
Setelah bertukar posisi, Dimas di kursi kemudi ,Nafisa duduk bersandar matanya melihat keluar jendela kemudian ia teringat untuk membalas pesan Yudha.
Nafisa mengeluarkan ponselnya.
Nafisa
Maaf Yudha gue sudah diantar sama Pak Dimas ke rumah sakit,tadi tak sengaja beliau melihat gue keluar dari toilet habis nangis.
Makanya Pak Dimas menyuruh ikut ke ruangannya,gue ceritain semua musibah yang menimpa keluarga gue.
Yudha
Musibah?
Apa yang terjadi dengan keluarga Lo Fisa?
Nafisa
Oma kecelakaan masuk rumah sakit sekarang kritis.
Papa kaget terus kena serangan jantung. Mama shock sekarang pingsan di rawat juga disana,gue lemes gak kebayang bisa nyetir sendiri sampai rumah sakit.
Yudha
Ya Alloh....Maafin gue sudah suudzon sama Lo Fis, Semoga semua cepat sehat kembali dan kamu sama kak Fian harus kuat dan tabah, shareloc kalo sudah sampai ntar gue nyusul.
Nafisa
Lo bilang aja ke anak-anak kalo gue udah ke rumah sakit sama sodara, gue share loc kalo Pak Dimas sudah pulang ya, it's oke Lo jangan curiga lagi sama gue Yud, Pak Dimas single and gue bukan pelakor yang ketemu sama Lo kemarin lusa keponakannya dia selalu panggil Papa karena dia yatim gak punya ayah.
Yudha
Oke...oke
Alasan diterima,dan do'a gue semoga Pak Dimas jodoh sama Lo
Aamiin
Nafisa memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Dimas melirik Nafisa dengan nada lembut dia bertanya padahal di dalam dada sudah gemuruh jantungnya menahan kesal karena Nafisa tampak tersenyum ketika menatap ponsel sebelum memasukkan kedalam tas. Entah kenapa sekarang bawaannya cemburu dan curiga terus,ia takut Nafisa akan berpaling darinya.
" Asyik chatting sama siapa?" tanya Dimas.
" Yudha, biasa tingkahnya yang tengil bikin kesel kadang bikin ketawa juga," sahut Nafisa.
" Awas ntar naksir lho."
" Gak ah dia udah punya pacar kok, lagian gak mungkin juga lah suka sama dia, Fisa kan suka nya sama Bapak Dekan Fakultas Teknik itu lho yang kalo di kampus killer,tapi kalo di luar kampus Masya Alloh baik banget tapi posesifnya bikin Fisa gemes hehehe."
" Kamu tuh pinter menggoda ya?" Dimas mengelus kepala Nafisa.
" Bapak dosen yang terhormat jangan pegang kepala Fisa, bikin merinding ntar nambah daftar dosa loh."
" Kamu tuh ada-ada saja,Fis."
__ADS_1
" Kak Dimas, Fisa mau cerita ya tolong dengerin dengan cerita ini Fisa harap Kak Dimas jangan cemburu atau salah paham dengan teman-teman Fisa, mereka adalah sahabat selalu ada ketika suka dan duka sudah seperti saudara sendiri, terlebih Adam dari Tekkim( Teknik Kimia) kita sahabatan sudah sejak SMP, dan tidak lama lagi dia mau menikah dengan Karin sahabat dan teman sekelas Fisa."
Dimas mengangguk dan tersenyum," it's oke Fisa."
Kemudian Nafisa menceritakan semua chat dari teman-temannya di grup, juga chat nya dengan Yudha. Nafisa sengaja menceritakan semua temannya agar tidak ada curiga atau salah paham diantara mereka.
Sejenak Nafisa bisa lupa akan musibah yang menimpanya.Tak terasa mereka sudah sampai di rumah sakit tempat keluarganya dirawat,juga tempat kakak sepupunya praktek ya rumah sakit itu milik Firman.( sudah pernah diceritakan di bab depan ya)
*****************
Di Rumah Sakit
Nafisa menuju ke ruang rawat sementara di UGD dia menanyakan keadaan mamanya.
