My Fierce Boss

My Fierce Boss
Berenang


__ADS_3

Karena cuaca di luar sangat panas, alhasil Dena dan Fairel membatalkan rencana mereka yang awalnya ingin membawa ketiga adik Dena untuk jalan-jalan. Tapi, meskipun rencana mereka gagal, Fairel tetap mengabulkan keinginan salah satu adik laki-laki Dena yang ingin berenang. Cuaca yang sangat panas sepertinya sangat mendukung aktivitas mereka siang itu.


Byurrrr


Fairel tampak baru saja terjun ke dalam kolam dengan ketinggian air mencapai bahunya. Pria itu meraup wajahnya kasar dan menyugar rambutnya yang basah ke belakang. Pria itu tersenyum lalu sedetii kemudian merentangkan tangannya ke arah dua bocah yang sudah memakai perlengkapan berenang yaitu baju pelampung.


"Ayo, pelan-pelan." seru Fairel menuntun mereka untuk masuk ke dalam kolam secara perlahan. Air yang dingin dan cuaca yang panas membuat Fairel seakan betah untuk berlama-lama di dalam kolam yang berada di kediaman Dena tersebut.


"Kita nggak tenggelam kan, Bang?" tanya Devan, balita berusia 5 tahun itu dengan polos.


Fairel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Ada Abang dan Devin dan juga udah pakai pelampung. Pasti aman kok." ucap pria itu menenangkan.


"Abang Dav penakut." ejek Devin seraya memeletkan lidahnya.


Devan menghela nafas berat. "Abang gak takut, Dev. Cuma, Abang kan gak terlalu suka renang." bocah laki-laki yang umurnya satu tahun di atas Devin itu memang tidak cadel saat mengatakan huruf R.


"Sukain aja lah." balas Devin cuek.


"Gini deh, coba Devin dulu yang turun. Nanti Devan nyusul." tutur Fairel.


Tanpa disuruh pun Devin perlahan masuk ke dalam kolam, meninggalkan abangnya yang berdiri sebal di pinggiran kolam.


Byurrr


"Abang Dav, sini dong." pekik Devin heboh sambil tertawa senang saat tubuhnya sudah berada di dalam air.


"Iya, bentar." jawab Devan ragu-ragu.


Bocah laki-laki itu berdiri gelisah, jujur dirinya tidak terlalu berani untuk berenang. Entahlah apa penyebabnya ketakutannya itu. Bukannya tidak pernah berenang di air, tapi, tidak tau kenapa Devan selalu merasakan sensasi yang berbeda yang membuat nyalinya ciut.


"Dev mau pipis dulu." tanpa diduga bocah itu berlari ngacir masuk ke dalam. Bahkan baju pelampungnya masih melekat di tubuhnya. Begitu berlarian masuk ke dalam, Devan tanpa sengaja menabrak tubuh Kakaknya yang saat itu tengah memegang botol susu.


Brukkk


Tubuh mungil itu menghantam lantai keramik membuatnya mengaduh sambil memegang pantatnya.


Dena yang ditabrak secara tiba-tiba pun hampir saja terjengkang. "Astaghfirullah, Abang!" pekik wanita itu meletakkan asal botol susu di tangannya dan beralih membantu adiknya yang terduduk di lantai.


"Mana yang sakit?" tanya Dena panik.


Devan mengusap-usap pantatnya sambil menggelengkan kepala. "Dev cuma kaget aja, Kak." ujar bocah itu.


Dena langsung menghela nafas lega. "Syukurlah. Trus, kenapa Dev di sini? Gak ikut berenang bareng Bang Al dan Devin?" tanya Dena penasaran.


"Abang gak suka berenang, Kak. Tadi udah diajakin Bang Al kok." panggilan Abang Al untuk Fairel itu diambil dari Devin yang cadel saat memanggil nama Fairel.


"Ya udah, trus mau kemana lari-larian gitu?"


"Dav pura-pura mau pipis. Dav temenin Divi aja ya, Kak?" pinta Devan memasang wajah memelas.

