Fairel langsung membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.


Begitu selesai, pria itu segera keluar dan berjalan menuju kamar hanya mengenakan handuk yang menutupi perut sampai lututnya.


Suara derit pintu terdengar, dan Dena sama sekali tidak terusik olehnya. Tampak wanita itu masih memejamkan matanya dengan selimut tebal menyelimuti tubuhnya. Fairel tidak langsung memakai pakaian, ia mendekati istrinya dan berakhir duduk di sisi kasur.


Ditatapnya wajah sang istri yang tampak kelelahan usai mereka melakukan olahraga subuh. Wanita itu juga baru tertidur saat jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Dan sekarang sudah masuk tengah hari.


Tanpa sadar Fairel tersenyum mengingat kejadian beberapa saat sebelumnya. Pria itu menghela nafas panjang sambil tangannya terulur menyingkap rambut Dena yang menutupi sebagian wajahnya.


Merasa ada benda dingin menyentuh wajahnya, perlahan Dena membuka kedua matanya. Awalnya ia menyipit untuk menyesuaikan dengan pencahayaan, lalu setelahnya ia mengerjapkan bola matanya berulang kali. Wanita itu berusaha untuk mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya.


Seperdetik kemudian wajahnya memerah dan refleks ia membuka selimutnya dan memasukkan kepalanya di sana. Dena menemukan dirinya mengenakan baju kaos tipis dan juga celana pendek. Wanita itu meraba tubuhnya sendiri dan tidak mendapati dirinya memakai dalaman. Spontan ia kembali mengeluarkan kepalanya dan menatap wajah sang suami dengan malu-malu.


"Kenapa, hemm?" tanya Fairel sambil mengelus rambut istrinya.


"Gerah." jawab Dena. Jelas ia merasa kegerahan, maklum saja selimut yang melilit tubuhnya itu lumayan tebal ditambah matahari mulai naik.


"Ya dilepas dong selimutnya, abis itu baru mandi." balas Fairel kemudian perlahan menarik pelan selimut yang dipakai istrinya.


"Tapi--" Dena tampak menahan tangannya agar selimut itu tidak lepas.


"Apa lagi? Aku udah liat semuanya. Semuanya!" tekan Fairel di kalimat semuanya. Mendengar itu membuat Dena semakin malu dan pasrah saat selimutnya ditarik lepas.


"Udah dirasain juga, masih malu aja." lirih Fairel.


"Kamu bilang apa?" tanya Dena saat tidak sengaja mendengar ucapan lirih dari pria itu.


Secepat mungkin Fairel menggelengkan kepalanya. "Enggak. Aku bilang cepat mandi abis itu makan siang. Selesai makan siang baru kita beres-beres."

__ADS_1


Dena menatap ragu suaminya sebelum akhirnya ia mengangguk pasrah. Dena mulai beringsut turun dari kasur. Namun, baru menggerakkan kakinya, wanita itu sudah mendesiiss pelan karena merasa sakit di pangkal pahanya.


"Sshhhh..." wanita itu meringis sambil memejamkan matanya.


"Masih sakit?" tanya Fairel khawatir. Pria itu mendekat dan dudu bersimpuh di lantai.


Dena hanya menganggukkan kepalanya. Jujur saja ia merasakan perih, sakit, ngilu, dan juga terasa mengganjal di bagian intinya. Rasa sakitnya bercampur aduk, membuatnya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.


"Kalau gitu makan siangnya aku bawa ke kamar aja. Tunggu sebentar." pesan Fairel kemudian beranjak menuju lemari pakaian dan mengambil baju kaos dan juga celana pendek santai. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Fairel membuka handuknya begitu saja dan mengenakan pakaiannya tepat di hadapan istrinya.


Dena yang melihat itu hanya melengos dan membuang wajahnya ke samping. Walaupun tadi pagi ia sudah melihatnya, namun, rasanya masih asing dan membuat wanita itu malu sendiri. Apalagi mengingat detik demi detik saat mereka memadu kasih. Bagaimana dengan lembut dan penuh cinta pria itu menyentuhnya, membuat dirinya seperti terbang ke atas awan. Tanpa sadar Dena menggelengkan kepalanya mengusir pikiran kotornya yang tiba-tiba saja menghampiri pikirannya.


