
"Kamu jangan khawatir. Om yang akan mengurus surat pengunduran diri kamu."
"Maksud Om apa?"
"Kalian kalau dibiarkan pasti akan menjadi. Mungkin, keputusan ini lebih baik untuk kalian berdua. Om akan mengurus semuanya termasuk surat pengunduran diri kamu."
Dena beringsut mundur saat menguping pembicaraan sang Papa ruang kerjanya. Hatinya langsung sesak saat sang Papa meminta Fairel untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai sekretaris Dena. Saat mendengar itu, Dena langsung pergi tanpa mendengar perkataan sang Papa lebih lanjut. Kenapa? Apakah sang Papa tidak menginginkannya untuk menjalin hubungan lebih lanjut bersama Fairel?
Wanita itu pergi dan langsung masuk ke kamarnya dan menguncinya dari dalam. Ia tidak menangis, hanya saja hatinya terasa sesak dan nyeri sekaligus. Dena menarik nafasnya dalam untuk mengurangi rasa nyeri di hatinya. Sesak, kedua matanya menyembun. Ia tidak menyangka kalau kejadian tadi berujung seperti ini.
Tubuh wanita itu merosot di belakang pintu dan terduduk di sana sambil menelungkupkan wajahnya diantara lipatan lengannya. Untuk yang kedua kalinya Dena seperti merasakan patah hati. Pertama saat ia mengutarakan isi hatinya dan langsung ditolak oleh Fairel. Mungkin dulu Dena wajar karena ia menganggap sebagai cinta monyet. Namun, setelah bertahun-tahun ia berusaha untuk melupakan, tapi, hatinya malah semakin goyah.
Tidak pernah berkomunikasi selama 6 tahun lamanya karena Dena benar-benar memutus komunikasinya dulu. Tapi, takdir malah mempertemukan mereka di versi dewasa. Hari demi hari Dena membangun dinding kuat untuk pertahanannya agar hatinya tidak kembali jatuh ke orang yang sama. Tapi, justru itu yang semakin membuatnya tersiksa. Dan pada akhirnya ia pun menyerah dan hatinya kembali jatuh kepada orang yang sama.
Tok tok tok
Saat sedang melamun, tiba-tiba saja Dena disadarkan oleh sebuah ketukan pintu kamarnya. Wanita itu sempat terdiam tanpa merubah posisinya. Ia terduduk sambil menekuk kedua lututnya duduk di lantai dingin.
Ketukan pintu itu kembali terdengar yang membuat Dena mau tidak mau membukakan pintu.
Ceklek
Begitu pintu terbuka, Dena melihat sosok pria paruh baya yang menjadi cinta pertamanya. Ya, anggap saja begitu karena kebanyakan orang berkata bahwa cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Tapi, itu berlaku untuk sebagian orang, dan sebagiannya lagi tidak pernah merasakan apa itu cinta pertama dari sang ayah.
Dena terdiam sejenak sambil menatap papanya teduh. Mata yang selalu berbinar itu kini meredup sementara.
"Ayo turun. Ada yang mau Papa bicarakan." dari gelagatnya saja Dena sudah menebak apa yang ingin Papanya bicarakan.
Dena hanya menganggukkan kepalanya dan ia pamit sebentar untuk membasuh wajahnya. Setelah merasa kembali segar, Dena segera menuju lantai bawah di ruang tamu dimana ada anggotanya kedua orang tuanya beserta dengan sosok laki-laki yang duduk tegak di sofa.
Wira langsung meminta putrinya untuk duduk di samping sang Bunda.
"Jadi... Papa udah memutuskan."
Nafas Dena terhenti sejenak menanti keputusan Papanya.
"Kalau kalian..."
Sepertinya Wira senang sekali menggantungkan ucapannya. Sementara putrinya sudah gugup, sedangkan pria muda di hadapannya malah terdiam sambil senyum-senyum sendiri. Dena meliriknya tajam seorang sebagai aksi protesnya karena pria itu malah santai-santai saja berbeda dengan dirinya yang dilanda kalut.
Sebelum melanjutkan perkataannya, Wira menatap istrinya terlebih dahulu. Cahya yang melihat itu pun segera menganggukkan kepalanya.
"Bulan depan kalian akan menikah."
Kedua bola mata Dena membelalak besar. "Haaa??" beo wanita itu tidak paham. Dena tidak salah dengar bukan? Tapi, sepertinya itu mimpi karena dari hasil mengupingnya tadi Dena mendengar kalau sang Papa meminta Fairel untuk mengundurkan diri. Apa lagi itu kalau bukan memintanya untuk segera mengakhiri hubungan mereka.
