NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 1


__ADS_3

#Naya_Saranghae


PART 1


pov NAYA


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🍹🍹🍹


Apa di dunia ini ...


Ada yang namanya kebetulan ...


Seperti saat kita ...


Menyendok es krim ...


Saat kita temukan cincin di dalamnya ...


Apa itu disebut kebetulan ...


Atau sebuah takdir ...


Yang memang sudah digariskan ...


🍹🍹🍹


---------------------------------------------------------------------


"Selamat pagi, Sayang! Kamu ganteng banget hari ini. Rambutmu yang selalu tampak hitam berkilau. Matamu yang tajam dan bibir yang selalu tersemat senyum dengan begitu sweet. Aku berangkat kerja dulu, ya! I Love You so much, Honey. Eeemmuach ...!"


Kudaratkan ciuman hangat pada poster besar yang tertempel di tembok kamarku itu.


JI CHANG WOOK Oppa!


Dialah kekasih haluku.


-----------


"Bu, aku nanti pulang agak malam, lho, ya!" kataku pada wanita cantik yang sudah melahirkan aku ke dunia fana ini.


"Iya. Kamu mau liat aktor Koreamu yang datang ke Indonesia itu, kan?" sahut ibu.


"Binggo!" kataku seraya menggigit roti panggang buatan ibu.


"Daripada kamu ketemu aktor-aktor yang bahkan nggak kenal kamu itu, bukannya lebih baik kamu ketemu laki-laki yang baik dan cepat menikah?" kata ayah.


"Lha, ini mau ketemu calon mantu ayah. Biar nanti aku ajakin Ji Chang Wook Oppa buat nikah. Langsung kubawa pulang dan jadi mantu ayah, deh! Hahaha ...."


"Ah ... anak ini benar-benar nggak pernah serius!" geram ayah.


"Udah, ah! Naya berangkat dulu, ya. Assalammu'alaikum ...!"


"Wa'alaikumsalam ...!"


----------------


----------------


Namaku Naya. Wanita lajang 23 tahun. Aku seorang apoteker. Aku bekerja di sebuah apotek plus praktek dokter umum.


Nonton drakor adalah mood booster bagiku. Jadi istri abang Ichang adalah mimpiku. 'Ngehalu' ... sudah biasa untukku.


--------------


----------


APOTEK


"Selamat pagi, Stevia," sapaku.


"Selamat pagi, Bu Apoteker yang sweet. Hehehe ...."


Stevia adalah AA (Asisten Apoteker) di tempat kerjaku. Kami seumuran. Kami best friend soal drakor.


"Taraaaaa ...!" seruku sembari memamerkan sebuah tiket pada Stevia.


"Eh, gilaaa ...! Kamu beneran dapat tiket exclusive Fans Meeting Ji Chang Wook?"


"Iya, dong!" jawabku penuh kesombongan.


"Keren ... kereeeeen euy!" Stevia mengacungkan jempolnya padaku.

__ADS_1


"Aku mau ngerampungin resep dulu, biar nanti tinggal otewe."


Begitu masuk ke ruang racik, bertumpuk lembaran resep telah menungguku. Tak masalah, karena inilah pekerjaanku.


---------


"Mbak, ada obat biar cepet gemuk nggak?" Datang seorang pria ke apotek.


"Multivitamin maksudnya, Pak? Atau mau yang sejenis curcuma?" tanya Stevia dengan sopan.


"Apa sajalah, pokoknya yang manujur. Soalnya, Mbak ... makan udah banyak, minum banyak, tidur pun pules. Tapi gemuknya, kok susah banget. Frustasi rasanya saya ini, Mbak."


---------


"Naya," panggil Stevia padaku. "Bantuin dong! Agak bingung, nih!"


Aku pun beranjak dari tempat dudukku dan menghampiri pasien yang seusia ayahku itu.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyaku dengan tersenyum manis.


"Obat biar cepet gemuk, Mbak ... yang reaksinya cepet!" katanya.


"Bentar ya, Pak!"