"Kalau mau lihat ya lihat aja. Lagi pula ini udah menjadi milik kamu semuanya." seru Fairel memecahkan keheningan. Pria itu sudah mengenakan pakaian lengkap dan menghampiri istrinya.


Wajah Dena memerah bak kepiting rebus. Ayolah, kenapa sekarang wanita itu menjadi pemalu.


Fairel langsung terkekeh pelan melihat istrinya menjadi sangat pemalu dan juga sedikit pendiam. Apakah setiap wanita akan bersikap begitu ketika baru saja melewati malam yang panas? Ah salah, tetapi, pagi yang panas.


Pria itu duduk di samping Dena dan mendekatkan wajahnya menggoda istrinya. Melihat itu, Dena langsung mendorong pelan dada bidang Fairel. Karena tidak ingin membuat istrinya malu, akhirnya Fairel mengakhiri tingkah lakunya menggoda istrinya. Pria itu tersenyum dan mengacak pelan rambut Dena sebelum akhirnya beranjak keluar kamar untuk mengambil makan siang.


Tidak sampai lima menit kemudian pria itu sudah kembali sambil membawa nampan. Dena lekas menyudahi aksinya itu dan duduk tegap di atas kasur.


"Duduk sini." Fairel mengkode istrinya agar duduk bersandar di sandaran kasur. Wanita perlahan beringsut mundur. Fairel juga meletakkan tumpukan bantal di sana agar Dena merasa nyaman.


"Mau disuapin?"


"Enggak usah." tolak Dena langsung mengambil piring dari tangan suaminya.


Fairel pun mengangguk saja. Ia tampak memperhatikan intens setiap pergerakan yang dilakukan Dena.


"Kamu udah makan?" tanya wanita itu merasa kalau dirinya ditatap lama.


"Belum." jawab Fairel.

__ADS_1


"Lahh, kenapa gak sekalian aja?"


"Nanti aja aku makan sendiri. Sekarang, kamu habisin dulu makanannya. Jangan khawatir kalau aku belum makan. Kalaupun aku lapar, ya pasti aku ambil sendiri. Kecuali kalau laparnya di kamu." celetuk Fairel di akhir kalimatnya membuat pikiran Dena seketika blank.


"Mana ada laparnya di aku."


"Ada kok." Fairel mengerlingkan sebelah matanya menatap sang istri. Dena yang mulai paham langsung melengos tidak mau meladeni tingkah suaminya yang mulai ngawur.


"Tadi Bunda nelfon."


"Uhukk uhukkk!!!" Dena yang asik mengunyah makanannya langsung tersedak. Fairel refleks mengambil gelas air putih dan memberikannya.


"Udah?" tanya pria itu sedikit khawatir.


Dena mengangguk cepat. "Trus kamu bilang apa?" selidik wanita itu penasaran.


"Ya aku bilang aja kamu masih tidur abis kecapekan." ceplos Fairel tanpa beban.


Dena langsung bergerak mencubit lengan pria itu. "Seharusnya jangan bilang gitu. Bunda pasti salah paham. Ngapain coba bilang aku kecapekan." amuk Dena merasa gemas.


"Lahh... emang aku ada bilang kalau kamu kecapekan gara-gara aku naikin?" sekali lagi perkataan Fairel membuat istrinya tersedak air.


"Gak sopan banget!" ketus Dena memasang wajah sinis.


"Kenyataannya emang gitu, Sayang." balas Fairel santai. Lalu, ia mendekatkan wajahnya ke telinga istrinya dan berbisik di sana. "Untung tadi aku gak bilang ke Bunda kalau tadi subuh kamu itu liarr banget." ucap pria itu sambil meniup telinga istrinya.


"Rel, tangan aku siap loh ini ya melayang di wajah kamu."


Fairel langsung tertawa terbahak mendengar penuturan istrinya. Sedetik kemudian ia berhenti tertawa dan menatap Dena lembut. "Aku pengen nanti ada yang hadir di antara kita berdua dan memanggilku dengan sebutan Ayah."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2