Nafisa

Nafisa
Part 44


__ADS_3

30 menit sudah berlalu Nafisa merasakan kantuk yang sangat berat bersamaan dengan nyeri kepala yang kian menghebat sakitnya. Tak lama kemudian Nafisa pun tertidur.


**********


Bi Siti berjalan tergesa-gesa mencari ruang rawat Nafisa. Akhirnya tidak sampai 10 menit Bi Siti sudah sampai di kamar Nafisa, ia menata baju-baju juga hijabnya. Berdasarkan info dari Alfian Kakak Nafisa ternyata ada memar luka didalam kepalanya juga gelombang elektromagnetik otak yang upnormal sehingga memerlukan terapi obat rutin untuk beberapa waktu sambil dipantau reaksi obatnya. Jadi perkiraan dari dokter yang menyatakan 2 hari dirawat ternyata tidak bisa dipastikan, karena dia harus menambah jumlah hari rawat lebih dari 5 hari, tentu Nafisa tidak mengetahui hal ini.


Setelah semua beres, Bi Siti duduk santai di sofa menyalakan televisi sambil menunggu Nafisa bangun, sudah 2 jam berlalu tak ada gerakan Nafisa yang menandakan ia akan terbangun. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu bersamaan dengan pintu terbuka


Tok...tok....tok ... kemudian pintu terbuka.


"Assalamualaikum" sapa Dimas.


"Wa'alaikumsalam, eh Pak Dimas mari silahkan masuk," sambut Bi Siti.


Dimas sudah beberapa kali ke rumah Nafisa lebih tepatnya ke rumah Alfian untuk mengantar jemput keponakannya Nabila main dengan Zacky keponakan Nafisa jadi Bi Siti sudah paham siapa Dimas. Mereka mengobrol di sofa, Bi Siti menceritakan kecelakaan yang dialami oleh Nafisa. Tak lama kemudian suara handphone Bi Siti berdering, ternyata telepon dari Alfian yang mengabarkan Zacky masuk rumah sakit karena demam berdarah. Bi Siti menitipkan Nafisa kepada Dimas untuk menjaganya malam itu. Jika terjadi sesuatu pada Nafisa ia meminta Dimas segera menghubungi Alfian.


Dimas pun setuju, tetapi sebelum Bi Siti pergi Dimas meminta persetujuan dulu kepada kakak Nafisa apakah Alfian setuju jika adiknya malam ini dijaga oleh dirinya tentu saja melalui perantara telepon Bi Siti. Akhirnya Alfian memberikan amanah kepada Dimas untuk menjaga adiknya. Dimas melihat infus yang tergantung ternyata masih banyak isinya rupanya suster tadi melambatkan laju tetesan infus.


Dimas duduk di sofa sambil melihat berita di televisi. Dua puluh menit sudah berlalu, ia bosan kemudian duduk di samping Nafisa hingga akhirnya tertidur sambil menunduk tangannya menyangga kepala. Tak lama kemudian Nafisa bangun netranya menyesuaikan cahaya di sekitarnya. Kemudian menoleh ke sampingnya, ia mengira Alfian Kakaknya tertidur " Kak Fian, Fisa haus tolong ambilkan minum dong," Fisa menepuk tangan Dimas yang ia kira kakaknya. Kemudian terpejam kembali matanya.


Dimas terbangun merasa ada yang menepuk tangannya, " Ah sudah bangun rupanya,gimana kamu ingin apa Fisa?" tanyanya.


Merasa bukan suara kakaknya Nafisa pun membuka netra nya." Loh Pak Dimas,maaf saya kira Kak Fian."


" Tidak apa Nafisa, sekarang yang menjaga kamu saya, karena mendapat amanah dari Bi Siti. Saya juga sudah minta ijin kakak kamu melalui Bi Siti. Sekarang kamu ingin apa?"


" Minum hangat," jawab Nafisa.


Dimas menuang air mineral di gelas kemudian menambahkan air di termos, " ini diminum dulu," kata Dimas.


" Makasih Pak, maaf merepotkan."


" Tidak sama sekali,saya senang bisa menemani kamu disini," ucap Dimas lembut.


" Pak... sekarang sudah malam jam 10, sebaiknya Bapak pulang, saya tidak papa sendiri ada suster jaga standby 24 jam tinggal pencet bel aja kalau saya ingin ini itu."


" Ini amanah dari Bi Siti untuk menjaga kamu Fisa dan Keberadaan saya disini sudah diketahui dan disetujui oleh kakak kamu."


Nafisa terdiam mencerna apa yang dikatakan Dimas, dia berpikir kenapa Bi Siti menitipkan ia ke Pak Dimas? Terus Kak Fian kemana? bukannya Zacky sudah ada baby sisternya sekarang? atau ada sesuatu terjadi pada Zacky? keponakan tersayang nya?


