
Suara jangkrik dan katak terdengar saling bersahutan. Maklum saja daerahnya didominasi oleh pepohonan dan juga hutan-hutan rimbun. Seminggu sebelum acara dilangsungkan, Dena dan keluarganya sudah tiba di kampung halaman Kakeknya. Banyak warga yang antusias menyambut kedatangan Dena yang akan melangsungkan pernikahannya dengan seorang pria yang satu desa dengannya. Terdengar begitu langka karena mereka tiba-tiba dikejutkan dengan kabar itu. Namun, tidak sedikit warga di sana turut bahagia dan mendo'akan yang terbaik untuk calon pasangan pengantin tersebut.
Melangsungkan acara pernikahan di kampung atau desa, otomatis mereka harus mengikuti adat istiadat setempat.
Suara gelak tawa terdengar saling bersahutan di sebuah kamar yang hanya bisa dihuni maksimal oleh 5 orang.
"Eh, kalian tuh ya. Jangan kenceng-kenceng." tegur Dena kepada ketiga wanita yang asik membuat gosip yang tidak-tidak tentangnya. Setelah berpisah bertahun-tahun lamanya akhirnya mereka dipertemukan di acara sakral Dena nanti.
"Hahahaha... gue tuh penasaran kok bisa sih kalian sampai di tahap ini."
"Trus kapan lo jatuh cinta sama Arel?" pertanyaan Anna membuat Dena yang sedang asik dipakaikan hena oleh Dewi itu langsung terdiam.
"Jauh tuh, mungkin sejak pertama kali ketemu." sahut Dewi mewakili.
"Wi, apaan sih!?" sentak Dena.
"Salah ngomong kayaknya gue." ujar Dewi tanpa rasa bersalah. Ia tetap melanjutkan pekerjaannya membuat hiasan cantik di punggung tangan Dena. Sementara jemari wanita itu dibungkus menggunakan plastik supaya inainya tidak berjatuhan.
Risty menjatuhkan badannya di samping Dena yang duduk di sisi kasur, sementara ia berbaring di tengah-tengah. Wanita yang usianya lebih tua dari Dena itu juga masih lajang, alias belum menikah.
"Na, lo gak takut apa?" tanya Risty dibalas gelengan kepala oleh Dena.
"Takut kenapa?" tanya wanita itu bingung.
Seketika Risty bangkit dan duduk tegak sambil menaruh bantal di pangkuannya. Ia menatap satu per satu sahabatnya mulai dari Anna, Dewi, dan berhenti di Dena.
"Lo gak takut malam pertama?" ujar wanita itu setengah berbisik.
"Uhukkk uhukkk..." seketika Dena langsung tersedak ludahnya sendiri. Ia menatap ngeri atas pertanyaan sahabatnya itu.
"B-bisa gak sih j-angan ngomong i-itu." ujar Dena tergagap. Bagaimana bisa ia menjawab hal yang menurutnya sangat privasi. Bisa-bisanya nanti dijadikan bahan gibahan sahabatnya.
Anna langsung menatap Dena dengan raut wajah jahilnya. "Uhuyyy...ada yang gak sabar malam pertama nih." sahabatnya itu juga menaik turunkan alisnya menggoda Dena.
Dena seakan menulikan telinganya pura-pura tidak mendengar apa yang sahabatnya katakan.
"Eh ya, itu si Arel beneran mau ngundurin diri dari pekerjaannya?" tanya Dewi yang menjadi malaikat penolong Dena.
Seketika Dena menghembuskan nafasnya lega. "Belum tau, dua belum mutusin buat ngundurin atau menetap."
"Gue saranin sih jangan ya, secara kan nanti kalau kalian kangen mah tinggal ketemuan aja soalnya kan satu kantor hihihi..." Risty terkikik geli.
"Tapi, Arel diminta Om Wira untuk membangun bisnisnya sendiri. Lo ada gak dikasih tau apa gitu sama Arel?" tanya Anna.
Dena menggelengkan kepalanya.
"Wajar sih, mungkin dia juga butuh waktu buat mikirin semuanya. Nah, nanti kalau tinggal bareng kan jadi mudah buat komunikasi.
"Gue masih belum ada persiapan apa pun. Ini nikah aja dadakan." sahut Dena.
"Kalau mau nyiapin diri mah sampai kapan pun bakalan gak siap." papar Dewi.
"Trus kalian gimana?"
__ADS_1
"Apanya?" beo Anna.
"Ya kalian, katanya Dicky dan Rafael juga pulang."
"Dengan berat hati pulang, gak enak lah kalau gak dateng. Secara kan kita itu udah temenan, belum lagi di kampung."
"Trus, kalian berdua udah punya calon?" tutur Dena lagi.
"Calon?" Risty dan Anna saling kompak saling pandang sambil menunjuk dirinya sendiri. "Pacar aja gak punya eh udah nanyain calon." celetuk Risty.
"Yahh, sayang banget. Gue pengen kalian juga cepet-cepet nyusul. Kalah sama Dewi nih, dia mah udah ada pawang." Dena melirik Dewi.
"Serius?" tanya keduanya kompak dan mendempeti Dewi lengket.
"Kok lo gak pernah cerita sih?"
Yang dilakukan Dewi hanya diam sambil berusaha fokus dengan pekerjaannya. Jangan sampai motif-motif cantik yang ia buat hancur berantakan karena tidak fokus.
