
Assalamualaikum....Readers....
kalau kalian.suka cerita ini tolong vote nya dong cerita ini banyak yang baca dan menikmati tapi kenapa kalian gak mau like dan vote sih kan bikin seneng author gak ada salahnya kaliii... cerita ini hanya hiburan gratis lho.....cuma like sama vote aja gak bayar susah banget sih ....bikin seneng author dong guys .. .
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Setelah selesai sholat Maghrib di ruang rawat VVIP, Dimas berjalan mendekat kearah tempat tidur Nafisa,mengambil kursi kemudian sebentar ia memandang wajah pucat Nafisa meski sakit tapi wajah itu masih tampak ayu... kemudian Dimas membuka Al Qur'an dan membacanya.
Satu jam sudah berlalu....Dimas masih setia duduk dipinggir ranjang.
Perlahan Nafisa membuka matanya ia menyesuaikan pengelihatannya karena pandangan matanya agak kabur, telapak tangan mengucek netranya ia melihat siluet tubuh seorang pria dewasa sedang berdiri mengganti channel TV di ruang itu.Ia tak mampu membuka mulut serasa lidahnya kelu, badan terasa sakit seperti memar semua.
Tentu seja Nafisa merasakan badannya sakit semua bukankah dia tadi sore berantem dengan sekelompok penjahat?
"Nafisa....kamu sudah sadar? tunggu sebentar saya akan panggilkan dokter,"kata Dimas kemudian keluar menuju Nurse station memberitahukan bahwa pasien atas nama Nafisa sudah sadar.
Setelah dokter selesai memeriksa,tak lama kemudian datang seorang perawat membawakan teh hangat dan bubur, "Mbak Nafisa silakan dimakan dulu biar tidak perih perutnya habis itu minum obatnya. Mas tolong dibantu ya mbak Nafisanya kalau ada apa-apa silahkan pencet bel yang ini," suster menunjukkan bel disamping Nafisa.
" Baik suster terimakasih," jawab Dimas.
"Sama-sama... mari Mbak,Mas," suster mengangguk ramah kemudian keluar ruangan.
Nafisa memandang Dimas kemudian tersenyum hangat. "Bapak yang membawa saya kesini? Terimakasih ya Pak Dimas."
Dimas tersenyum ,melihat Nafisa sudah sadar kembali entah kenapa perasaannya jadi menghangat.
"Saya yang harusnya berterimakasih sama kamu karena telah menyelamatkan nyawa saya dari para penjahat itu,dan maaf....karena saya telah membuat kamu harus merasakan sakit seperti ini," sahut Dimas sambil mengelus kepala Nafisa yang masih tertutup hijabnya.
Nafisa seperti merasa dibawa terbang tinggi ke awan,itu usapan dari orang selain ayah dan kakaknya,' kenapa gue gak bisa menolaknya?' batinnya. Temannya saja kalo sengaja menyentuh Nafisa pasti ia akan memukul dan marah-marah.
'Kenapa gue jadi kek wanita murahan ya diem ae disentuh orang asing?'
"Nafisa....kamu makan ya," Dimas menggambil piring berisi bubur nasi.
Nafisa menggelengkan kepala ,"Kok kaya eneg ya Pak gak selera saya."
" Kan habis ini kamu harus minum obat dikit-dikit dulu aja ya makannya yuk... Bismillahirrahmanirrahim......aaaa."
Dengan sabar dan telaten Dimas menyuapi Nafisa bubur tanpa kuah supaya tidak eneg.
"Alhamdulillah...ini suapan terakhir yuk aaaaa pesawatnya terbang nih....,"Dimas menyuapkan bubur yang terakhir kemudian mengusap kembali kepala Nafisa,"anak pintar."
"Bapak ih...serasa anak kecil susah makan saya tuh."
"Lha memang iya kan tadi kamu gak mau makan padahal harus minum obat dokter," Dimas membuka blister obat kemudian mengambil air putih.
" Yuk obatnya diminum dulu."
Tanpa bantahan Nafisa segera meminum obat.
"Pak Dimas....."
" Ya...."
" Maaf merepotkan tidak sepantasnya bapak menunggu disini sampai melayani saya seperti ini."
__ADS_1
"Nafisa...jujur semua saya lakukan ini dengan ikhlas ini tidak sebanding dengan sakit kamu karena melindungi saya."
