MY SWEETY CHEERY

MY SWEETY CHEERY
CFD


__ADS_3

Pagi harinya keluarga Ananta sedang bersiap-siap akan lari pagi. Mereka memanfaatkan hari libur ini untuk berolahraga bersama keluarga. Setelah semua memasuki mobil kini melaju dengan kecepatan sedang menuju Stadion Garuda. Cheery sudah mendapat kabar dari sahabatnya, kalau mereka sudah dalam perjalanan juga.


Stadion Garudu tampak ramai setiap minggu pagi, ada yang sudah mulai lari pagu, berjalan santai, ada yang sedang pemanasan, ada juga yang sedang memakan cemilan.


"rame banget ya Yah hari ini, padahal kita datang jam 5 pagi." ucap bunda sambil melihat sekeliling Stadion.


"mungkin karena cuaca hari ini cerah, jadi lebih banyak pengunjungnya." jelas Ayah sambil berjalan memasuki stadion.


"mana lagi ini Risya sama Gita, katanya udah OTW, tapi kok gak sampe-sampe." gerutu Cheery.


"tuh dia mobil kuning kan mbak??" tunjuk Chiko pada mobil yang baru saja parkir.


"iya tu bener." Tak lama keluarlah Risya dan Gita , mereka langsung menghampiri keluarga Cheery.


"maaf tante, om nunggu kita lama yaa." Risya dan Gita merasa tidak enak.


"gak lama kok, udah ayo kita lari."ajak Ayah Dedi.


Mereka mulai berlari beriringan sambil bercerita. Ayah Dedi bersama ibu Rika, Chandra dan Chiko, kemudian di belakang Cheery, Gita dan Risya.


"rumah kalian di daerah mana nak Gita dan Risya?" tanya bunda.


"Gita di komplek Pandawa tante, kalau Risya di jl. setiakawan." jelas Gita.


"dekat yaa kalau ke kampus, kalian berangkat bareng tiap hari?" tanya Ayah.


"nggak sih om, berangkatnya Gita biasa bareng papa, kalau pulang baru bareng Risya."


"Papa kamu kerja dimana?"


"Papa ada bengkel mobil om di daerah Sukamaju, tapi seringnya keluar kota buat belanja sparepat dan lainnya om, sekalian ngecek gudangnya disana, yaa sambil jual beli sparepat mobil gitu lah om."Gita menjelaskan.


"wah hebat ayah kamu, bisa buka usaha sendiri." puji ayah.


"tapi yaitu om, sering keluar kota, gita aja seminggu paling cuma ketemu 3/4 kali." sedih gita.

__ADS_1


"yaa namanya juga cari nafkah, masing-masing punya resiko dan itu semua dilakukan untuk keluarga." Ayah Dedi bijak.


" beda lagi sama Papi Risya om, kerjaan papi itu sering keluar negeri, bisa 2minggu baru pulang, kadang pernah hampir 1 bulan baru pulang om, papi usaha jual beli jam tangan sama barang-barang antik tapi harganya bikin geleng-geleng kepala om," Risya menceritakan tentang papinya.


"wow, keren papi kamu, besok boleh deh om liat-liat koleksi papi kamu."ayah Dedi tertarik.


Tiba-tiba disaat mereka sedang istirahat sambil meminum air putih yang di bawa masing-masing, ada 3 orang cowok yang datang menghampiri.


"hai Cheery, Risya ,Gita...lagi CFD juga yaa??" tanya Dicko sok akrab.


"oh kak Dicko ,kak Satria, sama kak Reno disini juga?" tanya Cheery.


"iyaa, mumpung bisa kumpul bareng mereka, jadi gue ajakin sekalian olahraga pagi." modus Satria sambil menatao Cheery.


"ehm.."ayah Dedi berdeham


"oh iyaa yah, kenalin ini Kak Satria, Kak Dicko, sama Kak Reno, mereka kakak tingkat di kampus Cheery." mereka pun mencium tangan Ayah dedi satu persatu.


"kalian sudah semester berapa? sama mengambil jurusan apa?" tanya Ayah dedi sambil menatap ketiganya.


"kita mengambil jurusan management bisnis om, baru semester 5 om." jawab Satria ramah.


"Kak Satria ini Presma di kampus Cheery yah, dan teman-temannya ini anggotanya juga. Jadi kenal dong yah." Cheery menjelaskan dan di angguki oleh ayah Cheery.


"ini pasti salah satu modus mereka deketin si Cheery tuh." bisik Gita ke Risya.