" Gimana dok keadaan mama saya Ratu Kinarra?" tanya Nafisa ke Dokter yang bertag name Feri Darmawan.
" Pasien atas nama Ratu Kinarra, keadaan sudah membaik sekarang diinfus nanti setelah habis infusnya boleh pulang," dokter Feri kemudian memandang lawan bicaranya yang tak lain adalah keluarga pasiennya.
" Nafisa....itu mama kamu? Apakabar lama tak pernah kelihatan setelah kamu resign dari sini? tambah cantik saja."Feri tersenyum menatap Nafisa.
" Alhamdulillah...kabar baik dokter Feri, saya sekarang sibuk fokus kuliah,dan kenapa mama saya bisa pingsan apa ada penyakit lainnya?" tanya Nafisa.
" Mama kamu hanya kelelahan,tensi rendah,dan mungkin tadi syok karena Papa kamu jena serangan jantung, kalo saran saya biarkan Mama kamu istirahat disini sampai besok karena saya yakin pasti kamu dan kakak kamu sibuk menunggu beliau berdua,oh iya Oma kamu juga dirawat disini ya?"
Nafisa hanya mengangguk mengiyakan. Tak lama terdengar dering handphone milik dokter Feri, " Sebentar ya Fis saya angkat telepon dulu." Kata dokter Feri dia menyingkir dari hadapan Nafisa.
" Kalian akrab banget kenal dekat ya?" tanya Dimas sambil menarik pelan tangan Nafisa.
" Kok bisa kamu di farmasi?"tanya Dimas heran.
" Bisa dong....dulu Fisa pernah sekolah di SMF ( Sekolah Menengah Farmasi) kemudian kuliah di Farmasi tiga tahun, bukaannya lanjut lagi ke farmasi tapi Fisa alih jalur ke Kimia karena suka sama Kimia. Pasti Kak Dimas tanya kenapa gak dari awal ambil Kimia? Karena Fisa punya saudara kembar kita bercita-cita kerja di tempat yang sama yaitu Rumah Sakit, kembaran Fisa namanya Kak Shafa ambil kedokteran tapi Fisa takut kalo kuliah di kedokteran karena pasti berhubungan dengan organ tubuh manusia,makanya Fisa ambil Farmasi,tapi....Alloh berkehendak lain Kak Shafa meninggal karena kecelakaan lalulintas,dan tak lama kemudian Fisa lulus. Karena dipaksa mama sama papa untuk lanjut lagi kuliahnya Fisa ambil Kimia MIPA."
" Pantas saja kamu sangat menguasai mata kuliah Kimia sampai Profesor Arya dulu sering menceritakan kepintaran kamu, sampai beliau mempercayai kamu untuk jadi asistennya, padahal sebelum kamu masuk kampus beliau selalu ambil mahasiswa berprestasi yang sudah lulus S1 untuk jadi asistennya."
" Kakak kenal dekat dengan Mr.Arya?"
" Iyalah dekat banget malah, beliau kan Kakek saya,pasti beliau juga senang kalo kamu jadi calon cucu menantunya," Dimas tersenyum gembira.
" Hah ...jadi Mr. Arya itu kakeknya kak Dimas? Dunia serasa sempit ya kak. Gimana kabar beliau sehat- sehat saja kan?"
" Sehat sekali beliau sekarang tinggal di Belanda bersama nenek, katanya pulang ke Indonesia kalo saya mau nikah."
" Alhamdulillah syukurlah kalo sehat."
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dokter Feri," Fisa Abang kamu bilang sudah menyiapkan kamar VVIP buat Bu Kinarra, nanti suster akan mengantar ke ruangan untuk administrasi sudah beres kamu sebaiknya menjenguk Papa kamu itu pesan dokter Firman mengingat Mama kamu belum sepenuhnya sadar."
" Baik dokter Feri terimakasih sekali atas bantuannya,saya segera ke ruang rawat Papa."
Nafisa menangkupkan kedua tangannya di dada dan tersenyum haru, kemudian undur diri.
Dokter Feri tersenyum kemudian mengangguk sebenarnya ingin bertanya siapa pria bersama yang dari tadi tampak akrab dengannya tapi lidah serasa kelu ingin menanyakannya mengingat sebentar lagi ia akan menikah dengan dokter Nadine karena perjodohan kedua orang tuanya.
