
" Kak.... kenapa Fisa deg.... deg an ya gimana dong kak."
" Tenang...ambil napas...buang napas...baca bismillah, apapun nanti kata kedua orang tua kakak, kita tetap bersama oke?"
" Ya kak... bismillahirrahmanirrahim."
" Good girl."
Setelah masuk ke restoran, ternyata sudah banyak orang disana tak disangka ada seorang pria berbaju biru laut yang tampan sekali sedang berbicara dengan mantan dosen yang sudah pensiun ya dia adalah Prof.Arya , Nafisa pernah menjadi asistennya jadi dia masih ingat betul suara Prof.Arya.
" Kak....itu Prof.Arya sedang bicara sama siapa? kok Fisa gak asing ya sama wajahnya?"
" Oh itu ...Opa baru ngobrol sama kakak keduaku, belum lama datang dari London."
Nafisa melihat sosok itu sambil mengingat-ingat..." Oh iya ingat sekarang apakah nama nya Kak Farel?"
" Kok kamu kenal kak Farel Fisa?"
" Iya kak dia yang nyelamatin Fisa dari musibah palang kereta api dulu. Dia dulu calon suami kembaran Fisa, almarhumah kak Shafa."
"Apa ....jadi kamu punya saudara kembar?"
" Iya...tapi sudah meninggal karena kecelakaan." Nafisa menceritakan bagaimana Shafa bisa berpisah dengan Farel. Kemudian Farel bertemu dengan Nafisa yang semula dikira Shafa kekasihnya. Dimas tampak meremas tangan Nafisa.
" Aduh sakit kak!"
Nafisa menghentakkan remasan Dimas sambil melotot, "Kenapa kakak remas tangan Fisa?"
" Maaf gak sengaja ... karena aku cemburu sama kak Farel."
" Apa yang bikin kakak cemburu coba? Fisa kan tidak ada perasaan sama kak Farel, dia cinta nya sama kak Shafa bukan Fisa. Karena Shafa dan Fisa itu beda meski lahir dengan wajah yang sama,beda dalam penampilan dan dalam segala-galanya."
" Hai...cucu Opa..kenapa ngobrol disitu? Bawa teman kamu masuk sana ada Oma sama Tante Risma di dalam." Kata Prof Arya.
Nafisa berjalan mendekat ke Prof.Arya kemudian menangkupkan kedua tangan didada sambil tersenyum. " Assalamualaikum Mr.Arya apa kabar masih ingat dengan saya?" sapa Nafisa.
" Wa'alaikumsalam, kamu....pernah ketemu dimana ya kita?sepertinya tidak asing dengan wajah kamu Nak?"
Dimas yang berada disamping Nafisa memperkenalkan pada Opa nya," Dia Nafisa calon istri Dimas dan mantan asisten Opa di kampus dulu."
" Astaghfirullah...Opa kok bisa lupa ya yah.. mungkin karena sudah tua jadi banyak lupanya hahaha iya....iya...ingat sekarang kamu mahasiswi istimewa itu meski bandel tapi otaknya luar biasa, sampai saya hanya percaya sama kamu untuk membantu tugas saya yang banyak di kampus."
Nafisa tersenyum malu, kemudian menatap Farel yang berjalan mendekat sambil membawa gelas berisi Fanta.
__ADS_1
" Assalamualaikum Kak Farel apa kabar?"
" Wa' alaikumsalam... Alhamdulillah baik..loh kamu...Nafisa bisa kenal Dimas?"
" Iya dong dia mahasiswiku, juga calon istri aku kak." sahut Dimas.
" Oh calon adik ipar nih rupanya, Dimas bawa Nafisa masuk Papa Mama sudah nunggu kamu lho ada Oma sama Tante Risma juga."
Dimas mengajak Nafisa masuk ke dalam resto tempat semula keluarga inti berkumpul dan bercengkrama bersama. Tiba-tiba ada seorang anak kecil berlari kemudian memeluk Nafisa.
" Kak Nafisa.... Nabila kangen!"
Nafisa tersenyum kemudian mensejajarkan tingginya dengan Nabila. " Hai.... cantik apa kabar?"
" Baik kak.... dedek Zaky gak diajak kak?"
" Enggak sayang dia pergi sama Papa nya ke Solo."
Seorang wanita paruh baya mendekati dua insan beda generasi yang saling melepas rindu.
" Loh Nafisa akhirnya kamu datang juga sayang."
Nafisa berdiri "Bunda Fatim datang juga kesini?" tanya Nafisa heran.
Bunda Fatim tersenyum, " Lah ini kan acara Ultah nya Pak Wira sekalian putra bunda mau memperkenalkan calon istrinya."
Bunda Fatim menoleh ke kanan kiri mencari Dimas." Nah itu dia anak bunda, Dimas kesini sayang." Bunda Fatim melambaikan tangannya.
Nafisa kaget sedang Dimas tersenyum melihat Mama nya merangkul pundak Nafisa. 'Sepertinya sinyal lampu hijau nih' batin Dimas.
"Cie...cie...Mama sudah akrab nih sama calon menantu?" tanya Dimas sambil menarik turunkan alisnya.
" Calon menantu?" tanya Mama kaget menoleh menatap Nafisa tak percaya.
