
Saat hari minggu weekend pun tiba, perusahaan diliburkan. Semua karyawan menikmati masa-masa weekend yang bisa dikatakan singkat karena keesokan harinya mereka harus kembali bekerja.
Jika ada sebagian orang memilih untuk tidur sampai waktu siang. Namun, berbeda dengan wanita yang tampak sudah rapi. Waktu yang seharusnya dihabiskan untuk keluarga kini malah terbuang ke yang lain.
"Kakak mau kemana?" tanya Devan, adik pertama Dena.
"Kakak mau keluar bentar ada urusan. Abang di rumah aja ya? Lain kali nanti Kakak bawa jalan-jalan keluar." jawab Dena melirik sang adik yang duduk di sebelahnya.
"Hari ini jadi mau beresin apartemen?" tanya Cahya sambil menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
"Jadi kok Bun. Ini selesai sarapan Dena langsung ke tempatnya."
"Lagian ngapain sih pakai acara pindah-pindah segala. Toh di sini udah nyaman, tiap pagi ada yang nyiapin sarapan."
Mereka masih duduk santai di kursi meja makan sambil menunggu kedatangan Wira dan si bungsu Divya.
"Sengaja mau deketin kantor, Bun. Dena cuma mau belajar mandiri aja."
"6 tahun gak cukup tuh? Jadi, ceritanya lagi belajar mandiri untuk menyiapkan diri jadi istri?" goda sang Bunda membuat Dena tertunduk malu.
"Enggak lah. Nanti itu urusannya beda lagi." kilah wanita itu.
Tiba-tiba saja sang Papa datang dari arah kamar sambil menggendong putri bungsunya. Meskipun mereka sudah memiliki anak lagi, namun, kasih sayang kepada Dena tidak pernah berkurang sedikitpun. Malahan Cahya selalu memanjakan Dena, menomor satukan wanita itu dari pada suaminya.
"Mau tinggal mandiri atau mau tinggal berdua dengan Arel?"
"Papa! Enggak lah!" sangkal Dena cepat dengan wajah memerah malu.
"Kalau memang bener, ya Papa gak bisa ngelarang juga karena kalian udah sama-sama dewasa. Tapi, pesan Papa cuma satu. Tolong jaga diri kamu baik-baik. Jangan sampai melewati batas."
Dena menundukkan kepalanya. Ia mengerti apa maksud Papanya berkata demikian.
"Belum melewati batas kan?" tanya Wira mengelus rambut putri sulungnya.
Dena mendongakkan kepalanya menatap wajah sang Papa. Ia menggelengkan kepalanya. "Enggak kok, Pa. Insya Allah Dena bisa jaga diri dengan baik."
"Pinter. Ke depan gih! Orangnya udah datang." Wira menepuk-nepuk pelan pucuk kepala putrinya.
"Haahhh?? Siapa?" beo Dena tidak konek.
"Samperin aja. Kasian udah dari tadi nungguin gak kamu temuin."
Sontak Dena langsung beranjak bangkit. Sedikit berlarian kecil menuju pintu depan. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat tiba di ruang tamu. Ia melihat sosok pria berdiri membelakanginya. Sepertinya pria itu tidak sadar dengan kehadiran dirinya. Diam-diam Dena tersenyum menatapnya.
Lama Dena diam tidak membuka suara hingga dengan sendirinya pria itu membalikkan badannya. Pandangan mereka seketika bertemu.
"Udah lama?"
"Seharusnya aku yang nanya begitu." ucap Dena.
Fairel berjalan mendekat. Keduanya berdiri mematung, saling menatap dalam diam.
"Mau ikut sarapan?" tawar Dena.
Fairel menggelengkan kepalanya karena memang ia sudah sarapan sebelum berangkat ke rumah Dena. "Udah tadi di rumah."
"Ya udah, tunggu di sini bentar. Aku ambil tas dulu."
"Gak sarapan dulu?" Fairel menarik pergelangan tangan Dena sebelum wanita itu beranjak pergi.
"Di luar aja, temenin."
Fairel menahan senyumnya. Ia mengerti maksud dari perkataan Dena.
"Bentar ya?"
"Iya." Fairel menganggukkan kepalanya.
.
.
.
Saat ini keduanya sudah berada di depan pintu apartemen milik Dena. Wanita itu baru saja membelinya dua bulan yang lalu dan sekarang baru bisa dihuni. Lebih tepatnya baru bisa dibenahi karena sekarang di dalam masih berantakan.
Dena menempelkan kartu aksesnya ke platform magnet yang terdapat di sebelah pintu. Tidak lama kemudian pintunya berbunyi menandakan akses masuknya sudah terbuka.
Ceklek
Baik Dena dan Fairel langsung mengedarkan pandangannya ke segala penjuru sudut ruangan itu setelah mereka masuk ke dalam. Sofa, meja, televisi, dan perabotan lainnya masih tampak tergeletak di atas lantai.
