
Fairel memegang kresek hitam di tangannya dengan perasaan campur aduk. Ya, Fairel berhasil mencegat Noel saat di depan lift tadi.
Flashback on
"Tunggu!"
Noel menghentikan langkahnya saat hampir saja masuk ke dalam lift. Pemuda itu berbalik badan dan menatap Fairel bingung.
"Iya? Ini Pak Fairel ya?"
"Hu'um, iya."
"Ada apa, Pak?" tanya Noel.
"Tadi saya gak sengaja dengar pembicaraan kalian di depan. Itu, obat?"
"Iya, Pak. Ini obat untuk Bu Boss." jawab Noel.
"Obat apa?"
"Tadi pagi Bu Boss minta dibuatin coklat panas. Nah, gak lama dari itu dia minta beliin obat."
"Biar saya saja yang ngasih ini. Kamu lanjut kerja." kata Fairel langsung mengerti setelah mendengar penjelasan singkat dari Noel.
"Beneran, Pak?" tanya Noel.
"Iya, beneran. Sini! Kasih ke saya." Fairel mengulurkan tangannya untuk meminta kresek itu dari Noel. Noel memberikan kresek hitam itu kepada Fairel sambil tersenyum mengucapkan terima kasih. "Makasih ya, Pak. Kalau gitu saya pamit. Sekali lagi makasih, Pak."
"Iya, sama-sama."
Flashback off
"Kasih sianida beneran aja kali ya biar seneng." gumam Fairel tersenyum geli saat mengingat perkataan Dena tadi.
Sesampainya di depan pintu ruangan Dena, Fairel tidak langsung mengetuk pintunya. Melainkan masih berdiri sambil berpikir. Entah kenapa ada sedikit niatannya untuk menjahili wanita itu.
Setelah berdiri sela beberapa saat, akhirnya Fairel memutuskan untuk mengetuk pintu itu. Tidak lama ada sahutan dari dalam.
Fairel mendorong pelan pintunya disusul dengan dirinya ikut masuk. Dari ambang pintu ia bisa melihat aktivitas Dena yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ia berjalan mendekati Dena dan berdiri tepat di samping meja kerjanya.
"Titipan Noel." Fairel menyodorkan kresek hitam ke hadapan Dena.
Fokus Dena buyar, ia menjauhi berkas-berkas itu lalu menatap kresek di tangan Fairel.
Saat kesadarannya sudah terkumpul, Dena langsung merebut kresek itu dari tangan Fairel. Setelah mengambil itu, Dena tampak mengusir Fairel dengan tangan seperti mengusir ayam.
"Bicara, Boss." ujar Fairel setengah meledek. Ia tau kenapa Dena diam saja. Biasanya Dena selalu melontarkan kata-kata tajam kepadanya dan mengusirnya langsung.
Dena menatap tajam Fairel. Ingin sekali ia mengutuk pria di hadapannya saat ini. Berani-beraninya Fairel meledeknya.
"Kenapa? Gak bisa ya?" Fairel semakin menantang Dena.
Dena semakin melototkan matanya, namun, itu tidak digubris sama sekali oleh Fairel. Malah pria itu semakin gencar menggodanya.
"Anggap aja ini karma karena udah berlaku galak kepadaku. Ya walaupun karmanya tidak seberapa, namun, itu udah cukup untuk--"
Bughhh!
"Rese banget sih jadi orang!" teriak Dena melemparkan map ke Fairel. Beruntungnya map itu langsung Fairel tangkap.
"Boss sensi. Belum apa-apa udah ngamuk duluan."
"Apa!!?" Dena menatap Fairel tajam. Mati-matian ia menahan perih di lidahnya. Tapi, Fairel malah memancing emosinya.
"Enggak."
"Sekali lagi kamu ngomong gitu, gaji kamu saya potong."
__ADS_1
Sontak Fairel tertawa dibuatnya. "Hahaha, belum juga satu bulan masa udah dipotong aja. Uang sepeserpun belum ada di tangan."
"Terserah."
"Terserah." pria itu mengikuti perkataan Dena.
"Lo!!"
"Lo."
"Bener-bener ya!" Dena yang kesabarannya sudah setipis tisu langsung saja menyerang Fairel. Tidak lupa ia membawa map tebal sebagai alat untuk memukuli Fairel.
Bughh
"Aishh!! Sakit itu, yang tipis dikit lah."
Bukannya minta dihentikan, Fairel malah mereques.
"Bodooamatt!"
Bugh
Bugh
Dena memukuli Fairel membabi buta, menyalurkan segala perasaannya. Marah, kesal, kecewa, sedih, semuanya ia salurkan kepada Fairel melalui map tebal tangannya.
"Aduhh!!! Ngapain sih, sensi banget."
"Biarin. Kemana aja lo semalam!!? SMS gak dibalas, ditelfon gak diangkat. Udah ngerasa jadi bos? Iya??"
Dada Dena naik turun dengan nafas yang tidak teratur.
"Semalam?" tangannya ia letakkan di atas kepalanya sebagai pelindung agar map tebal itu tidak mencium kepalanya.
"Bukan!!! Tahun kemarin!!" pekik Dena.
"Sebegitu pentingnya masalah dari pada pekerjaan??"
"Bukannya gak penting dan bukannya penting. Semalam juga ponselku mati total. Jadi, maaf kalau terkesan mengabaikan."
"Cih! Gue gak butuh penjelasan lo. Gue cuma mau lo tanggung jawab dengan pekerjaan lo itu. Buat apa gue punya sekretaris dan asisten tapi gak bekerja."