Aku ambil sebuah multivitamin dengan kandungan curcuma yang lumayan tinggi dan kuberikan padanya.


"Ini sudah pernah dicoba. Nggak ngefek, Mbak," katanya.


"Oh, ya? Padahal ini bagus, lho!" gumamku.


"Duh! Saya sampai frustasi rasanya, Mbak. Semua saran dari teman-teman udah saya coba. Mereka bahkan bilang suruh minumin obat kb biar cepet gemuk. Uda saya minumin obat kb tapi nggak gemuk-gemuk juga. Heran saya, tuh!"


"Obat kb? Jadi, yang pengen gemuk ini istrinya, Pak?" tanyaku.


"Oh, bukan," sahut si bapak. " Masih anak-anak kok, Mbak. Umurnya, sih sekitar satu bulanan gitulah."


"What the?!" Aku dan Stevia memekik bersamaan.


Kami saling melempar padang dengan ketakutan yang luar biasa.


Si bapak ini pasti seratus persen kurang waras. Bagaimana bisa dia memberi obat kb pada bayi berumur satu bulan? Dengan alasan agar cepat gemuk pula.


Duh ... Gusti!


Beberapa kali aku menghela nafas. Mencoba mengendalikan diri untuk mengedukasi si bapak yang sepertinya sudah salah jalan ini.


"Pak, mohon maaf sebelumnya," kataku, dengan suara bergetar. "Obat kb itu nggak boleh diminum sembarangan. Ada efek-efek tertentu yang mungkin akan berbahaya, apalagi bagi anak-anak."


"Efek apa? Malahan temen-temen saya banyak yang ngasih itu juga ke anak-anaknya. Dan manjur lho, Mbak. Anaknya jadi gemuk-gemuk. Kalau dijual ... mahal harganya."


"Dijual?!" teriakku dan Stevia.


Haduh! Ini sudah tak beres. Aku berbisik pada Stevia untuk siap-siap menekan nomor kantor polisi terdekat.


"Pak, bolehkah ... bolehkah saya bertemu anaknya? Mungkin dokter kami bisa memeriksanya. Saya takut, anaknya bapak mengalami kelainan," kataku dengan tubuh gemetar.


"Oh, tentu saja. Untung saya bawa. Padahal renacananya tadi mau saya jual, tapi nggak laku. Sebentar, saya ambil dulu."


Si bapak berlari dengan penuh semangat ke mobil pick upnya. Dan hatiku semakin dag dig dug dibuatnya. Sungguh aku berharap agar bayi mungil itu baik-baik saja. Semoga dia tak menderita kecacatan karena ulah orang tua yang tak bertanggung jawab.


"Ini, Mbak ... silakan diperiksa!"


"Kwek ... kwek ... kwek ...!"


"Ini, Pak! Rp.15.000 aja!" kataku sembari memberikan obat cacing pada si bapak.


-----------------


-----------------


"Huwahaha ... haha ...!" tawa Stevia.


"Diam, kamu! Bikin makin kesal," geramku.


"Apa-apaan itu tadi? Padahal aku udah cemas setengah mati mikirin bayi satu bulan yang dicekokin pil kb. Eh ... tahunya malah bebek. Haiiish ... sialan!"


"Haha ...! Berarti kalau kebetulan kita makan bebek yang plus obat kb gitu, udah nggak perlu lagi ikutan kb dong, ya? Hahaha ...! Tapi nggak semua pedagang kayak gitu. Mungkin si bapak emang jenis pedagang eror."


"Udahlah, Stev ... berhenti ketawa! Kesel banget!"


"Hahaha ...."


Ya ... itulah salah satu kejadian aneh bin ajaib yang sering aku alami selama aku bekerja di bidang kefarmasian ini.

__ADS_1


--------------


--------------


15.00 WIB


"Aku pergi ya, Stev."


"Salam untuk Ji Chang Wook Oppa, ya," kata Stevia sambil membuat tanda 'lo**ve' dengan jarinya.


