Nafisa

Nafisa
Part 28


__ADS_3

Nafisa POV


Gue gak boleh cengeng karena cinta bertepuk sebelah tangan, biasa lagi bete gini enaknya muter-muter pake motor kebetulan motor Adam baru jadi pingin coba Kawasaki Ninja warna hijau sangatlah keren.


Menjalankan si Ninja kearah pantai Parangtritis karena jalanan ke arah sana lumayan jauh dan gue bisa melihat hamparan sawah di kanan kiri jalan sungguh pemandangan yang sangat indah. Eh....eh tumben jalanan tidak begitu ramai teringat berita online yang sering di baca kalo daerah ini rawan penjambretan, perampokan mobil,yang nekat dilakukan oleh gang-gang anak muda meski pagi,siang ataupun sore , seketika Nafisa merinding juga dia sudah insaf tidak mau berantem lagi. Bisa-bisa mamanya ngamuk dan berakhir dia akan dijodohkan biar tidak berkelakuan bar-bar lagi.


"Wait...wait mending gue balik perasaan gak enak gini lebih nyaman nongkrong di cafe aja," gumam Nafisa.


*******


Ketika dia berbalik arah benar saja ada gerombolan anak jalanan dengan menggunakan motor mereka sengaja menghadang sebuah mobil Alphard silver. Nafisa teringat kakak sepupu Adam seorang polisi yang sekarang bertugas di daerah X tidak jauh dari TKP.


Ingatkan guys Nafisa pernah berantem dengan pencopet di bab terdahulu itu awal dia kenal dengan seorang polisi muda yang ganteng yang kebetulan adalah sepupu Adam.


Nafisa memotret kejadian kemudian dia kirim ke Briyan sepupu Adam.


Nafisa


Assalamualaikum kak Briyan ,ini Nafisa ada kejahatan di daerah X (foto send) gue kebetulan lewat. mohon bantuannya 🙏🙏


Kak Briyan


Oke Dek Nana, segera kami ke TKP.


Nafisa segera menghampiri karena terjadi baku hantam diseberang jalan. Segera ia menepikan Ninja hijau kepinggir jalan kemudian turun.


"Woi... beraninya keroyokan Lo," Nafisa memukul cowok yang bertubuh tambun dari belakang.


Bugh...bugh...baku hantam tak terelakkan lagi.


"Nafisa!!"


Terdengar suara yang tidak asing lagi. Nafisa menoleh ternyata suara Pak Dimas Dekan Fakultas Teknik di kampus.


"Pak Dimas!!" seru Nafisa.


Kemudian ia menghampiri Pak Dimas yang baru saja jatuh tersungkur terkena pukulan dari si kurus anggota gang. Nafisa menarik kerah baju si kurus kemudian memukul tanpa ampun.


Tiba-tiba si tambun yang tadi kalah oleh Nafisa mengangkat pisau 🔪 hendak menusuk Dimas,secepat kilat Nafisa sadar segera menendang si tambun dan pisau pun terkena Nafisa.


Nafisa mencabut pisaunya dia lempar ganti tepat mengenai betis si empunya dan akhirnya roboh juga si tambun.


" Rasain Lo berani buat luka tangan gue, sebenarnya bisa gue nancapin nih 🔪 tepat di jantung Lo !!" gertak Nafisa.


Nafisa mengambil pisau yang menancap di betisnya kemudian ia alihkan ke tubuh pria berbadan kekar yang bertato yang sebelumnya ia tendang bagian sensitifnya jadi lebih mudah untuk melumpuhkannya Nafisa yakin dia pimpinan gang tersebut,ia arahkan ke leher pria itu. Semua melotot tak percaya gang arogan,gang perampok itu berjumlah 5 orang. Dimas tercengang dengan tingkah nekatnya, jantungnya berdetak cepat,ia khawatir keadaan Nafisa, benar-benar luar biasa berani.


" Angkat tangan semua jangan ada yang bergerak kalo kalian macam- macam nyawa bos kalian taruhannya," gertak Nafisa.


Tak lama kemudian sirine polisi terdengar mobil patroli polisi berikut beberapa motor polisi mengikuti dibelakangnya.

__ADS_1


Briyan mendekat " Dek Nana terimakasih telah membantu kami menangkap mereka selama ini kami kesulitan melacak mereka yang sering meresahkan warga sekitar."


Briyan memanggil Nafisa dengan panggilan Nana katanya sih suara dan tingkah lakunya mengingatkannya pada adiknya Nana yang kuliah di Australia, tapi wajah beda ,namanya Nana. Kemudian Briyan mengambil borgol untuk mengamankan pria bertato itu.


"Iya kak sama- sama, ini hanya kebetulan saja tadi Nana lewat sini yang mereka rampok dosen Nana."


Setelah semua kawanan penjahat selesai di urus para polisi ,Briyan mengeluarkan kotak P3Knya memberikan antiseptik kemudian membalut dengan perban untuk menghentikan darah yang deras keluar dari lengan Nafisa.


"Kamu harus segera ke rumah sakit Dek, mudah- mudahan darah tidak keluar lagi."


"Tapi kak aku bawa motornya Adam gimana ini?"


" Biar anak buahku yang mengantar motor Adam ke kostnya."


" Makasih kak maaf merepotkan," kata Nafisa.


Sementara Briyan memberikan pertolongan pertama pada Nafisa ,Dimas disibukkan dengan tanya jawab dengan polisi yang mengintrogasinya.


Dimas menghampiri Nafisa ," Fisa saya antar kamu ke rumah sakit dekat sini ya biar cepat mendapat pertolongan untuk luka kamu."