Keduanya saling pandang dengan senyuman masing-masing. "Ayo!" ucap mereka serentak.
Keduanya mulai menanggalkan plastik putih yang masih membungkus barang-barang itu. Fairel mengambil penyapu dan berjalan menuju ruangan kosong.
"Ini kamarnya?" tanya Fairel.
__ADS_1
"Iya." Dena menganggukkan kepalanya.
Fairel mulai membersihkan ruangan kosong yang menjadi kamar Dena, sementara wanita itu menyusun perabotan dapur. Di dalam ruangan itu ternyata sudah terpasang kasur dan ada meja dan kursi kerjanya. Untuk kasurnya masih terbungkus plastik putih bening.
Selesai membersihkan kamar bertepatan dengan itu Dena menghampirinya.
"Mau dicat ulang gak?" tanya Fairel menatap dinding yang berwarna abu.
"Kapan-kapan aja, kalau sekarang mungkin waktunya gak cukup. Belum lagi di luar masih berantakan."
"Oke."
Keduanya saling berkolaborasi, saling membantu dalam merapikan barang-barang yang belum tersusun rapi. Mereka berkerja keras sampai-sampai tidak sadar bahwa waktu berputar cepat. Keduanya hanya berhenti untuk makan siang saja lalu setelahnya lanjut lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Dena dan Fairel terlihat tepat di atas karpet di depan televisi. Beruntung AC mereka nyalakan, kalau tidak, mungkin saja keringat sudah membanjiri tubuh mereka.
"Capek?" tanya Fairel.
"Huuumm..." jawab Dena tanpa melirik Fairel yang terbaring di sampingnya.
Tiba-tiba saja pria itu merubah posisinya menjadi menyamping menghadap Dena dengan tangan menyanggah kepalanya.
"Udah cocok belum sih?"
"Apanya?" beo Dena perlahan menoleh ke samping.
"Berumah tangga." balas Fairel.
Dena menghela nafas berat. Ia juga merubah posisinya, sama dengan posisi Fairel. Tangan kirinya menyanggah kepalanya. "Kamu lupa dengan syarat yang aku kasih?"
Kepala Fairel menggeleng. "Enggak kok." jawabnya disertai dengan senyuman.
"Ya udah itu, sabar nunggu."
"Kalau aku gagal memenuhi syaratnya... apa yang bakal kamu lakuin?" ujar Fairel mencoba menyelami bola mata Dena.
"Kalau gagal?" lirih Dena pelan. "Mungkin--"
"Mungkin aku bawa kamu nikah lari aja." sahut Fairel tanpa beban.
"Ngadi-ngadi. Dikira aku ini apa coba!" sewot Dena tidak terima.
"Becanda. Aku akan memperjuangkan kamu."
Fairel mengarahkan tangannya menyentuh kepala Dena dan mengusapnya pelan. "Maaf ya akhir-akhir ini jarang ngabarin kamu."
"Ini apa?" Fairel menunjukkan dirinya sendiri.
"Mungkin hantu."
"Hantu yang bergentayangan di hati kamu, iya?" goda Fairel bisa membalas setiap perkataan Dena.
Dena langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tiba-tiba saja ia bangkit dan duduk. "Coba nyalain TV-nya." pinta Dena.
"Bentar." Fairel bergegas bangkit lalu mengambil remot TV dan memencet tombol powernya.
"Cari saluran yang bagus, jangan saluran TV ikan terbang."
"Ikan terbang?" beo Fairel.
"Hooh, itu bibik di rumah suka nontonnya, Bunda jadi ikut-ikutan."
"Mending ini aja." Fairel membuka saluran televisi yang menayangkan berita.
"Gak mau, cari yang lain." protes Dena menggelengkan kepalanya.
"Ini aja, bagus untuk menambah seputar informasi. Dari pada sinetron kan."
"Ihhhh!! Aku gak suka nonton cerita tau. Mending kartun aja deh."
"Syuttt!! Tuh dengerin, masa tega banget sih orang tua yang buang anaknya sendiri." Fairel menunjuk televisi yang tampak menayangkan berita orang tua yang tega membuang bayinya sendiri.
"Sini deh, nonton bareng. Kalau ngomel dari tadi mah mana masuk ke otak."
Fairel menarik tangan Dena sehingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya. Fairel memeluk Dena erat, mengendus-endus rambut wanita itu. Perlahan Dena merasa tenang dan tidak memberontak ataupun protes.
"Nanti kalau kita udah punya anak jangan gitu." ucap Fairel.
"Emangnya aku monster apa yang tega buang anak kandung sendiri. Itu kamu gak liat apa? Di situ kan udah dijelasin kalau anak itu hasil dari hubungan pacaran."
"Kok kamu tau?"
"Itu udah dijelasin, sendiri yang nyuruh dengerin eh dia malah budeg." kata Dena cemberut.