" Iya ini tuh...calon menantu Mama alias calon istri Dimas....Mamaku sayang."
" Hah....Ya Alloh Ya Rabbi .... Alhamdulillah banget ternyata kamu pacarnya Dimas,kok gak pernah cerita sih....ah...senengnya!!" Bunda Fatim memeluk erat Nafisa.
" Oh jadi Pak Dimas....ini.... putranya Bunda Fatim tho?"Nafisa heran.
" Iya sayang... berarti do'a bunda selama ini terkabul ingin Dimas berjodoh sama kamu."
Nafisa tersenyum menunduk semburat merah terlihat di pipinya. Sedang Dimas dibuat bingung karena dua kaum hawa di depannya ini sepertinya sudah akrab sebelumnya.
__ADS_1
" Ma.....mama sudah kenal Nafisa sebelumnya?"
"Iya dong, mungkin...jauh sebelum kamu mengenalnya."
" Hah...kok bisa sih!"
" Ceritanya panjang.....nanti di rumah aja ceritanya oke? Yuk ah Ke Papa dulu kita potong kue dulu." Bunda Fatim menarik tangan Nafisa dengan senangnya menuju ke suaminya.
" Oma....itu Kak Nafisa teman Nabila jangan dibawa pergi!"
Rupanya perbincangan orang dewasa tadi diperhatikan Nabila keponakan Dimas, ia bingung mau mengajak Nafisa main kok Omanya main serobot aja ngajakin pergi kakak cantiknya.
Nabila berjalan cepat mengekor ,"kakak cantik tungguin Bila dong."
Dimas berjalan mendekat ke Nabila," Yuk gendong Papa Dimas biar cepat jalannya."
"Papa lihat siapa tamu spesial kita malam ini?" Tanya Bunda Fatim ke Pak Wira alias suaminya.
" Nafisa, terimakasih ya nak kamu dah nyempetin datang ke acara ini terimakasih juga kue ultahnya."
" Sama-sama Pak Wira, maaf saya bingung mau kasih kado apa."
" Loh ini kado istimewa lho sayang." Bunda meraih tangan Nafisa dan menepuk lembut.
" Pa....kado Nafisa ada 2 loh satunya lagi spesial hihihi." Bunda Fatim tersenyum melirik Dimas.
" Ayo Dimas... cepat bilang ke Papa kamu." Kata Bunda Fatim yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Dimas.
" Pa... kemarin Dimas sudah bilang mau membawa calon istri Dimas di Ulang tahun Papa, sekarang Dimas sudah membawanya kesini ia menarik Tangan Nafisa."
" Ehem....ehem .... Papa,Mama,Opa,Oma, kak Rosa,Kak Farel jadi.... kemarin memang Dimas sudah janji mau memperkenalkan calon istri Dimas jadi ini dia gadis yang ingin Dimas persunting menjadi istri, dia adalah Nafisa.... seorang mahasiswa semester akhir, mantan asisten Opa,dan sekarang jadi asisten Dimas dalam penelitian proyek pengolahan limbah industri."
Nafisa tersenyum kemudian menangkupkan kedua tangan ke dadanya. "Maaf kalo kehadiran saya mengejutkan saya benar-benar tidak tahu kalau ternyata Pak Dimas putra Bunda Fatim dan Pak Wira," sahut Nafisa seperti bersalah.
Pria paruh baya tersebut tersenyum kemudian berjalan kearah Nafisa merangkulnya," Tidak perlu minta maaf nak, justru saya senang karena kami sudah mengenal kamu sebelumnya dan...jangan panggil Pak Wira panggil Papa saja ya kan ,Ma?" Pak Wira melirik ke istrinya minta persetujuan yang diangguki oleh Bunda Fatim sambil tersenyum.
Mereka berbincang di ruang khusus untuk keluarga inti bertemu dan bercengkrama, Opa,Oma,Tante Risma senang berkenalan dengan Nafisa,pandainya dia dalam menempatkan diri dan menarik perhatian saudara- saudara Dimas membuat dia mudah diterima. Nafisa sudah terbiasa memanggil mama Dimas dengan sebutan Bunda Fatim karena itu nama akun Facebook mama Dimas dimana Nafisa dengan nama samaran Jasmine sudah berteman akrab di dunia maya karena sama-sama bergabung di grup masakan yang membuatnya pandai memasak seperti sekarang.
Setelah berbincang sebentar, Sang empunya acara mengajak seluruh keluarga ke tempat para tamu undangan. Ya acara ini selain ulang tahun Papanya Dimas juga memperingati wedding anniversary ke 35 tahun, meja prasmanan sudah penuh dengan hidangan menggoda selera, tamu-tamu rekan dosen, kolega bisnis sudah berdatangan mengucapkan selamat.
" Kak Dimas....Fisa gimana ini gak mau jadi bahan gosip di kampus bisa bahaya kalau ada yang tahu hubungan kita."
*********TBC********
__ADS_1
Sampai disini dulu yah ... ngantuk banget nih xixixi kapan2 lanjot lagi ....
Sementara belum ada konflik nya masih bingung author kasian tokoh utama kalo dinistakan๐๐คญ๐๐๐