
Pulang dari kampus Cheery langsung menuju toko kue bundanya. Dia ingin mempraktekkan ide yang baru saja terlintas di pikirannya, yaitu membuat Cup Cake rainbow. Sepertinya itu lucu, dan untuk tugas akan dia selesaikan nanti malam.
Di depan parkiran toko, Cheery melihat mobil cowok unfadeah itu ada di sana. " kenapa dia bisa ada disini? emang cowok tajir itu doyan kue tradisional disini?" gumam Cheery sambil memasuki toko lewat pintu samping.
Begitu sampai di dapur Cheery menghampiri bundanya, dia melihat bundanya sedang mengangkat kue lemper yang sudah matang ke dalam nampan.
" Assalamualaikum Bunda, lagi sibuk banget yaa?? mau Cheery bantuin?" Ucap Cheery sambil meletakan tasnya di sofa ujung dapur dan memakai celemeknya.
"waalaikumsalam sayang, sini bantuin bunda, letakan kue ini di etalase yaa,,mumpung masih hangat gini enak." bunda menyerahkan nampan itu ke tangan Cheery.
" siap bunda!" ucap Cheery sambil berjalan ke depan.
Begitu keluar dari dapur Cheery melihat toko lumayan ramai, dan melihat cowok tadi sedang duduk di kursi ujung ruangan sambil bermain ponsel.
"mau beli kue apa mau numpang ngadem itu orang?" gerutu Cheery sambil menata kue lemper itu kedalam etalase yang kosong, tapi matanya melirik Farkan.
Merasa ada yang memperhatikan, Farkan menoleh ke sekeliling toko, dan pandangan matanya bertemu dengan Cheery. "wah keberuntungan apa lagi ini gue bisa lihat cu cewek mungil disini? tapi kalo di lihat sih dia kerja disini, secara dia pake celemek. " pikiran Farkan dalam hati.
Cheery bersikap bodo amat ketika Farkan mendekatinya, dia berpura- pura tidak melihatnya.
"permisi, saya mau tanya pesanan atas nama ibu Ratna sudah siap belum yaa?" tanya Farkan.
Cheery mendongak kemudian meletakan nampannya di atas dada.
"Sebentar saya tanyakan." langsung beranjak ke dalam untuk menanyakan ke karyawan bagian pemesanan.
Tak lama Cheery keluar kembali, sambil menyerahkan pesanan itu ke kasir. " Mbak Nita, ini pesanan ibu Ratna sudah selesai, silahkan di hitung kembali." kemudian menoleh ke cowok tadi " silahkan kak pesanannya sudah selesai, tinggal pembayarannya saja di kasir." ucap Cheery ramah, lalu berjalan menuju etalase kue-kue lagi guna mengecek kue apa yang habis.
__ADS_1
Di kasir Farkan menyelesaikan pembayaran, kemudian bertanya ke mbak kasir di depannya, " mbak, itu tadi karyawan disini juga? part time gitu ya mbak?" sambil menunjuk Cheery yang sedang menata kue.
Sambil melirik Cheery, mbak Nita tersenyum,
" bukan mas, itu hanya bantu- bantu saja di toko kue Bundanya," tersenyum sambil menyerahkan kue pesanan tadi.
" berarti dia anak yang punya toko kue ini?" tanyanya lagi.
" betul mas, masnya naksir yaa?? apa memang kenal? tapi wajar sih mbak Cheery cantik gitu, dan masnya orang kesekian yang bertanya." kepo mbak Nita.
" oww jadi namanya Cheery, dia adik tingkat saya di kampus mbak. Yaudah kalo gitu saya permisi dulu mbak." pamit Farkan.
Sepeninggal Farkan, Cheery langsung menghampiri mbak Nita. " tanya apa aja itu cowok tadi mbak?" Cheery mulai introgasinya. " biasa mbak, kepo sama mbak Cheery, naksir kali mbak?" goda Nita sambil menaik turunkan alis. " emang nanya apa mbak? kok bisa di katakan naksir?" Cheery penasaran. " ada deh, biar mbak Cheery penasaran, hehehe" tawa mbak Nita.