Briyan menatap Dimas dan tersenyum," Anda dosen Nafisa ya saya titip adik saya untuk motor biar kami yang urus, terimakasih sebelumnya."


" Iya Pak .....Briyan," Dimas melihat name tag diseragam polisinya.


Setelah berpamitan dengan Briyan Nafisa kemudian masuk ke mobil Dimas.


Dimas sudah standby dibalik kemudinya.


Di dalam mobil hening....


1


2


3


4


.


.


.


.


.


10 detik berlalu krik...krik....belum ada yang memulai bicara.

__ADS_1


" Nafisa terimakasih kamu sudah menyelamatkan saya dari mereka dan maafkan saya gara-gara saya kamu jadi luka serius seperti ini."


" Iya Pak Dimas ,anda sudah berulangkali mengucapkan terimakasih lho... hehehe kewajiban saya Pak menolong jika terjadi seperti tadi kalau saya diam saja tidak ada gunanya ikut Taekwondo di kampus iya kan Pak."


"Polisi tadi kakak kamu?"


" Iya saudara jauh sih dia sepupunya Adam dari Teknik Kimia, kebetulan juga dia masih ada hubungan saudara dengan sepupu saya gimana ya jelasinnya kalo sepupu saya Firman namanya itu saudara dari mama saya nah kak Briyan itu sepupu Firman dari ayahnya,jadi saudara tapi tak ada hubungan darah gitu, karena saya tinggal di kota ini jauh dari orang tua jadi meski saudara jauh seperti dekat."


" Adam masih saudara juga sama kamu?"


" Gak sih Pak kita sahabatan dari kecil,dia seperti sosok kakak buat saya."


" Pak Dimas tadi perjalanan mau pulang gitu?"


"Saya tadi mau ke rumah kakak saya jemput keponakan karena mau di tinggal tugas ke luar kota."


"Tuh Pak Dimas rumah sakitnya sudah dekat,saya turun didepan saja gakpapa Bapak kan mau ada kepentingan keluarga."


" Eh gak bisa gitu saya seperti orang tidak bertanggung jawab saja ingatkan tadi pesan kakak kamu dia nitipin kamu ke saya?"


Nafisa hanya mengangguk malas berdebat lagi dengan sang dosen.


Setelah memarkirkan mobilnya,kali ini Dimas turun duluan untuk membukakan pintu buat Nafisa. Mereka berjalan menuju Unit Gawat Darurat. Ditengah jalan tiba-tiba perut Nafisa seperti kram dan perih luar biasa,kepala terasa berputar dan pandangan pun kabur seketika. Dimas langsung membopong tubuhnya segera dengan panik meminta bantuan medis secepatnya. Perawat jaga segera mengambil brankar membawa Nafisa ke ruang perawatan.


"Maaf apa bapak keluarganya tolong bapak ke pendaftaran dulu ya untuk mengisi identitas pasien dan untuk keperluan administrasinya."


" Baik suster."


Dimas segera menghubungi kakaknya dia menceritakan semuanya yang terjadi hingga akhirnya dia minta maaf tidak bisa menjemput keponakan tercinta,dia akan mengirim sopir ayahnya untuk menjemput Nabila.


Dimas juga sudah mengirim kabar kepada sang bunda tentang musibah yang menimpa hingga berakhir sekarang di rumah sakit dengan mahasiswi yang telah menyelamatkan nyawanya.


Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.


"Keluarga Pasien atas nama Nafisa!"


" Ya dokter saya ,"jawab Dimas.


" Begini Pak , hasil observasi kami untuk pasien Nafisa lukanya ternyata terlalu dalam kami sudah memberikan suntikan anti tetanus, kemudian luka kami jahit, selain itu pasien memiliki radang pada lambung itu yang menyebabkan kehilangan kesadaran karena asam lambungnya naik, tekanan darah rendah sekali, hasil laboratorium menunjukkan sel darah merah rendah sehingga membutuhkan donor secepatnya agar segera stabil kondisinya,jelas dokter yang ber name tag Rama.


"Oleh karena itu pasien harus di rawat inap disini, untuk golongan darah pasien adalah B usahakan untuk mendapatkan darah dari saudara atau teman dekat,kalo terpaksa tidak ada maka saya sarankan untuk menghubungi Bank Darah di samping UGD disitu kantor PMI," jelas sang dokter.


" Kalo begitu saya saja dok donornya kebetulan juga golongan darah saya B."


"Baiklah kalo begitu,suster tolong antar bapak ini mau mendonorkan darahnya untuk pasien atas nama Nafisa."


Setelah dilakukan cross tes dengan darah Nafisa akhirnya Dimas bisa mendonorkan darahnya untuk Nafisa.Sekarang Nafisa sudah berada di ruang VVIP tapi belum sadar. Dimas masih setia duduk disisinya tak henti- hentinya dia berdo'a untuk kesembuhan sang gadis pujaan hati. Menatapnya serasa hatinya teriris pedih wajah tampak pucat pasi tangan kanan tertusuk jarum untuk mengalirkan darah transfusi sedang tangan kiri jarum infus terpasang sempurna.


Sebentar lagi adzan Maghrib Dimas keluar ruangan,dia menitipkan Nafisa agar Suster menunggu Nafisa didekatnya sementara dia menggambil perlengkapan sholat di mobil dan membeli makan di kantin rumah sakit karena perutnya sudah terasa lapar sekali.

__ADS_1


Dimas masuk ruang rawat tampak suster berjaga sambil membaca sebuah buku. Suster segera mohon diri setelah melihat sosok Dimas memasuki ruangan untuk melanjutkan pekerjaannya,tak lupa Dimas membawakannya sekotak kue untuk para suster yang piket malam itu


******TBC*****†****


__ADS_2