
Sekitar pukul 3 Sore Mama Ratna sudah bersiap-siap menuju toko kue Cheche. Mama menyiapkan empek-empek yang tadi dibuatnya dadakan bersama Bi Asih.
" Farkan, buruan turun, kamu itu mandi apa tidur lagi sih? Mama tinggal nih kalau kelamaan." teriak Mama dari ruang tengah.
"iyaa ma, bentar, nyari kunci mobil nih ma, kok gak ada semua, adanya motor Vespa putih Farkan doang nih di meja." Farkan pun ikut teriak.
"loh, kalian ini mau kemana?? teriak-teriak kayak di hutan aja??" Papa ikut bersuara.
"ini Pa, Mama mau ikut jenguk Pak Hadi, katanya jantungnya kumat. Nah sekalian mau bilang terima kasih sama Cheery soal semalam itu lho. Mama bikinin empek-empek tadi siang." jelas sang Mama menunjuk Kotak bening berisi empek-empek yang di buat tadi.
"emangnya Mama tau alamat rumahnya?" tanya Papa kepo.
"ya gak tau Pa, kita mau ke Toko Kue langganan Mama mau beli bawaan buat Pak Hadi, ternyata Cheery itu anaknya pemilik toko kue itu. Nah sekalian aja Mama mau ucapin terimakasih." Senyum melirik papa.
"Yasudah Papa juga ikut kalo gitu, mau ikut jenguk Hadi, dia juga teman Papa mancing. Bentar Papa ganti baju dulu." Papa baru pulang main golf langsung buru-buru mengganti pakaiannya.
"Mah, kunci mobil Farkan kan di sita Papa ma, kita naik apa dong?" tanya Farkan ketika sampai di ruang tengah.
"yaudah pakai mobil Mama aja, Papa juga mau ikut jenguk Pak Hadi. Bentar nunggu Papa ganti baju dulu."
"Papa juga ikutan?? emang papa udah pulang ma?" setahu Farkan Papanya itu pulang sorean.
"udah, tunggu aja bentar lagi. Tuh Papa udah dateng." sambil menunjuk Papa yang berjalan ke arah mereka.
" yaudah ayok, naik mobil Mama aja."
Perjalanan ke Toko Kue memakan waktu 30 menit, setelah memarkirkan mobilnya, Farkan ikut turun dan masuk ke Toko kue menyusul Mama dan Papanya.
Klunting.....
Bunyi bel yang ada di atas pintu Toko mengalihkan pandangan Bunda Rika yang sedang menjaga kasir. Dan langsung di sambut dengan senyuman.
" selamat sore, mari bu, pak silahkan, mau beli kue yang mana?" sapa Bunda Rika sambil berdiri mendekat ke arah mereka.
"selamat sore bu, saya mau kue jajanan pasar komplit yaa bu, minta di buat kotakan buat jenguk orang sakit bu." jawab Mama Ratna.
"oh iyaa sebentar saya siapkan, mbak Nana, tolong siapkan pesanan ibu ini yaa. Saya siapkan notanya dulu." Bunda rika memanggil salah satu karyawannya.
" baik bu."
Mama Ratna mendekat ke kasir sambil bertanya soal Cheery, Papa dan Farkan asik duduk di Sofa ujung toko sambil ngemil kue cucur.
" berapa totalnya 1 paket, sama kue cucur yang di makan suami dan anak saya bu." Mama Ratna mengeluarkan dompetnya.
"satu paket jajan pasar 100ribu sama kue cucurnya 20ribu, jadi 120ribu bu." Bunda Rika menyebutkan nominal yang harus di bayar.
Mama Ratna mengeluarkan dua lembar 100ribuan dan memberikan kepada Bunda Rika. Tiba-tiba Cheery keluar dari dapur dan menghampiri bundanya sambil menyerahkan Rainbow Cup Cake buatannya. Cheery bersemangat membuat Cup Cake karena kue percobaannya yang dulu banyak peminatnya.
"Bun, ini cup cakenya udah jadi, Cheery taruh di etalase yaa." sambil melihat bundanya sedang melayani pembeli.
"loh ini Cheery kan? yang semalam nganterin Farkan pulang? "Mama Ratna menatap Cheery senang.
__ADS_1
"sore tante, iya tante saya yang semalam, tante mau beli kue apa?" tanya cheery ramah.
"ini tante mau jengukin temannya om yang sakit, jadi mau beli jajanan pasar disini. Tadinya tante mau tanya Bunda kamu dulu, cheerynya ada apa tidak disini, ternyata kamu udah keluar duluan." Mama mendekati Cheery.
"memangnya kenapa cari Cheery tante??" bingung Cheery.
"Farkan, bawa kesini kotak putihnya." Mama menatap Farkan.
Farkan dan Papa Sigit mendekat sambil menyerahkan kotak putih itu kepada Cheery.
"ini tanda terima kasih tante sama om buat semalam, karena kamu udah nolongin anak tante. Maaf tante bingung mau kasih apa, mendadak soalnya pas Farkan bilang kalau udah kenal kamu"
"terimakasih tante, om, maaf jadi merepotkan, Cheery ikhlas nolongin Kak Farkan semalam." Cheery menerima kotakan itu.
"maaf ada apa yaa ini, bunda kok jadi bingung." bunda mendekati mereka.
"begini bu, tadi malam Cheery dan adiknya mengantar anak saya yang pingsan di jalan. Saya tidak tahu apa jadinya kalau yang menolong Farkan semalam bukan anak baik seperti Cheery." jelas Mama Ratna.
