MY SWEETY CHEERY

MY SWEETY CHEERY
Sama-sama Berjuang


__ADS_3

Farkan sedang berusaha untuk membuat cabang Cafe barunya itu di bantu oleh Reynand. Beberapa hari yang lalu setelah proposal yang di ajukan ke Papanya akhirnya di setujui. Dan sekarang Farkan sedang melihat lokasi yang akan dijadikan cafe barunya itu. Reynand menjelaskan kepada pekerja yang akan merenovasi bangunan itu. Yaa akhirnya bukan hanya motor Farkan yang di jual, melainkan satu buah mobil kesayangannya juga di jual untuk membeli bangunan tersebut.


Sedangkan Reynand menggunakan uang tabungannya untuk membeli meja dan kursi untuk cafe dan beberapa peralatan lainnya. Dan modal dari Papa Farkan akan digunakan untuk membeli bahan makanan dan minuman yang akan di jual kepada customer. Sisanya untuk biaya operasional Cafe dan renovasi cafe.


Cukup menguras tabungan memang untuk mewujudkan impiannya itu. Tetapi kalau tidak dimulai dari sekarang kapan lagi, selagi Farkan masih muda, dia akan bekerja keras untuk masa depannya. Pujaan hatinya lah yang membuat pikiran Farkan terbuka, dan mulai untuk bertanggungjawab atas masa depannya sendiri. Bukan mengandalkan orang tuanya.


"kayaknya udah cukup deh lo menjelaskan detail mana saja yang akan di renovasi kepada pekerja, sekarang kita makan siang dulu deh, keburu habis jam makan siang kita." ucap Reynand.


"oke deh, semuanya sudah saya jelaskan ya bapak-bapak, nanti misal ada yang kurang jelas bisa bertanya kepada bapak mandor yang akan bertanggung jawab buat merenovasi ini semua." jelas Farkan kepada para pekerjanya itu, dan di angguki oleh mereka.


"makan siang di warteg depan situ aja lah, gak keburu kalau kita harus nyari tempat makan lagi. Bentar lagi gue harus persiapkan presentasi ke Papa. Semoga aja goal, biar naik jabatan gue, dan gaji gur bisa buat tambahan modal lagi."ucap Farkan kepada Reynand yang berjalan di sebelahnya.


"oke deh, jalan kaki aja deket ini, lo kok gak bawa mobil lo sih, bukannya semua fasilitas lo udah di kasih sama om Sigit?" tanya Farkan.


"gue lebih nyaman pakai motor kalo kerja, kan lo tau sendiri di kantor gak ada yang tau kalo gue anak Papa, bisa heboh nanti kalo gur bawa mobil sport gue. Nanti di kira gue jadi gigolo, kerja baru kemarin bisa beli supercar." omel Farkan.


"iya juga sih, tapi pasti temen kantor lo pada kepo kan, secara motor vespa mahal mo di ganti sama motor sejuta umat yang lo pakai sekarang?" tanya Reynand lagi.


"iyaa, pada tanya, tapi sebagian mengira kalo gue gak bisa ngatur keuangan buat hidup di kota besar ini, jadi gak kepo-kepo amat lah. Lo mau pesen apa?" tanya Farkan begitu masuk di Warteg mak Juminten itu.


"gue nasi sama gulai kepala ikan kakap aja deh. Minumnya es teh." Reynand menjawab sambil mendudukan dirinya di salah satu kursi.


"oke, gue nasi sama gulai ayam aja minumnya es jeruk."pesan Farkan dan langsung di jawab oleh mak Juminten.

__ADS_1


"siap mas-mas ganteng." ucap Mak juminten.


"eh, ngomong-ngomong lo udah bisa makan di tempat ginian?" tanya Reynand kepo, setahu dia, Farkan ini anti makan di tempat-tempat seperti ini. Farkan yang dia kenal lebih suka makan di tempat-tempat mewah dan higenis pastinya.


" semenjak gue kerja, gue sering makan di tempat ginian sama temen-temen kantor, jadi udah terbiasa, dan rasanya juga gak kalah kok sama restoran yang biasa kita datengin. Malahan kita juga bisa membantu menglarisi dagangan mereka."


"iya sih, gue salut sama om Sigit, dia bisa rubah lo jadi Farkan yang lebih baik." Reynand menepuk pundak Farkan.


"iya sih, gue awalnya nolak permintaan Papa, tapi lama-lama gue ngerti kenapa Papa minga gue mulai dari nol, ditambah gue juga termotivasi dari Cheery."jawab Farkan sambil tersenyum.


"ah elah, pake senyum-senyum lagi. Emang udah ada kemajuan belum hubungan kalian?"


"harusnya sih sudah, cuma akhir-akhir ini kita sama-sama sibuk buat majuin usaha kita masing-masing, jadi belum sempat ketemu. Paling cuma chat sama telp aja." jawab Farkan Sendu.


