
"gimana keadaan mbak Cheery dek?" tanya bunda khawatir.
"tadi udah Chiko suruh minum putih yang banyak, sama udah Chiko kompres bun." Chiko memandang bunda sendu.
"yasudah bunda buatkan bubur dulu, kamu jagain mbak dulu yaa biar bisa minum obat, jangan lupa sambil terus di kompres"
Bunda turun ke dapur untuk membuat bubur, Chiko setia menemani kakaknya itu. Ponsel Cheery tiba-tiba berbunyi. Ada panggilan masuk dari temannya Risya.
Risya calling....
"assalamualaikum Cheer, lo udah sampe rumah belom?"
"waalaikumsalam, maaf kak, mbak Cheerynya lagi sakit, jadi Chiko yang angkat telponnya."
"Cheery sakit apa? perasaan tadi pagi sebelum balik ke rumah masih baik-baik aja di telpon."
"kurang tahu kak, tadi Chiko pulang badannya udah panas. Dan tiduran terus, katanya pusing."
"udah periksa ke dokter belum?"
"belum kak, ini lagi di kompres sama tiduran, mbak Cheery itu paling susah kalau minum obat."
"yasudah nanti gue kesana deh sama Gita, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Tak berapa lama Bunda datang membawa semangkuk bubur dan teh hangat untuk Cheery. Chiko segera beranjak untuk mengganti air kompresan yang mulai dingin.
"mbak, bangun dulu, makan sedikit dulu yuk, biar isi perutnya, nanti boleh tidur lagi. Minum obat yaa nak, biar demamnya cepat turun." rayu bunda sambil menepuk-nepuk pundak Cheery.
"ehmm..bentar bun, pusing banget ini, gak usah minum obat bun, ini buat tidur juga sembuh." Cheery duduk dan bersandar di ranjang.
"yasudah makan dulu yaa, bunda suapin. Kamu kecapekan ini, di bilangin suka ngeyel, suruh istirahat di rumah nenek dulu, apa gak usah nyetir sendiri, kan bisa naik bis nanti minta di jemput kakek di terminal." omel bunda sambil terus menyuapi Cheery.
"bun, Cheery lagi sakit lho ini, jangan di marahin dulu kenapa. Tambah pusing bun, iyaa Cheery minta maaf, ini Cheery kecapekan aja, kali nyetir kan biasa Cheery nyetir sendiri kemana-mana. Malah pernah pakai motor. Mungkin karena udah lama Cheery gak terkena cuaca dingin selama enam bulan Bun, jadi kaget." Cheery mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"yasudah kamu istirahat, sambil bunda kompres. Kalau nanti sampai Ayah pulang demam kamu belum juga turun, kita ke dokter. Soalnya kamu gak mau minum obat, biar di suntik aja nanti, atau minta obat yang sirup. Heran bunda, udah gede gini masih gak bisa makan obat yang kapsul."
"iyaa bunda, Cheery istirahat yaa...bun, minta tolong kaki sama leher Cheery di gosok minyak kayu putih? Dingin banget bun rasanya." Cheery mulai merengek.
"iyaa bunda udah tau kebiasaan kamu. Bunda ambil minyak kayu putih dulu."
Cheery merebahkan tubuhnya lagi, karena pusing dan dingin yang mendera tubuhnya. Chiko datang dengan baskom air hangat untuk mengompres badan Cheery lagi. Adiknya ini memang sangat sayang kepada kakaknya, dia dengan telaten merawat Cheery, sampai dia lupa kalau dia sendiri belum makan. Bunda datang dengan kayu putih di tangannya. Bunda yang melihat Chiko masih mengompres kakaknya masih memakai seragam sekolahnya mengernyitkan dahi.
"kamu pulang sekolah belum ganti baju, belum mandi belum makan langsung merawat mbak Cheery dek?" tanya bunda.
"iyaa bun, Chiko gak tega liat mbak Cheery sakit." tangannya masih mengompres Cheery.
"iyaa bunda seneng kamu sayang banget sama saudara, tapi kamu juga harus mandi dan makan dulu, jangan sampai kamu ikutan sakit. Dah sana mandi terus makan, baru jagain Mbak lagi." usir bunda sambil menatap tajam Chiko.
"tapi bun,...Chiko mau jagain Mbak Cheery,.." tatap Chiko memohon.
"iyaa nanti jagain lagi, sekarang mandi dan makan dulu. Oke nak. biar bunda yang jagain dulu."
Chiko pun keluar dari kamar Cheery dan melaksanakan perintah bunda. Bunda langsung menggosok kaki dan leher Cheery dengan minyak kayu putih. Juga mengganti kompres di dahinya. Bunda membuka tas yang di bawa Cheery kemarin, dan mengeluarkan pakaian kotornya juga oleh-oleh dari Neneknya. Dua kotak stroberi dan dua kotak anggur hijau.
Begitu selesai mengeluarkan barang-barang Cheery, bunda kembali mengganti kompres Cheery dan melihat Cheery mulai menggigil kedinginan. Bunda kembali menggosok-gosok kaki, telapak tangan dan leher Cheery.
