
Sementara Cherry yang masih sibuk dengan usahanya, di sisi lain Farkan baru saja menyelesaikan tugas lapangannya. Farkan berhasil memenuhi target dua bulan ini. Dan Kepala Divisi pemasaran mulai mempertimbangkan Farkan untuk kembali ke kantor.
Farkan sendiri merasakan bagaimana susahnya merayu customer untuk membeli 1 unit apartemen atau perumahan, karena sekarang banyak sekali Perumahan dan Apartemen yang lebih bagus dan lebih murah dari milik SR corporation.
Saat ini Farkan sedang perjalanan menuju ke kantor, atasannya meminta laporan akhir tugas lapangannya. Dan meminta Farkan untuk kembali ke kantor, guna mengeluarkan ide-idenya untuk membuat trik-trik baru dalam teknik memasarkan properti.
Tentu saja Farkan sangat senang harus kembali ke kantor, karena dia tidak akan berpanas-panasan lagi dan menjadi sales yang berpindah-pindah dari mall ke mall untuk menawarkan propertinya.
"selamat Farkan, selama dua bulan ini kamu melebihi dari apa yang saya targetkan. Saya fikir kamu anak baru yang manja dan susah mengerti bagaimana memasarkan produk kita." Pak Adi kepala bagian pemasaran mengulurkan tangannya.
"terima kasih pak, saya bukan apa-apa kalau tidak dapat bimbingan dari bapak dan rekan-rekan. Sekarang saya jadi mengerti bagaimana teknik untuk membujuk Customer supaya membeli produk kita." Farkan membalas jabatan tangan Pak Adi.
"sepertinya kamu sudah tidak perlu berada di lapangan lagi, sekarang kamu saya tugaskan di kantor saja, sesekali baru turun ke lapangan kalau di butuhkan."
"terimakasih sekali lagi pak, saya akan bekerja lebih baik dan mengeluarkan ide-ide saya yang terbaik."
"sekarang kami kembali ke meja kamu dan mulailah kerjakan tumpukan dokumen yang ada. Selamat bekerja Farkan." Farkan meninggalkan ruangan itu.
Teman-teman Farkan yang melihat Farkan memasuki ruangan, langsung menghampiri untuk mengucapkan selamat.
"selamat yaa Farkan, lo keren, gak sampai 3 bulan di lapangan sudah memenuhi target." ucap mbak Devi.
"Hebat lo bro , gue dulu perlu 4 bulan di lapangan baru memenuhi target." Beni bersalaman ala cowok.
"duh, Farkan habis ini dapat bonus jangan lupa traktirannya yaa.."Tina tak mau kalah
__ADS_1
"temen gue nih yang hebat begini."Gio menepuk pundak Farkan.
"thanks yaa temen-temen,, beres nanti makan siang kita makan di gado-gado depan kantor. hehehe..."
"yah kok cuma gado-gado sih kan, kopi hits itu lho kan lumayan." Beni menaik turunkan alisnya.
"maaf yaa mas, kalo kopi hits ntar duit gue gak sampe sebulan udah habis, akhir bulan ntar gue puasa donk .hahahaha .."Farkan tertawa canggung.
"iyaa gapapa deh gado-gado..tapi kalo besok-besok tembus lagi target kita, lo harus traktir kopi hits sama kita-kita lho...oke..."Tina memberikan solusi.
"beress...soalnya gue lagi belajar ngelola duit hasil kerja gue nih, ternyata gak gampang...belom akhir bulan udah habis mulu, malahan gue sering di tambahin uang bensin nyokap." curhat Farkan.
Yaa benar, sifat boros yang dimiliki Farkan belum berubah sepenuhnya, bedanya dia membelanjakan semua uang yang di punya yaitu dari gaji yang di terima. Makanya gaji Farkan hanya menumpang Assalamualaikum lalu waalaikumsalam.
"wah parah lo, masa udah kerja masih minta duit ortu, emang lo belanjaain apa duit gaji lo??" mbak Devi menatap tajam Farkan.
Masih beruntung Mama masih memberi uang saku 50 ribu sehari dan juga bekal setiap hari, makanya Farkan masih bisa berangkat bekerja setiap hari. Itupun dengan ancaman Papa, kalau selama enam bulan bekerja masih di beri uang saku, setelahnya silahkan urus keuangan sendiri dengan gajinya.