Tak berbeda dengan Farkan, Cheery pun sedang dibuat sibuk dengan banyaknya orderan yang datang, sementara perkuliahannya sudah dimulai. Dia hanya bisa membantu menjualnya saja dan tidak bisa ikut membantu menjahit baju-bajunya. Sepertinya memang dia harus merekrut penjahit baru lagi. Tetapi dia tidak enak kalau harus menumpang di rumah Mbak Heny kalau mau menambah penjahit.


Ditengah kebingungannya itu, Hendra memberikan ide untuk membawa pulang kain-kain yang akan di jahit kepada para penjahit itu, yang kebetulan sebagian adalah ibu rumah tangga yang tidak bisa meninggalkan anak-anak mereka terlalu lama. Mereka bisa mengerjakan jahitan ketika anak-anak mereka tidur, jadi bisa kapan saja. Yang penting waktu pengumpulan baju-baju itu tepat waktu. Disamping Cheery juga bisa melancarkan usahanya itu, dia juga bisa memberikan pekerjaan kepada ibu rumah tangga yang mungkin masih membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhannya.


Saat ini Cheery sudah mempunyai lima penjahit, dan seminggu tiga kali Hendra mengirim baju-baju yang sudah jadi itu, mereka sering bertemu dan membuat mereka semakin dekat. Tetapi kedekatan yang Cheery maksud adalah sebagai kakak dan adik yang sedang memperjuangkan cita-citanya. Lain halnya dengan Hendra yang mengartikan kedekatan mereka seperti calon pacar. Hendra mulai keteteran saat harus membagi waktu untuk profesinya sebagai pilot juga kurir untuk Cheery.


Ingin sekali Hendra mengungkapkan isi hatinya kepada Cheery, tetapi karena dia merasa masih terlalu dini untuk menyatakan cintanya itu, dia mengulur waktu sebulan lagi di saat Cheery sudah bisa membuka toko yang ada di sebelah toko Kue Bundanya itu. Yaa Cheery berhasil menyewa ruko yang ada di sebelah toko bundanya itu. Tetapi pemilik ruko masih meminta waktu sekitar satu bulan untuk memindahkan barang-barangnya karena akan pindah ke luar kota.


Saat ini Cheery sedang berada di rumahnya untuk menerima baju-baju yang di bawa Hendra. Sepulang kuliah tadi Cheery sudah di tunggu Hendra di depan Rumah.

__ADS_1


"udah lama kak nunggu Cheery?" Cheery memarkirkan motornya dan langsung menghampiri Hendra.


"belum juga kok Cheer, baru sepuluh menitan lah " jawab Hendra sambil tersenyum menatap Cheery.


"bentar yaa kak, Cheery ambilin minum dulu, kakak taruh aja baju-bajunya di tempat biasa." Cheery meninggalkan Hendra dan masuk ke dapur.


Hendra meletakan baju-baju itu di gudang penyimpanan itu. Juga memasukan kain-kain yang akan di jahit nanti. Setelah selesai, Hendra duduk kembali di teras bersamaan Cheery yang datang dengan segelas jus jeruk juga sepiring bolu kukus coklat.


"silahkan diminum kak, pasti kakak capek banget yaa." Cheery memandang Hendra dengan tersenyum sambil melihat keringat yang menetes di dahi Hendra.


"gak juga kok Cheer, memang tugas aku kok. Kamu tenang aja, gimana kuliah kamu?" tanya Hendra sambil mengelap keringatnya dengan tisu yang ada di meja.


"alhamdulilah lancar kak, masih banyak tugas, seperti biasa. ehhehehe.." kekeh Cheery.


"jangan capek-capek ya, nanti sakit. Semampunya tubuh kamu aja, jangan di forsir. Usaha juga udah jalan, jangan di forsir nanti tumbang kamu." nasihat Hendra.


"siap kak, Cheery masih kuat kok, tenang aja, lagian sekarang Cheery udah dapat admin yang bisa bantuin Cheery ngurus penjualan baju-baju Cheery. Makasih ya kak, udah banyak bantuin kasih idenya." jawab Cheery tulus.


"iyaa Cheer, sama-sama. Gak usah sungkan sama aku. Aku seneng kok bisa bantu kamu. Lihat usaha kamu lancar, kuliah kamu lancar, kamu juga sehat, kamu seneng jalanin ini semua, udah buat aku bahagia." ucap Hendra dengan mata berbinar.


"ah, kakak bisa aja. yasudah kak, di makan dulu kuenya. Habis ini kita makan bareng di warung bakso depan, Cheery traktir deh." ajak Cheery.


"siap boss" ucap Hendra sambil tangannya bersikap hormat kepada Cheery, dan langsung di balas dengan kekehan Cheery.

__ADS_1


__ADS_2