
Dena menatap sebuah rumah kecil yang besarnya hanya bisa dihuni oleh dua orang. Memang dikhususkan untuk orang perantau atau yang memang memilih untuk ngekost karena hemat waktu untuk pergi ke tempat bekerja. Terlihat minimalis dan rapi. Halamannya juga luas dan terlihat asri oleh banyak tumbuhan.
Dena tidak tau apakah di dalamnya juga rapi bersih ataukah berantakan dan tidak enak dipandang.
Hujan lebat masih mengguyur sebagian wilayah kota Jakarta. Dena mengambil payung di kursi di sampingnya yang sebelumnya memang sudah ia persiapkan sedari rumah tadi.
Dena memberanikan diri untuk keluar. Ia berlarian kecil untuk sampai di depan pintu rumah itu. Dena mengibaskan pelan pakaiannya yang terkena sedikit guyuran air hujan saat ia keluar dari mobil.
Tiba-tiba saja angin berhembus kencang. Dena mengeratkan pegangan pada jaketnya. Ia menarik nafas panjang kemudian menatap pintu kayu berwarna coklat di hadapannya. Tangannya sudah terangkat bersiap untuk mengetuknya.
Tok tok tok
Ketukan pertama sebanyak tiga kali tidak mendapat sahutan dari dalam. Mungkin saja tidak terdengar karena suara bising hujan yang menerpa atap rumah.
Tok tok tok
Ketukan ke-dua membuat Dena gugup. Mau kembali pulang pun rasanya sudah tanggung karena ia sudah berada di tempat.
Ceklek
Tiba-tiba saja pintu dibuka saat Dena membalikkan badannya membelakangi pintu. Mendengar suara dari arah belakangnya sontak Dena memutar tubuhnya.
Deg
Pandangan mereka bertemu. Dapat ia lihat sosok pria dengan wajah pucat tampak berdiri di ambang pintu dengan lesu.
Fairel memandang Dena tanpa ekspresi. Mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Masuk!" ucap Fairel mempersilahkan.
Dena tersadar. Ia mengintip sekilas bagian dalam rumah Fairel.
"Hitungan ke-tiga. Satu... dua..." Dena bergegas masuk ke dalam saat Fairel menyebutkan angka dua. Setelah memastikan Dena masuk dengan aman, Fairel menutup pintunya rapat.
Setelah menutup pintu, pria itu berjalan mendahului Dena. Dena baru tau kalau di dalamnya ternyata ada ruang tamu yang memiliki ukuran lebih kecil dari rumah pada umumnya.
"Silahkan duduk!" Fairel menghentikan langkahnya tanpa membalikkan badan.
Dena menurut. Ia duduk di kursi kayu ruang tamu tersebut. Sementara itu, sepertinya Fairel pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman.
Tidak lama kemudian pria itu kembali dengan membawa gelas kaca di tangannya. "Hanya ada air putih. Kebetulan di luar hujan, jadi, hati-hati mungkin airnya sedikit hangat." pria itu mendudukkan tubuhnya di hadapan Dena setelah meletakkan gelas itu di atas meja.
Dena menatap gelas di hadapannya. Ia langsung mengambil gelas itu dan benar saja saat ia sudah berada di dalam genggamannya, dapat Dena rasakan suhu airnya sedikit hangat. Perlahan Dena meminun air itu, terasa sangat hangat saat melewati tenggorokannya. Dena kembali meletakkan gelasnya setelah merasa cukup.
"Sudah?" tanya Fairel menatap gelas minuman itu yang tersisa setengah.
Dena menganggukkan kepalanya. Ia mencoba menatap Fairel. Namun, saat itu juga ia dibuat terkejut dengan tingkah Fairel. Pria itu malah mengambil gelas bekasnya dan meminum airnya hingga habis tidak tersisa.
__ADS_1
Dena menggigit bibir bawah bagian dalamnya menahan rasa gugupnya. Apakah keputusannya mendatangi Fairel adalah keputusan yang tepat?
Dena bingung. Ucapan yang sudah ia pikirkan saat di rumah kini pupus di dalam otaknya. Seketika ia lupa dengan apa yang ingin ja sampaikan.
Fairel menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Pria itu menatap Dena penuh tanda tanya. "Jadi... apa maksud dan tujuan lo datang ke sini?" pertanyaan Fairel justru semakin membuat otak Dena blank.
"Hemm???" Fairel mengubah posisinya, duduk dengan siku bertumpu pada lututnya.
"I- itu... emmm... gue bawain lo kerjaan yang harus diselesaikan malam ini juga." jawab Dena berbohong.
"Kerjaan? Meskipun gue lagi sakit, lo masih mau ngasih pekerjaan kantor?" tanya Fairel tersenyum miring.
"I-ya." jawab Dena terbata.
"Hmmm... mana?"
"Haaa??" beo wanita itu.
"Mana berkas yang harus gue kerjain? Malam ini juga kan?"