"Tapi sekarang sudah malam apa tidak sebaiknya bapak pulang,maaf saya tidak bermaksud mengusir."
" Saya akan pulang jika keluarga kamu ada disini untuk menjaga kamu Nafisa, oh iya tadi ponsel kamu lowbat sudah saya charger mungkin kamu mau menghubungi keluarga," Dimas menyerahkan ponsel Nafisa.
"Terimakasih Pak."
Nafisa segera menghubungi Bi Siti. Menceritakan semua kejadian kemudian meminta Bi Siti untuk besok membawakan baju-baju Nafisa. Ternyata Kakak Nafisa ada urusan keluar kota dia sengaja membawa anaknya karena akan mengunjungi ibu mertuanya sekaligus menitipkan anaknya sementara dia menyelesaikan urusannya di kota Surabaya.
"Pak Dimas pulang aja gak papa ,besok Bi Siti akan menemani saya disini saya tidak enak kalo menyuruhnya sekarang juga harus disini karena hanya Bi Siti sendirian di rumah."
"Maaf kalo boleh tau orang tua kamu atau saudara kamu dimana kenapa tidak dihubungi?"
" Kedua orang tua saya tinggal di Singapura, kakak saya sedang ada tugas di Surabaya sekalian mengunjungi mertuanya."
"Saya sudah biasa sendiri Pak hidup di kota ini sejak SMF,ada sih saudara sepupu dia seorang dokter yang super sibuk dan kalau tau saya seperti ini bisa gawat diaduin ke Mama."
" Jadi bapak tidak usah kawatir oke ....sebenarnya saya tidak enak kalo sewaktu waktu teman-teman kesini ada bapak jagain saya apa nanti yang akan mereka bilang dan pasti gosip miring tersebar apalagi Pak Dimas orang penting di kampus."
"Ehem...boleh saya bicara sebentar, saya tetap akan disini sampai kamu pulang Nafisa,apalagi ternyata kedua orang tua kamu tidak disini."
" Kamu tidak usah memberitahu teman-teman kalo dirawat disini jadi mereka tidak akan tau,biar saja kalo Bi Siti mau mengantar baju-baju kamu ,biarkan beliau kembali untuk jaga rumah agar aman."
"Kamu harus percaya dengan saya karena saya tidak akan macam-macam meskipun kita hanya berdua disini,ada suster yang akan mengontrol keadaan kamu tiap beberapa jam sekali."
"Saya tidak mau kamu membantah,anggap ini saya lakukan sebagai ucapan terimakasih atas bantuan kamu tadi sore...oke Nafisa saya anggap kamu setuju!"
Nafisa menghela nafas ...." hmmm terserah bapak ,saya tidak ingin merepotkan bapak saja."
Dimas duduk di sofa sambil mengganti saluran TV. Nafisa duduk tegak tangan kanannya berusaha melepas infus yang menggantung karena ingin ke kamar mandi tanpa sengaja gelas yang di nakas tersenggol dan tumpah airnya.
"Nafisa...! kamu ngapain?" seru Dimas segera menghampiri Nafisa dengan khawatir.
"E eh bapak...maaf ya ngagetin," Nafisa menggaruk tengkuknya sambil tersenyum canggung.
"Sa... saya mmmm...mau ke kamar mandi mau lepas infus eh gelas kesenggol tangan."
" Kenapa gak bilang kan saya bisa antar kamu ke kamar mandi," Dimas melepas infus yang menggantung kemudian membantu Nafisa turun dari ranjang dan memapahnya sampai kamar mandi.
Nafisa masuk kamar mandi, kemudian menutupnya,"Gila nih jantung gue kenapa jadi jumpalitan seperti ini , benar-benar gak sopan nih jantung ,gimana kalo Pak Dimas dengar coba? bikin malu aja nih," gumam Nafisa sambil membasuh mukanya.
Nafisa mengambil nafas, kemudian membuang nafas pelannn.....pelan ia lakukan berulang kali agar tidak grogi lagi didekat Pak Dosen.
Tok..tok ..tok..."Nafisa...Naf kamu tidak apa-apa kan?" Dimas menggedor pintu kamar mandi.
"I..yaaaa,iya pak Dimas saya sudah selesai kok,maaf bikin bapak menunggu lama," seru Nafisa.
Tanpa diduga Dimas langsung menggendong Nafisa ala Bridal style,sempat Nafisa mendengar detak jantung Dimas seperti musik disco tapi pura-pura ia tak mendengarnya hanya memejamkan mata.