" Pak Dimas, terus bagaimana dengan istri dan putri bapak? Saya tidak enak , mungkin maksud Bi Siti menitipkan saya kepada bapak karena Bi Siti ada keperluan mendadak lainnya. Mungkin nanti juga balik kesini lagi."


Dimas tersenyum, "Istri....? saya belum punya istri, apalagi anak".


" Terus Nabila itu ...?" dia panggil Pak Dimas Papa.


" Nabila keponakan saya, Ayahnya meninggal karena sakit sejak ia berumur 1 tahun,kedua kakak nya kuliah di ITB ,mama dia adalah kakak pertama saya, sejak kecil Nabila selalu memanggil Papa sebenarnya ia tahu kalau saya om nya karena teman-temannya yapunya mama papa ,sedangkan ia hanya memiliki mama saja maka Nabila memanggil saya papa." ucap Dimas menjelaskan.


Nafisa tersenyum mengangguk paham. " Tapi Pak Dimas.....saya tidak enak lagi-lagi kenapa saya di rumah sakit bapak lagi yang nungguin saya? Dulu kita juga terjebak seperti ini bapak harus repot-repot nungguin saya di rumah sakit."


" Yang penting kita gak ngapa-ngapain Fis,benar kita hanya berdua disini tapi kan ruang rawat ini dibawah pengawasan dokter dan suster disini, mereka juga standby di luar ruangan." ucap Dimas.


" Sekarang kamu ingin apa biar saya ambilkan ,mau makan buah atau minum susu?" tanya Dimas.


Nafisa tersenyum ,"sebenarnya saya lapar Pak, tapi...apa boleh saya makan di luar menu yang sudah diatur oleh rumah sakit?"


"Kamu pingin makan apa? asal jangan yang terlalu pedas dan asam pastilah boleh, biar saya belikan atau kita pesan lewat aplikasi."


" Sebenarnya pingin rendang sih hehehe tapi mana ada rendang gak pedas, emmm saya mau soto aja deh atau sup ayam Pak Min yang berkuah segar, tolong bapak pesanin ya besok saya ganti uangnya, sekarang saya gak punya handphone soalnya."


"Oke , kebetulan saya juga lagi pingin yang seger-seger,soto aja ya Fis?"

__ADS_1


"Ya Pak....Soto Kudus sama sate kerang enak kayanya."


Tak lama kemudian pesanan Dimas sudah ready di meja, " Masih panas sotonya, nasi mau dicampur atau dipisah Fis?" tanya Dimas.


" Di campur dikit aja Pak, ntar kurang nambah."


" Pak...bisa minta tolong, saya ingin makan di sofa aja sambil liat televisi...bosan di tempat tidur terus."


" Ya sudah kalau itu mau kamu yuk ...saya bantu jalan sambil bawa infusnya."


Nafisa bangun kemudian duduk bersandar tapi apa yang terjadi.... ternyata sakit kepala makin menghebat, "Aghh...sakit sekali aarghhh... astaghfirullahal'adzim...gak jadi duduk di sofa disini aja hiks..hiks," Nafisa memijat pelipisnya.


"Iya lebih baik...duduk bersandar saja sebentar biar saya naikan sedikit." Dimas menaikkan ujung brankar jadi setengah duduk agar Nafisa nyaman untuk makan.


Nafisa hanya menurut setelah dia duduk ,Dimas mencampur soto dengan sedikit nasi, kebetulan peralatan makan disini lengkap karena Bi Siti selalu siaga kalau menyangkut keperluan Nafisa, karena dia orang yang perfect .


" Saya suapin ya...?"ijin Dimas.


Nafisa hanya melirik malas, " Jadi malas makan saya Pak, mau saya paksain kok jadi mual ya karena kepala makin nyeri...agrhh.. tolong minyak savecare di situ Pak," tunjuk Nafisa.


" Maaf biar saya pijit kepala sama leher kamu, coba oles ke leher kamu dulu,"perintah Dimas Nafisa hanya pasrah karena sudah lemas sekali plus mual.


Karena Nafisa berhijab maka Dimas meminta Nafisa yang menggosokkan minyak angin ke leher,sedang Dimas mau memijat dari luar, tangan gak masuk ke dalam hijab bisa fatal nanti kalau memiijat leher tangan masuk ke dalam hijabnya... hehehe.


Setelah memijat leher kemudian memijat pelipis Nafisa hingga kepala atas...."sakit banget...hiks... aarghhh...", tangan Nafisa memegang tangan Dimas," Udahan dulu Pak Dimas."


"Gimana sekarang rasanya? Masih sakit banget?"


" Udah berkurang kok makasih ya Pak, cuman masih mual dikit." kata Nafisa.


