
"Adek, ini makannya udah belum?" teriak Dena kepada dua adiknya yang kini sudah berlarian ke sana ke mari.
"Udah, Kak." jawab mereka serentak.
"Sini dulu minum air." titah wanita itu.
Dua bocah laki-laki tersebut berlarian ke arah Dena. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya melihat adik-adiknya tampak ngos-ngosan.
"Duduk, jangan lari-larian. Ini udah malam nanti malah susah tidur."
Devan dan Devin menganggukkan kepalanya lalu mereka langsung duduk menuruti perkataan Dena.
"Abang Al mana, Kak?" tanya Devin, bocah laki-laki berusia 4 tahun.
Dena langsung mengedarkan pandangannya. "Bentar lagi sampai. Tunggu aja."
"Kakak, besok kita jalan-jalan kan?" sahut Devan.
"Iya, makanya abis ini langsung tidur biar besok semangat. Besok Devan mau kemana?" tanya Dena sambil menumpukkan dua piring bekas di atas meja makan.
"Abang mau naik ayunan." jawab Devan antusias.
"Kalau Devin?"
"Dev mau naik selunculan tlus belenang di kolam." jawab Devin cadel.
Sambilan mengajak adik-adiknya mengobrol, Dena perlahan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju wastafel untuk mencuci piring bekas makan adiknya.
"Coba Abang dan Dev ke depan gih. Jagain Divi sekalian liat Abang Al udah datang apa belum." pinta Dena.
"Okee." Dena tersenyum melihat adik-adiknya yang patuh terhadapnya. Ya dua bocah itu memang patuh kepada keluarganya.
Dena melanjutkan mencuci piringnya padahal pelayan di rumahnya ada. Selesai mencuci piring, Dena langsung berjalan menuju ruang tengah dimana adik-adiknya berkumpul ditemani oleh salah satu asisten rumah tangganya.
Begitu tiba di ruang tengah, Dena sedikit dikejutkan oleh keberadaan Fairel yang ternyata sudah tiba di rumahnya karena sebelumnya pria itu pulang terlebih dahulu ke rumahnya karen ada keperluan.
Melihat anak majikannya sudah tiba, artnya itu segera berpamitan untuk kembali ke belakang.
"Udah lama?" Dena mendudukkan bokongnya di sofa di samping Fairel duduk.
"Baru aja kok. Anak-anak udah makan?" tanya Fairel sambil mendekap Divya di dalam gendongannya.
Dena menganggukkan kepalanya. "Udah kok, baru aja selesai."
"Oh ya, itu di atas meja aku bawain makanan."
__ADS_1
"Wahh... kebetulan banget aku belum makan." wanita itu langsung menarik kresek merah di atas meja dan membukanya.
"Kamu belum makan?" tanya Dena begitu tau bahwa ada dua kotak makanan di dalamnya.
"Udah kok, sengaja aku bawain dua siapa tau kamu suka."
"Makan yang lahap. Anak-anak biar aku yang jaga."
Dena tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Bagaikan istri yang sedang menanti suaminya pulang kerja dan dibawakan makanan. Wanita itu membuka kotak makanannya dan matanya berbinar saat tau Fairel membawakannya mie ayam.
Wanita itu makan dengan lahapnya tanpa mau menawarkan kepada Fairel. Karena seperti yang Fairel katakan bahwa pria itu sudah makan sebelum berangkat ke sini.
"Abang Al, main mobil-mobilan yuk!" tiba-tiba saja Fairel didatangi oleh kedua bocah laki-laki itu.
"Ayo! Tapi, habis ini langsung bobok ya?"
"Okeee..."
Sambil menemani mereka bermain, Fairel tidak melepaskan Divya di dalam gendongannya. Balita itu tampak anteng-anteng saja.
Sambil menyantap makanannya, netra mata Dena tidak pernah lepas dari sosok Fairel. Begitu kagum ia dengan pria itu.
.
.
.
Pria itu menggosok matanya yang masih terasa berat. Perlahan ia bergerak turun dengan pelan agar tidak membangunkan dua bocah yang sedang tertidur lelap. Setelah merasa aman, Fairel segera keluar dari kamar lalu melirik pintu kamar di sebelah yang tertutup rapat. Pria itu melangkah ke depan pintu lalu tangannya memutar handle pintu dengan pelan.
Mata Fairel menajam saat melihat seorang wanita yang tampak berjalan bolak-balik sambil menimang balita yang masih menangis di pelukannya.
