
"mbak, tadi pulang sama siapa?" tanya Ayah ketika semua berkumpul di ruang keluarga sambil menonton tv.
"temen Cheery yah, namanya kak Farkan, kakak tingkat di kampus Cheery." jawab Cheery sambil memakan cemilannya.
"kok Bunda kayak gak asing sama nama itu mbak? Pernah ketemu kah sama bunda?" bunda mulai mengingat-ingat siapa teman putrinya itu.
"Itu lho bun, yang anaknya Tante Ratna sama Om Sigit, yang waktu di toko kue."
"oww yang itu, kok bisa ketemu sih mbak?"
"jadi dia sekarang kerja di kantor Papanya gitu bun, tadi nawarin nganter pulang Cheery, pas kebetulan ojol yang di pesen Cheery mendadak di cancel gara-gara ban motornya bocor."
"tumben mau di anterin temen cowok mbak? biasanya juga selalu telpon Chandra kalo gak Ayah yang suruh jemput? istimewa yaa??" goda Chandra sambil menaik turunkan alisnya menggoda Cheery.
"Apaan sih dek, orang kebetulan gitu, terus kamu juga pulang sekolah barusan kan, Ayah sama bunda juga baru pulang dari jenguk Om Bagas kan, mana angkutannya penuh semua kalo jam-jam segitu." Cheery membela diri.
"iyaa juga sih, tapi record lho mbak baru kali ini mbak Cheery dianterin cowok selama kuliah, mana ganteng terus kelihatan kaya lagi. Coba kalo Mas Chandra, sama Ayah liat." Chiko ikutan menggoda Cheery.
"mas Chandra udah pernah ketemu, ya gak mbak, yang waktu pingsan itu, kan kita anterin ke rumahnya." Chandra melirik kakaknya itu.
"owh jadi yang waktu kalian pulang kemalaman itu yaa? yang mau beli makanan malah pulang hampir tengah malam?" Ayah menatap putrinya lagi.
"iyaa yah, yang itu. Makanya Cheery mau di anter pulang juga karena Cheery udah kenal, terus tau rumah dan kenal sama orang tuanya, bunda sama Chandra juga tau orang dan rumahnya. Jadi Cheery gak begitu khawatir."
__ADS_1
"kok Ayah jadi penasaran yaa sama keluarga mereka, berarti cuma ayah yang belum tau yaa." Ucap ayah sambil menggosok dagu dengan telunjuknya.
"mungkin lain kali bisa ketemu yah. Eh tapi bukannya ayah juga kerja d SR corporation kan?" tanya bunda.
"iyaa memang ayah kerja sana, cuma ayah kan lagi di tempatkan di cabang bagian timur bun, kenapa memang? jangan bilang itu yang pesen kue istrinya Pak Sigit bos besar ayah??" tanya Ayah menyelidik.
"iyaa yah memang bener Ibu Ratna yang pesen kue itu, istrinya pak Sigit. Bunda kan gak tau siapa nama istri sama bos besar Ayah. Setahu bunda bos Ayah itu Pak Rahman, dan istrinya Bu Nurma." bunda tak mau kalah berargumen.
"kalau Pak Rahman itu Direktur di kantor cabang Ayah bun, kalo Pak Sigit itu baru yang punya perusahaan. Duh, dunia kok sempit gini sih, Ayah jadi gak enak kalo anak ayah malah di anterin sama anaknya bos Besar. Mbak gak punya hubungan aneh-aneh kan sama anak Pak Sigit?" tanya ayah lagi.
"yaa nggak lah ayah, kan cuma kenal aja, lagipula Cheery kan gak berniat buat pacar-pacaran. Cheery masih pengen buka butik sama ngembangin toko kue Bunda."
"yasudah kalau gitu, takutnya nanti dikira kita memanfaatkan mereka demi jabatan ayah di kantor." jawab Ayah.
