
"Bye bye semuanya..."
"Dahhh... hati-hati di jalan semuanya. Jangan lupa besok masuk kerja, jangan pada tepar semua ya."
"Hahaha, mana ada."
"Bu Boss, duluan ya."
Dena menoleh dan mengangguk cepat. "Kalian hati-hati pulangnya, soalnya sudah larut malam."
"Siap, Bu Boss."
Dena tersenyum membalas sapaan karyawannya. Kini, acara telah selesai. Sebagian karyawan sudah pulang ke rumahnya masing-masing dan sebagian sedikit ada yang masih menetap. Termasuk rombongan Dena saat ini.
"Pak Fairel, pulang bareng siapa?" tanya Novi kepada Fairel yang duduk bersandar di kursinya.
"Sendiri." jawab Fairel sembari mengambil gelas minumannya dan menegak minumannya.
"Mau saya antar pulang, Pak?" tawar Novi langsung membuat rombongannya bersorak.
"Wooooo... modus tuh, Pak. Jangan mau diantar Novi, Pak. Nanti Bapak dikasih pelet." sahut Frank yang langsung mendapat tatapan tajam dari Novi.
"Enggak! Frank bohong tuh, Pak. Mana mungkin saya ngasih Bapak pelet." bela Novi.
"Lah terus, mau modus ya?" tuduh Dion ikut-ikutan.
"Sudah, sudah. Lebih baik kalian semua pulang. Besok harus kembali bekerja." lerai Dena yang tidak tahan melihat Fairel digoda oleh Novi dan yang lainnya.
"Tuh denger apa kata Bu Boss. Pulang aja yuk!" ajak Lala menarik-narik ujung baju Novi. Gadis itu tampak sempoyongan karena terlalu banyak minum.
"Ayo pulang, Noviii. Gue mau tidur." bujuk Lala bertingkah manja. Ia mendusel-duselkan kepalanya di bahu Novi membuat Novi menggelinjang geli.
"Iya, iya. Yon, pegang dulu si Lala ini. Kebiasaan kalau mabuk tuh suka manja."
"Sini lo!" Dion langsung menarik lengan Lala sehingga gadis itu menubruk tubuhnya.
"Ihhh, Dionnn!! Sakit tauu..." rengek Lala. Dena yang mendengarnya meringis pelan. Bukan sekali dia kali ia melihat tingkah mabuk para karyawannya. Hanya saja, Dena belum terbiasa melihat mereka.
"Syuttt!!! Jangan berisik." Dion langsung menutup mulut Lala menggunakan telapak tangannya.
"Bu Boss, kalau gitu kami pamit duluan ya." ujar Dion dan Frank.
Dena mengangguk cepat. "Iya, hati-hati di jalan."
"Pak Fairel, beneran gak mau pulang bareng?" tawar Novi sekali lagi.
__ADS_1
"Engg--"
"Dia pulang bareng saya." serobot Dena.
Fairel sontak menoleh ke arahnya.
"Yahhh... ya udah deh, Bu Boss hati-hati pulangnya. Bye, Bu Boss."
"Iya. Hati-hati." entah sudah ke berapa kalinya Dena mengucapkan kata hati-hati.
"Duluan, Bu Boss, Pak Fairel." ucap Frank.
"Silahkan." balas Fairel menganggukkan kepalanya.
Satu per satu karyawan Dena sudah pulang. Bahkan tempat itu terlihat sepi, hanya ada mereka berdua saya yang sama-sama menahan canggung.
Bahkan keduanya kepergok saling melirik, namun, saat itu juga mereka langsung mengalihkan pandangannya.
"Ekhem... itu... ayo pulang!" ajak Dena merasa canggung. Berulang kali ia mengusap tengkuknya padahal tidak gatal.
Karena tidak tahan dengan rasa canggung yang melanda, akhirnya Dena melangkah pergi. Meninggalkan Fairel yang masih duduk terdiam di tempatnya.
Sementara itu, Fairel terus melihat pergerakan Dena. Jelas ia bisa melihat kecanggungan yang dirasakan oleh wanita itu.
"Ck!" Fairel berdecih, sebelah ujung bibirnya tertarik ke atas. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan beranjak dari sana untuk menyusul Dena yang tidak tampak lagi di matanya.
Perlahan Dena menyadari kedatangan Fairel. Bibirnya terkatup rapat dengan bola mata tidak berkedip sama sekali memandang Fairel yang perlahan berjalan ke arahnya.