" Bapak lebay ih....pake gendong Nafisa segala sih," Nafisa sedikit kesal.
" Maaf habis kamu bikin saya khawatir tadi tiba-tiba mau turun sampai nyenggol gelas segala habis itu di dalam kamar mandi lama banget," sahut Dimas sambil mengusap kepala Nafisa yang berhijab.
'Sialan emang tuh tangan Bapak Dekan bentar-bentar usap kepala kan jadi baper hadeeehhhh gimana kalo gue jatuh cintrong...ampuuunnn takut deh kalo bertepuk sebelah tangan lagi,' batin Nafisa.
__ADS_1
" Pak Dimas, apa kata keluarga coba kalo bapak berada disini ?"tanya Nafisa.
"Nothing...." Dimas mengangkat kedua bahunya.
" Saya sholat Isya' dulu ya di masjid depan ,kamu mau nitip apa Nafisa sepertinya ada supermarket di sebelah masjid?"
" Saya nitip oat instan,susu uht putih,buah apa aja asal yang manis atau yg sedikit asam juga boleh ,kayanya untuk sarapan besok enak lho Pak Dimas,ntar saya ganti deh pake uang bapak dulu ya," pinta Nafisa.
" Iya gampang lah itu," sahut Dimas kemudian keluar kamar.
Nafisa mulai risih dengan baju dan hijab yang dipakainya kemudian menelpon Bi Siti untuk mengirimkan baju dan hijabnya lewat ojek online. Tak lama kemudian datang suster membawa bungkusan tas lumayan besar.
" Selamat malam Mbak Nafisa,ini ada kiriman dari Ibu Siti tadi di Gosend kan katanya buat Mbak Nafisa."
" Oh iya suster terimakasih bisa saya minta bantuannya sus untuk ganti baju?" kata Nafisa.
" Oh tentu saja mari saya bantu mbak,mau disini atau di kamar mandi?" tanya suster.
" Di kamar mandi aja deh sus sekalian mau bersih-bersih badan."
Tepat pintu kamar mandi dibuka,Dimas membuka pintu kamar ruang rawat dengan membawa beberapa kantung plastik belanjaan.
Setelah suster membantu Nafisa naik ketempat tidur dan mengecek aliran infusnya segera ia pamit undur diri,tak lupa Nafisa memberikan bingkisan kue brownies kepada suster yang sengaja Bi Siti kirim bersama dengan baju- baju Nafisa.
"Suster ini ada kue buat temen begadang shift malam kan?" tanya Nafisa seolah paham tugas paramedis.
" Iya mbak...makasih ya kuenya, jangan sungkan menghubungi kami jika ada apa-apa kami siap 24 jam," kata suster.
" Oke," sahut Nafisa sambil mengangkat jempolnya.
Suster segera undur diri untuk mengecek pasien yang lain.
" Ini titipan kamu Nafisa aku taruh sini ya," Dimas meletakkan di atas meja panjang di ujung kamar kemudian memasukkan beberapa buah ,dan susu uht kedalam kulkas.
" Iya terimakasih banyak Pak Dimas."
" Kamu terlihat segar sekarang Nafisa..."
" Hehehe iya Pak ,sengaja saya minta baju ganti ke Bi Siti kirim lewat Gosend tadi rasanya risih kalo gak ganti," sahut Nafisa kemudian ia menjalankan sholat diatas ranjang.
" Bapak sudah makan?"
" Sudah tadi di dekat masjid ada rumah makan Padang jadi sekalian deh makan."
" Waduh kok bikin ngiler nih jadi pingin rendang," Nafisa merajuk.
" Oh ya kalo gitu biar saya belikan sekarang gimana?"
"Gak ah sudah makan tadi lagian ini juga sudah malam,Bapak sempat juga beli baju?"
"Kebetulan tadi di mobil ada laundry baju belum saya turunin jadi ya Alhamdulillah bisa untuk ganti baju ,di masjid juga kamar mandi nya bersih sekalian mandi biar segar."
Memang setelah Dimas berganti baju kaos dengan celana jeans selutut tampak lebih muda dan ganteng berlipat-lipat, 'sialan emang gue jomblo gini ditungguin makhluk ganteng kaya dia..Duh Gusti.....harus kuat iman nih,'batin Nafisa.
*******
__ADS_1