Fairel yang berada di seberang sana hanya melipat bibirnya dalam melihat respon wanitanya. Wanitanya?
"Bun." Dena melirik sang Bunda di sampingnya. Namun, yang ia dapat hanyalah elusan lembut di tangannya.
"Perlu Papa ulangi?" tanya Wira geleng-geleng kepala melihat putrinya.
Dena mengangguk setuju.
"Papa udah memutuskan kalau bulan depan kalian akan menikah. Papa gak ngebiarin kalian terus-terusan begitu, beruntung yang melihat itu hanya Papa dan Bunda kamu."
Wajah Dena kembali melongo seakan tidak percaya. "Bukannya Papa minta Arel buat ngundurin diri? Trus apa ini?" tanya Dena secara tidak langsung membuka rahasia kalau dirinya tadi menguping pembicaraan kedua pria tersebut.
__ADS_1
"Ehhh??" Wira menatap putrinya menggoda. "Kamu nguping?"
"E-enggak! Ma-mana ada nguping." gagap wanita itu tertangkap basah.
Wira langsung terkekeh pelan melihatnya. "Kalau mau nguping jangan setengah-setengah. Dengerin sampai habis, pantes keluar kamar lemes lesu gitu." nasihat Wira aneh.
"Papa minta Arel untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya itu karena Papa mau mulai sekarang Arel membangun usahanya sendiri."
Kecemasan di hati Dena langsung hilang seketika begitu tau ia telah overthinking kepada Papanya. Sejenak ia mengingat sesuatu.
"Soal syarat itu--"
"Syarat macam apa itu? Kamu mau membunuh Arel?" secepat mungkin Dena menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Papanya.
"Membeli seluruh saham perusahaan kamu itu bukanlah mudah. Iya kalau bayarnya pakai daun, lah ini kan pakai uang." omel Wira membuat Dena menggaruk kepalanya tidak gatal.
"Jadi?" ucap Dena.
"Jadi?" ulang Wira. "Buat apa syarat gak berguna itu!" sentak Papanya membuat Dena hanya mengangguk dibuatnya.
Kini semuanya beban yang ada di dalam pikiran Dena langsung lega tentang hasil mengupingnya tadi. Sesaat, ia menatap Fairel di hadapannya. Pantas saja sedari tadi pria itu tampak bahagia saat Dena menatap bola mata hitamnya yang terlihat berseri-seri dan berbinar.
Hanya sebentar Dena memandang Fairel karena saat itu juga ia langsung mengalihkan pandangannya kepada Papanya.
"Papa ingat satu pesan Kakek kamu dulu kalau cucu kesayangannya nanti menikah, maka akan digelar di kampung halamannya." ujar Wira menarik atensi Dena dan Fairel.
"Kakek?" kata Dena bingung.
"Iya, gak lama setelah Kakek kamu meninggal, Papa gak sengaja nemuin surat di lipatan pakaiannya. Ya, ada beberapa kalimat yang Kakek kamu sampaikan salah satunya permintaannya itu."
Kepala Dena menunduk. Ia seketika teringat dengan almarhum Kakeknya yang mungkin saja sudah tenang di alam sana. Tiba-tiba saja ia terisak pelan. Jujur, Dena sangat amat merindukan sosok pria tua itu yang selalu membuat bibirnya terus melengkung ke atas. Kenangan indah langsung berputar di memori ingatannya.
.
"Kakek abis dari kebun. Nih, bawa sayur." Kakek menunjukkan isi keranjangnya.
"Wuih! Ini apa, Kek. Wortel ya? Tapi, kok warnanya putih. Perasaan Dena wortel itu warnanya jingga deh." celetuk Dena yang begitu penasaran langsung mengambil sayur itu. Membolak-balikkannya saking penasarannya.
"Ini namanya lobak. Eh! Eh, jangan dimakan, Cu!" Kakek langsung merebut lobak di tangan Dena karena gadis itu hampir memakannya.
"Ish! Kenapa, Kek? Dena tuh penasaran gimana rasanya."
"Jangan dimakan, Cu. Ini gak enak kalau dimakan mentah, beda lagi dengan wortel yang dimakan mentah tuh enak." jelas Kakek.
"Yahh... Dena kira, Kek." balas Dena murung.
