
(pov NAYA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🍂🍁🍂
Sesuatu yang terasa asing ...
Diam-diam mengusikku ...
Membuatku bertanya-tanya ...
Apa arti keberadaanku ...
🍂🍁🍂
---------------------------------------------------------------------
Inilah saat di mana diriku yang begitu tegar dan tak pernah takut pada apapun, kini menjadi begitu kecil dan nyaliku menciut.
Seorang wanita asing tiba-tiba muncul di rumahku. Aku menunduk dalam dan semakin dalam karena takut melihat mata tajamnya yang tengah mengamatiku dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.
Sesekali kudengar rintihan dari bibirnya sambil menekan-nekan area punggung. Tarikan nafas berat bersahutan ketika dia menatap padaku dan Ardian secara bergantian. Sungguh aku merasa sedang menanti hukuman gantung atau sejenisnya saat ini.
"Bisa jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
Tak ada daya atau pun keberanian untuk menjawab pertanyaannya. Luluh-lantak sudah kekuatan besar dalam jiwa dan ragaku ini.
"Ibu, ini hanya salah paham." Terdengar Ardian membuka suara dengan intonasi keraguan.
Sebutan 'ibu' yang terlontar dari bibir suamiku itu semakin membuatku terhempas ke dasar.
"Gadis ini istrimu?" Mata tajam itu menatapku.
Ardian mengangguk tanpa berani membalas tatapan ibunya.
"Kamu benar seorang apoteker?"
"I--iya, Bu." Rasanya aku tak punya hak untuk memanggilnya 'ibu'.
"Gadis yang mirip body guard ini seorang apoteker? Nggak pada kabur itu pasienmu? Kamu sudah membuat tulang-tulang punggungku remuk."
"Maaf!" Aku segera turun dari kursi dan membungkukkan tubuhku padanya. "Saya sungguh minta maaf. Saya tak berniat memukul Anda, sungguh. Tadi itu, saya kira ... saya kira Anda adalah ..."
"Maling?" Dia menyahut sambil melotot padaku.
Aku pun mengangguk dengan bodohnya. Aku pasrah. Apapun yang akan dia lakukan padaku, aku akan menerimanya dengan lapang dada. Dari awal, memang akulah yang salah.
Betapa bodohnya aku ini. Bisa-bisanya memukuli ibu mertuaku, mengikat dan melakban mulutnya. Parahnya, aku menuduhnya sebagai pencuri. Tapi ini bukan salahku juga. Ardian bahkan tak pernah memperlihatkan foto ibunya padaku.
Tapi, bagaimana jika aku dipecat jadi menantu? Huwaaaaa ... habislah aku!
---------------
"Ibu." Ardito tiba-tiba muncul di tengah-tengah ketegangan kami. "Apa yang terjadi? Kenapa Ardian menelponku dan bilang kalau ibu mengalami kecelakaan?"
"Istri adikmu itu telah memukuliku dengan tongkat kasti, mengikatku dengan tambang dan melakban mulutku."
__ADS_1
"Apa?!"
Aku bisa bayangkan wajah Ardito yang syok mendengar penuturan ibunya. Tamatlah sudah riwayatku. Aku benar-benar akan segera diusir dari apartemen mewah ini. Sepertinya, aku juga akan say goodbye pada suamiku tercinta. Jadi ingin nangis.
"Hahaha ... hahaha ..."
"Heh?!"
"Berdiri! Kamu ngapain bersimpuh begitu?"
Ardito menarikku dan mendudukkanku di sofa. Dia terus saja tertawa sembari memegangi perutnya.
"Untung kamu baik-baik saja," ucapnya masih dengan tawa di bibirnya.
"Aku juga berpikir begitu." Ardian menyahuti. "Untung saja kamu nggak babak belur."
"Hah?!" Aku semakin dibuat kebingungan dengan reaksi dua bersaudara ini.
"Kamu pikir, dari mana Ardian punya bakat tawuran sehebat itu?" Ardito menatapku dengan senyum lebar di wajahnya. "Itulah sebabnya."
Dokter mesum ini menggerakkan dagunya ke arah wanita cantik di hadapanku.
"Mantan juara taekwondo nasional pada jamannya ... Irene Kai Volfram."
"Apa?!"
Keheranan menyeruak dalam kepalaku. Wanita secantik ini seorang juara taekwondo? Aku benar-benar sulit untuk mempercayainya. Wajah putih bersinar bak Ha Ji Won di drama Secret Garden, tinggi semampai bak model. Rupanya dia seorang petarung. Aku sungguh merasa ada di sebuah serial drama televisi bertema keluarga artis atau semacamnya.
----------
----------------
"Sudahlah, jangan canggung begitu!" katanya dengan diikuti tawa renyah. "Lagi pula, dipukul seperti itu bukan hal besar. Aku sudah saring mendapat pukulan yang lebih parah."
"Apa Anda masih sering berkelahi?" tanyaku penasaran.
"Seminggu sekali, aku masih mengikuti klub taekwondo. Ya, untuk melepas penat saja."