__ADS_1


"Beneran gak mau berenang?"


Devan menganggukkan kepalanya yakin.


"Itu baju pelampungnya dilepas dulu dong. Emangnya Abang gak gerah? Kakak yang liatnya aja udah keringetan duluan." sedari tadi memang Dena menahan panas karena cuaca di kota Jakarta begitu terik. Wanita itu bahkan tidak tahan untuk mengenakan pakaian berlengan panjang. Alhasil, ia hanya mengenakan baju kaos putih polos dan celana pendek selutut.


Devan segera melepas baju pelampung di tubuhnya dengan dibantu Dena. Setelah melepaskannya, keduanya langsung berjalan menuju ruang tengah tempat Dena bersantai sekaligus merawat Divya. Wanita itu membiarkan Fairel membawa adiknya berenang di kolam belakang.


Sementara di kolam belakang, Devin asik berenang dipandu oleh Fairel. Karena tidak mungkin kan Fairel menyusul Devan dan meninggalkan Devin sendirian di dalam kolam. Alhasil keduanya memilih untuk melanjutkan saja berenang. Bocah 4 tahun itu tampak begitu lihai saat menggerakkan tangannya di permukaan air.


"Boy, ayo coba kejar Abang." ucap Fairel bergerak lebih dulu meninggalkan Devin di ujung pembatas kolam. Bentuk kolam yang memanjang membuat mereka bebas bolak-balik. Fairel yang dulunya tinggal di perkampungan tampak begitu ahli. Maklum, dulunya suka berenang di sungai bebas.


Devin yang mendengar itu sontak langsung mengejar ketertinggalannya.


"Yeyyyy, Devin kalah." Fairel tertawa saat dirinya sudah sampai terlebih dahulu di seberang ujung kolam tadi.


Devin langsung memasang wajah cemberut. "Abang Al culang! Mana ada olang ngajakin lomba tapi dia yang duluan." balas Devin kesal.


"Hahahahahaha..." Fairel tertawa puas melihat wajah kesal Devin.


"Hahahaa... oke, oke. Mau ulang lagi gak?" tawar Fairel.


"Siapa takut!" tantang Devin.


"Oke, kita tunjukin siapa yang lebih jago."


"Dua."


"Tiga. Mulai!"


Byurrr


Suara kecipak air yang dihasilkan dari gerakan tangan dan kaki mereka terdengar jelas. Pinggiran kolam yang awalnya kering kini basah karena cipratan air kolam.


Saat di pertengahan, Fairel sengaja memperlambat gerakannya dan membiarkan Devin berenang lebih dulu. Saat bocah itu hampir sampai di ujung kolam, Fairel lekas mengejar sampai akhir dialah yang sampai terlebih dahulu. Fairel memasang wajah tengil dan puasnya.


"Dev kalah lagi." ejek Fairel membuat Devin mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Abang culang, mana boleh gitu!"


"Enggak. Abang gak curang kok. Dev aja yang terlena sampai gak sadar kalau Abang bergerak lebih cepat."


"Tetep aja Abang culang. Tadi Abang di belakang Dev, dan mana mungkin Abang duluan yang sampai." Devin tidak terima dnegan kekalahannya.


Fairel hanya tersenyum saja mendengar gerutuan bocah itu. Ia segera melipir dan duduk di pinggiran kolam lalu melambaikan tangannya meminta Devin untuk ikut dengannya. Tapi, bocah itu yang sedang kesal langsung menolak dengan cara menggelengkan kepalanya.


"Sini dulu."


"Abang jahat! Dev gak suka!"

__ADS_1


Pria itu menghela nafas beratnya. "Sini dulu. Duduk sini, Abang mau ngomong bentar." bujuk Fairel melambaikan tangannya pelan.


Dengan terpaksa Devin mengayuhkan tangannya dan mendekati Fairel. Melihat itu Fairel segera turun dan masuk kembali ke dasar air. Pria itu langsung mengangkat tubuh Devin membawanya duduk di pinggiran kolam kemudian dirinya menyusul.