"assalamualaikum, Ayah salam dari tadi nggak ada yang jawab, pada kemana sih kok sepi?" tanya Ayah.
"iyaa, bukannya mbak Cheery udah pulang yaa, itu mobilnya udah terparkir di garasi "tambah Chandra.
"Bunda ada di kamar mbak Cheery yah, Mbak lagi sakit. Demam pulang dari rumah nenek." jelas Chiko.
"loh, Mbak Cheery sakit? kok gak ngabarin ayah sih dek?" omel ayah Khawatir sambil berjalan menuju kamar Cheery.
"tadi Chiko panik yah, terus bunda yang Chiko telpon." jelas Chiko.
"yasudah Mas ikutan ke kamar mbak Cheery dulu, kamu makan dulu sana." ketika mendengar perut Chiko yang berbunyi.
"oke mas." Chiko berjalan menuju meja makan dan Chandra berjalan menuju kamar Cheery mengikuti Ayahnya.
__ADS_1
Semua keluarga Cheery sudah terbiasa mandiri, jadi ketika ada anggota keluarga yang sakit, dan di meja makan tidak ada makanan, mereka akan berinisiatif untuk memasak atau memesan makanan. Tidak perlu menunggu kaum hawa untuk menyiapkan makanan. Karena keluarga itu harus saling kerja sama. Tidak boleh ada yang menang sendiri.
Chiko membuka tudung saji dan hanya ada ayam goreng tadi pagi. Chiko berinisiatif untuk membuat sambal. Karena makan kalau tidak pedas rasanya kurang enak. Chandra yang baru saja keluar dari kamar Cheery langsung menghampiri Chiko yang membuat sambal.
"ada yang bisa di bantu dek?"
"udah beres mas, tinggal di uleg aja, mas Chandra kalo mau bantuin tinggal ambil kemangi belakang rumah sama potong timunnya, biar tambah mantep ayam goreng sambal lalapan. Udah liat mbak Cheery mas? apa masih demam?" sahut Chiko.
"masih dek, lagi di kompres sama bunda, Ayah sama Mas langsung di usir bunda karena belom mandi. Kata bunda malah nambah-nambahin virus. Oke deh habis dari metik kemangi dan potong timun, mas langsung mandi." Chandra melangkah ke kebun belakang.
Tak lama Ayah turun ke dapur, melihat anak bungsunya sedang membuat sambal. Ayah ikut membantu memotong timun. Chandra yang baru datang langsung memberikan kemangi kepada Chiko dan langsung naik ke kamarnya untuk mandi.
Ketika semua sudah beres, mereka bertiga sudah duduk di meja makan untuk makan bersama. Tetapi karena sang ayah ingat bunda yang belum makan, maka nasi dan lauk pauknya di letakkan di nampan dan akan makan bersama di kamar Cheery. Ayah tidak tega melihat bunda yang kualahan menjaga Cheery yang manja kalau sakit begini.
"giman Cheery bun? udah mendingan belom demamnya?" tanya ayah begitu memasuki kamar Cheery.
"alhamdulilah udah mendingan yah, coba aja mau minum obat, kan langsung turun demamnya. Loh ayah kok makanannya di bawa kesini? nanti bunda turun aja, gantian sama ayah."
"gak apa-apa bun, kita makan bersama saja sambil jagain Cheery. Kan lebih enak. Masa ayah enak makan di meja makan tapi bunda sendiri jagain Cheery dari tadi belum makan."
"duh ayah pengertian sekali, terharu bunda jadinya. Yasudah ayo makan. Nanti sambil dilihat kompresan Cheery."
Mereka pun makan bersama dikamar Cheery sambil bergantian mengganti kompresan Cheery. Beginilah kalau salah satu anggota keluarga ada yang sakit, mereka akan saling membantu satu sama lain. Karena keluarga itu harus saling menyayangi satu sama lain.
Chiko dan Chandra yang baru selesai makan dan shalat magrib langsung bergegas menghampiri kamar Cheery, untuk bergantian menjaga Kakaknya itu. Supaya Ayah dan bundanya bisa bergantian shalat magrib.
Cheery yang barusan terbangun langsung melihat dua adiknya yang sedang mengganti kompresnya. Cheery melihat mereka telaten mengurusnya merasa tambah sayang. Cheery memberikan senyum tulus dari bibir pucatnya.
"makasih yaa dek udah rawat mbak, mbak sayang banget sama kalian." ucap Cheery sendu.
"udah mbak istirahat aja, biar cepet sembuh, kita sedih kalau liat mbak sakit gini." ujar Chandra.
"iyaa mbak bakal istirahat. Mbak boleh minta tolong antar ke kamar mandi, mbak mau wudhu trus shalat magrib." Cheery bangun dari ranjang dan berjalan pelan karena tubuhnya masih lemas dan kepalanya masih pusing, badannya seperti limbung.
"iyaa kita bantuin mbak, tapi sambil rebahan aja shalatnya, takut jatoh nanti."
__ADS_1
"iyaa..ayo.."
Setelah selesai Shalat magrib Cheery kembali beristirahat, tak lama bunyi bel rumah mereka berbunyi. Seperti ada tamu, didengar dari suaranya Cheery langsung mengenali mereka.