Wah! Tak heran jika Ardian kasar begitu. Ibunya saja lebih mengerikan. Untung tadi dia tidak melawan. Kalau melawan, mungkin aku yang masuk rumah sakit.
"Menyenangkan bertemu denganmu, Naya."
"Apa?!"
Lagi-lagi dia nelempar senyum padaku. Wanita di depanku ini sungguh cantik. Matanya indah dan sangat elegant.
"Aku jadi sedikit lega karena ada gadis unik sepertimu di dekat Ardian."
"Unik?" Aku merasa ibu mertuaku ini sedang mengejekku.
"Ardian itu tipe yang selalu serius, kan? Sesekali, dia perlu diajak bermain-main dan bersantai. Dengan adanya orang yang bertipe sembrono sepertimu, itu hal yang bagus untuk kesehatan Ardian. Hahaha ..."
"Haha ... ha ... haha ... ha ...!"
Aku ini sedang dipuji atau diejek, sih sebenarnya?
"Aku sudah dengar semua tentang Ardian yang kehilangan ingatannya. Ardito sudah cerita semuanya, termasuk soal kamu." Mata yang dihiasi *soft le*ns biru kehijauan itu, sedang menatap dalam padaku. "Saat remaja, hal seperti ini pun pernah terjadi padanya. Sebuah syok hebat telah menghapus beberapa memorinya. Hampir semua yang dilupakannya adalah sesuatu yang dia anggap penting."
__ADS_1
"Penting?"
"Iya. Semakin Ardian menganggap kejadian itu penting dan tak ingin dia lupakan, memorinya akan semakin mudah untuk menghapusnya."
"Oh, begitu."
Jika dipikir-pikir, segala tentang kami yang dilupakan Ardian, bagiku hal-hal itu juga sangat penting. Sangat berharga. Jadi Ardian juga menganggapnya seperti itu. Syukurlah, setidaknya aku telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.
"Apa kamu mencintai Ardian?"
"Ya?!" pekikku.
"Hahaha ... apa pertanyaanku terdengar ambigu?" Ibu mertuaku itu nampak terkekeh melihat ekspresiku. "Mungkin karena aku tinggal di luar negeri sejak kecil, makanya aku punya kehidupan remaja yang agak sedikit bebas. Menurutku, kita bisa menjalin hubungan dengan seseorang tanpa ada ikatan cinta sekali pun. Tapi jangan ditiru! Itu hanya pemikiran gilaku saja. Sebuah pemikiran yang membawa kesengsaraan. Bahkan bagi anak-anakku."
Kali ini pandangannya terlempar pada kedua putranya yang tengah berkutat dengan laptop di ruang tamu.
"Tapi, sepertinya Ardito juga jatuh cinta padamu."
"Apa?!" pekikku. "Astaga ... mana mungkin? Dia, kan kakak iparku."
"Yang namanya cinta, siapa yang tahu?" Diangkat bahunya sembari tersenyum padaku. "Ayo suguhkan kue buatan kita pada mereka!"
Aku jadi berpikir bahwa ibu mertuaku ini juga sedikit aneh. Memang cukup ramah, tapi penuh teka-teki. Melihat mereka bertiga, naluri detektifku mendadak menyeruak.
--------------
"Kue kacang?" Ardian menatap penuh tanda tanya pada sang ibu. "Ibu masih ingat?"
"Ibu nggak pernah melupakan apapun yang disukai anak ibu."
Ardian nampak tersenyum saat tangan sang ibu mendarat lembut di atas kepalanya.
"Makanlah yang banyak! Nanti ibu buatkan lagi."
"Ibu mau nginap di sini?" tanya Ardian.
"Malam ini saja."
"Ada yang ibu rencanakan?" selidik Ardian.
"Ehm ... besok pagi ibu akan berkunjung ke Glorya dan menemui mantan suami ibu." Ibu mertuaku itu nampak mengerling jahil pada putra bungsunya.
"Apa ibu sudah menghubungi ayah?" tanya Ardito.
"Belum. Aku akan memberi sedikit kejutan pada pak tua itu."
Wah! Sebuah drama baru sepertinya akan segera dimulai. Aku jadi semakin penasaran dengan segala teka-teki dalam keluarga Benedict Lim ini. Keluarga yang sangat menarik untuk diperbincangkan dan diulas dalam sebuah cerita.
"Hei, penulis!" Ardito menoyor lenganku. "Apa kamu sedang berpikir untuk menjadikan keluarga kami sebagai cerita novelmu, hah?"
"Apa?! Ti--tidak, kok. Haha ... haha ... mana mungkin?"
"Ah, benarkah?" selidik Ardito.
"Tentu saja," sahutku. "Apa-apaan, sih?"
"Hahaha ... kali aja."
__ADS_1
Sebenarnya memang iya. Aku merasa, ada suatu hal besar yang sedang disembunyikan oleh keluarga misterius ini. Entah ini soal perebutan saham antara Ardian dan pamannya atau soal rahasia lain antara tuan dan nyonya Benedict Lim ini. Sepertinya, aku akan terus terseret ke dalam drama kehidupan mereka. Tentunya, aku sangat menantikan setiap part menegangkan yang akan terjadi berikutnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=