"Aku sibuk melihat kecantikan kamu." puji Fairel malah membahas di luar topik.
"Apa sih!" Dena yang merasa salting langsung saja melayangkan cubitan pelan di perut Fairel.
__ADS_1
"Kok suka banget nyubit orang. Gak tau apa cubitannya itu sakit." keluh Fairel meraba perutnya.
"Salah siapa ngomong ngawur." Dena yang malu malah mnyembunyikan wajahnya di dada bidang Fairel. Tangannya memeluk erat tubuh pria itu.
"Aku gak pernah ngawur loh. Dari dulu kamu selalu cantik."
"Relllll..." rengek Dena.
"Apa, Sayang?" tanya Fairel terkekeh pelan.
"Jangan gitu... aku malu." Dena semakin menyembunyikan wajahnya, ia menutup rapat matanya.
"Kamu bikin aku gemes, baby." bisik Fairel membuat Dena merinding.
"Aku gak denger." Dena merapatkan tubuhnya.
"Tapi, aku pengen kamu selalu denger kalau aku itu... cinta sama kamu."
"Udah, Rel. Istirahat." Dena pura-pura tidak mendengar ungkapan Fairel padahal mah ia hatinya jedagjedug.
Bukannya menurut, Fairel malah bangkit setengah dari posisinya membuat Dena berada di bawahnya. Tangannya mengelus rambut Dena pelan.
"Padahal aku juga pengen denger dari kamu langsung." tutur pria itu.
"Denger apa?" tanya Dena pura-pura tidak mengerti. Tangannya sibuk dengan rambut Fairel, mengacak-ngacak dan sesekali merapikannya.
"I love you." beritahu Fairel.
"Too." balas Dena tidak konek.
"Bukan, maksdunya kamu yang bilang ke aku." ralat Fairel.
"Harus ya? Aku kan cewek, cewek itu cuma butuh ungkapan dari cowok."
"Gak juga. Malahan kami golongan pria juga butuh ungkapan cinta dari wanitanya. Ya bisa dibilang tanda menghargai kaum pria."
"Memang bener. Tapi, cowok kan suka gak ngasih kepastian. Contohnya kamu mungkin?" Dena mengerlingkan sebelah matanya menggoda pria itu.
"Kata siapa? Kamu mau dipastiin juga aku harus nunggu lagi."
"Ya kan itu termasuk syaratnya. Kalau gak ada syarat gak ada hasil juga."
"Iya deh, kamu paling benernya."
"So, sekarang tau kan kalau cewek itu gak pernah salah?"
"Iya, tau kok."
Dena tersenyum geli mendengarnya.
Setelah obrolan santai itu, Fairel malah langsung menjatuhkan kepalanya di ceruk leher Dena. Tangannya memeluk tubuh wanita itu.
"Aku ngantuk."
"Ya tidur kalau ngantuk."
"Tidur di sini boleh?" tanya Fairel.
Dena melirik jam dinding. "Satu jam aja ya kita harus pulang sekitar jam setengah 6. Besok baru ke sini lagi mindahin pakaian."
"Hemmm..."
"Katanya mau tidur tapi kok malah gak pindah."
"Maksudnya tidur gini. Nyaman banget." Fairel menduselkan kepalanya di ceruk leher Dena, membuat wanita itu hanya bisa menahan geli karena nafas hangat Fairel.
"Nanti sakit badannya kalau tidur di bawah, mending pindah aja ke atas." bujuk Dena mencoba mendorong tubuh Fairel darinya.
"Hmmm..." dengan terpaksa pria itu bangkit dari posisi ternyamannya. Ia berjalan dengan lesu menuju kamar yang sudah dirapikan dan dibersihkan. Tidak lupa ia menarik Dena masuk bersamanya.
Brukk
Keduanya terjatuh di atas kasur dengan Fairel yang berada di atas tubuh Dena karena pria itu langsung menubruknya dengan tidak sabaran.
"Pelan-pelan kenapa sih?"
Dena hanya bisa mendengus kasar menyadari Fairel yang sangat manja kepadanya, bak anak kecil yang sedang merengek ingin di tidurkan. Ya, seperti itu gambarannya.
Fairel yang sudah tidak dapat menahan kantuknya hanya diam saja tidak merespon perkataan Dena. Ia tampak mencari posisi ternyamannya sampai akhirnya kepalanya ia jatuhkan di atas dada wanita itu. Matanya sudah terpejam, tangannya melingkar di pinggang Dena.
.
.
.
tak kasih panjang sekalian hutang up kemaren ๐คฃ kemaren rada sibuk, sore bukber bareng temen. Trus malamnya eh sakit perut bulanan ya biasa lah alhasil gak nulis. Tidur aja kaga nentu guling sana guling sini๐ ini aja nulis pelanยฒ sambil nenangin nyeri ๐คฃ
__ADS_1