"yasudah gak usah mikir macem-macem, sekarang sudah malam, besok kalian sekolah kan? mbak Cheery udah mulai liburan kan? Mau bantuin bunda di toko kan? ayo kita tidur." perintah Bunda.
Dilain tempat ada seseorang yang sedang kasmaran, semenjak dia pulang tadi hanya senyum yang menghiasi wajahnya, dan itu membuat seluruh keluarganya heran.
Farkan memang tak mengikuti acara syukuran yang berada di rumah, karena Farkan sudah mengikuti acara yang ada di kantor. Dan ketika sampai rumah pun acara sudah di mulai, jadi dia langsung masuk kamar. Dan sekarang baru turun ke ruang keluarga setelah membersihkan diri.
"kok kamu baru pulang Far? bukannya acara kantor jam 5 sudah selesai?" tanya Mama.
"iya ma, tadi nganterin temen dulu."
__ADS_1
"terus kenapa kamu kelihatan seneng banget? dari tadi senyum terus. Emang siapa yang kamu anterin??" tanya Kak Ariani.
"itu yang tadi nganterin kue ma, Cheery kebetulan mau pulang, dan ojek onlinenya mendadak cancel, jadi Farkan ajakin bareng aja."jelas Farkan sambil senyum.
"Cheery yang nagnterin kamu dulu? yang anaknya bu Rika, yang adek tingkat kamu juga? Kok bisa kebetulan sih?" Mama terkejut sekaligus gembira, sepertinya mereka mulai dekat.
"nanyanya satu-satu dong ma, iyaa Cheery yang itu. Iya katanya sopir yang tadi nganter kue ada urusan mendadak, terus Cheery pulang sendiri, kebetulan Farkan juga mau pulang, jadi sekalian Farkan anterin."
"kamu gak modus kan?" tanya Papa.
"Modus darimananya sih Pa, orang Farkan niatnya tulus kol nganterin Cheery, yaa ada sih modus dikit biar deket..hehehehe..."Farkan cengengesan.
"nah itu Ma, liat anak Mama udah bisa modusin orang, mana yang di modusin si Cheery lagi. Tapi kok insting Riani susah yaa Ma, secara Farkan anaknya gak jelas gitu, mana mau Cheery sama dia. Cheery kan orangnya kayak rajin banget, terus kayak konsisten gitu lho Ma." ucap Ariani menggebu.
"eh, kakak gausah jelek-jelekin adeknya yang ganteng ini dong, harusnya doain Farkan biar bisa deketin Cheery, Kakak gak mau punya adek ipar yang baik gitu?" Farkan mendelik tak terima.
"bukannya jelek-jelekin, emang kenyataannya kamu kayak gitu kelakuannya. Coba aja kelakuan kamu di perbaiki mulai sekarang. Kamu itu udah dewasa sekarang, udah ngerti susahnya cari uang, harus mikir kedepannya." omel Ariani.
"Mama setuju itu kalau kamu mau deketin Cheery, jangan di buat becanda tapi Far, di seriusin, dan kelakuan kamu harus mulai pelan-pelan di perbaiki. Mama dengerin kamu tiap hari ngeluh soal kerjaan ini itu, tapi itu kan bagus buat masa depan kamu." Mama menasihati.
"Papa juga setuju kalau deketin Cheerynya untuk di ajak serius, kalau buat dimainin Papa kirim kamu ke Afrika sana."Papa ikut membela Mama
"iya-iya.. Farkan akan mulai pelan-pelan berubah lebih baik, dan akan deketin Cheery buat serius gak main-main. Minta doanya yaa Pa, Ma, kakak." Farkan memeluk seluruh anggota keluarganya.
__ADS_1
"ada apa nie peluk-pelukan? ikutan dong.." Rendra suami Ariani tiba-tiba datang dan ikut memeluk mereka.
"apasih bang ikutan aja..hahahha...." tawa mereka semua.