"Dev tau gak kenapa tadi Abang berhenti bentar dan ngebiarin Dev duluan?" tanya Fairel dibalas celengan kepala oleh bocah itu.


"Biar Abang kasih tau dikit ya. Ini pesan buat Devin nanti agar bisa tumbuh hebat."


"Apa?" tanya Devin sepertinya tertarik.


"Tadi barusan, Abang lagi nunjukin sesuatu ke Devin bahwa jangan sekali-sekali kita terlena dengan sesuatu. Contohnya tadi, Abang sengaja berhenti sebentar. Abang mau ngasih tau ke Dev kalau jangan pernah menyepelekan seseorang meskipun orang itu lemah. Ya memang tadi Dev gak ada peluang untuk menang karena Abang lebih jago dari Dev. Pesan Abang, jangan sampai Dev terlena dengan suatu hanya karena seseorang itu berhenti karena kita gak tau orang itu berhenti karena menyerah atau memang mau menjatuhkan kita. Dev jangan berpikir kalau Dev itu lebih hebat dari siapapun karena faktanya ada yang lebih hebat dari Dev. Intinya, kerja keras dan perjuangan itu sangat dibutuhkan meskipun kita tau kalau kemampuan kita di bawah mereka."


"Dev paham kan dengan apa yang Abang omongin?" Fairel memandang wajah polos Devin di sampingnya. Kata-katanya memang tidak dimengerti oleh banyak bocah karena itu mungkin sedikit berbelit untuk pikiran mereka.


Melihat keterdiaman Devin membuat Fairel tersenyum geli. Ia mengusap pelan kepala Devin untuk menyadarkan bocah itu. "Jangan dipikirin. Abang cuma minta buat Dev, jangan pernah lupain kalimat Abang barusan. Oke, boy?"


"Oke." Devin mengangguk saja karena ia memang tidak terlalu paham dengan apa yang dikatakan oleh Fairel.


"Pinter. Emmm... ini udah lama kita di sini. Naik yuk! Jangan sampai Dev masuk angin." Fairel segera beranjak dari pinggiran kolam dan membantu Devin untuk berdiri dan melepas baju pelampungnya.


Fairel meraih handuk kecil di kursi dan mengelap wajah dan sebagian tubuh Devin.


"Dev bisa kan masuk duluan? Nanti Abang nyusul."


"Bisa, Bang." jawab Devin.


"Oh ya, jangan lupa minta ke bibik atau Kakak untuk membilas tubuh Dev di kamar mandi."


"Oke." bocah itu langsung masuk ke dalam. Sedangkan Fairel yang belum puas pun kembali masuk ke dalam kolam.


Devin segera masuk dan menuju ruang tengah dengan keadaan hanya mengenakan celana pendek saja. Kedatangan Devin membuat Dena sedikit terkejut. Ia pun langsung mendekati bocah itu.


"Sendirian? Mana Abang Al?" tanya Dena.


"Ada di belakang. Dev mau mandi, Kak, disuruh Abang Al tadi." pinta Devin.


Dena mengangguk. Ia menatap art di rumahnya yang duduk di lantai dekat Divya. "Bibik tolong jaga Devan dan Divi dulu ya? Dena mau mendiin Devin bentar."


"Baik, Non." sahut artnya.


"Ayo, Abang!" ajak Dena menarik pelan pergelangan tangan Devin.


"Kakakkkk!!!" pekik Devan tiba-tiba membuat Dena membalikkan tubuhnya dan menatap Devan bingung.


"Abang mau ikut mandi, Kak." bocah yang duduk di sofa itu langsung berlari menuju Dena.


"Ayo!"


Ketiganya segera menaiki anak tangga penghubung kamar Dena, sebenarnya bukan hanya kamar Dena sana melainkan ada dua kamar lainnya di sana.

__ADS_1


__ADS_2