Pria itu mendekat dan menyentuh bahu Dena membuat wanita itu tersentak kaget.
"Rel." sentaknya kaget begitu memutar tubuhnya.
"Kenapa?" tanya Fairel mengusap pelan belakang tubuh balita tersebut.
"Gak tau, tadi sambil tidur dia nangis makanya aku bangunin dan sampai sekarang belum berhenti nangis." balas Dena berusaha mengayunkan tubuh Divya.
"Sini! Kasih ke aku, coba kamu buatin susu." Fairel merentangkan tangannya meminta kepada Dena agar memberikan balita itu kepadanya.
Dena menurut dan memberikan adiknya kepada pria itu. "Ya udah, kalau gitu tunggu bentar ya. Aku ke dapur dulu buatin susunya."
Fairel menganggukkan kepalanya. Ia masih menggerakkan tubuhnya berjalan ke sana ke mari untuk memenangkan Divya.
__ADS_1
"Cup cup cup... jangan nangis lagi, Sayang."
Tidak lama kemudian Dena bergegas datang sambil membawa botol susu. Wanita itu meminta Fairel untuk duduk di sisi kasur supaya dirinya mudah untuk memberikan botol susunya kepada Divya.
Masih dalam dekapan Fairel, Dena menuntun balita itu untuk meminum susunya.
"Kamu ngantuk?" tanya Fairel melihat Dena hampir terhuyung karena tidak bisa menahan kepalanya.
Dena langsung tersadar dan berusaha untuk membuka kedua matanya yang terasa sangat berat. Wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Gih tidur."
"Nanti aja." balas Dena.
"Gak apa-apa, aku yang jagain Divi." Fairel mengangkat tangannya dan menyentuh belakang kepala Dena lalu mengusapnya pelan.
"Aku merem bentar ya?" Fairel langsung mengangguk yakin.
Dena pun beringsut naik ke atas kasur dan berbaring di sana. Tapi, nyatanya mata yang awalnya terasa berat malah melek. Alhasil ia hanya memandang Fairel dari belakang.
10 menit kemudian merasa Divya sudah tertidur lelap, Fairel pun berniat untuk memindahkannya ke atas kasur. Namun, saat akan membalikkan tubuhnya, ia melihat Dena mengerjap-ngerjapkan matanya memandangnya.
"Katanya mau tidur." Fairel mendekat dan menurunkan Divya perlahan ke atas kasur.
Dena tidak menjawab melainkan langsung menaruh bantal guling di kedua sisi kasur. Setelah merasa aman, Fairel berjalan mengitari kasur dan berhenti tepat di samping Dena. Pria itu langsung mendudukkan tubuhnya di tepian kasur.
Dena terdiam menatap Fairel dari bawah sana. Sesaat ia merasakan elusan lembut tangan Fairel di kepalanya. Pria itu mengelus kepalanya membuat Dena memejamkan matanya sejenak merasakan kehangatan.
"Besok jangan kebo ya?" pria itu tersenyum menatapnya.
Dena tidak menanggapi perkataan Fairel. Tangannya langsung sibuk dengan kancing baju piyama yang dikenakan oleh Fairel. "Aku sendiri yang membuat syarat itu dan sekarang, malah aku yang gak tahan. Apa 2 tahun itu gak terlalu lama?" ucap Dena hanya bisa menatap baju yang dikenakan Fairel.
Fairel menggelengkan kepalanya tipis lalu tersenyum. "Kamu sendiri yang membuat itu dan kamu sendiri yang harus menanggung akibatnya. Paham kan?"
"Aku gregetan, Rel. Rasanya pengen memutar waktu gitu aja."
"Aku juga begitu. Aku harus menyiapkan mentalku jika suatu saat nanti aku gagal memenuhi syaratmu."
Dena terdiam. Entah apa yang ia pikirkan. Jika suatu saat nanti Fairel gagal memenuhi syarat yang ia berikan. Apakah, pria itu akan terus berjuang bersamanya? Salahkan Dena yang memberikan syarat terlalu berat. Wanita itu yang membuat syarat dan dialah yang harus menanggung semua akibatnya.
.
.
.
__ADS_1
maapkan kalau alurnya berantakan๐ jujur sekarang pikiranku lagi dibagi dg banyak hal ๐ข apalagi ini lagi mikirin alurnya ๐ข minta do'a yang terbaik ya semuanya ๐ค semoga aku bisa lebih teratur up nya๐ฅฐ
rasanyaa ceritaku hambar ga ada rasa ๐คฃ๐คฃ๐คฃ