Entahlah, Farkan seperti anak pungut kalau diperlakukan seperti ini. Tapi apalah daya, perintah Papa tidak bisa diganggu gugat. Kalau tidak siap dengan hukuman diusir dari rumah. Bisa gawat kalau sampai di usir dari rumah, mau tinggal dimana dia. Mau numpang di rumah Reynand juga gak mungkin tiap hari kan, begitulah pikir Farkan. Jadi lebih baik mengikuti perintah Papanya itu.
"yaelah, segala pake beli Sepatu lagi, kalau karyawan baru belom ada setahun gaya lo belanja kek sultan, yaa bangkrut, untung gak ngutang lo. Boleh lo beli barang-barang begituan tapi liat kondisi dompet juga, nabung dulu, dan penuh perhitungan. Ini lo masih lajang, gimana kalo udah nikah, lo suruh puasa tiap hari anak istri lo?" Beni menasehati.
"yaa ini gue lagi belajar buat ngatur keuangan gue. Ntar kalo udah bisa dan stabil baru deh gue traktir kalian." terang Farkan.
"udah-udah ayo kerja lagi, selebrasinya udah selesai."Tina mengingatkan waktu bekerja kembali.
__ADS_1
Mereka mulai bekerja kembali. Farkan mulai fokus dengan dokumen yang ada di mejanya. Dia sangat antusias bekerja, menikmati apapun yang sedang di jalaninya saat ini. Karena sekuat apapun dia melawan kehendak Papanya, dia tidak akan pernah berhasil. Jadi dia ikuti alur yang di berikan Papanya, karena dia yakin Papanya tidak mungkin menjerumuskan ke hal-hal yang tidak baik.
***
Cheery yang baru sampai di rumahnya, langsung merebahkan tubuhnya di kamar, ternyata menyetir tiga jam sendiri itu lumayan membuat kaki pegal. Rasanya dia ingin di pijat, karena sepertinya badannya sudah membunyikan alarm untuk istirahat. Jika diforsir pasti akan sakit. Apalagi perbedaan cuaca dingin dan kembali ke panas kembali.
Chiko yang baru pulang sekolah menghampiri kakaknya itu, setelah melihat mobil kakaknya sudah terparkir rapi di garasi. Tanpa mengetuk pintu Chiko langsung memasuki kamar kakaknya itu.
"mbak, kapan nyampe?" Chiko bengong melihat kakaknya yang tidur dengan lelapnya.
"yah capek banget kayaknya mbak Cheery, sampai-sampai tidurnya lelap banget, dan gak denger aku panggil." Chiko mendekati ranjang dan memegang kaki kakaknya itu untuk memberitahu waktu Shalat dzuhur sudah hampir habis.
"mbak, shalat dulu, udah mau habis ini waktu Dzuhurnya." Chiko menggelitik telapak kaki kakaknya itu, tapi yang di pegang terasa panas. Karena khawatir Chiko memegang dahi Cheery, dan ternyata lebih panas. Chiko yang panik langsung menghubungi bundanya.
tut...tut...
"assalamualaikum bun,... mbak Cheery demam bun, Chiko bangunin gak bangun-bangun, dan ternyata panas badannya."
"waalaikumsalam, ya Allah, iyaa bunda habis ini pulang, kamu bangunin mbak Cheery, ambilin air putih, dan di kompres air hangat. Adek bisa kan sayang sambil nunggu bunda sampai rumah." bunda Khawatir.
"iyaa bun, chiko bisa, yasudah bunda hati-hati di jalan. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam."
Chiko turun ke dapur untuk memasak air buat mengompres kakaknya itu. Juga menyiapkan satu botol besar air putih hangat. Setelah semua tertata di atas nampan, Chiko kembali menuju kamar kakaknya itu. Dengan telaten dia mengompres dahi kakaknya itu. Cheery perlahan-lahan bangun dan melihat Chiko ada di sebelah ranjangnya.
__ADS_1
Kepala Cheery yang pusing membuat dia hanya pasrah saja di kompres adiknya itu. Dan menuruti perintah Chiko untuk meminum air yang banyak. Tak berapa lama Bunda yang baru sampai di rumah langsung memasuki kamar Cheery dengan wajah Khawatir.