"Wi. Ayo dong!" panggil Anna.
"Gak ada." jawab Dewi irit.
"Ridwan juga bakalan dateng loh, Wi. Gue udah undang dia ke sini." perkataan Dena sontak membuat Dewi menghentikan gerakannya dan menatap wanita itu tajam.
"Owh, jadi namanya Ridwan." Risty mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Bukan siapa-siapa." balas Dewi cuek.
"Yahhh... iya deh, kalau gitu gue mau ajak dia kenalan deh. Siapa tau masuk dalam kriteria cowok idaman gue kan ya." seru Anna.
"Gak ada yang ngelarang."
"Wooo..." mereka bersorak saat mendengar perkataan Dewi.
Tiba-tiba suasana langsung sunyi saat pintu kamar terdengar terbuka. Muncullah sang Bunda Dena yang saat itu membawakan mereka minuman dan cemilan.
"Silahkan nikmati malam panjang ini, Sayang, sebelum besok kamu menjadi istri orang." celetuk Cahya sambil meletakkan nampan di atas meja.
Sedangkan di tempat yang berbeda tampak melakukan hal yang sama. Mereka mengobrol banyak sebagai pelepas rindu karena telah berpisah lama.
"Saya terima nikahnya, saya terima nikahnya, saya terima nikahnya." gumam Fairel menghapalkan kalimat untuk ijab qabul besok pagi. Tangan pria itu mending is lantaran gugup.
"Rel, santai aja, rileks. Dari tadi lo ngucapin itu mulu. Mana udah lewat ratusan kali." tegur Dicky menepuk pundak Fairel.
Fairel menghembuskan nafas panjang. "Hufttt!! Gak tau deh kenapa gue jadi gugup gini. Padahal sebelumnya enggak."
"Efeknya kuat banget yah?" tanya Rafael sampai meringis melihat sahabatnya gerogi.
"Banget. Kayaknya gue bakalan susah tidur deh." ucap Fairel.
"Gini deh, sekarang yang lo bayangin itu yang enaknya aja. Ya mungkin kayak mal pertama."
Pletakk
__ADS_1
Sontak saja Rafael melayangkan pukulan di kepala Dicky.
"Duhhh! Kok main pukul aja sih. Gak tau apa itu sakit." ringis Dicky mengusap belakang kepalanya.
"Saran lo aneh."
Rafael bangkit dari duduknya menuju meja dan mengambil dua barang penting. Pria itu menyodorkan bungkus rokok ke hadapan Fairel.
"Nih, ini aja buat solusinya. Tenangin diri lo, jangan sampai ngerusak acara besok pagi." usul Rafael menawarkan Fairel untuk merokok.
Fairel menatap bungkus rokok itu dengan ragu. Ia sudah lama tidak menghisap barang itu.
Melihat keraguan Fairel, Rafael langsung membuka bungkusnya dan mengambil satu batang rokok dan menyelipkannya di antara jari telunjuk dan tengah Fairel.
"Nyalain sendiri." ujar Rafael memberikan pematik api kepada Fairel.
"Gue mau satu, El." pinta Dicky menelentangkan telapak tangannya.
"Nih, ambil sendiri." pria itu memberikan bungkus rokoknya kepada Dicky.
Alhasil keduanya mengobrol sambil menghisap benda yang membuat sebagian orang candu.
Akhirnya Fairel merasakan sedikit ketenangan di hatinya walaupun caranya di bilang tidak baik. Pria itu merasakannya kembali setelah bertahun-tahun tidak merokok. Ya, anggap saja sekarang dirinya khilaf.
"Lo mau bikin usaha apa, Rel?" tanya Dicky. Asap rokok mereka berterbangan di udara dan dibawa angin malam karena saat ini mereka bersantai di teras depan.
"Bagusnya apa?" Fairel malah bertanya balik.
"Kok tanya saya, ya mana saya tau." ujar Dicky dengan logat bicaranya.
"Lo bisa tuh bikin usaha kuliner." saran Rafael.
"Tapi gue gak terlalu tau memasak."
"Bisnis roti." ujar Rafael lagi.
"Gue gak bisa bikin adonan roti." jawab Fairel santai.
"Astaga! Apa yang lo tau, Rel! Bikin adonan roti aja kagak tau, giliran bikin adonan anak mah nomor satu." ceplos Dicky kelepasan.
Fairel yang gemas langsung menendang tulang kering kaki Dicky membuat sahabatnya meringis.
"Lo juga gitu nanti."
"Jangan bahas ini dulu. Bahas dulu nih bisnis apa yang mau lo buka." lerai Rafael.
"Lo punya bakat apa?" tanya Dicky serius.
"Apa ya?" Fairel menatap langit malam yang terlihat bersinar karena cahaya bukan dan gemerlap bintang.
"Dulu gue selalu mikir untuk membuka usaha kopi. Ya kayak cafe gitu buat anak muda nyantai."
"Nahh!!" sorak Dicky dan Rafael kompak.
__ADS_1
"Sebelumnya kan lo udah pernah jadi barista, jadi, tau lah cara meracik kopi yang enak. Nanti yang pertama nyobain racikan kopi itu gue aja."
"Lo siapa? Yang ngerasain racikan kopi gue ya istri gue dulu lah. Yakali orang luar." Fairel menyunggingkan senyumnya menatap sahabatnya meledek.