
Fairel yang merasa ngantuk dan sedikit lesu karena kurang tidur akhirnya memutuskan untuk pergi ke pantry untuk membuat secangkir kopi. Sekarang masih waktu jam kerja, oleh karena itu suasana sedikit sepi. Semuanya fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Sementara Dena yang berada di ruangannya tampak kebingungan karena Fairel tidak kunjung datang menemuinya padahal sudah beberapa kali Dena menekan tombol interkomnya, namun, ternyata tidak diangkat oleh Fairel.
Dena membutuhkan Fairel untuk membuat laporan. Wanita itu celingukan dengan kepala menyembul ke luar pintu ruangannya. Karena penasaran, wanita itu mendatangi ruangan Fairel dan mendapati ruangan itu kosong tidak berpenghuni. Hanya ada layar komputer saja yang masih menyala.
"Kemana sih?" gumam Dena hanya bisa menerka-nerka.
Dena mencoba untuk turun ke lantai bawah, tetapi, ia sama sekali tidak melihat keberadaan Fairel. Saat berjalan di koridor, Dena tidak sengaja melihat office boy tampak membawa kantong sampah.
"Selamat siang, Bu." sapa Noel.
"Siang. Eh! Kamu mau kemana?" tanya Dena.
"Mau ke bawah, Bu. Buang ini." Noel mengangkat dua kantong plastik sampah di tangannya.
"Kamu ada liat Fairel gak?"
"Pak Fairel? Kalau gak salah tadi saya liat dia masuk ke pantry, Bu. Mungkin Pak Fairel masih ada di sana." jawab Noel.
"Ya sudah, terima kasih, Noel."
"Sama-sama, Bu." balas Noel menganggukkan kepalanya sambil melihat Dena melangkah pergi.
Dena kembali menaiki lift karena letak pantry berada dua lantai di bawah. Wanita itu heran, padahal pantry di lantai atas itu ada dan kenapa Fairel memilih pergi ke pantry khusus karyawan.
Begitu tiba di sana, Dena melihat ada beberapa karyawan yang keluar dari ruang pantry. Mereka sempat menyapa Dena walau benaknya di penuhi berbagai macam pertanyaan karena tidak biasanya Dena datang ke pantry karyawan.
Dena melihat Fairel yang berdiri membelakanginya. Pria itu tampak meniup-niup minumannya. Dena berjalan perlahan tanpa menimbulkan suara.
"Rel."
Byurrrrr
"Ssshhhhhttt panas..."
Tiba-tiba saja Fairel menyemburkan minumannya membuat Dena terkejut dan refleks memegang punggung belakang Fairel.
"Gak papa?" tanya Dena mendongakkan kepalanya menatap Fairel.
Pria itu langsung menoleh dan ekspresinya terkejut saat tau Dena lah yang memanggilnya. Ia kira tadi rekan kerjanya.
"Ngagetin aja." ucap Fairel lalu mengibaskan pelan jasnya yang terkena cipratan minumannya.
"Hehe, sorry."
"Ngapain ke sini?" ujar Fairel.
"Itu... buatin laporan." jawab Dena menunjuk ke arah pintu keluar.
"Kan bisa ditelfon. Aku bawa ponsel kok." kata Fairel membuat Dena menggaruk kepalanya tidak gatal. Beruntung saja hanya mereka berdua yang berada di pantry. Kalau tidak, mana mungkin Dena bisa selepas itu.
"Emmm... takut aja kamu ngilang." dengan tingkah lucunya Dena malah menyatukan ujung jari kedua jari telunjuknya dan menggerakkan jarinya memutar.
"Astaga!" entah merasa tidak habis pikir atau gemas, Fairel hanya bisa geleng-geleng kepala dibuatnya. Mana ada dirinya menghilang begitu saja. Dena itu ada-ada saja!
__ADS_1
"Becanda." ralat Dena disertai dengan gelak tawanya.
"Hihihihihi..." wanita itu malah cekikikan puas.
"Sana balik ke ruangan, aku bentar lagi selesai." ujar Fairel.
Dena terdiam begitu Fairel mengusirnya dengan tidak lazim. "Bareng aja." usulnya.
"Duluan aja, ini minumannya masih panas. Kalau mau dibawa ke atas malah ribet."
"Itu apa?" Dena menilik isi cangkir Fairel.
"Kopi."
"Mau." entah kena angin apa Dena berkata begitu padahal ia sama sekali tidak menyukai kopi hitam.
"Yakin mau?" tanya Fairel ragu.
"Huummm... " Dena mengangguk kepalanya.
"Yakin?" ulang Fairel memastikan.
"Iyaaaaa..." jawab Dena panjang.