" Untuk mual disini pijatnya pinjam tangannya sebentar ya," Dimas menekan pergelangan tangan Nafisa dengan menggunakan jari telunjuk dan tengah, kemudian menekan pada bagian dalam pergelangan tangan selama 30 detik sampai 1 menit. Nafisa hanya memejamkan matanya, merasakan sakit sambil berdo'a memohon kesembuhan.


" Alhamdulillah...sudah enakan, terimakasih ya Pak Dimas."


"Sama-sama, sekarang makan dulu ya sotonya biar nanti bisa langsung minum obat dokter."


" Tapi Pak...saya ingin tidur dulu gak tau kenapa rasanya mengantuk sekali, nanti soto nya saya makan kok, itu Bi Siti bawa kompor listrik nanti bisa dihangatkan sotonya."


" Ya sudah kamu tidur dulu sekarang nanti saya hangatkan sotonya, tolong bangunin saya kalau saya ketiduran." ucap Dimas kemudian menarik selimut sampai dada, menyelimuti Nafisa,mengusap lembut kepala yang masih terbungkus hijab. Kemudian berucap lembut "Cepat sembuh ya."


Nafisa hanya tersenyum mengangguk sambil memejamkan matanya. Tak lama kemudian sudah tertidur pulas.


Satu jam sudah berlalu, Nafisa terbangun merasakan perutnya lapar. Membuka netranya pertama kali yang ia lihat adalah bapak dosen yang ganteng sedang tertidur pulas di sofa. Tidur aja keliatan ganteng banget apalagi kalau gak tidur ? batin Nafisa. Pelan-pelan Nafisa bangun ia meraih mangkuk berisi soto tadi, gak usah dipanasin yang penting bisa mengganjal perut nih, gumamnya. Saking semangatnya tak sengaja ia menjatuhkan sendoknya, Dimas kaget langsung terbangun.


" Nafisa...ada apa? kamu mau kemana?" melihat Nafisa hendak turun dari ranjang tempat tidur.


Dimas berjalan mendekati Nafisa, mengambil sendok yang jatuh kemudian mencucinya. "Kamu ingin makan?"tanyanya.


"Iya...saya lapar."


" Kenapa tidak bangunin saya kan tadi dah dibilang suruh bangunin kalau ketiduran?"


" Gak enaklah kan...bapak tidurnya pulas banget takut ntar kaget jadi pusing."


" Saya panasin ya sotonya?"


"Gak usah Pak biar gitu aja gakpapa kok."


Dimas menyerahkan mangkuk berisi nasi dan soto , kemudian menaruh sate kerang di piring.


" Saya suapin ya, kelihatan lemes banget kamu."

__ADS_1


" Makasih ..saya bisa kok sendiri." Nafisa kemudian menghabiskan semua yang di siapkan Dimas. " Alhamdulillah...kenyang, tolong dong Pak Dimas obatnya disebelah sana saya gak bisa ambilnya," Nafisa menunjuk meja panjang tempat menaruh perlengkapan makan juga buah-buahan yang tadi dirapikan Bi Siti.


Dimas mengambil obat juga air mineral kemudian menyerahkan kepada Nafisa," masih sakit kepala?"


"Alhamdulillah sudah enggak lagi Pak, makasih tadi sudah dipijit sampai saya ngantuk."


"Iya sama-sama...." Dimas tersenyum melihat Nafisa ditatap malah salah tingkah.


Tok...tok..tok


" Permisi mau cek infus," kata suster yang langsung masuk kemudian berjalan mendekati Nafisa.


" Kok belum tidur Mbak Nafisa jam 01 loh sekarang masih sakit kepala?" tanya Suster dengan tag name Indah.


" Tadi udah tidur kok suster ini kebangun karena lapar habis makan terus minum obat tadi lupa belum diminum." kata Nafisa.


" Oh gitu baguslah kalau selera makan dah ada jadi bisa obat oral masuk, dari pada harus lewat injeksi terus,ini infusnya saya pelankan biar bisa nyampai besok pagi, coba saya cek sebentar untuk suhu sama tensinya ya karena ada keluhan sakit kepala tadi," Suster segera mengecek tensi dan suhu tubuh Nafisa.


" Tensinya rendah sekali ,suhu badan agak tinggi, katanya besok pingin pulang Mbak Nafisa semangat dong buat cepat sembuh. Dah ditungguin pacarnya segala, Mas nya pengertian banget nih sama Mbak Nafisa tengah malam gini mau nyiapin makan." goda suster Indah.


" Tentu dong suster... untuk Tuan Putri tersayang apa sih yang enggak....ya gak yang?"