"setuju gue." jawab Risya sambil manggut-manggut dan melirik ketiga cowok itu yang sedang mengobrol dengan ayah.


"yasudah ini mau jalan lagi apa sarapan kita?" tanya bunda Rika.


"lanjut aja bun, baru sejam juga." seru Chiko.


"oke kita lanjut setengah jam lagi setelah itu kita sarapan. ayoo..."sambil berlari kembali.


Sementara ketiga cewek dan cowok itu berlari pelan sambil mengobrol.

__ADS_1


"kalian ikut kesini karena kita bilang mau CFDan sama keluarga Cheery kan?? hayoo ngaku aja kak?" selidik Gita.


"enggak kok, kita emang mau CFDan, semalam mereka menginap d tempat gue, terus mumpung bisa kumpul nie bertiga, jadi sekalian aja gue ajakin olahraga bareng."jelas Satria.


"yaa ada modus dikit lah, yaa gak sat??" goda Dicko sambil menaik turunkan alisnya.


"iyain aja lah biar cepet." satria memutar bola matanya malas.


"Cheer, ortu lo asik yaa,, walaupun tadi ayah lo tanyanya agak serem dikit gitu," komentar Reno sambil tatapan matanya mengarah ke Ayah dedi yang ada beberapa meter di depannya.


"mana ada serem, orang baik gitu lho.Cuma yaa agak protektif lah, secara punya anak gadis yang cantik." Dicko membela ayah.


"ayah memang gitu kalo sama temen baru aku, apalagi cowok."jelas Cheery.


"memang udah sering ya temen cowok kamu yang datang ketemu ayah?" tanya Satria penasaran.


"dulu waktu aku SMA pas di rumah nenek aku. Tapi masih mendingan ayah sih daripada kakek aku. Kakek aku lebih tegas lagi kalau sama temanku laki-laki. Malah pernah dulu ada yang main malam-malam langsung di usir sama kakek, gara-gara anak cowok bukan mahrom main ke rumah cewek malam-malam tanpa tujuan yang jelas." cerita Cheery panjang lebar.


"berarti kalau cowok kamu ngapelin kamu langsung di usir dong?" tanya Dicko.


"aku ga pernah pacaran dan gak mau pacaran. Karena itu gak ada faedahnya, juga bisa menghambat sekolah atau kuliah kita. Dan bisa menghambat cita-cita kita." Cheery mengeluarkan argumennya sambil menggebu-gebu.


"lo ga pernah pacaran? dan gak mau? emang gak ada yang pernah nembak kamu?" tanya Satria penasaran.


"ada sih beberapa, tapi aku udah jelasin ke mereka trus akhirnya mereka bisa pahami. Dan mereka bisa fokus ke sekolah mereka. Bukannya bagus yaa mereka jadi bisa meraih cita-citanya, dan jadi anak yang lebih bermanfaat. Daripada menghambur-hamburkan uang ortu mereka buat hal gak berfaedah."


"wah kalah sebelum berperang bro." sindir Dicko.


"lo gak pengen gitu pacaran, biar masa muda lo lebih berwarna, bisa jadi semangat juga buat kuliah." Satria mencoba peruntungan dengan alibinya.


"hmmm berwarna pink kalo lagi seneng, trus berwarna hitam kalo lagi berantem yaa.. nanti malah mempengaruhi kita jadi gak fokus kuliah dong, sayang ortu kita udah biayain kita kuliah dong. Misal nih yaa,, kalo aku akhirnya mau pacaran pun, aku bakalan milih dia yang sudah punya pekerjaan atau penghasilan sendiri. Jadi kalau kita jalan itu gak pakai uang ortunya. Mungkin juga saling suport dalam pekerjaannya, juga kuliahku, jadi seimbang. Bermanfaat juga kan." jelas Cheery panjang lebar.


"semangat berjuang bro, "bisik Dicko ke Satria.


"untung belum gue tembak, bisa malu gue." Satria mendesah. "kayaknya gue harus punya penghasilan dulu deh kalo mau maju." tambah melambat larinya Satria.

__ADS_1


"gue sebagai temen hanya bisa dukung lo. Mau maju gue dukung, mau mundur juga gue bantu cariin yang lain." Dicko menepuk punggung Satria.


Setelah lari pagi, mereka semua langsung sarapan bersama di traktir Ayah Dedi, setelah sarapan mereka pulang ke rumah masing-masing.


__ADS_2