"Nih! Cobain aja."
"Oke." Dena mengambil cangkir dari tangan Fairel dan meniupnya pelan sebelum akhirnya mencoba untuk mencicipinya.
"Itu belum dikasih gula, Sayang."
Terlambat. Dena sudah menyemburkan kopi itu mentah-mentah. Ekspresinya campur aduk.
"Wleekkkk... pahit." wanita itu bahkan membuka mulutnya menahan rasa pahit di mulutnya.
"Kan udah aku bilang." sahut Fairel merasa tidak berdosa.
"Ini minuman apa sih?!! Rasanya kayak sayur pare."
"Ya itu kopi namanya. Kan udah aku bilang itu belum dikasih kopi. Salah siapa coba?"
"Salah kamu!" todong Dena.
"Lahhhh kok aku??" Fairel memasang wajah bingung.
"Nih! Ambil lagi!" Dena memberikan paksa cangkir itu kepada Fairel.
"Ngambek lah tu." ejek Fairel sambil meletakkan cangkirnya di atas meja pantry.
"Enggak!" Dena memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Lalu tanpa aba wanita itu langsung melangkah pergi.
"Lahhh lahhh." sontak Fairel menarik pergelangan tangan Dena lalu menarik bahu wanita itu hingga menubruk tubuhnya. Fairel memeluk Dena hangat. Ia bahkan tidak lagi peduli jika ada orang lain yang melihat aksi mereka itu.
"Mau kemana sih cantik??" goda Fairel mengusap-usap lengan Dena pelan.
"Balik." ketus Dena.
__ADS_1
"Yakin mau balik? Gak takut Abang ini diculik??" Fairel tidak henti-hentinya menggoda Dena. Kantuk yang ia rasakan seketika hilang entah kemana.
"Culik ya culik aja, gak ada juga yang cariin."
"Beneran nih?"
"Ya."
Fairel melepaskan pelukannya. "Ya udah." ia menggertak Dena dengan cara berpura-pura meninggalkan wanita itu.
"Iiiihhhhhh, sana pergi. Pergi aja jauh-jauh. Gak peka banget hikssss..." Dena menaikkan nada bicaranya.
Fairel menghentikan langkah kakinya tanpa membalikkan badan. Dari arah belakang ia tampak tersenyum geli.
Sesaat Fairel membalikkan badannnya lalu mendekati Dena dan dengan cepat menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Kenapa sih cantik? Malah nangis, orang becanda doang kok." dengan sabar Fairel mengusap-usap punggung belakang Dena. Sebelah tangannya juga mengusap kepala wanita itu.
"Gak mau! Pergi aja sana hikksssss..." tangis Dena malah bertambah membuat Fairel kelabakan.
"Nanti orang lain denger loh. Emangnya mau diliatin kayak gini? Nanti jadi gosip loh."
"Hikssss p-ergi aja sana!!"
"Astaga." kali ini Fairel dibuat sangat gemas.
Wanita itu tidak memberontak dalam pelukan Fairel. Hanya sana mulutnya terus mengomel diiringi dengan air mata membanjiri pipinya.
Fairel melepaskan pelukannya. Menangkup kedua pipi Dena. Wajah dipenuhi lelehan air mata, bibir mengerucut dan melengkung ke bawah.
"Tadi cuma becanda. Sayang mau apa hem? Kenapa jadi cengeng gini. Mau martabak? Bakso?" bujuk Fairel.
Dena menggelengkan kepalanya menolak.
"Mau apa cantik?" Fairel menangkup wajah Dena, sedikit memainkan kedua pipi yang tampak berisi dan terasa lembut itu. "Bulan ini udah datang bulan belum?" tanya Fairel di luar nalar.
Dena terdiam lalu sesaat menggelengkan kepalanya.
"Nahhh... mungkin aja--"
Pranggggg
Belum selesai Fairel menyelesaikan perkataannya. Tiba-tiba saja dari ambang pintu terdengar suara yang cukup nyaring membuat keduanya refleks saling menjauhkan diri. Dena langsung bersembunyi di belakang tubuh Fairel karena tidak mungkin ia menunjukkan wajahnya yang dipenuhi air mata.
"M-aaf." seseorang terbata dengan tangan bergetar hebat. Dia lekas memungut alat-alat pembersih yang terjatuh di lantai.
"Yahhhh... kepergok, Sayang." gumam Fairel santai dengan wajah pasrahnya. Sementara di belakang tubuhnya Dena mati-matian menahan malu. Seakan dipergoki melakukan perampokan di bank, Dena dibuat tremor gemetar.
.
.
.
plis jangan hakimi author ๐ญ๐คฃ
__ADS_1