Sesaat keduanya saling diam. Dena yang menyadari bahwa ia banyak berbicara pun segera berbalik badan dan kembali duduk di kursinya.
"Sshhtt... sialaann emang itu coklat." gerutu Dena pelan sambil menutupi mulutnya. Tidak tau kenapa saat ia mengomel tadi, rasa sakitnya tidak terasa. Tapi, sekarang rasa sakitnya malah semakin perih.
Fairel sudah merapikan pakaiannya yang sempat kusut akibat perkelahian kecil tadi. Lebih tepatnya ia dikeroyok.
"Udah tau sakit, tapi masih aja ngomel-ngomel."
"Diem!"
Fairel menutup rapat bibirnya. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat kresek hitam tadi. Ia mengambilnya dari hadapan Dena dan membuka kresek hitam itu. Di dalamnya hanya ada obat semprot berbentuk botol kecil.
"Ngadap sini!" tangan Fairel memegang kedua sisi kursi Dena dan memutarnya ke samping sehingga Dena duduk menghadapnya.
"Kalau tau sakit jangan banyak ngomel."
Dena terdiam sambil menyaksikan Fairel membuka tutup botol kecil itu.
"Sendiri ngatain orang lain ceroboh. Padahal dia sendiri gak nyadar. Mau ikut lomba minum coklat panas tercepat di dunia? Iya?"
Dena memalingkan wajahnya ke samping.
"Kalau ada orang lain ngomong itu matanya ditatap. Gak sopan!" tanpa Dena duga Fairel meraih wajahnya. Lebih tepatnya memegang ujung dagunya. Mengarahkan Dena agar menatap wajahnya.
Sesuai keinginan Fairel, Dena memberanikan dirinya menatap bola mata hitam pekat milik Fairel. Tiba-tiba jantungnya berdetak cepat. Dena kembali memalingkan wajahnya dan lagi lagi Fairel mengarahkan wajah Dena agar menatap wajahnya.
__ADS_1
"Buka mulutnya." perintah Fairel.
Dena masih terdiam tidak mau membuka mulutnya.
"Satu, dua, ti--" belum sampai hitungan ke-tiga Dena langsung membuka mulutnya.
Mata Fairel langsung menajam. Meneliti setiap inci rongga mulut Dena. Namun, ia sama sekali tidak melihat adanya kejanggalan di dalam sana.
"Melet."
"Haaa??" refleks Dena menjauhkan wajahnya. "Ngapain?!" wanita itu seketika dibuat panik.
"Ck! Pikirannya. Emangnya mau ngapain lagi? Berharap?"
"B- berharap apa?" Dena gugup. Apalagi jarak wajah mereka begitu dekat.
"Enggak. Udah, turutin aja."
Karena ingin cepat berlalu akhirnya Dena menuruti permintaan Fairel.
Fairel tersenyum menatap wajah Dena yang berada di bawahnya karena posisinya saat ini Dena duduk di kursi dan Fairel berdiri menundukkan sedikit tubuhnya.
Pria itu melihat di bagian ujung dan tengahnya melepuh sedikit. Fairel hanya bisa geleng-geleng kepala, kenapa Dena begitu ceroboh. Di sisi lain ia juga khawatir takut wanita itu kenapa-kenapa.
"Aaakkkkhhh..." Dena menjauhkan wajahnya saat tau Fairel menyemprotkan obat itu ke lidahnya.
"Huwaaaa perihhh..." tanpa sadar Dena merengek. Dan itu mengingatkan Fairel ketika mereka remaja dulu. Dena yang manja. Ia masih ingat bagaimana Dena memaksanya untuk memberikan sebuah ciuman. Fairel tersenyum mengingat momen manis itu. Dan juga saat mereka pergi ke pasar malam. Pulang berjalan kaki dan berujung dikejar hewan gukguk membuat mereka terpaksa harus memanjat pohon mangga.
"Udah, ga mau. Ini perih." Dena mendorong bahu Fairel agar menjauh darinya.
"Dikit lagi selesai. Tahan."
"Gak mau." berulang kali Dena menggelengkan kepalanya menolak.
"Dikit lagi beneran. Dua kali lagi deh, itu tuh di bagian tengahnya gak kena."
"Nanti aja sendiri."
"Emangnya berani? Diobatin aja udah teriak-teriak, gimana kalau sendiri coba."
"Nanti juga sembuh sendiri."
"Gak ada luka yang bakal sembuh sendiri tanpa ada bantuan dari obat. Udah, gak usah ngomel. Sini, buka mulutnya lagi. Dua kali lagi beneran."
"Janji?"
"Iya, janji."
"Ya udah, tapi, pelan-pelan. Jangan bikin kaget."
"Iya, enggak."
Fairel mengarahkan botol kecil itu dan ia langsung menyemprotkannya cepat sebelum akhirnya Dena berteriak kesakitan.
"Huwaaaaa... perihhhh... gak mauu..."
Fairel yang melihatnya menahan senyum. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaanya.
"Jangan makan yang berminyak dulu. Apalagi pedas. Jangan banyak bicara. Tunggu sampai besok, kalau masih sakit, kita periksa ke dokter."
.
.
.
baper gak? author nulisnya jedagjedug awokawok๐ญ๐ญ
__ADS_1
tak kasih triple up ya, besokยฒ usahain biar upnya normal. Tergantung otaknya buntu apa kaga soalnya besok masuk sekolah ๐๐๐คฃ๐คฃ