"Tenang aja! Bakal aku bawa dia pulang dan aku kenalkan dia padamu sebagai suamiku. Hahaha ...."


"Ngayal aja terus!" Stevia nampak terkekeh sambil melambai padaku.


Shift kerjaku pun selesai. Aku segera menuju hotel bintang lima JCW, tempat di mana fans meeting digelar.


--------------------------


--------------------------


HOTEL JCW


"Oppa ... Oppa ...!"


Wah! Suasana sudah riuh tak terkira. Aku tak menyangka kalau fans Ji Chang Wook sebanyak ini. Aku kira, cuma aku yang hobi menghalukannya.


"Aduh ... nggak bisa lewat, nih! Mesti cari jalan lain biar bisa ketemu langsung," gumamku. "Apa aku cari kamar tempat Bang Ichang nginep aja, ya? Iya, deh ... gitu aja!"


Aku segera meninggalkan hall hotel dan masuk menyusuri tiap lorong. Tentu saja aku mengendap-endap agar tak dicurigai. Apapun akan aku lakukan asal bisa bertatap muka dengannya.


"Siapkan kamera untuk mengambil gambarnya! Huh ... udah nggak sabar pengen ketemu oppa." Aku terkekeh sendiri mengingat betapa hebohnya diriku yang tak sabar ingin bertemu idola.


------------


"Oh?! Sepertinya mereka semua wartawan." Kulihat banyak wartawan di depan salah satu kamar di hotel tersebut. "Wah ... jangan-jangan itu kamarnya oppa?!"


Aku pun segera mempercepat langkahku menuju kerumunan wartawan itu. Nampak beberapa dari mereka sedang melakukan siaran langsung.


---------


"Saat ini ... tim Stalker Investigasi sedang berada di hotel JCW. Kami akan memastikan kebenaran gosip yang menimpa putra direktur kantor penerbitan GLORYA. Dikabarkan ... bahwa putra bungsu inilah yang telah menjadi kekasih gelap dari ibu tirinya sendiri. Apakah berita itu benar? Mari kita tunggu penjelasan sang putra mahkota!"


Tak lama berselang, seorang pria keluar dari dalam kamar yang dikerumuni para wartawan itu.


"Oppa?!" gumamku.


Siluet belakangnya nampak mirip. Badan yang tinggi dengan kaki jenjang. Tubuh atletis dengan hoodie ketat yang menutupi kepalanya.


"Tolong berikan komentar, Anda!" seorang wartawan menghampirinya. "Apa benar gosip itu? Apa benar kalau Anda punya hubungan gelap dengan ibu tiri Anda? Apa Anda akan menikahinya setelah Pak Direktur menceraikannya?"


"Tidak. Gosip itu tidak benar."


"Lalu, siapa wanita yang bersama Anda di sebuah hotel itu? Foto kalian sudah menyebar di internet," kata wartawan lainnya.


"Dia kekasihku. Yang jelas, bukan ibu tiriku."


"Bisakah kami mengetahui siapa wanita itu?"


"Ah ... dia ..."


"Oppaaaaa ...!" Aku menghambur memeluknya. "Uwaaah ... akhirnya ... akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Oppa! Saranghae, Oppa."


"Pak Ardian, siapa wanita ini? Apa dia kekasih, Anda?" tanya seorang wartawan.


Ardian?!


Aku segera mendongakkan kepalaku pada pria yang aku peluk itu.


"Oh My God!" pekikku seraya melepaskan pelukanku darinya.


Bukan Ji Chang Wook Oppa!


Kenapa dari belakang mirip sekali? Postur tubuhnya, penampilannya, mukanya juga ... mirip sekali. Tapi bukan.


"Ma--maafkan saya!" Aku menundukkan kepalaku berulang kali. "Se--sepertinya, saya ... saya salah orang. Ma--maaf!"


"Tunggu!" Pria itu meraih lenganku yang hendak melangkah pergi. "Kamu ... menikahlah denganku!"


"Apa?!"


Apa-apaan pria ini?


Menikah katanya?

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2