
Dua bulan kemudian...
Masa percobaan Fairel sudah berakhir. Tapi, kabar baiknya adalah Fairel lulus dalam masa percobaan itu dan sekarang ia sudah memperpanjang kontraknya selama 2 tahun. Ia baru saja menandatangani kontrak kerjanya tepat di hadapan Dena, keduanya saling membubuhkan tanda tangan di atas kertas kontrak. Sekarang Fairel sudah resmi menjadi sekretaris Dena untuk jangka waktu panjang.
"Selamat karena sudah melewati masa percobaan dan berhasil menetap di perusahaan ini." Dena bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya.
"Tentu." Fairel ikut bangkit dan membalas jabatan tangan Dena. Keduanya sekarang dalam mode profesional. Andai saja tidak, mungkin saja mereka sudah bermesraan.
"Dan..." Dena melepaskan jabatan mereka lalu berjalan mengitari meja kerjanya dan berhenti tepat di samping Fairel duduk. "Penampilan adalah hal yang paling utama." wanita itu memegang kerah kemeja Fairel dan sedikit merapikannya.
Fairel hanya diam saja dengan tubuhnya yang mematung. Sejenak, kemudian ia mengalihkan pandangannya, menatap wanita itu lekat.
"Selesai rapat siang ini, kita keluar." ucap Dena memberitahu.
"Keluar? Kemana?" tanya Fairel bingung. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud kalimat Dena. Fairel sedikit tersentil saat mendengar kata "kita" yang Dena ucapkan.
Dena tidak menjawab, melainkan beranjak pergi dari sisi Fairel. Ia mengambil jas kerjanya di sandaran kursinya dan memakainya.
"Siap-siap, kita ke ruang rapat sekarang." titah Dena. Fairel kembali melongo, seharusnya dia yang mengingatkan. Tapi, kenapa sekarang kebalikannya?
Fairel tersadar saat Dena meninggalkannya. Ia langsung berlarian sambil membawa dokumen yang diperlukan saat rapat nanti.
Saat tiba di ruangan rapat, ternyata anggota rapat sudah hadir lebih dulu. Dena langsung mengambil tempat posisinya.
Rapat sudah dimulai, suasana berubah serius karena satu per satu di antara mereka saling beragumen dan memberikan penjelasan dan pendapatnya. Sekarang, giliran Dena lah yang angkat bicara.
"Tim pemasaran, apakah tidak ada desain terbaru yang ingin diluncurkan."
"Siap, Bu Boss. Sekarang, kami masih mendiskusikan lebih lanjut. Tapi, kami ada sedikit ide dan itu masih dipikirkan." jawab Novi.
"Lanjutkan!"
"Bagaimana kalau kita membangun penginapan di wilayah terpencil yang biasanya banyak didatangi turis atau pengunjung lainnya? Karena yang saya tau di daerah terpencil memang jarang adanya penginapan. Kita bisa mencari tempat-tempat yang memang memiliki potensi untuk dijadikan tempat wisata atau pemandangannya cukup menarik."
Dena menyanggah dagunya dengan kedua sikunya berada di atas meja. Apa yang disampaikan Novi cukup membuatnya tertarik.
"Bagaimana dengan rencana sebelumnya? Bukankah kita akan melakukan pembangunan hotel di sekitaran pantai?"
"Saya mau dalam satu tahun ini perusahaan ini bisa meningkat setengah dari 85 persennya." lanjut Dena lagi.
"Maaf, Bu Boss. Apa itu tidak terlalu ambis? Maaf, bukannya meragukan perusahaan ini, tapi, seperti yang kita tau kalau perusahaan ini baru saja berjalan kurang lebih 5 bulan."
"Benar juga." Dena membenarkan perkataan karyawannya.
"Baiklah, mungkin cukup sampai di sini rapat kali ini. Saya memberikan waktu untuk kalian berinovasi tentang dua desain tadi. Dan, tentang popularitas perusahaan ini, saya harap itu tidak memberatkan kalian. Jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan sampaikan kepada sekretaris saya."
"Baik, Bu Boss."
Dena melirik Fairel dengan tatapan penuh kode. Seakan mengerti, Fairel langsung membereskan dokumen-dokumen itu.
"Selamat siang."
"Siang, Bu." ucap mereka serentak sembari membungkukkan sedikit badannya saat Dena sudah berjalan keluar.
"Kamu tidak lupa kan dengan apa yang saya katakan tadi?" tanya Dena saat mereka dalam perjalanan menuju lift.
"Sekarang?" tanya Fairel.
__ADS_1
"Bukan, tahun depan!!" balas Dena kesal.
Fairel mengangguk cepat. Kalau sudah begini, sudah dipastikan Dena tengah kesal.
Saat mereka sudah tiba di lantai atas, Fairel berjalan cepat mensejajarkan langkah kakinya dengan Dena. Tiba-tiba saja pria itu meraih tangan Dena dan menggenggamnya. Jari jemari tangan mereka tampak saling bertaut.
Dena yang diperlakukan begitu hanya diam saja dengan tatapan fokus ke depan. Bukannya marah, tapi, tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang. Bukan pertama kali Fairel menggenggam tangannya, namun, Dena selalu dibuat gerogi.
"Apa sekarang sudah boleh keluar dari zona profesional?" tanya Fairel berbisik pelan.
Bahu Dena terangkat karena merasa geli saat Fairel berbisik di telinganya.
"Hemmm???" tanya Fairel malah mengendus rambut wanita itu.
"Nanti aja." balas Dena menahan gejolak di dadanya.
"Oke." saat itu juga Fairel melepaskan genggaman tangannya. Membuat Dena merasa kosong. Wanita itu berhenti sejenak, menatap Fairel yang menyelonong saja tanpa sadar bahwa Dena tidak ada di sisinya.