"Mending kamu bantuin Kakek masak yuk! Sekalian belajar nanti jadi istri yang baik buat suaminya."
"Kakek! Jangan bahas istri-istrian, Dena gak suka." ujar Dena memberengut kesal.
.
"Kek, Dena udah siap nih." seru Dena keluar rumah menemukan Kakeknya tengah duduk di kursi.
"Udah ya? Yuk, kita berangkat sekarang."
"Naik sepeda?" tanya Dena melihat Kakeknya menyeret sepeda ontel yang terkenal di zamannya dulu.
__ADS_1
"Gak naik motor aja, Kek?" ujar Dena lagi.
"Naik sepeda aja biar lebih sehat, dan juga gak menimbulkan polusi. Kenapa? Kamu mau naik motor? Memangnya tau?" ledek sang Kakek membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal.
"Ish! Kakek mah suka ngeledekin cucunya sendiri." balas Dena.
"Hahahaa... makanya, Cu, jangan banyak protes. Ayok, sini Kakek bonceng pakai sepeda. Tenang aja, Kakek masih kuat kok buat ngayuhnya. Lagian badan kamu juga gak seberapa."
"Beneran, Kek? Gak nyunsep di parit kan nantinya??"
"Iya, enggak. Mau gak nih? Kalau gak mau Kakek tinggal aja ya?" goda Kakek yang sengaja mengayuh sepedanya sedikit.
"Eh! Eh. Mau, Kek, mau. Jangan tinggalin Dena sendirian." gadis itu langsung naik ke belakang. Berpegangan erat pada pinggang Kakeknya.
.
Bayang-bayang itu justru berputar di memori kepalanya. Dena melamun sampai tidak sadar kalau namanya dipanggil berulang kali.
"Eh?" gadis itu tersentak segera menyeka sudut matanya yang basah.
"Kamu nangis?"
Seketika Dena mengedarkan pandangannya dan hanya menemukan keberadaan Fairel di sampingnya yang saat itu mengusap punggung belakangnya pelan.
"Papa sama Bunda mana?" tanya Dena.
"Pamit buat istirahat." jawab Fairel.
"Kenapa, hm?" tanya Fairel menundukkan sedikit kepalanya untuk menatap wajah Dena dari dekat.
"Enggak. Gak apa-apa kok." kilah Dena padahal ia sedang melamun tentang sang kakek.
"Kamu keberatan?" tutur Fairel disambut kernyitan dahi wanita itu ke atas.
"Maksudnya?" tanya Dena bingung.
"Tentang pernikahan ini." balas pria itu.
"Soal itu--"
"Gak apa-apa kalau kamu belum siap. Aku masih bisa nunggu. Satu tahun, dua tahun, bahkan lima tahun pun akan aku tunggu." Fairel menatap bola mata Dena dalam.
"Apa kamu belum siap karena aku belum mapan? Atau aku belum memenuhi syarat 2 tahun yang kamu berikan? Atau, atau..." perkataan Fairel terhenti saat ia merasakan bibirnya dikecup singkat. Dan ternyata Dena lah pelakunya.
Wanita itu menjauhkan wajahnya. Tangannya terangkat untuk menyentuh tahang tegas Fairel dan mengelusnya pelan.
"Aku gak masalah tentang kamu mapan atau belum, atau dari sisi ekonomi. Dan aku juga gak masalah tentang syarat itu. Mulai sekarang, syarat itu aku tarik. Aku juga gak masalah kalau menemani kamu mulai sekarang. Ayo, bangkit. Tunjukkan kalau kamu itu hebat bukan hanya tentang prestasi kamu, tapi juga tentang kerja keras kamu." ucap Dena menenangkan kekalutan hati pria itu.
Mata Fairel sudah berkaca-kaca hanya karena kalimat wanita itu. Terasa sangat dalam di hatinya hingga Fairel sulit untuk membalasnya dengan perkataan juga. Ia menggenggam tangan Dena yang mengelus rahangnya. Fairel membawa tangan itu untuk ia kecup. Lama, hingga ia merasa puas baru Fairel melepaskannya. Dena hanya diam tidak memprotes hal itu.
"Makasih. Terima kasih karena sudah mau menerima pria biasa ini." ucap Fairel menatap Dena dalam. Dena pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat. Ia sama sekali tidak ragu dengan tanggungjawab Fairel nantinya.
.
.
.
__ADS_1
halo ges๐ฅฐ kita langsung masuk ke cerita intinya ya๐ฅฐ semoga ceritanya gak membosankan ๐ค