My Fierce Boss

My Fierce Boss
Sakit


__ADS_3

Dena sudah terlihat tenang dari sebelumnya. Pagi hari ini ia berniat untuk meminta maaf kepada Fairel karena telah meninggalkan pria itu tanpa berpamitan. Sudah lumayan lama Dena menunggu kedatangan Fairel di kediamannya, namun, pria itu belum juga menampakkan dirinya. Karena tidak ingin dicap buruk oleh karyawan, wanita itu memutuskan untuk berangkat sendiri.


Setelah tiba di kantornya, Dena langsung menuju lantai atas. Saat melewati ruangan Fairel, ternyata ruangan itu kosong tidak berpenghuni. Dena bingung. Ia mencoba untuk positif thingking mungkin saja pria itu terlambat lagi datang ke kantor.


Namun, sudah satu jam kemudian pria itu belum juga datang. Dena yang dipenuhi banyak pertanyaan sekaligus khawatir langsung menelfon bagian HRD untuk menanyakan tentang ketidakhadiran Fairel saat ini.


"Mohon maaf, Bu. Saya lupa memberitahu bahwa sebelumnya Pak Fairel sempat izin tidak masuk ke kantor kepada saya. Pak Fairel juga menitipkan rasa maafnya kepada Ibu karena tidak bisa bekerja hari ini."


Alis dan kening Dena mengerut. Fairel izin tidak masuk kantor?


"Alasannya?" tanya Dena melalui sambung telfon kantor.


"Pak Fairel mengatakan kalau dirinya sakit, jadi, tidak bisa datang ke kantor."


Deg


Jantung Dena berdetak cepat mendengarnya. Pikiran Dena langsung tertuju pada Fairel.


"Ya sudah, tolong nanti kamu kirim alamat tempat tinggalnya kepada saya." pinta Dena.


"Baik, Bu."


Tut


Dena langsung memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak. Tidak lama kemudian ada bunyi notif pesan masuk di ponselnya. Ternyata pesan itu adalah dari karyawan HDR tadi yang mengirimkan alamat kepadanya.


Dena kembali menyambung panggilan telfon kantor kepada OB.


"Ada yang bisa dibantu, Bu?" tanya seseorang di seberang sana.


"Tolong kamu datang ke ruangan saya segera!"


Tutt


Panggilan terputus.


Tidak lama setelah itu pintu ruangannya diketuk. Dena langsung mempersilahkan masuk.


"Noel. Nama kamu Noel kan?" tanya Dena kepada seorang pria yang bertugas sebagai OB di kantornya.


"Iya, Bu." jawab Noel.


"Saya ada pekerjaan untuk kamu."

__ADS_1


"Apa, Bu?"


Dena tidak menjawab, melainkan kembali duduk di kursinya hanya untuk mengambil kertas kecil dan pulpen. Wanita itu menuliskan sesuatu di atas kertas putih kemudian memberikannya kepada Noel.


"Antar buah-buahan ke alamat itu. Jika dia bertanya siapa pengirimnya, kamu bilang saja itu dari perusahaan."


Noel menatap tulisan tangan Dena di kertas itu. Noel yang tidak tau bahwa itu adalah alamat Fairel pun mengangguk menurut saja.


"Ini uangnya. Kalau ada kembaliannya untuk kamu saja." Dena mengunjukkan beberapa lembar uang berwarna biru kepada Noel.


"Baik, Bu. Terima kasih. Kalau begitu saya pamit."


"Jangan lupa bilang itu kiriman dari perusahaan. Jangan menyebutkan nama saya."


"Siap, Bu."


Selepas kepergian Noel, Dena kembali duduk di kursi kerjanya dengan perasaan tidak menentu. Ingin sekali Dena menjenguk langsung, namun, ia masih ingat dengan pekerjaannya. Dena harus meng-handle pekerjaannya seorang diri tanpa dibantu oleh sekretaris.


Saat jam makan siang pun Dena masih berperang dengan pekerjaannya. Kala perutnya berbunyi baru ia menyadarinya kalau jam makan siang sudah terlewat. Alhasil Dena terpaksa keluar ruangannya. Dena yang malas untuk bepergian keluar memilih untuk makan di kantin kantor saja.


.


.


.