" Cie....cie .....asyik nih yang punya pacar selalu sayang dan siaga menjaga Mbak Nafisa, Mas cepat disegerakan ....cepat dihalalkan takut ntar diambil orang lho," canda suster Indah.


" Do'a kan ya suster biar semuanya dipermudah," sahut Dimas.


" Aamiin.... tentu saya do'a kan buat Mbak Nafisa dan Masnya. Saya kenal Mbak Nafisa sejak pertama kali bekerja jadi perawat di Kliniknya dokter Firman, Mbak Nafisa itu banyak yang mengidolakan lho Mas, makanya cepatan dilamar... hehehe. Oh ya saya duluan mau ngecek pasien yang lain." Pamit Suster Indah.


" Suster Indah...awas kalau bikin gosip," sahut Nafisa cemberut.


Suster Indah hanya tersenyum menggoda kemudian keluar Ruangan. Dulu memang mereka bekerja bersama di Klinik Dokter Firman sebelum klinik tersebut jadi Rumah Sakit, mereka teman akrab Indah perawat, sedangkan Nafisa di bagian Farmasinya sebagai asisten Apoteker. Karena dilingkup kerja di rumah sakit maka Indah pun memakai bahasa formal dengan Nafisa.


" Pak Dimas....becandanya gak lucu kenapa sih bilang begitu, nanti jadi bahan gosip kan saya jadi gak enak, karena kita masih sering kumpul dengan teman-teman di Klinik." Nafisa tampak sebel dengan Dimas.


" Saya gak becanda kok saya serius sama kamu Nafisa....serius sayang," sahut Dimas.


Dimas tertawa kemudian duduk mendekat Nafisa, " Saya senang ketika berada didekat kamu Fisa... entahlah saya juga bingung, mungkin karena saya sangat menyayangi kamu. Jujur saya belum pernah jatuh cinta dan saya belum pernah menjalin hubungan dengan perempuan manapun. Hanya denganmu hati dan jiwa ini selalu bergetar dan merindu. Kamu adalah jawaban dari do'a di sepertiga malam terakhir saya Fisa."


"Saya ingin kamu menjadi perhiasan terindah saya, yang kelak kan bersama mengarungi titian menuju Surga, menggapai ridho-Nya."


"Izinkan saya dengan segala perasaan yang dititipkan Alloh SWT ini membuat pengakuan. Sudah sejak lama diri ini menyimpan rasa suka. Bukan saya tidak ingin memiliki kamu Nafisa.


Saya hanya ingin menjaga kamu hingga halal bagi saya menyentuh kamu. Dan malam ini, Saya ingin mengatakan dengan segenap kerinduan saya. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Jadilah pendamping hidup saya.” kata Dimas.


(Susah payah Dimas mengingat kata-kata itu karena dia tidak bisa merangkai kata yang indah tapi semalam sempat browsing di Google akhirnya dapat juga, jadi readers jangan protes ya kok kaya pernah baca ya.. karena itu kata-katanya Mbah Google punya... hehehe)


" Ba...Bapak melamar saya?" Nafisa terharu menitikan air mata. " Apakah bapak tidak malu mempunyai pendamping hidup seperti saya? Saya hanya seorang mahasiswi biasa jauh dari kata anggun, cantik dan kaya,saya apa adanya sedangkan bapak orang terhormat di kampus. Jujur sebenarnya saya merasa nyaman berada dekat dengan Pak Dimas. Itu sebabnya saya selalu menghindari bapak karena saya takut berharap lebih,saya takut dosa tapi apa daya karena bapak punya kuasa di kampus hingga saya terjebak harus menjadi asisten dosen, asisten dalam penelitian juga," Nafisa tersenyum mengingat semua cara ia lakukan demi terhindar dari dosen tampan nan mempesona itu karena takut zina hati dan pikiran.


" Hanya dengan cara itu ,saya bisa mengenal kamu lebih dekat , kamu menerima saya sebagai calon suami kamu nantinya?" tanya Dimas.


" Ijinkan saya untuk berpikir dan minta kemantapan hati kepada Sang Khaliq, jika saya terima Pak Dimas, segeralah bapak datang menemui kedua orang saya atau kakak saya untuk menyatakan keseriusan bapak kepada saya," ucap Nafisa.


**************** TBC***********


Alhamdulillah lega akhirnya bisa nembak Nafisa Pak Dimas.... Author juga lega akhirnya bisa menulis sampai di titik ini. Maaf kalau suka ngaret up nya karena kesibukan di dunia nyata....Semoga kalian readers tercintaku selalu diberikan kesehatan, dilancarkan semua urusannya, dilipat gandakan rejekinya...


Aamiin... Aamiin... Allohuma Amiin...


Jangan lupa untuk like nya ya... terimakasih


Salam sayang dari Nafisa dan teman2 🥰🥰😘😘🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2