Dena menarik kedua ujung bibirnya kemudian menggelengkan kepalanya. Tingkah Fairel malah membuatnya gemas. Dena menoleh ke belakang dan melirik sekitar memastikan bahwa tidak ada orang lain. Padahal kan hanya mereka saja di ruangan itu. Tapi, Dena hanya berjaga-jaga seandainya karyawan kantornya malah naik ke lantai atas.
Dena belari pelan mengejar Fairel. Saat hampir sampai, Dena langsung meraih tangan Fairel dan menggenggamnya.
Sontak Fairel menoleh ke samping. Ditatapnya wajah Dena dengan bingung.
"Kenapa?" Dena tersenyum menatap Fairel. Pria itu malah menundukkan wajahnya dan menatap tautan tangan mereka.
"Ayo, masuk dulu. Kita bicara di dalam." Dena menyadari bahwa mereka sudah berada di depan pintu ruangannya.
"Apa boleh sekretaris masuk ke ruangan bosnya setiap waktu?" tanya Fairel.
Dena memutar bola matanya sempurna. Ia menghela nafas pelan. "Huhhh...come on, baby. Jadi... gak mau masuk nihh?"
"Aaakkkhhhh..." Dena menjerit pelan karena terkejut dengan respon Fairel terhadapnya.
"Jangan teriak. Nanti kedengaran orang."
"Makanya... pelan-pelan dong."
"Ini udah pelan, baby."
"Apaan sih!!"
"Syuttt!! Jangan teriak."
"Udah enggak. Cepetan lah, kan mau keluar."
"Nanti, kita tunda satu jam dulu."
"Haaaahhhh??? Mau ngapainnnn!!??"
.
.
.
Seperti cahaya matahari yang kian meredup seiring dengan berputarnya waktu. Namun, senyuman sepasang kekasih itu tidak luntur. Eh, bukan sepasang kekasih. Tapi, apa ya namanya??
__ADS_1
"Harus ya?" tanya Fairel tampak pasrah di hadapan Dena.
"Harus. Udah melewati masa percobaan harusnya udah ganti penampilan. Jangan pakai kemeja polos lagi, tapi, lengkap dengan jasnya." Dena mengancingkan kancing jas yang dikenakan Fairel di bagian depannya. Ternyata wanita itu membawa Fairel ke sebuah butik untuk membeli beberapa helai jas kerja. Karena sebelumnya Fairel hanga mengenakan kemeja polos. Selain karena untuk merapikan penampilan, Dena juga sedikit tidak tahan melihat pesona Fairel saat mengenakan kemeja polosan. Itu membuatnya sering kali salah tingkah, gugup, dan gerogi.
"Emangnya gak boleh ya cuma pakai kemeja?" lagi-lagi pertanyaan yang menurut Dena membosankan itu dilontarkan oleh Fairel.
"Bukannya gak boleh. Tapi, memang itu peraturannya."
"Ya sama aja gak boleh dong. Kan itu peraturan, harus ditaati."
"Aishhh!!" Dena berdecak mendengarnya.
Fairel yang mendengar itu hanya tersenyum tipis. Saat Dena fokus meneliti jas yang Fairel kenakan, tiba-tiba saja pria itu menarik pinggang ramping Dena sehingga membuat tubuhnya menubruk Fairel.
"Ihhh! Kasih aba-aba dong!" protes Dena memukuli dada bidang pria itu.
Fairel dibuat tertawa oleh perkataan Dena. "Nih ya aku kasih aba-aba. Hitungan ketiga."
"Apa?" tanya Dena tidak mengerti.
Tidak menjawab, pria itu malah menghitung angka. "Satu."
"Dua."
Dena dibuat was-was saat hitungan ke-dua.
"Tiga."
Cup
"Udah." Fairel memasang wajah tanpa rasa bersalahnya saat sudah berhasil mencuri ciuman di bibir Dena.
Wanita itu melongo sempurna. Saat tersadar, Dena langsung menatap Fairel tajam. "Di sini tempat umum ya, bukan di dalam ruangan. Kalau dituduh macam-macam gimana?" Dena berbicara pelan dengan bibir bergerak pelan. Tangannya sudah nangkring di pinggang Fairel dan bersiap untuk memberikan hadiah manis.
"Aaawwwww... nikmat banget cubitannya, Sayang." Fairel tersenyum, padahal ia meringis karena Dena malah mencubit pinggangnya.
"Hooh, nikmat kan. Mau lagi?" tawar Dena tersenyum sangat manis. Padahal mah itu senyuman mematikan.
"Mau dong."
"Eitsss!!! Bukan cubitan itu maksudnya." sebelum Dena bertindak hal yang sama, Fairel terlebih dahulu menangkap tangan Dena.
"Terus apa??" selidik Dena memicingkan matanya.
"Ini lohhh..." Fairel kembali menarik pinggang Dena sehingga jarak diantara keduanya terkikis habis. Mereka tidak lagi memperdulikan jika ada orang yang masuk ke dalam ruangan itu. Dan bahkan mereka tidak memperdulikan lagi adanya CCTV. Mungkin sedari tadi benda yang merekam segala aktivitas tersebut sudah merekam semuanya.
Dena yang gercep langsung menaruh telapak tangannya di mulut Fairel. "Jangan lagi. Atau, aku gak mau nemuin kamu selama seminggu."
"Yeee... padahal--"
"Gak usah padahal-padahal lagi." potong Dena cepat membuat Fairel mendengus kasar.
.
.
.
__ADS_1
gimana part malam ini๐ค๐คada manis-manisnya gak๐คฃ