Cheery yang kesal sama mbak Nita langsung masuk ke dapur dan berkutat dengan tepung dan telur. Gara-gara kepo sama cowok ga jelas, hampir saja lupa sama idenya tadi.
" kenapa habis dari depan cemberut gitu mbak? nanti kuenya gak enak lho kalau buatnya sambil cemberut."
"gak ada apa-apa kok bun. Cuma sedikit sebel sama mbak Nita, masa Cheery di bilang kepo, gara-gara nanyain orang yang kepo juga tentang Cheery?" jawab Cheery sambil mengerucutkan bibirnya.
"emang siapa yang kepo sama Cheery?? bukannya sudah biasa kalau banyak yang kepoin Cheery? buktinya Cheery cuek-cuek aja tuh, kenapa sekarang sewot." bunda melirik menggoda.
"iyaa cuman tadi itu cowok unfaedah yang ada di kampus Cheery bun," jelas Cheery.
" cowok? kampus? wah mungkin udah mulai ada rasa ni kamunya, mungkin juga cowok tadi." goda bunda lagi.
" mana ada Cheery kayak gitu, cuma penasaran aja, kok cowok kaya kayak dia bisa beli disini, padahal kan ini toko kue sederhana bun." Cheery menuang adonan ke dalam cetakan.
__ADS_1
"berarti kue bunda bisa masuk di semua kalangan dong sayang, tandanya kue bunda istimewa, harusnya kamu bangga dong." gaya bunda sambil menyilangkan tangan di dadanya.
"iyain aja deh bun biar cepet, kue bunda paling the best pokoknya. Udah bunda lanjutin aja ngecek laporan keuangan, Cheery mau lanjut dulu, nanti kue Cheery gagal lagi." Cheery melanjutkan memasukan cetakan kedalam oven.
Sesampainya di rumah, Farkan langsung berteriak memanggil Mamanya, tak lupa tangannya menenteng pesanan sang Mama.
" Assalamualaikum mama, ini pesanannya udah Farkan ambilin." sambil masuk menuju ruang tengah dimana mamanya sedang menonton tv.
" Waalaikumsalam, ngomongnya biasa aja dong nak, masa teriak gitu, ini rumah bukan hutan," mama menerima kue pesanannya dan mulai membuka satu kue talam dan memakannya.
"enak ma?" melihat mamanya memakan kue itu dengan begitu nikmat. Farkan pun ikutan mengambil satu kue itu dan memakannya.
"gimana, enak kan??" sambil mengambil satu kue lemper. " pasti ketagihan kamu makan kue disana, disana itu kue tradisionalnya yang paling enak, kue- kue modernnya juga gak kalah enak, apalagi mereka membuatnya tanpa bahan pengawet, harganya juga murah, cocok mama beli kue disitu." jelas sang mama.
"iyaa ma, enak banget, apalagi disana ada cewek yang membuat Farkan jengkel ma. Masa Farkan udah senyumin eh dianya melengos. Ganteng udah, kaya udah, masa ga di bales sih senyuman Farkan, kan jatuh harga diri Farkan." adu Farkan.
"wah kemajuan ni kamu udah mulai lirik-lirik cewek. Udah bisa lupain Ferra?? cewek egois yang lebih memilih pergi demi laki-laki lain yang lebih kaya?" emosi mama mengingat gadis egois itu.
" gausah bahas tuh cewek lagi ma, jadi males, dah ah Farkan mau ke kamar dulu." sambil meninggalkan ruang tengah.
"syukurlah kalau Farkan udah mulai lupain Ferra, dan semoga dapat gadis yang lebih baik dari yang Ferra." harap Mama.
Dikamar Farkan mengambil sebuah foto yang dia taruh di laci mejanya, sepasang muda mudi sedang berfoto mesra di sebuah toko es krim. Terlihat dari pandangan mata mereka saling mencintai, tapi ternyata karena harta sang wanita pun meninggalkan pujaan hatinya demi kehidupan yang lebih enak karena lebih kaya.
" harusnya gue buang aja dari dulu foto ini, tiap inget langsung bikin ati gue ngilu." sambil mencopot foto di dalam figura dan langsung membakarnya.
" selamat tinggal masa lalu yang pahit." memandangi api yang terus membakar foto itu.
__ADS_1