Dena langsung panik. Dirinya membuat kesalahan yang besar yang membuatnya malah terjebak dengan perkataannya sendiri. Ia sama sekali tidak membawa berkas yang harus Fairel kerjakan. Dan sekarang, Dena akan menjawab apalagi agar ia terbebas?
"Ada di mobil." kilah Dena.
"Oke, ambil dan bawa ke sini." pinta Fairel.
Tangan Dena yang berada di atas lututnya tampak menggenggam satu sama lain. Ia bahkan memainkan kuku-kuku jarinya.
"Hufttttt!!! Bilang aja yang sebenarnya. Gak usah pura-pura dengan banyak alasan. Gue tau, lo dateng ke sini bukan untuk ngasih gue pekerjaan. Tapi..."
Fairel menatap Dena intens. Tatapannya sendu namun itu terlihat mematikan bagi Dena.
"Maaf, soal kemarin..." Dena menggantung ucapannya seraya menundukkan kepalanya.
"Maaf?" kata Fairel.
Dena mendongakkan kepalanya.
Fairel berdiri meskipun badannya terasa sangat lemas. "Lo... pulang aja." usirnya begitu saja.
"Kenapa?" tanya Dena tidak terima. Padahal ia belum mendengar kata penerimaan maaf dari Fairel.
"Lo pulang aja." Fairel memalingkan wajahnya.
Yang ada di dalam pikiran Dena saat ini adalah Fairel marah kepadanya. Apalagi mengingat kemarin pria itu menyusulnya sampai ke rumah dan Dena malah membohonginya.
"Lo, marah??" tanya Dena.
__ADS_1
"Ck! Marah? Kenapa lo bisa berpikiran kalau gue marah?"
"Sikap lo, gak kayak biasanya." jawab Dena.
"Gak selamanya sikap itu terus sama. Ada kalanya seseorang akan berubah. Salah satunya karena waktu." balas Fairel.
"Gue datang ke sini punya niatan baik. Gue mau minta maaf karena kemarin udah ninggalin meeting gitu aja."
"Meeting? Lo serius bilang cuma karena meeting?"
Dena menganggukkan kepalanya ragu.
Fairel menarik nafasnya dalam untuk meredakan emosinya. "Lebih baik lo pulang. Percuma lo datang jauh-jauh ke sini."
Dena tidak kalah sama dengan Fairel. Ia menahan sesak di dadanya begitu mendengar lontaran kalimat Fairel seakan menghantam dadanya.
"Gue datang baik-baik cuma mau minta maaf. Dan begini perlakuan lo?" Dena menaikkan nada suaranya.
"Seperti yang lo lihat kan? Lo pulang, gue gak mau nanti disalahin karena lo kenapa-napa. Di luar juga hujan, kenapa lo ngeyel banget sih dateng ke sini cuma karena hal yang gak penting."
"Kalau lo gak mau pulang terserah."
Fairel membalikkan badannya bersiap untuk pergi. Lebih tepatnya masuk ke kamarnya. Namun, baru beberapa ia melangkah tiba-tiba Fairel merasakan dua tangan melingkar di perutnya. Langkahnya terhenti begitu juga dengan detak jantungnya yang tiba-tiba terhenti saat itu juga.
Begitu melihat Fairel membalikkan badannya, Dena tidak dapat lagi mengontrol tubuh dan perasaannya. Ia berlari langsung menubruk tubuh Fairel. Wanita itu memeluknya erat, sangat erat.
"Gue gak mau lepas kendali." kata Fairel berdiri bak patung.
Dena menggelengkan kepalanya kuat. "Maaf. Gue minta maaf. Kemarin gue emosi liat lo meluk cewek lain." biarlah Dena menyesali perkataannya nanti. Sekarang, ia hanya ingin menyampaikan apa yang ia rasakan tanpa menutupi satu pun rahasia.
Fairel masih diam mematung, menunggu perkataan yang ingin ia dengar langsung dari mulut Dena.
"G-gue cemburu kalau lo deket sama cewek lain." keluarlah sudah apa yang ingin Fairel dengar selain dari ungkapan cinta.
Pria itu melepaskan pelukan Dena lalu membalikkan badannya. Ia menangkup kedua sisi wajah Dena dan menatap bola matanya.
"Lo sadar gak sih dengan apa yang lo ucapin?" tanya Fairel.
Dena langsung mengangguk yakin. "Gue sepenuhnya sadar."
"Lo mau pulang sekarang atau..." Fairel menjeda perkataannya. Ia mengusap lembut pipi Dena. Tapi, pandangannya malah tertuju pada bibir wanita itu. "Gue lepas kendali." bisiknya dengan nafas hangatnya menerpa telinga Dena. Seketika wanita itu dibuat merinding.
"Lo masih demam." balas Dena berusaha menahan pria itu.
Bukannya menghentikan niatnya, Fairel malah tersenyum mengeringai bak serigala yang ingin memakan mangsanya. Dena merinding. Bulu kuduk di seluruh tubuhnya meremang.
.
__ADS_1
.
.