( Dokter Feri sudah pernah ada di awal cerita dia yang sering menggoda Nafisa ketika berada di shift jaga yang sama)
__ADS_1
*******Di ruang rawat
Tok ..tok...tok....
" Assalamu'alaikum Kak Fian," Nafisa membuka pintu ruangan.
" Wa'alaikumsalam sayang " Alfian memeluk erat adik satu-satunya.
" Gimana keadaan Papa kak? tadi Bang Firman suruh Fisa segera kesini, Mama mau dipindah ke ruang VVIP kata dokter Feri."
"Sudah membaik Alhamdulillah. Kamu sama siapa Fisa?"
" Sama....sama..emm sama do...dosen Fisa,iya sama Pak dosen karena Fisa tadi gugup panik takut bawa mobil sendiri jadi ... dosen Fisa berbaik hati mau mengantar kesini." jawab Fisa gugup.
Alfian mengulurkan tangannya "kenalkan saya Alfian kakak dari Nafisa."
" Dimas Febrian Prasetya, panggil saja Dimas Mas Alfian,saya dosen sekaligus pembimbing Nafisa dalam penelitian."
" Dimas.... sepertinya pernah dengar namanya....Dimas oh iya ingat sekarang bukankah kamu yang minta ijin untuk menggantikan Bi Siti menunggu Nafisa sewaktu Bi Siti saya suruh pulang karena anak saya sakit?"
" Iya betul Mas Alfian."
" Papa masih tidur karena pengaruh obat dari dokter,mari silahkan duduk." kata Alfian.
Nafisa tampak gelisah takut kalau Alfian akan bertanya macam-macam dan tidak menyetujui niat baik Dimas untuk menghalalkan hubungan mereka berdua.
" Pak Dimas jujur saja... sebenarnya apakah anda ada perasaan dengan adik saya? mengingat anda adalah dosennya tapi selalu berada di sisi adik saya ketika Nafisa sakit,dan sekarang ketika adik saya butuh seseorang menemaninya menuju rumah sakit,saya tahu betapa hancur perasaannya ketika kembarannya meninggal karena kecelakaan sempat perawatan beberapa waktu untuk mengembalikan menjadi Nafisa yang periang, tentu dia syok mendengar Oma mengalami kecelakaan."
" Iya Mas Alfian,saya sudah lama mengenal Nafisa tanpa dia tahu dari dia menjadi asisten dosen Kakek saya sampai saya sering terlibat di kegiatan mahasiswa Taekwondo kebetulan saya juga mengajar di jurusan Nafisa dan menjadikannya asisten karena kesibukan saya, kami tidak pernah pacaran seminggu yang lalu saya memberanikan diri untuk menyatakan keseriusan saya untuk menjalin hubungan serius kejenjang pernikahan rencana nanti sore saya ingin ke rumah Mas Alfian melamar Nafisa tapi ternyata Alloh berkehendak lain, mungkin belum saatnya saya bertemu dengan kedua orang tua Mas Alfian dan Nafisa, InshaAlloh setelah semuanya sehat saya akan bawa kedua orang tua saya untuk melamar Nafisa."
" Alhamdulillah kalau Pak Dimas serius dengan Nafisa, tolong jaga adik saya satu-satunya jangan sampai dia terluka,sedih, menangis, karena sejak remaja dia sudah hidup mandiri jauh dari Mama, Papa karena kita tinggal beda negara, saya juga tidak bisa setiap saat menjaga dia karena tugas saya di luar kota terus."
" InshaAlloh saya akan selalu menjaga dan menyayanginya."
*********TBC*******
Maaf kalo ceritanya garing kurang seru ...sengaja diulur biar panjang ceritanya hahaha 😀😀🤭
Terimakasih yang sudah mampir ke lapak Nafisa....🙏🙏🙏🙏🙏
Jangan lupa Like,Vote,Komen ya....
Hatur nuhun ka sadayana 🙏🙏🥰🥰😘😘
Salam
Sehat
dan
Sukses selalu 🥰🥰🥰🥰🥰
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1