Mungkin tinggal tiga langkah lagi Fairel sudah berada di dekatnya. Namun, tiba-tiba pria itu tersandung yang membuatnya terjungkal ke depan.
Refleks Dena langsung meloncat turun dari atas kap mobil. Entah refleks atau memang apa, tangannya langsung menahan tubuh Fairel agar tidak terjerumus ke tanah atau mungkin saya wajahnya mencium bagian depan mobil Dena. Tapi, naas, Dena yang belum menguasai keseimbangannya justru juga ikut terdorong ke belakang oleh tubuh Fairel.
Brukk!!!
Tubuh bagian atas mereka terjatuh tepat di atas kap mobil Dena. Lebih tepatnya tubuh Dena yang menubruk kap mobil karena Fairel berada di depannya.
Mata Dena terpejam kuat, tangannya memegang erat kerah jas milik Fairel.
Hening...
Tidak ada yang bersuara diantara mereka. Perlahan Dena membuka kelopak matanya. Kepalanya yang mendongak ke atas otomatis ia melihat wajah Fairel.
Deg
Jantungnya berdetak kuat saat netra mata mereka terkunci. Ternyata sedari tadi Fairel menatapnya lekat, Dena baru menyadari itu karena tadi matanya terpejam.
__ADS_1
Nafas kasar nan hangat itu menerpa wajah Dena. Hembusan angin malam yang dingin tidak lagi dapat mereka rasakan. Yang mereka rasakan hanyalah hawa panas efek dari debaran jantung yang kuat.
Dena tidak kuasa lagi. Tatapan teduh Fairel seakan membiusnya. Tatapannya masih sama sejak dulu. Untuk kedua kalinya Dena kembali merasakan hatinya bergetar dengan orang yang sama. Tidak sadar bahwa 6 tahun telah terlewati dan rasa itu masih tertinggal. Dena akui saat ia berada di luar negeri, banyak sekali pria-pria yang lebih tampan dan perfect dari pria di hadapannya saat ini. Namun, hati Dena sudah terkunci pada satu orang. Bisakah Dena menyebut ini sebagai cinta sejati? Bisakah Dena mengontrol perasaannya saat ini?
"Cantik." lirih Fairel.
Tidak! Dena tidak bisa membiarkan dirinya terkena serangan jantung! Ia tidak bisa menahan debaran jantungnya yang begitu kuat. Dena tidak kuasa. Tapi, tubuhnya bagaikan jelly sekarang. Dena tidak memiliki kekuatan lagi.
"Lo udah pulang... haruskah gue ngulangin kalimat yang gue ucapin 6 tahun yang lalu?"
Dena terdiam.
"Gue menyesal."
"Gak ada yang perlu disesalin." balas Dena akhirnya.
"Huumm... iya, semuanya udah terlambat." ucap Fairel menatap Dena lekat. Jarak mereka yang begitu dekat membuatnya leluasa menatap, mengikis rasa kerinduan yang selama ini ia pendam.
"Lo, bagaikan salah satu bintang di angkasa. Dan gue, bagaikan bumi."
"Maksudnya?"
"Susah digapai. Maaf karena udah bikin lo sedih dan kecewa. Sadar diri itu penting, jadi gue lebih milih itu."
"Lo mabuk, makanya ngawur." Dena yang sudah sadar sepenuhnya langsung saja mendorong dada Fairel agar pria itu menjauh darinya.
"Gue belum selesai bicara." Fairel sama sekali tidak beranjak setelah Dena mendorongnya. Ia bahkan kembali mendekatkan dirinya.
"Semuanya udah selesai dibicarain." tiba-tiba Dena merasakan sesak di dadanya. Ia berusaha untuk mengontrol ritme suaranya yang kini sudah mulai bergetar.
Dena berusaha mendorong tubuh Fairel yang sedang memeluknya cukup erat. "Plisss, gue mohon." pinta Dena ingin dilepaskan.
"Na, gue... kangen. Lo harus tau itu." bisik Fairel tepat di depan telinganya.
Deg
"Lo juga harus tau kalau gue juga kangen. Tapi, sekarang udah berbeda." batin Dena.
.
.
.
mana nih yang nungguin kapal Dena-Fairel berlayar โโ
__ADS_1
ditunggu komenannya tiap bab ya๐๐โ