
Sekitar pukul setengah 8 malam mereka sampai di cafe Impian. Mereka melihat sekeliling untuk mencari tempat duduk yang kosong. Tak lupa mereka juga memesan minuman juga cemilan. Di ujung cafe terlihat penyanyi beserta pengiringnya sedang menyanyikan lagu romantis.
"nah itu yang pegang bass adeknya Cheery, ganteng kan, unyu-unyu gitu mirip chanyeol." ujar Risya heboh.
"bakalan jadi adek unyu gue itu, secara gue gak punya adek."Gita mengaku-aku.
"eh, yang punya adek biasa aja tuh," Cheery memanyunkan bibirnya.
"iyaa itu bentukan gue waktu SMA, persis kayak gitu."aku Dicko.
"gosah ngayal lu, muka mirip adonan peyek aja ngaku kek Chanyeol."ledek Reno.
"udah, gausah ribut mulu, yang calon abang ipar disini B aja tuh."canda Satria dan berharap beneran.
"siapa??" Cheery bingung.
"yah kodenya gak masuk bro, turut prihatin gue." Dicko menatap Satria prihatin.
"udah-udah becanda gue."tambahnya.
Chandra yang sudah selesai perform pun menghampiri kakaknya yang sedari tadi masuk Cafe sudah menjadi perhatiannya. Bagaimana tidak di perhatikan, kakaknya itu berangkat nonton tadi cuma bertiga cwek semua, kenapa sekarang jadi berenam, ada 3 cowok lagi. Jiwa protektif sang ayah menurun ke anak laki-lakinya, ketika kakak cantiknya dalam incaran buaya.
"maaf mbak nunggu lama,"sambil cium tangan Cheery.
"gak juga kok tadi sambil pesen minum, cemilan juga sekalian ni temen mbak mau kenalan sama artis cafe ke cafe. ehehhe" Cheery mulai mengenalkan temannya satu persatu.
"hai, gue Satria, ini temen gue Reno dan Dicko." satria berjabat tangan dengan Chandra.
__ADS_1
"aku Chandra kak, adeknya mbak Cheery yang kedua." membalas jabat tangan ketiganya.
"suara permainan bass lo bagus banget, lo sering manggung di cafe-cafe gitu?" tanya Satria.
"gak juga sih kak, cuma kalau malam minggu aja bare di bolehin sama bunda, kalau hari biasa sama minggu gak boleh, katanya nanti ganggu sekolahnya." jelas Chandra.
"betul banget itu, gue dukung, pendidikan itu nomer satu, hobi bisa mengikuti."tambah Dicko.
"udah malam ini mbak, ayo pulang nanti Ayah sama Bunda khawatir, janjinya kam sebelum jam 9 sudah sampai dirumah." ajak Chandra.
"oke deh, aku duluan yaa sis, kakak sekalian, udah malam ini, Assalamualaikum,"pamit Cheery dan Chandra.
Ketika motor Chandra sudah tidak terlihat mereka kembali mengobrol.
"jam setengah 9 dibilang sudah malam?? apa kabar gue yang kalo pulang nongkrong tengah malam menjelang pagi."terang Dicko.
"Cheery dan keluarganya itu disiplin dan kompak banget, saling melindungi dan sayang satu sama lain." jelas Risya.
"apalagi Ayahnya, protektif banget kalo sama anak-anaknya terutama Cheery, secara dia anak cewek sendiri."tambah Gita.
"kalian udah pernah main kerumahnya?? kok kayaknya tahu banget tentang keluarga Cheery."tanya Satria.
"Dari cerita Cheery tiap hari pas di kampus sama pas tadi jemput Cheery di rumahnya, jadi kita kenal sama keluarganya yang humble banget. Keluarga yang sederhana, padahal kalau dilihat-lihat ayahnya itu terlihat seperti orang penting gitu."oceh Risya
"iya bener banget, kita waktu itu gak sengaja ketemu di halte pas ayahnya jemput Cheery. Mobilnya sih masih wajar gitu, toyota innova Reborn. Penampilannya juga memakai jas rapi kayak orang penting di perusahaan gitu. Tapi tiap ditanya Cheery cuma jawab hanya staf biasa gitu." terang Gita.
"mungkin sejenis manager tapi low profil."tebak Satria.
__ADS_1
"bisa jadi sih, rumahnya juga sederhana, malah luas banget pekarangan belakang rumah, isinya tanaman cabe, tomat dl. Hobi berkebun satu keluarga. Di parkiran ada 2 mobil sama 3 motor, hewan piaraan juga ada, definisi keluarga bahagia dan kompak banget itu."cerita Risya iri.
"gue jadi iri sama keluarga mereka yang kompak dan saling sayang, biarpun gue serba kecukupan, tapi ortu gue sibuk kerja semua, kadang-kadang aja sih dirumah."terang Gita.
"ya gak beda jauh lah sama kita-kita, tapi beda tuh sama Satria, nyokapnya dirumah tapi sesekali arisan sana sini, secara kan ibu sosialita cukup bapaknya aja yang jadi pejabat." Dicko memamerkan keluarga Satria.
"apaan lu, bukannya bapak lu juga sama, pejabat juga, emak lu juga arisan satu grup sama emak gue." balas Satria.
"cuma emak gue yang hobinya arisan PKK sama nawarin kredit tupperware di ibu-ibu komplek. Udah gausah debat lagi. Bersyukur lo pada." omel Reno.
"ini kenapa jadi cerita tentang keluarga masing-masing sih, kayak mau sensus penduduk aja, apa ada yang mau berbesan??" tanya Risya absurd.
"udah jam setengah 10 nie, cabut yuk, rencana besok mau CFD an bareng Cheery sama keluarganya, berasa gue jadi anak mereka deh. Ga sabar gue, kita duluan ya kak, assalamualaikum."pamit Risya dan Gita.
"Kita mau nongkrong dulu apa pulang ni??"Reno menghabiskan minumannya lalu berdiri ingin ke toilet.
"pulang aja yuk, gue tau kayaknya sobat gue pengen kenal sama camer deh besok."goda Dicko.
"yaudah tungguin bentar gue ke toilet dulu."Reno ngacir.
"besok lah gue kabarin jadi apa nggak, tergantung mata gue mau melek apa nggak, secara kalo libur itu pengennya rebahan mulu, apalagi sepi banget kalo weekend rumah gue. Emak bapak gue hobinya luar kota mulu. gue ditinggalin sama bibi." sendu Satria.
"nasib kita jadi anak pejabat, udah lah besok gue meluncur tempat lo subuh, apa gue nginep tempat lo aja deh." tawar Dicko.
"boleh tu, kita main PS dulu nanti, belom ngantuk gue. Ajak sekalian si Reno, tuh orangnya dateng."
"yuk cabut, kita nginep tempat Satria, main PS, kalo besok gak kesiangan kita CFDan, kalo bantu temen jangan setengah-setengah." jelas Dicko.
__ADS_1
"kuy lah." mereka cabut menuju parkiran dan bersiap pulang.