Dena menatap chat roomnya dengan Fairel. Chatnya tadi siang masih belum dibalas ataupun dilihat. Hanya centang satu dan itu berhasil membuat Dena semakin khawatir. Saat siang tadi sesudah Noel mengantarkan kirimannya, Dena sempat bertanya tentang keadaan Fairel. Dan Noel hanya mengatakan bahwa Fairel demam menggigil.


Ia memberanikan diri untuk menelfon Fairel. Tiga kali panggilan dan yang menjawab hanyalah mbak operator yang mengatakan sebaiknya mengirim pesan saja atau apa lah itu.


Dena menatap ke arah luar melalui balkon, hujan lebat tidak berhenti disertai dengan angin dingin. Ia saja bahkan berpakaian tebal dan itu masih terasa dingin.


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Dena memutuskan untuk menemui Fairel saja dari pada ia dihantui rasa khawatir dan rasa bersalah karena sampai sekarang pun ia belum meminta maaf tentang kejadian kemarin siang.


Dena menyambar kunci mobil dan jaket tebal di dalam gantungan lemari kemudian memakainya. Wanita itu lekas keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga sampai akhirnya ia tiba di lantai bawah.


Sesampainya di bawah ia tidak sengaja berpapasan dengan sang Papa yang kebetulan baru saja keluar dari ruang dapur.


"Malam-malam gini mau kemana? Di luar hujan." tanya Wira meneliti penampilan putrinya dari bawah sampai ke atas.


"Dena ada urusan penting." jawab wanita itu.


"Sepenting apa? Di luar bahaya, apalagi hujan deras. Papa gak mau kamu sampai kenapa-napa." Wira tidak memberikan izin kepada Dena.

__ADS_1


"Dena udah gede, Pa. Lagian nanti bawa mobilnya gak ngebut. Janji deh. Boleh ya?" bujuk Dena.


"Enggak ya tetap enggak!" tolak Wira sekali lagi.


"Papa ihh!" Dena mengerucutkan bibirnya sebal.


"Gak mempan." Wira bersiap-siap untuk kembali ke kamarnya. Dena yang tidak kehabisan ide langsung mendahului Papanya. Wanita itu berlarian menaiki anak tangga kamar Papanya.


"Jangan lari-larian hei!" teriak Wira menegur putrinya. Namun, Dena sudah tiba duluan di kamar Papanya. Wanita itu masuk dan mengunci pintunya membuat sang Papa mengela nafas panjang.


"Anak nakal! Papa mau tidur."


Wira mengetuk-ngetuk pintu kamarnya berharap Dena akan membukakan.


Sementara itu, Dena tengah mengadu kepada Bundanya. Ia menjelaskan tujuan sebenarnya untuk izin keluar. Setelah mendapatkan izin dari ibunda ratu, Dena malah tersenyum bangga saat membukakan pintu untuk Papanya.


"Dadahhhh... Dena udah dapat izin dari Bunda. Papa aja yang pelit. Wlekkk!!" Dena berlarian menuruni anak tangga, melewati Papanya begitu saja.


"Astagaa!! Anak siapa kamu, hah?!"


"Anak Bunda Cahya." teriak Dena dari pertengahan anak tangga.


"Itu Dena kenapa diizinin keluar sih?" protes Wira setelah menghampiri istrinya yang tampak berbaring di atas kasur.


"Di luar bahaya tau, hujan lebat lagi." sambung pria itu mengomel.


Untung saja putri bungsu mereka sudah tertidur lelap di box bayi. Bayi berusia dua tahun itu tampak lelap apalagi cuaca dingin membuatnya tidak terusik sama sekali.


Cahya terkekeh melihat omelan suaminya. "Emangnya Mas mau gak aku izinin nyentuh aku?" tanya Cahya memasang ekspresi jahil yang memiliki makna tersembunyi dibalik kalimatnya.


"Astaga! Anak sama Bunda sama aja ternyata." Wira hanya bisa pasrah saja mengizinkan putrinya untuk keluar dari pada nanti malam ia akan tersiksa.


Sementara itu, Dena sempat singgah di warung makan hanya untuk membeli bubur. Karena hari sudah malam ditambah hujan lebat membuatnya susah untuk mencari karena banyak warung makan yang sudah tutup.


Setelah berjuang mendapatkan apa yang ia inginkan, Dena langsung bertolak menuju tempat tinggal Fairel. Dena tidak tau apakah caranya akan berhasil atau gagal.


.


.


.


Papa Wira gak berkutik denger ancaman Cahya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

__ADS_1


__ADS_2