"oh jadi yang semalam kamu pulang telat itu yaa mbak?" tanya Bunda.
" iyaa bun, semalam kak Farkan yang Cheery tolongin."
"salam kenal bu, saya Ratna, Mamanya Farkan, itu Suami saya, dan anak saya." sambil menyodorkan tangannya dan di ikuti Papa Sigit dan Farkan.
"saya Rika bundanya Cheery." sambil berjabat tangan dengan mereka.
" ibu pintar sekali mendidik anak baik seperti cheery. " puji Papa sigit.
"terimakasih sekali lagi nak Cheery, lain kali boleh kita makan siang bersama. Mungkin kita bisa lebih dekat, saya jadi ingat anak perempuan saya yang sudah menikah dan ikut suaminya di luar negri. Saya seperti punya anak perempuan lagi." Mama Ratna menatap Cheery sambil tersenyum.
"terimakasih tante, mungkin kalau ada waktu bisa tante." Cheery tersenyum canggung.
"thanks ya Cheer, udah bantuin gue semalem." ucap Farkan setelah di lirik tajam oleh sang mama karena dari tadi hanya diam.
"iyaa kak sama-sama." Cheery tersenyum membalas senyum Farkan.
"yasudah karena hari sudah sore, kami permisi dulu, lain kali kita bisa menyambung silaturahmi sebagai teman. Betul bu Rika." Sambil menyalami Bunda Rika.
" terimakasih juga Bu Ratna, di tunggu kembali kedatangannya di toko kami." jawab Bunda tak kalah Ramah.
"assalamualaikum"
" waalaikumsalam"
Cheery langsung menceritakan hal yang terjadi semalam lebih rinci, tetapi tentang Farkan yang mabuk di hilangkan. Karena takut bundanya marah, karena menolong orang mabuk itu berbahaya kata Ayah.
Selama perjalanan Farkan tersenyum tipis, dia masih terngiang-ngiang senyuman Cheery waktu di toko tadi. Padahal waktu di kampus saja Cheery sok jual mahal, dan malah melengos setelah di beri senyum oleh Farkan.
Bunda dan Ayah yang melihat Farkan tersenyum langsung menyindir anaknya itu.
"ada yang lagi berbunga-bunga tuh Pa, kayak habis ketemu bidadari."
__ADS_1
"bener banget ma, tapi bidadarinya yang apes ketemu rahwana kayak dia."
"siapa yang rahwana pa?? masa anak sendiri di katain Rahwana sih pa??" gerutu Farkan.
"lah kamu senyum sendiri daritadi pasti bayangin Cheery kan??" tebak Mama
"mana ada ma, orang Farkan gak senyum kok." elaknya.
"Mama inget, dulu kamu pernah cerita sama mama waktu pulang dari toko kue itu. Itu Cheery yang sama yang kamu ceritain kan??" selidik mama.
"hmmm...yaa gitu deh, sebelum tau dia nyebelin ma." Farkan berdecak mengingat kejadian di kantin.
"pasti kamu yang berulah, Papa sih percayanya gitu. Kalau kamu gak berulah mana mungkin Cheery nyebelin. Yaa gak ma." Papa mencari pembela.
"iyain aja deh biar cepet."
Tak terasa perjalanan ke Rumah Sakit begitu cepat karena sekarang mereka sudah sampai di depan lobby. Tinggal menunggu Farkan memarkir mobilnya.
"ruang nomer berapa Far?" tanya Papa sambil berjalan bersisihan dengan Mama.
"lantai 5 pa, nomer 506."
"yaudah ayo naik, itu mumpung liftnya kosong."
Farkan mengetuk Pintu begitu sampai di depan ruang 506.
tok ..tok...
"assalamualaikum..." ucap mereka bersamaan.
"waalaikumsalam," jawab Reynand dan kedua orang tuanya.
"aduh jeng Ratna repot-repot, makasih loh jeng udah jengukin Papanya Reynand." sambil cipika cipiki ala ibu-ibu.
"gak ada yang repot jeng, kita kan udah kayak saudara, kalau saudara sakit yaa kita tengokin kalau ada yang perlu di bantu pasti kita bantu." jawab mama Ratna.
"gimana keadaan kamu Di??" tanya Papa Sigit.
"alhamdulilah udah mendingan, tinggal nunggu dokter aja ini minta pulang. Gak betak aku lama-lama disini."jelas Pak hadi.
"yaa istirahat dulu Di, kalau belum pulih yaa belum boleh pulang, jangan mikirin kerjaan terus, waktunya perkebunan kamu di urus sama anak-anak kamu."
"anakku yang pertama lebih memilih membuka usahanya sendiri Git, dan yang bontot masih skripsi. Pas ditanya, Reynand mau gak nerusin perkebunan teh Papa, jawabnya nanti dulu, mau punya pengalaman dulu katanya. Yaa sudah mau tidak mau aku urus semuanya sendiri. Aku masih kuat kok Git, cuma kemarin kecapekan aja."
"iyaa kalau sudah capek itu yaa istirahat, yang tau kondisi badan kamu yaa kamu sendiri. Jadi harus tau kapan waktunya istirahat." Sigit menasehati.
"bener banget itu mas, susah banget kalau suruh istirahat Mas Hadi itu." Mama Reynand menambahkan.
" ya sudah cepet sembuh yaa...banyakin istirahat."
Mereka terus mengobrol sampai waktu magrib tiba dan mereka berpamitan pulang karena waktu jenguk sudah habis.
__ADS_1